
Aisah dan Nayra, sama-sama membantu Maryam. Hari ini, hari terakhir Aisah berada di indonesia, setelah seminggu lama nya.
"Apa yang terjadi?" Nayra memegang bahu Aisah, dan melihat wajah Aisah pucat, membuat Nayra sedikit khawatir.
"Aku tidak apa-apa, seperti nya aku ingin istirahat saja" ujar Aisah, yang di bantu oleh Nayra berjalan ke arah tempat duduk.
"Aisah" pekik Nayra dengan kuat, melihat darah yang membekas di gamis yang di kenakan Aisah, kebetulan ia mengenakan gamis berwarna, sehingga noda darah terlihat begitu jelas.
"Apa yang terjadi?" tanya Aisah, namun kesadaran Aisah mulai menurun, dan tiba-tiba penglihatan Aisah muram buram dan ia tidak dapat melihat apapun.
Dugh!
Aisah, terjatuh pingsan, sebelum Nayra sempat menahan nya. Dari jauh, Justin dan Jos, yang sedang membahas proyek mereka, melihat Aisah terjatuh, Justin segera berlari menghampiri Aisah.
"Aisah!" teriak Justin, semua orang yang ada disana pun menoleh ke arah Aisah dan Nayra.
"Sayang, bangun!" Justin, segera memangku tubuh Aisah yang sudah pingsan.
"Darah" gumam Justin, melihat noda darah, "Jos, minta Gus Azmi siapkan mobil, kita harus segera pergi ke rumah sakit"
"Baik Tuan"
Justin, segera mengendong Aisah menuju mobil, Maryam yang mengetahui hal itu juga membuntuti mereka dari belakang.
"Nay, apa yang terjadi?" tanya Maryam yang terlihat panik,
"Aku juga tidak tahu kak, tiba-tiba Aisah pingsan, dan ada noda darah di gamis nya" ujar Nayra,
"Aku akan ikut dengan mereka, Nayra aku titip pesantren ya"
"Iya Kak"
Semua orang pergi ke rumah sakit kecuali Nayra yang tetap tinggal di pesantren, karena tidak ada orang lain di sana yang akan mengawasi santriwati.
Di rumah sakit, Justin dan yang lain, sedang menunggu Aisah di depan ruangan pemeriksaan. Sebenarnya bukan rumah sakit, lebih tepat nya mereka hanya datang ke klinik untuk pertolongan pertama.
"Kenapa Aisah bisa pingsan?" Azmi bertanya kepada istri nya.
"Maryam juga tidak tahu Aa, tadi Maryam lagi di ruang kelas anak-anak"
"Aisah tidak pernah seperti ini, setelah di operasi, aku takut hal buruk terjadi kepada nya"
"Serahkan semua nya pada Allah" Azmi menepuk pelan bahu Justin, yang terlihat begitu cemas.
Ceklek !
Seorang bidan, yang baru saja melakukan pemeriksaan terhadap Aisah, kini sudah keluar dari ruangan itu, Bu bidan melepaskan kaca mata yang semula ia pakai.
"Apa yang terjadi?" tanya Justin,
"Apa ini sering terjadi sebelum nya?"
__ADS_1
"Tidak!" Justin, langsung menjawab nya, "Namun, dia pernah melakukan operasi pengangkatan rahim sebelumnya, apa itu ada kaitan nya ?" lanjut Justin.
"Seperti nya ia, karena sangat jarang kita lihat masalah seperti ini, mungkin ini suatu mukjizat yang di berikan Allah kepada Nyonya Aisah. Ternyata Nyonya Aisah, telah hamil dengan usia kandungan sekitar enam Minggu" pungkas Bidan tersebut, Justin yang mendengar itu langsung bersujud syukur.
"Ya Allah, terimakasih banyak" ucap Justin, lalu ia kembali berdiri, dan berbicara dengan Bidan yang memeriksa Aisah barusan.
"Alhamdulillah" ucap Maryam dan Azmi serentak, mereka turut bahagia, karena memang itu yang mereka tunggu - tunggu selama ini, atau sebelumya sempat pasrah dan menyerah, ternyata rencana Allah lebih indah di banding dengan rencana Aisah sebelumnya, yang meminta Justin untuk menikah lagi.
"Ada satu hal yang membuat saya harus mengatakan nya, kandungan Nyonya Aisah lemah, dan untuk sementara harus di rawat disini dulu, jika memungkin 'kan jangan berpergian dulu, selama kandungan nya membaik, karena noda darah yang ada di baju nya itu adalah pendarahan akibat banyak gerak dan terlihat detak jantung nya juga tidak teratur, tidak di bawah normal"
"Jadi Bu, apa sekarang istri saya sudah baik-baik saja?"
"Sekarang sudah mulai membaik, saya juga sudah memberikan obat untuk penguat kandungan, mohon Tuan segera pergi untuk mengurus admistrasi nya, karena pasien harus menginap"
"Biar saya saja" Azmi dan Maryam pun pergi untuk mengurus admistrasi untuk Aisah.
"Saya permisi dulu kalau begitu"
"Baik, terimakasih Bu"
"Sama-sama" Bidan tersebut langsung pergi, dan meninggalkan Jos dan Justin di depan ruangan pemeriksaan.
"Selamat ya Tuan" Jos mengulurkan tangan nya.
"Terimakasih Jos, ini juga berkat doa kamu dan doa kita semua"
Terlihat sekali sinaran kebahagian dari wajah Justin. "Aku harus memberitahu Oma" Justin segera mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku, sebelum ia menelpon Causalia, ponsel Justin lebih dulu bergetar, karena ada panggilan masuk.
"Hallo, Phi Mila?"
[Tuan, Nyonya Besar...] Kepala maid, tidak melanjutkan ucapan nya, ia sedikit ragu,
"Apa yang terjadi dengan Oma, katakan dengan jelas !"
[Nyonya besar terjatuh dari tangga, dan kondisi nya tidak dapat tertolong, dokter memvonis jika Nyonya besar telah mati, akibat bocor jantung karena jatuh dari ketinggian] pungkas Kepala maid, tangan Justin gemetar, netra nya memerah, bagaimana pun ia adalah hari yang buruk dan baik untuk Justin.
Kenapa disaat ada berita baik, berita buruk malah datang memperburuk keadaan.
"Kenapa Oma bisa terjatuh, bukan kah Oma tinggal di lantai bawah?"
[Waktu itu, saja pergi menemani pelayan untuk berbelanja, begitu kami pulang kami menemukan Nyonya besar, tergeletak di lantai]
"Kalian, telah lalai dalam merawat Oma, aku tidak akan memaafkan kalian semua!" Justin langsung mematikan ponsel nya.
[ Tuan, sebelum kami pergi, Tuan Martin datang kemari....]
Tut...Tut...Tut...
Panggilan telah terputus, dan Kepala maid belum sempat menjelaskan kepada Justin, kalau Causalia tidak tinggal sendiri di mansion, selama mereka pergi.
"Jos, suruh Kepala maid untuk memeriksa semua cctv yang ada di mansion, katakan ada tiga cctv tersembunyi yang tidak akan di ketahui oleh orang lain" titah Justin, dia segera masuk ke dalam ruangan Aisah.
__ADS_1
"Baik Tuan" Jos segera melakukan apa yang di perintah oleh Justin barusan.
Ceklek !
Justin berjalan ke arah ranjang Aisah, saat ini Aisah telah siuman, dan ia tersenyum melihat ke arah Justin. Namun, sebaliknya Justin malah menangis.
"Apa yang terjadi?" tanya Aisah, melihat netra Justin yang terus menetes air mata. Justin langsung duduk di samping ranjang Aisah, dan merebahkan kepala nya disana.
Tangan Aisah, bergerak mengusap kepala Justin, "Apa yang terjadi mas? katakan! "
Justin masih diam, dan memilih untuk tidak mengatakan itu kepada Aisah, dia takut jika mendengar itu, bisa membuat kondisi Aisah memburuk. Namun, kalau tidak di katakan, Justin tidak bisa pergi untuk melihat Causalia.
"Oma..." lirih Justin, "Hiks..Hiks..Oma udah enggak ada !" tangan Aisah terhenti, saat ia mengusap kepala sang suami yang masih tidur di samping tubuh nya, mata Aisah membulat, air mata nya menetes, Aisah menangis, namun tidak mengeluarkan suara nya.
Justin mendongakkan kepala nya, lalu memegang ke dua pipi Aisah, melihat Aisah yang terdiam, sehingga membuat Justin merasa bersalah.
"Sayang"
"Mas.."
Mereka berdua berpelukan, dan Aisah mulai menenangkan Justin, begitu juga dengan Justin, yang menenangkan sang istri.
Ceklek !
Jos masuk, mereka langsung menoleh.
"Tuan, aku sudah memesan tiket"
"Baik" Justin kembali menatap Aisah.
"Sayang...Aku harus kembali ke Thailand sekarang juga, aku harus mengurus jasad Oma. Kamu tetap disini, sampai kondisi mu membaik" Justin mengusap lembut wajah Aisah.
"Aku ikut mas.."
Justin langsung memegang tangan Aisah, dan mencium nya berulang kali.
"Kamu tidak bisa pergi sayang, kamu harus di rawat dulu disini, beberapa hari, kata Bu bisa ku harus banyak-banyak istirahat, ada debay disini" Justin mengusap perut datar Aisah, membuat wanita ini bingung.
"Mas, maksud kamu apa?"
"Iya sayang, bentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu, kamu lagi mengandung sayang"
"Mas, kamu serius ? kamu enggak lagi bohongin aku 'kan mas" air mata Aisah mengalir kian deras, saat mendengar berita bahagia itu.
"Benar sayang, maka dari itu kamu harus di rawat di sini dulu, aku akan mengurus jenazah Oma, dan segera kembali jika urusan ku telah beres"
"Cepat kembali mas"
"Iya sayang"
Justin mengecup kening Aisah, dan mencium punggung Aisah berulang kali. Azmi dan Maryam masuk ke dalam ruangan Aisah. Justin berpamitan kepada dua orang itu, dan menitip Aisah bersama dengan mereka juga.
__ADS_1
Meskipun berat, Justin terpaksa meninggalkan Aisah dalam keadaan hamil, karena dia harus mengurus jenazah Causalia dan juga ia harus mencari tahu penyebab kematian Causalia.