
Begitu tiba di rumah, Aisah mengeluarkan semua kue yang ia beli tadi di toko kue, dan Justin pergi ke dapur untuk menyiapkan susu ibu hamil.
Dari arah pintu dapur, Maryam memperhatikan gerak gerik Justin, Maryam sengaja membiarkan pria itu menyiapkan nya sendiri.
"Oh, Kak ipar" seru Justin, begitu berbalik, sudah ada Maryam di ambang pintu.
"Untuk Aisah?"
"Benar" jawab Justin, pria ini hanya tersenyum saat diri nya di pergoki untuk pertama kali menyiapkan susu ibu hamil.
"Mana nasi?" tanya Justin, saat melihat di atas meja hanya ada makanan penutup.
"Aku tidak ingin makan nasi, tapi ingin makan bolu ini enak banget" ujar Aisah, sembari mengambil sisi bolu yang berbentuk potongan segitiga, setiap box satu rasa.
"Enggak heran, semua rasa sudah jelas peminat ibu hamil" goda Justin, Aisah hanya tersenyum.
Memang benar, di atas meja makanan penutup dengan rasa brownies mangga, strawberry dan juga bolu lumpur rasberi.
"Mas, mau ?" sembari mengarahkan satu sendok ke arah bibir Justin, pria ini mengarah balik ke arah bibir Aisah.
"Bagaimana kalau kita pindah dari sendiri, kita beli rumah sendiri yang dekat dengan dealer mobil kita ?" Justin selalu meminta pendapat Aisah, apapun yang ingin ia lakukan harus persetujuan sang istri, biar bisnis dan usaha Justin berkah.
"Aku sih setuju saja mas, tidak enak juga sering merepotkan Gus Azmi dan Kak ipar. Biar Maura tinggal disini, lagian Nayra bisa membantu Gus nanti di pesantren" pungkas Aisah, yang sudah menghabiskan semua potongan kue yang ia beli tadi.
"Sudah kenyang?" tanya Justin, sembari membersihkan bibir Aisah yang belepotan dengan krim.
"Alhamdulillah, mas" Aisah mengukirkan senyuman manis untuk sang suami tercinta.
"Kapan rencana pergi untuk melihat rumah baru?" tanya Aisah,
"Besok bisa, nanti malam bisa, tapi karena keadaan mu sedang hamil, besok saja pergi nya, masih beberapa minggu jangan banyak gerak dulu, aku enggak mau kamu dan calon baby kita kenapa-napa!" tegas Justin, sembari tangan mengusap lembut perut rata Aisah.
"Iya mas"
Justin mengajak Aisah untuk masuk kamar, setelah menghabiskan kue nya, Justin menyuruh Aisah untuk membersihkan diri, setelah itu mereka akan sholat bersama.
Ke esokan hari nya. . .
Sudah selesai sarapan, Justin dengan di temani Jos, dan Aisah membawa Nayra bersama.
"Hati-hati di jalan, ingat kandungan mu Aisah" Azmi mengingatkan adik nya, karena bagaimana pun ini adalah penantian mereka yang cukup lama.
"Iya Gus, kami pamit dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Justin membantu Aisah untuk masuk ke dalam mobil, setelah semua bersiap, Jos langsung melajukan mobil nya ke arah perumahan yang akan di kunjung oleh Aisah dan Justin.
Tak berapa lama, mereka tiba di perumahan elit, terlihat Aisah, yang cukup senang, apalagi rumah itu, lumayan nyaman dan aman tempat nya.
Ada kolam renang, serta taman belakang, dan juga di lengkapi dengan ruangan olah raga.
"Kamu suka sayang?" Justin merangkul pinggang Aisah,
"Aku suka mas, ambil yang ini saja, dan disini ada ruangan santai juga"
"Kalau kamu senang, dan suka, kita ambil yang ini"
Setelah bertanda tangan di atas surat jual beli dan pemindahan atas hak kepemilikan, lalu Justin mengajak Aisah ke tempat dimana di jual perabot rumah tangga, mereka langsung berbelanja agar dua hari lagi bisa di tempati.
Sudah sore, baru kembali ke rumah, tadi mereka juga mampir di dealer baru Justin, dan satu Minggu lagi, sudah bisa mulai di buka.
Aisah senang dengan keputusan Justin untuk memulai dari awal lagi, karena apapun keinginan suami, Aisah selalu mendukung nya, asal itu semua demi kebaikan mereka bersama, dan sibuah hati yang belum lahir.
Malam hari, Aisah terlihat yang susah tidur, entah kenapa bawaan nya selalu gerah, padahal kipas angin masih menyala, dan itu membuat ibu hamil satu ini tidak dapat tidur.
"Ada apa sayang?" Justin ikut kebangun, saat merasa Aisah tidak di samping.
"Mas, gerah" Aisah berdiri di depan kipas angin.
"Mau aku pasang AC?"
"Tidak perlu mas, lagian 'kan mau pindah dari sini, tapi aku mandi mandi air dingin mas" tukas Aisah, Justin melirik jam yang ada di dinding kamar.
"Sayang, ini sudah jam 10 malam, nanti kamu sakit sayang" Justin ikut berdiri, lalu mengambil kipas di tangan Aisah dan mulai membantu mengibas- gibas Aisah.
Meskipun sudah di bantu oleh kipas manual masih tetap gerah.
"Mas, mau mandi air dingin" rengek Aisah, Justin menghela nafas.
"Sayang, tidak boleh nanti kamu sakit" Justin mengusap perut rata Aisah,
"Bilang saja, kamu tidak sayang sama kamu berdua, dan membiarkan kami kepanasan" gerutu Aisah, seketika mata Justin melebar.
"Sayang, justru karena sayang, aku tidak ingin kamu mandi malam-malam, dengan air dingin lagi" Justin, masih sabar, untuk membujuk Aisah.
__ADS_1
"Tapi, aku mau mas, pokoknya mau" Aisah bangkit dari tempat duduk nya, berjalan ke arah pintu kamar.
"Baiklah, tapi dimana kita cari es coba?"
"Mas pikirkan lah, masak itu saja tidak bisa mikir" cetus Aisah lagi, Justin menggeleng 'kan kepala nya, sang istri baru hamil beberapa Minggu, tapi tingkah nya sudah seperti balita, kerjaan nya merengek terus.
"Sayang, tenang dulu ya, biar aku cari es dulu, kamu duduk di kamar dulu, oke!" Justin kembali menuntun sang istri ke atas kasur, menyuruh Aisah untuk menunggu di kamar saja.
Justin keluar dari kamar tidur, lalu menelpon Jos, meminta bantuan pria itu.Tak menunggu lama, Jos pun sudah tiba di teras depan rumah, suasana pesantren masih ramai, karena anak santri belum tidur.
"Ada apa Tuan?"
"Aisah mau mandi air dingin, Aku butuh es yang banyak, dimana bisa cari?"
Jos malah bingung, mana dia tahu dimana ada jual es, dia sendiri tidak tahu daerah itu.
"Jos jangan diam saja" kesal Justin, melihat Jos hanya diam saja.
"Aku tahu Tuan" Jos pun mengeluarkan ponsel dari dalam saku nya, lalu menghubungi seseorang, dan tak lama setelah panggilan terputus, orang itu muncul di belakang mereka.
"Apa yang terjadi" tanya Nayra, Justin dan Jos menoleh.
"Kamu butuh es yang banyak"
"Untuk apa?" Nayra cukup penasaran,
"Aisah gerah, dan ingin mandi air dingin, seperti nya ngidam" ujar Justin sembari berkacak pinggang.
"Yang benar saja, nanti dia saki" Nayra sendiri khawatir dengan Aisah.
"Sudah ku katakan, kamu tahu Nay, dia merengek seperti balita" Justin mulai frustasi.
"Sabar Tuan, emosi ibu hamil kadang berubah - ubah" pungkas Nayra, dia pun mengajak Jos dan Justin untuk mencari es di warung atau kafe terdekat disana, biasa nya mereka menyimpan es kristal untuk minuman.
Benar saja, mereka akhirnya membeli es kristal satu plastik di kafe, dengan harga cukup mahal, padahal biasanya es itu sangat murah, hanya demi istri, Justin pun membayar lebih.
Tiba di rumah, Justin membawa es itu masuk ke dalam rumah.
"Dari mana Kalian ? untuk apa es itu?" Azmi baru saja kembali selesai mengajar.
"Untuk Aisah Gus" ujar Justin, lalu segera membawa masuk es tersebut.
Ceklek !
Justin membuka pintu kamar, lalu melihat Aisah yang tidur dalam keadaan memakai selimut tebal.
"Sayang, apa yang terjadi ?"
"Mas, aku mau tidur, jangan ganggu aku, ini cukup dingin, mas juga tidur, ini sudah larut malam " titah Aisah, tanpa membuka mata, tentu saja pernyataan itu membuat Justin melongo.
"Iya sayang, iya" jawab Justin, dengan senyuman bodoh nya, ia baru saja menuruti ngidam ibu hamil yang kapan saja bisa berubah, dan Justin sudah menuruti nya bila pada akhirnya es itu tidak di gunakan.
Justin naik ke atas kasur, lalu berbaring di samping Aisah, dan memeluk sang istri yang sedang kedinginan.
...***...
Dua Minggu kemudian, mereka telah pindah ke rumah baru, mereka tinggal bertiga di rumah baru, ada Jos yang ikut dengan mereka.
Dealer Justin juga sudah mulai di buka, dan hari ini Aisah sudah menyiapkan makan siang untuk Justin, Aisah berniat mengantar nya sendiri ke tempat Justin, agar dia bisa sekalian main ke tempat kerja sang suami.
Tiba di depan Dealer, tanpa sengaja, setelah hampir dua tahun lama nya, Aisah bertemu lagi dengan Pak Mentri yang dulu pernah melamar Aisah.
"Aisah" panggil pria itu, yang melihat Aisah dalam keadaan tengah mengandung.
"Pak Menteri" Aisah terkejut, karena dia sudah lama tidak melihat pria itu.
"Apa kabar ? sedang apa kamu disini? kenapa bawa ranjang?" Pak menteri melihat rantang di tangan Aisah .
"Ngantar makan siang untuk suami" sahut Aisah,
"Oh, suami kamu bekerja disini, tidak menyangka saya pikir kamu akan mendapat lebih setelah menolak saya, ternyata lebih buruk dari saya" cibir Pak Menteri, Aisah hanya menanggapi dengan senyuman.
Hari ini pelanggan lumanyan rame yang sedang berkunjung ke dealer Justin, berkat di promosi melalui online oleh Jos dan Nayra, yang ikut membantu bisnis itu.
"Saya permisi dulu"
"Tunggu!" Pak menteri menahan tangan Aisah, dan membuat Aisah menatap nya dengan tajam.
"Pak, tolong lepas, tidak baik menggoda istri orang" ujar Aisah, yang berusaha melepaskan tangan nya.
"Kalau kamu mau, aku bisa menikahi mu sekarang, dan aku bisa menerima anak yang kamu kandung" Pak menteri mata keranjang itu, masih berani menggoda Aisah.
Plak !
Aisah langsung menampar nya, dan membuat Pak menteri marah.
__ADS_1
"Jaga ucapan bapak!" tegas Aisah, sembari menunjuk ke arah pria itu.
"Kau berani menampar ku, aku bisa mengeluarkan suami mu dari tempat ini, dan menjadikan dia gembel" ketus Pak mentari dengan lantang, Aisah tidak menanggapi nya, lalu pergi masuk ke dalam tempat itu.
Pak menteri yang sudah keduluan di buat malu oleh Aisah, tidak tinggal diam saja ia pun mengikuti Aisah hingga sampai ke lobi.
Disana, dia melihat Aisah yang sedang menunggu Justin, Pak menteri belum kenal siapa suami Aisah.
Brak!
Pak menteri mengebrak meja milik Aisah, tentu saja semua pelanggan melihat ke arah mereka dan mulai berbisik- bisik tentang apa yang sedang terjadi.
Saat ini Justin, berada di ruangan nya sedang mendiskusikan mobil yang akan di beli oleh pelanggan.
"Aku akan membuat kamu malu, karena sudah menampar ku"
Aisah, sengaja memilih diam, agar tidak terjadi keributan, namun semakin Aisah diam, Pak menteri semakin membuat keributan di lobi.
"Lihat lah, wanita ini dulu saya kamar, tapi diam menolak, ternyata dia menolak ku karena sudah hamil dengan Pria lain" Pak menteri memfitnah Aisah, sehingga membuat Aisah terkejut, dan langsung berdiri dari tempat duduk nya.
"Itu tidak benar, pria ini asal bicara, saya mengandung anak suami saya"
Tapi siapa yang percaya, status pak menteri membuat semua orang percaya akan ucapan pria itu.
"Kamu lihat, uang bisa membuat semua orang buta akan kebenaran"
"Sejauh mana anda memfitnah saya, masih ada Allah yang menjadi saksi saat saya dan suami saya menikah. Saya tidak menyesal, pernah menolak anda sebagai suami, ternyata kepribadian anda terlalu murahan" ketus Aisah, ucapan Aisah, membuat Pak menteri marah, dan langsung melayangkan tangan nya ke arah Aisah.
Aisah terkejut, dan menghalangi nya dengan tangan, namun Justin hadir tepat waktu, dia menahan tangan Pak Menteri.
"Aagrh" pria itu mengeluh saat Justin memutarkan tangan nya.
"Siapa yang mengijinkan sampah untuk masuk ke tempat ini?"
Semua orang terkejut, dan mulai bergosip lagi, lalu Justin mendorong pria itu hingga terjatuh ke lantai.
"Jangan pernah anda ganggu istri saya !" teriak Justin dengan lantang. Pak Mentri terkejut, karena dia mengenal Justin, tapi tidak mengenal suami Aisah.
"Ini hanya salah paham, maafkan saya"
"Jos, lempar pria ini dari sini"
Justin langsung membawa Aisah, ke ruangan kerja nya. Tujuan Pak Mentari ke tempat itu ingin mengajak Justin untuk bekerja sama, pria itu ingin menanam modal di dealer Justin. Namun, Justin menolak, karena uang itu adalah hasil korupsi, Justin tidak ingin terlibat.
"Sayang, kenapa kamu datang kemari? kamu tidak tahu, itu sangat berbahaya" Justin menuntun Aisah, untuk duduk di sofa,
"Mas, aku hanya ingin mengantar ini untuk mu" Aisah, meletakan rantang di atas meja, lalu membuka nya.
"Mas makan dulu"
"Kamu sudah makan sayang?"
"Sudah tadi, sini aku suapi mas" melihat laptop Justin yang masih menyala, Aisah berinisiatif untuk menyuapi sang suami, agar Justin tetap bisa berkerja.
Terlihat sekali, Aisah, dengan sabar menyuapi Justin, dan Aisah, juga membawa makan siang untuk jos, karena bagaimana pun pria itu, sudah di anggap seperti keluarga oleh mereka berdua.
Tok ! Tok ! Tok !
"Masuk!"
Ceklek !
"Tuan, manggil saya?"
"Ini makan siang mu, tadi Aisah membawa nya untuk mu"
"Terimakasih banyak Nyonya" dengan senang hati, Jos, mengambil nya dengan bentuk menghargai Aisah, padahal barusan Nayra telah mengirim pesan, wanita itu meminta izin untuk mengantar makan siang untuk Jos, dan Jos sudah mengiyakan nya.
"Aku akan makan di ruangan ku Tuan"
"Eeemm"
Jos, segera pergi meninggalkan dua orang yang sedang di mabuk cinta Justin dan Aisah.
"Mas, aku akan pulang!"
"Biar aku antar"
"Enggak usah mas, tadi Nayra wa aku, katanya mau kesini"
"Untuk apa?"
"Ngantar makan siang untuk Jos" mendengar jawaban Aisah, Justin langsung tertawa, karena Jos baru saja menerima makan siang yang di bawa Aisah, tentu saja perut nya akan penuh dengan makanan jika dia juga memakan yang di antar Nayra nanti.
"Kok malah tertawa, kasian tahu"
__ADS_1
"Iya maaf, he..He..He, benar-benar kasian"
Justin lalu mengantar Aisah ke lobi, begitu tahu Nayra sudah tiba, dan membiarkan dua wanita itu bertemu dan mengobrol banyak, karena sudah lama tidak bertemu, semenjak pindah rumah baru, Justin sangat menghargai persahabatan Nayra dengan Aisah.