
Rania tersentak ditengah malam dan ketika itu pula ia mendapati Fitra yang sudah berada disebelahnya. Lelaki itu terlihat tidur dengan pulas. Dan wajahnya tetap tampan meskipun sedang tidur. Rania kemudian menuruni tangan Fitra yang ada di perutnya dengan perlahan - lahan, karena ia bermaksud ingin kekamar mandi. Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, dan Rania juga ingin sekalian melaksanakan sholat tahajud.
Baru saja Rania akan turun dari tempat tidur, tiba - tiba saja Fitra malah memeluk pinggang Rania dari belakang.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Fitra tapi masih dengan mata yang terpejam.
"Aku, mau.. kekamar mandi, mau mandi dan sholat tahajud." jawab Rania dengan memegang tangan suaminya itu, ia mencoba melepaskan pelukan erat dari Fitra tersebut. Namun, pelukan itu sama sekali tidak bisa dilepaskannya karena saking kuatnya.
"Kenapa tidak bangunin aku, sayang? Aku kan juga ingin mandi dan sholat tahajud bersama kamu." ucap Fitra lagi dan kali ini sudah membuka matanya yang masih terasa berat.
"Maaf, aku.. Gak enak bangunin kamu.. Karena kelihatannya Kamu tidurnya pulas sekali, Fitra." kata Rania beralasan.
"Jangan merasa gak enak gitu donk Rania, aku ini kan sudah menjadi suami kamu. Kita sudah halal lo, Bukan orang lain lagi." kata Fitra dan kali ini salah satu tangannya berpindah kebagian rambut Rania. Fitra membelai lembut rambut panjang Rania yang tergerai indah itu.
"Iya, baiklah.. Lain kali aku bangunin deh." kata Rania akhirnya.
"Sebenarnya aku sudah bangun duluan dari kamu Rania, cuman aku sengaja saja pura - pura tidur." kata Fitra yang kali ini sudah duduk di samping Rania.
"Lah, kenapa begitu? Kenapa harus berpura - pura?" tanya Rania dengan heran.
"Yahh... Gak kenapa - napa sih, cuman ingin dibangunin saja sama kamu. Tapi, eh.. ternyata kamu gak bangunin aku." kata Fitra.
"Iya, maaf ya Fitra. Aku itu masih canggung,m sebenarnya, belum terbiasa, karena ini baru pertama kalinya ada seseorang laki - laki tidur di samping aku. Jadi, ya.. Kamu paham sendirilah bagaimana canggung dan malunya aku Fitra." kata Rania dengan menggigit bibir bagian bawahnya.
__ADS_1
"Iya, sayang. Aku paham kok.. Kamu gak perlu mintak maaf segala. Aku maklumi kok Rania.." kata Fitra dan setelah itu kembali memeluk tubuh Rania.
"Ya sudah, kita mandi dulu setelah itu baru kita sholat tahajud bersama - sama. Oke?" ujar Fitra yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Rania.
Setelah sholat tahjud, mereka tidak tidur lagi. Menjelang subuh, mereka berdua sama - sama mentadabur Al - Quran dan juga berdiskusi mengenai sebuah ide baru yang ingin Fitra kembangkan untuk ia tulis dan dijadikan buku. Begitu juga dengan Rania, yang ingin sekali mencoba menulis buku fiksi karena selama ini ia kebanyakan menulis cerita yang berbau non fiksi saja. Sebenarnya sudah ada beberapa tulisan fiksi Rania yang ia buat tapi belum selesai jalan ceritanya, cuman Rania belum terlalu percata diri untuk melanjutkannya maupun menerbitkannya. Dan malam itu juga Fitra membaca kilat novel yang Rania buat, setelah selesai membaca kilat.. Fitra menyimpulkan bahwa cerita Rania begitu menarik. Alur ceritanya pun tidak mudah ditebak, maka Fitra pun memotivasi Rania agar tetap melanjutkan ceritanya dan kemudian menerbitkannya. Atas saran dan masukan dari Fitra tersebutlah yang membuat Rania kembali semangat untuk melanjutkannya.
Setelah selesai berdiskusi mengenai novel Rania, dan tidak terasa waktu subuh pun masuk. Mereka kembali melaksanakan sholat dengan berjemaah dan kemudian dilanjutkan dengan membaca Al-Quran -secara bergantian. Setelah itu, hari masih gelap namun Fitra mengajak Rania keluar kamar dan menuju kehalaman belakang rumah Fitra yang lumayan luas.
"Ngak baik habis subuh kita tidur lagi, jadi kita olahraga sebentar gak apa - apa kan sayang? Sambilan menghirup udara pagi yang masih segar." kata Fitra yang langsung ditanggapi dengan antusias oleh Rania.
Mereka berjalan pelan sambil bergandengan tangan, mengelilingi halaman rumah Fitra yang luas itu. Mereka berjalan sambil bercerita dan mengobrol, apapun itu. Awalnya Rania yang tidak begitu banyak mengeluarkan suara, tapi pagi itu Rania seakan sudah mulai terbiasa berbicara lepas dengan Fitra. Rasa nyaman perlahan - lahan merasukinya. Rasa bahagia dan rasa senang yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata - kata. Yang jelas Rania bahagia, sangat bahagia berada dan bersama Fitra. Suaminya yang sholeh dan tampan itu.
Saat pagi hari, Rania sarapan bersama dengan keluarganya Fitra. Papa dan Mama Fitra sudah stay diruang makan dan mengajak Fitra juga Rania untuk sarapan bersama.
"Bulan madu ya Ma? Hhhmmm... Sayangnya kami belum ada membahas tentang bulan madu, Ma." kata Fitra sembari melirik sekilas kearah Rania.
"Kenapa belum dibahas sih? Itu penting Lo, gak mungkin kan setelah menikah kalian gak pergi berbulan madu." kata Mama Fitra dengan nada risau.
"Iya, Ma. Pastilah kami akan pergi bulan madu, cuman kami belum membicarakan nya, kemana ya bagus nya kita sayang?" tanya Fitra yang kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah Rania.
"Aku juga gak tahu, Rania ikut saja sih Ma, Pa. Kemanapun Fitra bawa Rania, Rania siap." Kata Rania lalu tersenyum tipis. Entah kenapa sarapan perdana bersama kedua orang tua Fitra yang kini sudah menjadi mertuanya, membuat Rani sedikit gugup.
"Wah... estestik sekali kedengarannya, sepertinya Rania ini istri yang penurut Fitra. Mau diajak kemanapun." kata Papa Fitra menimpali seraya menyenggol lengannya Fitra. Sedangkan Fitra hanya senyum - senyum saja menanggapinya.
__ADS_1
"Kalian pergilah bersenang - senang mulai besok, jangan pikirkan pekerjaan karena Papaa sudah memberikan kalian cuti selama 10 hari." ujar Papa Fitra yang membuat mat Fitra dan Rania langsung terbelalak kaget.
"Apa? 10 hari, Pa? Apa tidak kelamaan?" tanay Fitra denahm ekspresi kagetnya.
"Tidak... Menurut Papa tidak kelamaan. Kenapa Fitra? Sepertinya kamu tidak senang diberi cuti selama itu, seharusnya kamu sennagnlab bisa menghabiskan waktu berdua denahn istri mu ini." kata Papa Fitra yang merasa heran atas tanggapan dari Fitra yang diluar ekspektasinya.
"Ya bukan begitu Pa, bukan berati Fitra tidak senang dan bersyukur cuman Fitra gak mau saja dibeda - bedakan begini Pa. Fitra tidak ingin membuat kecemburuan sosial itu muncul di rumah sakit, karena yang sama - sama kita ketahui kalau cuti di rumah sakit ini paling lama kan cuman 1 minggu. Tidak bisa lebih dari itu." kata Fitra mengutarakan pendapatnya.
Mendengar penuturan dari suaminya itu, membuat Rania semakin kagum dengan sikap Fitra yang tidak mau mengambil kesempatan, meskipun posisi orang tuanya yang begitu sangat berpengaruh disana, ia tidak serta merta memanfaatkan hal itu.
"Oke Fitra, jika kamu tidak mau 10 hari. Ya sudah.. Kamu ambil cuti 7 hari saja, yang penting kalian pergilah berbulan madu." putus Papa Fitra akhirnya yang langsung disetujui oleh FiTra.
"Iya, Pa. Setelah ini, kami akan membahasnya dan InshaAllah lusa kami akan berangkat untuk berbulan madu." kata Fitra serata menggenggam lembut tangannya Rania.
"Bagus itu, lebih cepat lebih bagus karena Mama sudah tidak sabar menanti cucu pertama Mama." kata Mama Fitra yang langsung ditanggapi tawa renyah dari mereka bertiga.
...❣❣❣❣...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1
.