Taqdir-Nya Mempertemukan Kita

Taqdir-Nya Mempertemukan Kita
Episode 82


__ADS_3

Setelah mereka keluar dari dalam mobil, Nayara langsung berjalan tergesa-gesa, karena dia merasa khawatir dan di tambah dengan rasa rindu pada sahabatnya itu, bahkan Nayara sampai lupa kalau dirinya sedang mengandung.


"Sayang hati-hati, kamu pelan-pelan jalannya." ucap Rian dengan nada sedikit berteriak. Rian benar-benar khawatir saat melihat istrinya berjalan dengan tergesa-gesa. Dengan 2 kantong keresek di tangannya Rian pun menyusul Nayara yang sempat berhenti karena mendengar teriakan suaminya.


"Kamu ini jalan atau lari sih,cepet amat. " ucap Rian sambil mengusap kepala sang istri.


"Maaf kak,, habisnya aku khawatir banget sama Rani. kakak marah ya sama aku. "ucap Nayara sambil menundukkan kepalanya.


" Enggak kok sayang kakak gak marah, kakak takut aja kamu kesandung. udah dong kamu jangan cemberut gitu, kalau Rani liat kamu cemberut kasian dia nya bakalan sedih. "


"Iya kak, aku gak sedih kok. " ucap Nayara sambil tersenyum.


"Ya udah kita terusin lagi yu jalan nya, Bunda hati-hati ya jalannya. "


"Siap papa. "


Akhirnya merekapun jalan bersamaan, Rian berjalan sambil merangkul bahu Nayara dan dengan tangan sebelahnya lagi Rian menenteng 2 kantong kresek untuk di berikan kepada Rani. Tak membutuhkan waktu lama, kini mereka sudah berada di depan pintu kosan nya Rani.


"Kamu yakin ini tempat tinggalnya Rani sekarang?" "Iya kak aku yakin, Rani udah ngasih alamat nya kok ke aku. "


"Ya udah sekarang kita coba ketuk pintunya." Nayara hanya menganggukan kepalanya sambil berjalan menuju pintu tersebut.


***


Tok... tok... tok


"Assalamu'alaikum... " Sudah beberapa kali Nayara mengetuk pintu, namun tak ada sahutan dari sahabat nya itu.


"kakak kok Rani gak buka pintunya sih? "


"Kamu yakin ini tempat tinggalnya? "


"Yakin kaaaak. nih aku liatin alamat yang tempo hari Rani kirim ke aku. " Nayara pun memperlihatkan kepada suaminya.

__ADS_1


"Iya sayang bener kok ini alamatnya. "


"Aku kan udah bilang dari tadi kalau ini emang alamatnya. "


"ya udah kamu coba ketuk kembali pintunya." Nayara pun mengangguk dan kembali mengetuk pintu itu. karena penasaran Nayara mencoba memegang knopi pintu tersebut lalu membukanya.


"Kakak pintunya gak di kunci. Apa kita masuk aja? aku takut Rani kenapa-napa. "


"Ya udah kita coba masuk aja. " Betapa kagetnya ketika Nayara dan Rian masuk,mereka melihat Rani tergeletak di lantai.


"Astagfirullah Rani.... " teriak Nayara dengan setengah berlari.


"astaghfirullah." begitu juga dengan Rian yang tak kalah kagetnya melihat keadaan sahabat istrinya itu.


"Ran bangun.... kakak cepetan tolongin Rani." Nayara terus menangis karena tak kuasa melihat keadaan sahabatnya yang tidak sadarkan diri ditambah dengan wajah yang sangat pucat.


"Iya iya sayang, kakak bantu Rani. "


Rian langsung menggendong Rani untuk di tidurkan ke tempat tidurnya.


"sebentar sayang kakak coba cari sesuatu supaya Rani sadar, barangkali dia menyimpan minyak angin. "


"Iya kak, cepetan. "


Rian mencoba membuka laci kecil yang ada di pinggir tempat tidur Rani, dan untung saja Rian menemukan minyak angin tersebut.


"Alhamdulillah ada sayang. ini minyak angin nya, kamu coba dekatkan ke hidungnya.


"Nayara langsung membuka dan mendekatkan minyak angin tersebut ke hidung sahabatnya.


" Ran... ayo bangun, ini aku ada di sini. kamu jangan kayak gini dong. " Nayara terus mencoba membangunkan Rani sambil menangis. tak lama kemudian Rani membuka matanya.


"Aku kenapa? Nay? apa aku mimpi ada kamu disini ya? " Ucap Rani ketika dia sudah sadarkan diri. dia kira dia hanya bermimpi kalau Nayara ada di sampingnya. dan ternyata Ranipun sangat merindukan sahabatnya itu sehingga dia berfikir kalau dirinya sedang bermimpi.

__ADS_1


"Kamu gak mimpi Ran, ini aku, aku ada disini. "


"Kirain aku mimpi. "


"Kamu gak mimpi Ran, aku khawatir sama keadaan kamu. kamu kenapa gak bilang kalau kamu sakitnya separah ini. kamu jahat Rani. " Nayara terus berbicara sambil sesegukan.


"Ya ampun Nay, kamu jangan khawatirin aku kayak gitu, aku gak apa-apa. "


"Gak apa-apa gimana, tadi kamu tergeletak pingsan di lantai tau. kamu jangan so kuat deh Ran. kalau kamu ada apa-apa kamu kasih tau aku. "


"Nayara sayang udah ya lebay nya. " ucap Rani mencoba menenangkan sahabatnya.


"Rese kamu Ran, kamu malah bilang aku lebay."


"Emang gak lebay sih, cuman kamu cengeng. masa yang sebentar lagi mau jadi seorang bunda masih cengeng aja. "


Rian hanya tersenyum melihat kedekatan istri dan sahabatnya. Rian benar-benar bersyukur karena Allah telah mempertemukan nya dengan seorang wanita yang sangat penyayang.


"Kamu kesini sendiri Nay? " karena kepala yang masih pusing sampai-sampai Rani tak menyadari kalau perdebatanya tadi bersama Nayara di lihat oleh suami sahabatnya itu.


"Aku kesini bareng suami aku. "


"Terus suami kamu dimana? kok gak di ajak masuk? "


"Ya ampun Raaaan kamu gak lihat satpam di belakang aku? " ucap Nayara sambil menunjuk sang suami yang ada di belakangnya.


"Astaghfirullah.kak Rian maaf aku gak tau Nay kesini bareng kak Rian. " Ucap Rani sambil mencoba membangunkan dirinya.


"Udah Ran kamu gak usah bangun, kamu tiduran aja supaya pusing kamu cepat hilang."


Di tengah-tengah perbincangan mereka, HP Rian bunyi, di lihatnya layar telpon tersebut, ternyata Jepri yang menelpon.


"Sayang kakak keluar dulu sebentar ya, ini temen kerja kakak nelpon takutnya ada sesuatu yang penting. "

__ADS_1


"Iya kak. "


Rianpun bergegas keluar untuk mengangkat telepon dari Jepri.


__ADS_2