Tasbih Cinta Aisah

Tasbih Cinta Aisah
Malam


__ADS_3

Justin mendekati Aisah, yang sedang membenarkan kasur yang akan mereka tempati, malam ini terpaksa tidur di bawah, sementara ranjang baru saja rusak.


"Sayang, kenapa tadi pas waktu ke masjid wajah Gus Azmi kelihatan marah kepada kita?" tanya Justin, yang kini duduk di sebelah Aisah,


"Heeemmm..." Aisah hanya menghela nafas, tanpa menjawab pertanyaan Justin. Tentu saja Azmi marah, telah menunggu lama Aisah dan Justin yang tak kunjung keluar kamar, padahal mereka telah mengatakan ingin sholat berjamaah bersama dengan yang lain.


Namun, Justin dan Aisah, malah sibuk di kamar mandi saling menggoda satu sama lain, hingga lupa waktu.


"Ayo kita tidur, biar bisa istirahat yang cukup!" ujar Aisah, memberikan selimut untuk Justin, pria ini pun langsung berbaring dan merentangkan tangan nya ke arah Aisah.


"Ayo tidur" ajak Justin, Aisah segera mendekat, dan memeluk Justin, ke dua nya masih asik mengobrol sebelum ke dua nya terlelap.


"Mas, kenapa tidak mau menikah lagi?"


Pertanyaan Aisah, membuat Justin melirik tajam ke arah nya.


"Jangan memulai!" tegas Justin, yang kini memejamkan mata nya.


"Tidak mas, aku tidak memulai nya, hanya saja aku penasaran dengan alasan mas. Karena, jaman sekarang sangat jarang menemukan pria yang begitu tulus mendampingi istri nya, saat dalam ketidaksempurnaan seperti aku mas"


"Bisa kah, aku salah satu pria yang ada dalam seribu laki-laki yang jahat mendua 'kan istri nya ? namun aku memilih untuk setia" Justin masih memejamkan mata nya, Aisah merebahkan kepala nya di atas Justin, lalu mengusap lembut dada bidang milik sang suami.


"Terimakasih sayang" ucap Aisah, Justin mencium pucuk kepala Aisah, lalu ke duanya tidur bersama, dan larut dalam mimpi yang indah.


Ke esokan pagi nya...


Di meja makan, ada Jos dan juga yang lain, Aisah melayani sang suami sebaik mungkin, raut wajah Azmi tidak dapat di bohongi, dia masih kesal dengan adik ipar nya soal tempo hari yang membuat nya menunggu lama.


"Hari ini kami mau ziarah ke makam Abah dan Ummi, Gus mau ikut?"


"Gus, ada rapat di masjid, bagaimana kalau Kakak ipar mu saja?"


"Mas, kamu lupa ? hari ini aku ada jadwal mengaji untuk santriwati kelas enam"


"Enggak apa - apa, kami akan pergi bertiga saja" tukas Aisah, lalu melanjutkan sarapan.


Hari ini cuaca terlihat begitu cerah, malang sedang di landa musim kemarau, dan sudah satu Minggu disini belum turun hujan, padahal terlihat persawahan padi sedang membutuhkan asupan air yang cukup banyak.


Justin terpaksa menyetir, karena dia ingin mengelilingi tempat tinggal Aisah, dengan menyetir sendiri, membiarkan Jos untuk beristirahat.


Jos bukan hanya duduk beristirahat, namun pria ini masih sibuk mengurus pekerjaan yang mereka tinggal selama beberapa Minggu ini. Banyak pekerjaan yang harus di selesai 'kan oleh Jos dan Justin, sebelum ia kembali ke Thailand, proposal yang di mintai klien harus segera selesai.


Tak lama kemudian, mereka tiba, namun yang turun hanya Justin dan Aisah saja, Jos memilih untuk tinggal di mobil.


Lima belas menit berlalu, disaat Aisah dan Justin akan masuk ke mobil, tanpa sengaja Aisah melihat sosok wanita yang sangat dia kenal.


"Nayra" panggil Aisah, sedikit berteriak karena jarak dia dan Nayra lumanyan jauh, panggilan itu membuat Justin terkejut, dan langsung menoleh mengikuti arah netra Aisah memandang.


"Aisah" mendengar ada suara yang memanggil namanya, Nayra pun menoleh, dan benar saja itu tadi Aisah yang memanggil dia.


Nayra menghampiri Aisah, dan melihat disana ada Justin, tentu saja Nayra sangat merindukan sahabat nya itu, yang sudah lama tidak di lihat oleh nya.


"Aku akan menunggu kamu di mobil" ujar Justin, yang segera masuk ke dalam mobil.


"Mas..." Justin segera berlalu.

__ADS_1


"Apa kabar kamu?" Nayra langsung memeluk Aisah, begitu tiba di depan Aisah.


"Alhamdulillah baik, bagaimana dengan kamu?"


"Aku baik, aku sudah mendengar semua yang terjadi, aku harap kamu kuat menghadapi nya" Nayra melepas pelukan nya.


"Sedang apa kamu disini? bukan kah, makam ibu mu ada di Jakarta?"


"Aku sedang berziarah di makam ayah"


"Ayah?" Aisah menutup mulut nya, karena ia baru mengetahui itu.


"Iya ayah, sudah pergi dua bulan yang lalu" tak terasa air mata Nayra menetes.


"Aku turut berduka Nay, maafkan aku, aku baru mengetahui nya" Aisah, menyeka air mata Nayra,


"Aku yang melarang Gus untuk tidak memberitahu kamu, karena aku takut kamu sedih apalagi masalah mu sudah berat, aku tidak mau menambahkan nya"


"Sabar Nay, jika butuh apa-apa curhat sama aku" Aisah, kembali memeluk Nayra, Nayra merasa jika Aisah adalah orang yang tepat untuk ia berbagi suka duka. Namun, Nayra sadar, Aisah telah berkeluarga, dia tidak mau menceritakan semua duka nya pada Aisah, dia tidak mau membebankan pikiran Aisah.


"Ternyata kamu disini" seseorang menarik tangan Nayra, Aisah dan Nayra sama-sama terkejut.


Pria itu adalah juragan Empang yang sangat kaya raya di malang, mengetahui Nayra bersama dengan Aisah, pria itu tersenyum genit ke arah Aisah.


"Boleh juga ini sahabat kamu" Juragan Empang itu melihat ke arah Aisah, sembari mengelus kumis nya yang tebal.


"Urusan kita hanya berdua, jangan libatkan orang lain" ketus Nayra,


"Urusan apa Nay? kenapa kamu bisa memiliki masalah dengan pria ini?" tanya Aisah, namun di dalam mobil, Justin yang melihat, istri nya di ganggu sama pria lain, langsung turun dari mobil.


Meskipun bahasa Indonesia Justin tidak terlalu lancar, juragan Empang mengerti yang di maksud Justin.


"Ayo ikut aku!" Juragan Empang menarik paksa lengan Nayra,


"Tunggu, mau anda bawa kemana Nayra, lepaskan dia!" tukas Aisah, yang mencoba menolong Nayra.


"Tentu saja, dia harus ikut dengan ku, karena ayah nya meninggalkan banyak hutang, jaminan nya adalah dia harus menikah dengan ku!" tegas Juragan itu, juragan Mardi, pria kaya raya di daerah malang.


"Tapi itu bukan kesalahan dia, kamu tidak bisa memaksa nya"


"Kamu jangan ikut campur, ini urusan aku dengan wanita ini, jika kamu tidak ingin ku hajar!"


Duaaacckkh!


"Aakh"


Justin langsung menendang juragan, saat mendengar pria itu mengancam istri nya.


"Siapa yang kau ancam, Haah?" Justin, menarik kerah jaket kulit milik juragan, Aisah membawa Nayra ke mobil.


"Berapa hutang ayah Nayra, aku akan melunasi nya"


"Tuan, biar aku bereskan" Jos baru saja turun dari mobil.


"Jos, urus pria ini jangan sampai menganggu kehidupan orang lain"

__ADS_1


"Hutang nya lima ratus juta, apa kau mau membayar nya?" teriak juragan itu, dan menatap nyalang ke arah Justin, mengingat ini adalah tempat orang lain, Justin memilih untuk langsung membayar nya, ia tidak ingin membuat masalah untuk Azmi.


"Tuan, saya akan membayar nya untuk anda, tuliskan nomer rekening anda disini" Jos memberikan iPad kepada juragan Mardi, dan pria itu pun langsung menulis nomer rekening tanpa menolak lagi, melihat Justin saja ia sudah mengerti kalau Justin tidak bisa di lawan.


"Sudah, sekarang masalah anda sudah selesai" Jos pun menyuruh pria itu untuk pergi, dan mereka segera kembali ke mobil.


Aisah dan Nayra, duduk di belakang, kini di depan ada Justin dan Jos.


Nayra sudah menceritakan semua bagaimana awal mula ia terlibat hutang dengan Juragan Mardi, dan itu membuat Aisah sangat prihatin kepada Nayra.


Aisah membawa Nayra kembali ke pesantren, tiba di pesantren, Maryam menyambut nya dengan hangat, Maryam pun meminta maaf kepada Aisah, yang menutupi masalah Nayra dari dirinya.


"Tidak masalah, hutang itu sudah kami lunasi" ujar Jos,


"Saya ke kamar dulu" Justin segera masuk ke dalam kamar, Justin mulai tidak senang dengan ke hadiran Nayra, semenjak Aisah menyuruh nya untuk menikahi wanita itu. Aisah tersenyum kecut ke arah semua orang, ia sangat mengerti dengan sikap sang suami.


"Terimakasih untuk semua nya, aku akan kembali ke rumah" pungkas Nayra, yang ingin berdiri.


"Kenapa tidak tinggal di sini saja?" saran Aisah,


"Iya tinggal disini saja, kamu bisa membantu Kakak untuk mengurus anak santriwati" sambung Maryam, namun terlihat sekali Nayra, tidak enak akan kebaikan keluarga Aisah, yang selalu membantu nya.


"Jangan banyak berpikir, langsung iya 'kan saja" Aisah menyenggol siku Nayra, wanita ini pun pada akhirnya mengangguk juga.


Sejak di tempat makam, hingga di rumah, Jos terus memperhatikan Nayra, dan Aisah mengetahui itu, namun Aisah tidak tahu bagaimana tanggapan Nayra terhadap Jos.


"Nyonya, saya permisi dulu"


"Silahkan"


Sebelum Jos pergi, ia sempat melirik ke arah Nayra dan tersenyum, terlihat ke dua nya saling memberikan sinyal satu sama lain, dan itu tentu saja membuat Aisah lebih bersemangat. Dia senang, jika pada akhirnya sahabat nya bisa segera menikah, jika Jos dan Nayra berjodoh, Aisah yang akan membantu mereka berdua.


...***...


Masih dengan kasur yang sama, dan tidur di lantai.


"Ada apa ? kamu belum tidur?" tanya Justin, yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mas, mungkin enggak sih, kalau Jos menikah dengan Nayra?"


Justin menaikan ke dua alis nya, mendengar pertanyaan Aisah, dan lalu ia menghela nafas berat nya.


"Sayang, jangan ngaco, jangan ikut campur dengan kehidupan orang lain" Justin naik ke atas kasur, dan berbaring di samping Aisah yang sedang duduk.


"Mas, aku serius, aku memperhatikan Jos dan Nayra, ke dua nya terlihat dekat, dan tidak seperti baru bertemu setelah lama berpisah, apa mereka selama ini sering kontak bersama?"


"Sudah, sudah ayo tidur!" Justin, menarik bahu Aisah, agar segera berbaring, dan mematikan lampu, hanya mengandalkan lampu tidur saja.


"Mas..."


"Ssstttt ! tidur, besok lagi bahas itu, aku ngantuk!"


Aisah pun terpaksa menyudahi pertanyaan nya, saat melihat sang suami yang sudah lebih dulu memejamkan mata nya.


Justin memeluk erat tubuh mungil sang istri, meskipun hanya di kamar sederhana, Justin tidak mengeluh terhadap Aisah, padahal ia sudah terbiasa tidur di kamar mewah dengan udara yang sejuk. Namun, kali ini hanya mengandalkan kipas angin, tentu saja membuat Justin, tidak begitu terlelap saat tengah malam, bila hawa panas menyerang.

__ADS_1


__ADS_2