Taqdir-Nya Mempertemukan Kita

Taqdir-Nya Mempertemukan Kita
Episode 62


__ADS_3

"Ayo pah, pak hermawan, kita masuk kasihan Nayara di dalam sendirian. " ucap mamahnya Rian kemudian di angguki oleh suami dan besannya. mereka pun berjalan menuju kamar inap Nayara.


"Sayang kamu mau kemana? " tanya mamah mertua ketika melihat Nayara akan menginjakan kakinya ke lantai.


"Aku mau ke kamar mandi mah. "


"ya udah ayo mamah bantu. "


"Iya mah, makasih. "


"tidak usah berterima kasih, kamu juga kan anak mamah. " ucap sang mamah mertua sambil mengusap kepala menantunya.


Nayara pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamar ruangan inapnya dengan di bantu mamah mertuanya, sedangkan bapak dan papah mertuanya, mereka menunggu di sebuah sofa yang ada di ruangan itu.


"pak Hermawan alhamdulillah yah sebentar lagi kita akan menjadi seorang kakek, saya benar-benar bersyukur, karena saya sudah lama ingin memiliki cucu. " ucap papah nya Rian kepada besannya.


"Iya Pak alhamdulillah, saya juga ikut senang. "


"Mudah-mudahan dengan adanya anak, mereka bisa melupakan masalah perceraian mereka. " ucap ayahnya Rian.


"Iya Pak, saya sebagai bapaknya Nayara meminta maaf dengan keputusan anak saya semula yang bersikeras meminta cerai dari nak Rian. Dulu Nayara pernah di sakiti oleh seorang pria, dan mungkin itu yang membuat anak saya takut di sakiti kembali. "


"Iya Pak hermawan saya mengerti kok, dari awal bertemu Nayara, saya tau dia wanita sholehah dan saya yakin dia bisa menjadi istri sekaligus menantu yang baik, oleh sebab itu saya merestui Rian ketika dia mengenalkan Nayara kepada kami, yah mungkin kesalahan pahaman mereka yang membuat rumah tangga mereka sempat mengalami keretakan, namun di detik-detik perpisahan mereke terjadi, qodarullah tetap mempersatukan mereka dengan memberikan anak di tengah-tengah hidup mereka."

__ADS_1


"Iya Pak do'a-do'a kita sebagai orang tua mereka alhamdulillah di kabulkan oleh Allah. "


Di tengah-tengah perbincangan mereka, Nayara keluar dari kamar mandi dengan di gandeng oleh sang mamah mertua.


"papah lagi ngobrol apa sama pak hermawan, serius amat? " celetuk ibu mertua Nayara ketika melihat suami dan besannya sedang serius mengobrol, bahkan mereka pun tidak menyadari kalau Nayara dan dirinya sudah berada di ranjang.


"Eh mamah, ini kami sedang curhat sesama laki-laki. "


"Oh jadi laki-laki juga suka curhat ya? kirain cuma wanita saja yang hobinya curhat-curhatan. "


"suka dong mah, apalagi yang di curhatin oleh kami itu calon cucu kami, makanya kami serius ngobrol nya. iya kan Pak hermawan? " ayah Nayara hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum menanggapi pertanyaan dari sang besannya.


"Oh iya Pak, Tia kemana? dari tadi Nay gak liat dia."


"Oh,,, kirain Tia mau nemenin Nay disini? lagian Nay kangen banget sama dia, udah lama kami tidak bertemu. "


"Sayang kamu jangan sedih gitu dong, Tia pasti akan sering-sering jenguk kamu dan calon keponakan nya. iya kan Pak hermawan? " ucap sang mamah mertua mencoba menghibur menantunya agar tidak sedih dengan kepulangan adiknya.


"Iya Nay,, lagian kamu tau kan tempat kerjanya Tia bagaimana? tempat kerja Tia ketat banget sehingga adik kamu tidak bisa minta cuti terlalu lama. "


"Iya Pak, Nay lupa. " jawab Nayara sambil sedikit menyunggingkan bibirnya.


"sayang mama seneng deh akhirnya mama akan segera punya cucu, dan yang paling membuat mama senang, dengan kehadiran buah hati kalian akhirnya kalian tidak akan jadi bercerai. " ucap mamah mertuanya dengan wajah yang berbinar.

__ADS_1


"perceraian akan tetap terjadi mah setelah anak ini lahir. " jawab Nayara dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu ngomong apa Nayara? " ucap bapak Nayara dengan sedikit menyentak.


"Iya Pak, kami sudah membuat kesepakatan, jika kak Rian tidak bisa membuktikan kalau dirinya tidak berkhianat maka perpisahan akan tetap terjadi setelah anak ini lahir. " Ucap Nayara sambil menundukan kepalanya dan sambil meneteskan air matanya.


"Pak, bu, boleh saya bicara dengan anak saya dulu? " ucap bapak Nayara kepada kedua besannya. kedua besannya pun menganggukan kepalanya sambil melangkahkan kaki mereka keluar. mereka juga berharap semoga bapak Nayara bisa membujuk anaknya agar Nayara tidak selalu meminta cerai dari Rian. sepeninggalan kedua mertuanya Nayara masih menundukan kepalanya, dia tidak berani menatap sang ayah, dia tau jawabannya tadi membuat ayahnya sedikit emosi dan marah.


"Bapak tidak marah sama kamu nak. namun bapak kecewa sama kamu, bapak tidak pernah menyangka anak bapak bisa menyakiti mertua yang sudah begitu baik sama kamu. "


Nayara tak berani menjawab kata-kata dari sang ayah, bahkan Nayara pun tidak sanggup untuk menatap ayahnya.


"Nay, bukannya bapak ingin ikut campur masalah rumah tangga kamu, tapi bapak hanya ingin mengingatkan agar kamu tidak salah mengambil keputusan, bapak tidak ingin kamu menyesal nantinya. "


"Tapi Nay takut untuk sakit hati kembali pak. " jawab Nayara dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"Bapak sudah berulang kali mengingatkan kamu, kamu jangan terlalu percaya dengan apa yang kamu lihat, karena apa yang kamu lihat belum tentu itu kenyataannya. Bapak adalah ayah kamu, bapak tidak mungkin menjerumuskan anak bapak sendiri, selama ini Bapak melihat ketulusan kasih sayang suamimu, bapak yakin suamimu tidak akan mungkin mengkhianati kamu, jangan kamu jadikan rasa trauma kamu akan menghancurkan kehidupan kamu apalagi sekarang kamu juga harus memikirkan anak yang ada di dalam kandungan kamu, apa kamu bisa membayangkan anak kamu hidup dengan tanpa kasih sayang seorang ayah di sampingnya?" mendengar perkataan yang di lontarkan ayahnya Nayara hanya menggelengkan kepala sambil menghapus air matanya yang terus menetes .


"Jika kamu sayang pada calon anakmu maka kamu harus berfikir lebih dewasa lagi agar kamu tidak salah mengambil keputusan. "


"Maafkan Nay pak, mulai sekarang Nay janji Nay tidak akan meminta cerai lagi pada suami Nay. " Mendengar perkataan Nayara ayahnya pun langsung memeluk anaknya sambil mengusap kepala Nayara.


"Yang harus kamu tau bapak dan semua yang ada disini sangat menyayangi mu termasuk suami mu nak. " Nayara kembali menganggukan kepalanya sambil memeluk erat ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2