Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 34 (PILIHAN TERBERAT)


__ADS_3

Ada Rasa berbeda yang bersemayam dihati Fitra saat matanya menangkap sosok Rania dikoridor rumah sakit saat sedang berjalan menuju kantin rumah sakit. Meskipun Fitra hanya melihat punggung Rania tapi hatinya terasa lain, tidak seperti biasanya. Waktu terus berjalan dan tidak terasa sudah 5 hari kejadian itu berlalu. Dan hari ini adalah hari pertama Rania masuk kerja lagi setelah ia ia istirahat dirumahnya.


“Hai, lagi lihat apa?” Sebuah suara nyaring menyapa Fitra dari belakang. Dengan sigap Fitra segera membalikkan badannya.


“Eh kamu” Kata Fitra ketika melihat Nia.


“Lihat apa sech? Kok serius kali?” Nia melihat kearah yang Fitra lihat tadi. Tapi ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Disana cuman ada perawat cowok yang mendorong pasien yang sudah nenek-nenek menggunakan kursi roda.


“Ngak kok, oya... kamu dinas pagi juga?” Fitra segera mengalihkan pembicaraannya.


“Yoi. Kan bareng sama kamu.”


“Randi juga kan?”


“Mungkin iya”


“Udah datang belum ya dia?”


“Ngak tau. Mungkin belum. Dia kan suka ngaret. Ya udah yuk kita keatas” Fitra dan Nia berjalan berbarengan kelantai atas. Fitra dan Nia menunggu didepan lift. Saat pintu lift terbuka mereka pun masuk, didalam lift saat itu tidaklah begitu ramai. Cuman ada sepasang suami istri beserta anaknya dan seorang perawat laki-laki. Setelah itu  pintu lift pun perlahan-lahan menutup, saat itu lah Fitra melihat seorang wanita bergamis putih berlari kecil menuju lift. Fitra langsung menahan pintu lift agar tidak jadi menutup.


“Hai, Rania...” Nia menyapa Rania setelah Rania masuk kedalam. Liftpun menutup dan bergerak keatas.


“Hai juga Nia” Rania membalas sapaan Nia. Bersusah payah Rania mengalihkan pandangannya, pura-pura tidak tahu bahwa saat ini dibelakangnya ada Fitra yang ia yakini sedang memperhatikannya.


“Gimana keadaan mu? Udah kerja aja nech...” Tanya Nia.

__ADS_1


“Alhamdulilaah.. sudah lebih baik. Terima kasih ya atas bantuannya...”


“Kok terima kasihnya ke aku? Kalau mau berterima kasih tuch langsung saja sama orang yang bersangkutan dibelakangmu...” Ucap Nia sambil tersenyum nakal kearah Fitra. Fitra yang sedari hanya diam menjadi tersentak saat namanya dibawa-bawa. Dengan hati yang berdebar-debar Rania terpaksa membalikkan badannya.


“Hhmm... syukron katsiran ya akhi Fitra...” Kata Rania dengan suara yang agak bergetar. Fitra merasakan getaran tersebut.


“Yach. Afwan..” Jawabnya  sambil tersenyum.


Rania kembali membalikkan badannya, sedangkan Fitra berusaha mengatur debaran jantungnya sambil menundukkan pandangannya.


“Ehemmm...” Suara Nia memecahkan keheningan, Nia seakan tau apa yang terjadi dihadapannya saat ini, ia bisa lihat dari gelagat mereka berdua yang lain. Setelah itu, pintu lift pun terbuka di lantai 4. Nia keluar dan disusul dengan Fitra. Saat melewati Rania tanpa sengaja pandangan mereka beradu. Rania buru-buru mengalihkan pandangannya. Hatinya kembali bergetar hebat saat matanya beradu pandang dengan Fitra. Ya Allah... apakah ini? Inikah yang namanya jatuh cinta??? Rania bertanya dalam hatinya.


...@@@...


Pagi itu pasien bersalin tidak ada. Rania mengisi waktu luangnya dengan membaca buku. Ia membaca buku karangan Fitra yang berjudul ‘Mengukir Cinta Dibelahan Jiwa’. Kata-kata yang ditulis Fitra didalam buku ini terkadang membuat Rania senyum-senyum sendiri, terkadang membuat ia hampir menetes kan air mata dan terkadangpun membuat hatinya tersentuh.


Fitra mengutip sebuah ayat dari Al-Quran. Rania berfikir sejenak. Memahami makna yang terkandung didalamnnya, rasanya dulu ia pernah mentadabbur ayat ini. Memang benar Allah lah yang akan menyatukan hati-hati orang yang beriman, menyatukan disini maksudnya adalah menjadikan mereka pasangan yang diridhoi Allah dunia akhirat dalam bingkai pernikahan.


“Rabbana Hablana miladunka zaujan Thayyiban Wayakuna Shohban Lifiddini Waddunya Wal Akhirah... Ya Rabb kami, berikanlah kami pasangan yang terbaik dari sisi Mu, pasangan yang juga menjadi sahabat kami dalam urusan Agama, Dunia, dan Akhirat...”


Sebuah doa yang Fitra selipkan didalam bukunya tersebut. Rania mengamininya. Dia juga sering membaca doa itu diakhir sholatnya. Mendapatkan pasangan yang terbaik dari Allah adalah impian bagi setiap manusia. Seorang wanita pasti merindukan sosok lelaki yang bisa menjadi imam, yang bisa memimpin, membimbingnya menuju kebaikan, bukan hanya didunia semata tapi diakhirat juga. Dan Rania bisa merasakan itu semua dari sosok Fitra, meskipun baru kenal tapi Rania merasa sudah lama ia mengenal sosok Fitra, dari mana lagi jika tidak dari bukunya Fitra.


“Tapi gimana dengan cinta di masa lalumu itu Rania?” sebuah pertanyaan mengusik ketenangan hatinya.


“Ya Allah.. ternyata hati ini masih begitu lemahnya, hati ini masih berubah-ubah. Begitu cepatnya aku mengggeser lelaki dimasa lalu yang membuat aku jatuh sakit itu dan menggantikannya dengan sosok Fitra...” ucap Rania didalam hatinya.

__ADS_1


“Ya Muqollib Al-Qulub, Tsabbit Qolbu A’la Diniq... Ya Yang Maha Memutarbalikkan hati manusia, tetapkanlah hatiku diatas AgamaMu...” batin Rani berbisik.


Lagi pula sudah hampir seminggu dia tidak lagi mendapat kabar dari lelaki dimasa lalunya itu. Dia menghilang lagi. Rania mensyukuri hal itu, karena dia tidak mau menunggu sesuatu yang tidak pasti. Cukup. Cukup kejadian bodoh itu terjadi di 2 tahun silam, dia tidak bakalan mengulang sejarah suram itu. Rania benar-benar bertekad.


Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 14.00 wib. Jam dinasnya telah habis. Temannya yang shift siangpun sudah datang, setelah itu mereka langsung operan. Rania segera pulang karena tugas kampus menunggunya dirumah.


“Assalamu’alaikum..” Rania mengucap salam sebelum masuk kekosannya.


“Walaikumusalam...”Jawab sebuah suara dari dalam yang ternyata Jeni yang menjawab salamnya. Rasa senang menyelimuti hati Rania mendengar Jeni menjawab salamnya, biasanya Jeni tidak pernah menjawab salam Rania.


“Jen, ngak kuliah?” Rania mencoba memulai pembicaraan dengan Jeni. Jeni memasang wajah juteknya.


“Lagi malas” Jawab Jeni.


“Oohh... kenapa Jen? Kamu lagi ada masalah ya?” Tanya Rania sambil mendekati Jeni yang duduk di sofa.


“Aku bilang malas, berarti ya malas.” Kata Jeni agak mengeraskan suaranya.


“Kamu... agak pucatan ya? Kamu sakit ya Jeni?” Tanya Rania selanjutnya tanpa menghiraukan bentakan Jeni barusan. Rania menyentuh dahi Jeni yang memang agak hangat, Jeni langsung buru-buru menepisnya.


“Iihh.. apaan sech kamu, jangan sok perhatian gitu dech! Bikin aku tambah kesal aja”


“Kayaknya kamu mau sakit ne Jen, kamu istirahat aja ya dikamar? Biar aku siapin air hangat untuk kompres kamu, sekalian aku buatin madu hangat ya? Mau?” Ucap Rania dengan penuh perhatian yang sama sekali tidak dibuat-buatnya. Jeni melotot kearah Rania. Dia merasa heran, Rania sudah dikasarin seperti itu tapi Rania tetap baik dan perhatian sama dirinya. Hal itu lah yang membuat Jeni semakin muak sama Rania, kebaikannya itu, ketulusannya itu yang membuat Jeni tidak bisa menerimanya.


“Aku heran sama kamu Rania Nazwa. aku tu benci.. benci banget sama kamu. Benci sama kata-kata lembutmu itu.. benci sama perhatian mu itu.. benci dengan semua yang ada pada dirimu... tapi kenapa kamu tidak membalas kebencianku dengan kebencian juga? Kenapa ha?” kata-kata Jeni barusan membuat Rania sedikit tersentak. Dengan tenang dia menjawab.

__ADS_1


“Ini lah yang dinamakan ukhuwah islamiyah. Ikatan yang mengikat setiap kaum muslim, yaitu ikatan persaudaraan. Dengan ikatan seperti itulah yang akan menyatukan hati kita dalam takwa dan ketaataan kepadaNya. Dalam ikatan tersebut tidak ada dendam, tidak ada amarah dan tidak ada benci. Semua itu teurai indah seindah untaian asma Allah didalam Asmaul Husna. Begitu lah Jeni... ajaran Islam yang kaffah yang mengajariku untuk menjadi muslimah yang sabar dan menyayangi saudaranya seperti ia menyayangi dirinya sendiri...” Jelas Rania dengan lantangnya. Jeni terdiam. Ia seakan berfikir keras dan sepercik kesejukan menyerpa kalbunya, meski sedikit tapi rasanya nyaman menyelimuti hatinya.


Bersambung...


__ADS_2