
Aisah membuka mata secara perlahan, ia melihat seluruh ruangan itu, menyapu semua sudut ruangan dengan netra nya, lalu terkejut mendapati Justin tertidur di samping nya.
Terlihat ruangan yang begitu besar, lengkap dengan semua perlengkapan yang mereka butuh 'kan dari televisi, kulkas, dan juga ada meja makan dengan dua kursi, serta sofa di dekat jendela, bahkan ada kompor mini yang terletak di dekat kamar mandi, kamar ini sungguh mewah layak nya seperti apartemen dan bukan rumah sakit.
Aisah mengangkat tangan lalu mengusap lembut kepala Justin, sehingga membuat pria itu terbangun dan menguap.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Justin, sembari mengucek ke dua mata nya. Aisah tersenyum, dan ingin menyentuh perut nya, ia merasakan nyeri yang luar biasa setelah selesai di operasi. Dan baru lah Aisah sadar, jika dirinya baru saja menjalani operasi yang besar.
"M- Mas..." lirih Aisah, dengan bibir yang gemetar, air mata ikut mengalir, dan melirik ke arah Justin yang saat itu, berada di samping nya.
"A-anak ku mas" ucap Aisah lagi, Justin segera memegang tangan Aisah, dah mencoba menenangkan nya.
"Tenang ya sayang, kamu harus tenang...."
"Mas, mana bisa aku tenang, dimana anak ku, aku ingin melihat nya, aku yakin mereka baik-baik saja, Aah .." Aisah kembali mendesah, saat ia merasakan sakit pada bekas jahitan, dan Justin mencoba membantu Aisah untuk duduk.
"Sayang, mereka ada di ruang bayi, dan sedang di tangani oleh dokter, kita belum bsia menjenguk nya, saat ini baby sedang dalam masa perawatan, ada masalah pada hati nya, jadi dokter harus merawat nya, melarang kita untuk menyentuh baby untuk sementara waktu" ungkap Justin, masih memegang ke dua tangan Aisah.
"Aku ingin melihat meskipun hanya dari luar, mas ku mohon..."
Melihat Aisah, yang terus menerus memaksa dan mendesak Justin, akhir nya Justin menyerah dan mau mengantar Aisah untuk bertemu dengan baby nya di ruang baby.
Justin membantu Aisah untuk turun dari ranjang, dan menarik kursi roda untuk lebih dekat dengan ranjang. Begitu Aisah sudah siap untuk keluar, dokter yang menangani Aisah masuk.
Ceklek !
Dokter itu, adalah Dokter yang sama, dokter Metti, dia hanya dokter pengganti di rumah sakit itu, dokter Metti merawat anak Justin, kebetulan dia bagian untuk merawat pasien yang mengalami penyakit dalam.
"Tuan, anda ingin kemana?" Metti menghampiri Justin, dan Aisah.
"Istri saya ingin melihat baby, dan dia ingin melihat mereka walaupun hanya sebentar" ungkap Justin,
"Tapi, kondisi anda masih lemah, tidak boleh banyak gerak dulu, biarkan saya periksa anda sebentar ya"
"Eeemmm" Aisah pun membiarkan dokter Metti memeriksa diri nya, karena rasa khawatir Aisah kepada baby nya membuat detak jantung dan tekanan darah Aisah naik.
"Tidak perlu khawatir, baby baik-baik saja, jangan di bawa cemas, anda harus rileks, saya doakan semoga anda cepat sembuh"
"Amiin, terimakasih dok"
Metti tersenyum, lalu berpamitan kepada Justin dan Aisah. Setelah dokter Metti keluar, Justin segera mendorong kursi roda Aisah menuju ruang Baby.
Tiba di luar ruangan, Aisah dan Justin malah bertemu dengan Azmi dan Maryam.
__ADS_1
"Aisah" Maryam mendekat, Aisah tersenyum.
"Bagaimana kabar nya?" tanya Azmi kepada Justin.
"Sudah membaik Gus, ini kami mau pergi melihat baby, karena Aisah katanya ingin melihat anak nya"
"Kamu ikut, Kami juga ingin melihat ponakan kami"
Mereka semua pergi ke ruang baby, dan berdiri di samping ruangan yang di batasi oleh dinding kaca, dari jauh terlihat Babay Nyonya Aisah, dalam incubator, dan terlihat baby itu yang aktif, tangan nya bergerak begitu juga dengan kaki nya, hanya di pasang pempes dan banyak alat medis di tubuh Baby.
Aisah menyentuh dinding kaca itu, bersama dengan air mata yang ikut mengalir di pipi nya, Justin meremas bahu Aisah, berusaha menguatkan diri nya dan sang istri.
Bagaimana pun ini adalah anak pertama, dan perjuangan mereka selama ini cukup besar, untuk bisa melihat buah hati mereka. Namun, begitu anak nya lahir, masih ada saja cobaan yang menghuni kesabaran nya.
"Baby nya cowok apa cewek?" tanya Maryam.
"Cowok, dan belum ada nama, sayang mau kasih nama apa untuk anak kita ?" Justin sedikit menunduk untuk berbicara dengan Aisah.
"Alfarisi, bagaimana mas?" Aisah menoleh ke arah Justin, dan pria itu mengangguk.
"Muhammad Alfarisi" sambung Azmi, Aisah tersenyum.
"Nama yang bagus, jadi Muhammad Alfarisi Arlando, begitu sayang?"
"Oek..Oek..Oek.."
"Sayang..." Aisah terkejut, mendengar suara tangisan baby nya yang cukup kencang, dan membuat Aisah panik.
"Mas, baby nangis...bagaimana ini?"
"Sayang, tenang. Ada perawat yang akan menangani nya, kamu tenang lah, jangan banyak gerak" Justin mengusap pelan punggung Aisah, untuk menenangkan istri nya.
Memang dari luar terlihat, sang perawat yang menenangkan Al, dan memberi dot yang sudah di isi 'kan susu formula untuk Al.
"Kenapa di beri susu formula, aku bisa menyusui nya mas" tukas Aisah,
"Sayang, selama seminggu ini, biarkan Al minum susu formula dulu ya, karena saat ini kondisi kamu dan dia sedang tidak baik - baik saja, setelah kalian membaik, entar aku janji, akan membawa Al untuk mu, agar kamu bisa menyusui nya" ungkap Justin, melihat Aisah sudah mulai tenang, Justin pun lega.
Dari jauh Aisah terus memandangi incubator yang ada Al di dalam nya, dan baby Al terlihat sudah tenang dan tidak menangis lagi. Begitu juga dengan Aisah, dia pun sudah mulai tenang karena anak nya baik-baik saja.
"Ayo kita kembali ke ruangan, kamu harus banyak istirahat biar cepat sembuh, jangan banyak duduk, ini baru hari pertama"
" Baik Mas"
__ADS_1
Mereka pun kembali ke ruangan inap Aisah, saat ini Maryam dan Azmi masih berada di dalam ruangan itu, menjaga Aisah, karena Justin ingin membelikan sesuatu untuk istri nya.
"Kemana Justin pergi?" tanya Azmi, melihat pria itu tak kunjung kembali, setelah dua jam pergi.
"Entah Mas, saya juga kurang tahu, tadi dia hanya pamit" jawab Maryam.
"Gus mau pulang?" tanya Aisah,
"Gus tidak sedang buru-buru sih, hanya saja Gus punya janji dengan Kiai, dan ingin membahas keberangkatan haji Kak ipar mu" pungkas Azmi.
"Kakak mau haji?"
"Iya, InsyaAllah, masih dalam perencanaan, doain saja, semoga cepat dipanggil"
"Kenapa enggak ambil haji plus?"
"Tergantung sama Gus Aisah"
"Eemmm" Aisah hanya mangut - mangut saja. Maryam menjaga Aisah dengan sangat baik, selama Justin pergi.
Setelah menunggu begitu lama, dan akhirnya Justin kembali juga, dan ternyata di luar sedang hujan, terlihat baju Justin yang sedikit basah.
Ceklek !
"Assalamualaikum" ucap Justin, begitu pintu terbuka.
"Waalaikumsalam " jawab mereka serentak, Justin masuk dengan Paper bag di tangan nya.
Berhubung, Justin sudah kembali, Azmi dan Maryam berpamitan untuk pulang.
"Mas, dari mana kamu?"
"Habis ambil ini" Justin mengangkat sebuah paperbag di tangan nya.
"Apa itu mas?"
" Ini hadiah untuk istri ku, yang sudah mau menghadiahkan aku seorang baby setampan Alfarisi" ujar Justin, lalu membuka paper bag di tangan nya.
Isi nya membuat Aisah terkejut. " Mas, kenapa beli ini?"
Itu adalah satu set perhiasan, yang Justin pesan pada Arkana beberapa hari lalu, rencana akan di hadiahkan dua bulan lagi saat Aisah akan melahirkan, sebagai bentuk rasa terimakasih Justin untuk Aisah.
"Terimakasih banyak mas..."
__ADS_1
"Sama-sama sayang" Justin memeluk sayang istri, dan mengecup beberapa kali kening Aisah dan ke dua pipi Aisah, terlihat ke duanya begitu bahagia.