
Aisah hanya bisa menangis dalam diam,air mata nya terus menetes,Nayra memeluknya dengan erat,menguatkan Aisah,agar tidak berlarut dalam kesedihan.
Setelah mobil Justin keluar dari halaman pesantren.Mobil pak menteri pun datang bersama dengan keluarga nya.
Di sebuah ruangan Maryam dan Azmi nampak sedang berdebat,ke dua nya terlihat sedang memberikan pendapat satu sama lain.
"Aa,mengerti lah,ini bukan jaman Siti Nurbaya,atau jaman kita menikah dulu,kita hanya hidup di tempat ini,dan tak pernah melihat indah nya dunia luar.Namun,untuk Aisah,masa depan nya masih panjang,tolong pikirkan lagi perjodohan dan lamaran kali ini.Kalau pun Aa tidak menerima pria asing itu,setidak nya,jangan memaksa Aisah dalam perjodohan ini!"pungkas Maryam,untuk pertama kali nya,berani memberi pendapat yang mungkin bisa menentang keinginan sang suami.
"Siapkan diri mu,kita akan segera menyambut tamu!"tegas Azmi,Maryam menatap sendu ke arah Azmi.
"Aa..."panggil nya lagi,namun Azmi telah pergi dari ruangan itu,untuk menyambut tamu yang telah datang.
"Bagaimana ini ya Allah,hamba serahkan semua nya pada -Mu ya Allah.Berikan petunjuk dan jalan agar semua nya tidak salah dalam memilih keputusan"Maryam pun pergi dari tempat itu,untuk menyusul sang suami.
* * *
Azmi menyambut hangat tamu istimewa nya.Hidangan mewah telah di sediakan untuk para tamu.Di dalam aula pertemuan,hanya ada ke dua keluarga yang sedang berbicara serius mengenai lamaran itu.
"Jadi,Gus bisa kah kita melihat calon pendamping Anak saya?"seru seorang ibu yang dari pihak calon laki-laki.
"Tentu bisa.Maryam,panggil 'kan Aisah!"titah Azmi,Maryam yang sedikit gugup pun berdiri,dan berdoa,agar Azmi masih bisa merubah keputusan nya di detik terakhir.
Di dalam ruangan,dari jauh.Maryam melihat Aisah,yang sedang duduk melamun,dengan tasbih di tangan nya,tentu saja,Aisah sedang berdzikir.Maryam tersenyum,lalu pergi menghampiri Aisah.
"Aisah!"panggil Maryam,wanita itu mendongakkan kepala nya.
"Aa memanggil mu ke dalam!"
"Baiklah!"sahut Aisah dengan lembut dan tersenyum.Aisah pun berdiri,Maryam menuntun nya menuju ruangan di mana para tamu menunggu mereka.
"Assalamualaikum!"ucap Aisah,sembari melangkah masuk ke dalam ruangan itu,setelah memberi salam.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana menatap kagum ke arah Aisah,bahkan pak menteri tidak mengedipkan mata nya walaupun hanya sesaat.Memang Aisah,wanita muda yang banyak karya,dan juga tergolong wanita sejuta prestasi.
Setelah berbicara mengenai kelangsungan lamaran itu,Azmi pun membuka suara dengan keputusan akhir nya.
"Ada yang ingin kamu katakan Aisah?"tanya Azmi,Aisah hanya diam saja,tidak ingin berbicara sepatah kata pun,karena keputusan ada pada Azmi.
Sebelum Azmi berbicara,ia lebih dulu melirik sang Adik dan juga istri nya.
"Saya meminta maaf,kepada semua nya,seperti nya saya tidak bisa melanjutkan lamaran ini.Dengan alasan,Aisah menolak untuk menjadi istri ke dua,karena ia tidak pernah sanggup melihat penderitaan istri pertama,Saya sebagai Kakak hanya bisa setuju dengan pendapat nya!"
Keputusan Azmi,membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu terkejut,apalagi Pak menteri dan ibu nya.
"Bukan kah,sebelumnya Aisah sudah setuju akan hal itu?"tanya Pak Menteri,
"Aisah belum mengambil keputusan,namun setelah ia kembali dari Thailand,ia sudah memutuskan untuk tidak menikah dengan Pria yang sudah beristri,bukan tidak ridhoi,Aisah hanya tidak ingin menyakiti hati wanita lain!"
Alasan itu tentu saja membuat keluarga Pak Menteri tersinggung.Pasal nya,Azmi tidak pernah keberatan akan hal itu sebelumnya.Namun,tiba di hari lamaran,mereka malah membicarakan akan hal itu.
"Saya kecewa dengan keluarga ini,kami permisi dulu!"
Maryam dan Aisah ikut berdiri dan menyusul Azmi di luar aula.
Setelah mereka pergi,Azmi menoleh ke arah Aisah dan Maryam.Tentu saja,Maryam bahagia akan keputusan sang suami.
"Aisah,Aa sudah membereskan masalah mu di masa depan,aku harap kamu tidak mengecewakan Aa!"
"Terimakasih Kak"Aisah memeluk Azmi,hanya Azmi orang yang bisa di percayai oleh Aisah,karena hanya Azmi yang mengerti perasaan sang adik.Dia tidak ingin menempatkan Aisah dalam keadaan sulit.
"Pergi lah,mulai hari ini fokus mengajar anak-anak santri,jangan mengurung diri di kamar,ingat keputusan Aa kali ini tidak gratis,Aa meminta mu membantu Aa di pesantren ini!"tegas Azmi,sembari tersenyum.
"Aisah mengerti Aa"
__ADS_1
"Kamu berbicara sama Nayra,Aa akan membereskan semua nya!"
Azmi dan Maryam pun pergi meninggalkan tempat itu.
"Aku senang Kak Azmi akhir nya memutuskan perjodohan itu"Nayra langsung memeluk Aisah,begitu juga Aisah yang terlihat begitu bahagia.
Di dalam kamar,Azmi dan Maryam duduk di tepi ranjang.
"Aa,apa alasan Aa tiba-tiba mengambil keputusan itu?"tanya Maryam,
"Alasan apa lagi yang bisa Aa katakan,Aa tidak ingin memaksa Aisah,tapi Aa tidak bisa setuju dia menikah dengan pria yang beda keyakinan!"
"Maryam mengerti Aa,tapi untuk saat ini fokus lah dulu pada pesantren ini,biarkan masalah ini berlalu begitu saja,jangan diambil pusing,semua akan baik-baik saja.Semoga ke depan nya,Aisah menemukan seseorang yang cocok dengan nya dan dengan kita juga!"
"Amiin!"Azmi mengusap lembut kepala sang istri,saat Maryam menyandarkan kepala nya di bahu Azmi.
Di luar aula,Nayra dan Aisah masih duduk bersama.
"Apa mungkin Gus setuju dengan Tuan Justin?"
"Tidak mungkin,Gus bukan orang yang seperti itu.Gus tidak akan menerima orang asing dalam keluarga nya!"tukas Aisah.
"Heeemm,bagaimana kalau Gus tau,Tuan Justin sudah mualaf?"
"Eh iya.Kenapa aku bisa lupa,bukan kah,Tuan Justin juga mengatakan jika ia sudah mualaf?sudah lah Nay,jika tidak jodoh jangan di paksakan.Hal yang di paksakan tidak akan baik!"pungkas Aisah,lalu berdiri dari duduk nya.
"Kamu mau kemana?"
"Membantu membereskan tempat ini!"
"Aku ikut!"Nayra dan Aisah pun membereskan prasmanan,dan juga segala hal tentang lamaran tersebut.
__ADS_1
Dari jauh,Azmi dan Maryam melihat ke arah Aisah dan Nayra.Mereka dapat melihat kembali senyuman tulus dari bibir Aisah,yang sempat hilang beberapa waktu.
Sungguh itu membuat Azmi menjadi lega,ia sudah mengambil keputusan yang tepat untuk sang adik.Dia tidak akan menyesal akan keputusan itu,namun sebaliknya,seandainya dia salah mengambil keputusan,itu akan menyesal seumur hidup nya.