Taqdir-Nya Mempertemukan Kita

Taqdir-Nya Mempertemukan Kita
Episode 59


__ADS_3

setelah selesai menghubungi mama dan ayah mertuanya, Rian langsung melangkahkan kakinya kembali menuju ruangan sang istri di rawat.


"Sayang kamu mau kemana? " Tanya Rian ketika melihat sang istri ingin menginjakan kakinya dengan sedikit sempoyongan.


"Aku mau ambil minum, aku haus. "


"Ya ampun maaf sayang kakak belum sempat mengeluarkan minum dan makanan dari dalam keresek nya. "


"Gak apa-apa aku masih bisa mengambilnya sendiri kok. "


"Kamu jangan terlalu memaksakan dulu untuk banyak bergerak, kakak tau kamu masih belum stabil sayang. " Nayara tak menanggapi perkataan Rian barusan.


"Aku haus kak,,,. "


"Eh iya kakak lupa, sebentar kakak ambil dulu minum nya. " Rian pun mengambil keresek yang berisi air mineral dan beberapa cemilan yang dia simpan di sofa yang berada di ruangan itu.


"Ini sayang minumnya. "

__ADS_1


"Makasih kak. " karena mulutnya terasa kering Nayara langsung meminum air yang Rian berikan, namun baru saja Nayara meminun beberapa tegukan, perutnya kembali terasa mual.


"Kamu kenapa Nay?"


"Aku mau ke toilet kak, perutku mual sekali. "ucap Nayara dengan satu tangan yang di gunakan untuk menutup mulutnya dan satu tangan lagi memegang perutnya. Rianpun segera membantu Nayara menuju kamar mandi. andai saja di tangan Nayara tak terpasang infus, Rian tidak akan membiarkan Nayara berjalan menuju kamar mandi, dia pasti akan menggendong Nayara. setelah berada di dalam kamar mandi, Nayara langsung memeuntahkan semua yang mengganjal di dalam perut nya. Rian terus mengusap tengkuk sang istri, dia benar-benar tidak tega melihat keadaan Nayara yang lemas dengan wajah yang sangat pucat.


"Kamu tidak apa-apa sayang? kakak panggilkan dokter dulu yah. "


"Ga usah kak, kata dokter ini wajar terjadi pada wanita hamil, aku ikhlas kok menjalaninya. "


"Makasih ya sayang kamu sudah mau mengandung buah hati kita. " Nayara hanya menganggukan kepalanya, kemudian dia pun kembali ke tempat tidur dengan di bantu oleh Rian pastinya. Nayara membaringkan tubuhnya sambil mengusap perutnya yang masih terlihat rata.


"Kamu kenapa sayang?kamu mual lagi? " Nayara menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa kamu nangis? "


"Aku bingung kak dengan rencana perceraian kita."ucap Nayara dengan tatapan sendu.

__ADS_1


"Nay tolong,kakak mohon jangan bahas lagi masalah perceraian, anak yang ada di rahim kamu satu-satunya bukti kalau kita harus tetap bersatu."


"Jujur saja aku belum bisa memaafkan kakak. " Ucap Nayara sambil menundukan kepalanya.


"Iya kakak tau, tapi apa kamu tega membiarkan anak kita menjadi korban jika seandainya kita berpisah?selama ini kita selalu mendambakan kehadiran seorang anak. "


"Entahlah kak aku bingung, aku benar-benar benci dengan yang namanya penghianat. "


"Nay kakak bersumpah demi apapun kakak tidak pernah mengkhianati kamu. begini saja, kakak akan berusaha memberikan bukti sama kamu kalau di antara kakak dan perempuan itu tidak ada apa-apa. " Nayara menatap sang suami dengan tatapan serius.


"baiklah aku akan menunggu bukti dari kakak, kalau kakak tidak bisa membuktikan nya aku akan tetap meminta pisah dari kakak setelah anak ini lahir. "


"Ok kakak pasti akan membuktikannya karena kakak benar-benar tidak pernah mengkhianati kamu. "


"kepalaku pusing, aku mau istirahat "


"ya sudah kamu istirahat, kakak akan selalu ada di samping kamu, kakak akan selalu menjaga kamu dan anak kita. " ucap Rian sambil mengelus kepala sang istri, Nayara pun mulai memejamkan matanya, tak lama nafas Nayara pun mulai terdengar teratur.

__ADS_1


"Tidurlah istri ku,ibu dari anak-anak ku, kakak sangat menyayangimu.terimakasih ya Allah Engkau telah memberikan jalan agar kami tetap bersama" ucap Rian sambil mengelus kepala Nayara kemudian dia pun mengecup kening dan kedua pipi sang istri dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2