Tasbih Cinta Aisah

Tasbih Cinta Aisah
End ...


__ADS_3

Dua bulan kemudian ....


Semua orang sedang berada di depan ruang operasi, ada Jos dan Aisah serta Justin sedang menunggu kabar baik, atas kelahiran anak pertama Jos. Al sudah di titipkan Aisah kepada Azmi.


"Berapa lama aku harus menunggu Tuan?" tanya Jos, terlihat raut wajah Jos yang begitu panik, dan cemas.


"Sabar lah, semua akan baik-baik saja, tidak perlu cemas, serahkan semua nya pada dokter " ujar Justin, guna memberi semangat kepada Jos.


"Eeemm, tapi ini sudah begitu lama Tuan"


"Sabar, semoga semua nya berjalan lancar" timpal Aisah, yang ikut menghampiri ke dua nya.


Akhirnya Jos memilih untuk duduk di kursi tunggu yang ada di samping ruang operasi. Sesekali ia melirik berharap pintu itu segera terbuka.


Hampir satu jam Jos dan yang lain menunggu di luar ruangan, pada akhirnya mereka dari luar mendengar suara tangisan baby, dan itu membuat raut wajah Jos, di hiasi dengan senyuman bahagia. Pria ini segera bangkit dari duduk nya, dan berjalan ke arah pintu.


Ceklek !


"Selamat ya Tuan, istri anda melahirkan seorang ada perempuan, anaknya sehat, kami akan membawa ke duanya ke ruangan inap, mohon menunggu "


"Terimakasih banyak dok" Jos terlihat begitu bahagia, dan tak berapa lama, beberapa perawat mendorong bed hospital milik Pasien ke arah ruangan inap, dengan di ikuti oleh Jos dan Justin serta Aisah.


Setelah semua urusan dokter dan perawat selesai, mereka meninggalkan pasien bersama dengan keluarga nya.


Nayra belum siuman, masih di bawah pengaruh obat bius, Jos tidak pernah memalingkan pandangan nya, dari box baby yang ada bayi mungil nya.


"Aku akan azan " Jos segera berdiri, dan berjalan ke arah box baby nya, Justin dan Aisah, melihat pandangan itu dengan senyuman yang ikut bahagia.


Sekitar dua puluh menit berada di dalam ruangan inap, dan Nayra telah siuman, Jos terlihat begitu bahagia, apalagi saat Nayra meminta Aisah, untuk memberikan baby kepada diri nya, Nayra ingin melihat nya.


"Siapa nama yang akan kalian beri?" tanya Aisah,


"Ada usul?" Jos berbalik bertanya kepada mereka.


"Bagaimana kalau Siti Zahra Yasmeen" saran Aisah, langsung di setujui oleh Nayra dan Jos.


"Tapi kalau kalian punya nama lain enggak apa-apa" timpal Justin, karena bagaimana pun itu adalah anak mereka.


"Enggak, apa-apa nama nya bagus, kami suka" sahut Jos, dan mereka semua terlihat begitu bahagia.


Justin dan Aisah berpamitan kepada Jos untuk menjemput Al, jika tidak segera di jemput Al akan merajuk kepada Aisah dan Justin.


...****...


Setelah satu Minggu kelahiran Nayra, Aisah selalu datang berkunjung ke tempat Nayra, untuk membantu sahabat nya dalam mengasuh anak. Meskipun ada baby sitter yang di bayar khusus oleh Jos, Aisah sangat senang membantu Nayra, bagaimana dulu Nayra membantu dirinya saat melahirkan Alfarisi.


"Aisah, tidak apa - apa jika kamu sering datang kemari? tanya Nayra, saat melihat sang sahabat yang sedang mengendong baby nya.


"Tidak tidak apa-apa, bukan kah dulu kamu telah banyak membantu ku merawat baby Al, sekarang sudah waktu nya aku membalas kebaikan mu Nay. Kita sahabat, jangan pernah sungkan sama aku " Aisah menatap Nayra dengan senyuman yang menghiasi wajah nya.


Waktu sudah menunjukkan jam sebelas, Aisah langsung berpamitan kepada Nayra untuk menjemput Al di sekolahnya.


"Hati-hati Nyonya" seru Baby sitter yang merawat Baby Nayra.

__ADS_1


"Terimakasih, jaga ponakan baik-baik ya"


"Siap" sembari melempar senyum ke arah Aisah, yang sudah berada di dalam mobil.


Aisah berlalu pergi meninggalkan kediaman Jos dan Nayra. Kini Aisah, sudah tiba di sekolah Al, dari jauh Aisah melihat sang Anak yang melambaikan tangan nya kearah dia.


"Assalamualaikum, Mami" ucap Al,


"Waalaikumsalam " mengulurkan tangan nya ke arah Al.


Lalu Al mencium punggung tangan Aisah, benar didikan Aisah dan Justin tidak pernah salah, meskipun terlahir dari keluarga kaya, Al menjadi anak yang begitu sopan dan ramah sama teman - teman nya, sehingga tidak sedikit anak sebaya Al yang langsung akrab dengan Al, meskipun pertama sekolah sedikit terkesan dingin.


Al segera masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan teman-teman nya.


"Mi, apa benar hari ini ultah Papi?" tanya Al, namun pandangan nya tak teralih dari layar iPad.


"Iya sayang. Apa Al, udah nyiapin kado?"


"Sudah, Al akan memberikan pelukan hangat, serta ciuman hangat untuk Papi saat Papi pulang kerja" ujar Al, dengan semangat membuat Aisah tersenyum melihat tingkah anak nya.


"Apa kado yang Mami berikan untuk Papi?" Al langsung menatap Aisah, dengan raut wajah yang cukup penasaran.


"Nanti Al juga akan tahu" jawab Aisah, semakin membuat Al begitu penasaran.


Tak terasa mereka telah tiba di rumah, dan di sambut oleh Bibi Raya, wanita yang sudah banyak membantu Aisah dan Justin dalam merawat Al.


"Nyonya, semua makanan sudah siap, apa ada menu yang ingin Nyonya tambah lagi?" tanah Bi Raya, Aisah langsung menoleh ke arah meja makan, semua hidangan sudah tata dengan tapi di atas meja.


"Cukup Bi, aku sudah membeli kue tadi, sebelum jemput Al aku singgah di toko kue" ujar Aisah, meletakkan kotak cake yang ada di tangan nya di atas meja.


"Nanti ya sayang, tinggu Papi pulang dulu" ujar Aisah, lalu membawa sang anak ke kamar untuk berganti pakaian.


Malam pun tiba...


Justin pulang sedikit terlambat, karena dia harus menjemput seseorang yang datang kembali ke Indonesia untuk mengunjungi mereka semua.


"Mami, itu suara mobil Papi!" pekik Al yang saat ini berada di ruang tamu, Aisah yang ada di dapur, langsung bergegas menuju pintu utama.


Senyuman yang selalu menghiasi wajah nya selalu menyambut sang suami di depan pintu utama.


Ceklek !


Pintu utama terbuka, namun betapa terkejut nya Aisah saat melihat seseorang yang berdiri di dekat Justin, orang itu bahkan tersenyum ramah ke arah Aisah.


"M-Mas, dia siapa?" tanya Aisah, bukan suara saja yang gemetar, namun tangan nya juga ikut gemetar, Justin menyadari itu, dia langsung berjalan ke arah sang istri.


"Sayang, tenang" lirih Justin yang kini memeluk Aisah dari samping.


"Mas, bagaimana aku bisa tenang, kalau kamu membawa pulang perempuan lain?" bisik Aisah, masih menjaga nada bicara nya di depan wanita asing yang baru saja dia lihat.


Justin terkekeh mendengar ucapan Aisah, dia tahu saat ini istri nya tengah cemburu.


"Sayang tenang ya, dia calon istri Cakra, yang baru saja datang dari Thailand bersama dengan Cakra, itu Cakra nya" pungkas Justin sembari melihat ke arah mobil, ada Cakra yang sedang berbicara dengan ponsel nya.

__ADS_1


Langsung saja raut wajah Aisah berubah menjadi lega, bagaimana pun ia tidak akan rela jika suami nya poligami, meskipun dulu dia sempat berpikir ingin mencari istri ke dua untuk suami nya, nyata nya Aisah belum siap.


Mereka berlima kini sedang makan malam di ruang makan, sembari merayakan hari lahir Justin. Cakra membawakan hadiah yang tergolong cukup mewah, hanya saja Justin tetap terlihat biasa saja.


"Kamu tidak perlu melakukan ini" ujar Justin, Cakra tersenyum.


"Jika kamu menolak nya, hadiah ini milik Al " tukas Cakra, Aisah dan calon istri Cakra tersenyum melihat dua pria yang sedang berbicara mengenai hadiah yang di berikan Cakra.


Calon istri Cakra kali ini berasal dari keluarga yang biasa saja, namun memiliki sifat yang baik, dia juga terlihat langsung bisa ramah dengan keluarga Justin. Wanita itu bernama Rossa.


Justin mengantar Cakra dan Rossa menuju kamar mereka, dengan kamar yang berbeda, meskipun Cakra orang yang hidup bebas, dia menghargai Justin dan Aisah.


Aisah saat ini sedang berada di kamar Al, sedang menemani sang anak menyelesaikan tugas sekolah nya.


Ceklek !


"Mas, apa mereka sudah tidur?" tanya Aisah, saat Justin membuka pintu.


"Sudah. Sayang, kamu belum memberi hadiah untuk ku" Justin mendekat, dan kini duduk di samping Aisah.


"Kamu sudah memiliki semua nya, aku bingung ingin memberi hadiah apa?" ucap Aisah,


"Sayang..." Justin, tahu saat ini Aisah sedang menggoda nya, lalu ia langsung memeluk sang istri.


"He He He, tunggu disini, aku akan membawa hadiah nya untuk mu" Aisah langsung berdiri, dan berjalan ke arah rak buku Al, dan mengambil kotak panjang yang di hiasi pita di atas nya, lalu membawa nya untuk Justin.


"Jadi, apa hadiah Mami untuk Papi. Aku juga penasaran!" cetus Al, yang duduk di samping Justin, anak ini sudah penasaran sejak tadi siang.


"Mas, kamu sudah memiliki semua nya, jadi aku tidak tahu, hadiah apa yang kamu inginkan, namun aku punya hadiah yang bagus untuk mu!" Aisah memberikan kotak tersebut kepada Justin, lalu pria itu langsung menerima nya dengan raut wajah yang cukup senang.


"Ayo Pi di buka, Aku juga pengin lihat!" Al begitu bersemangat, sampai berdiri di atas sofa dan memegang ke dua bahu Justin, pria itu langsung menuruti keinginan sang anak.


Begitu kotak itu terbuka, Justin terkejut, dan bola mata nya melebar, seakan ia tidak percaya.


"Sayang ini...?" Justin memegang benda yang di berikan Aisah kepada nya, dengan raut wajah yang sudah di jelasin.


"Iya Mas, aku positif" jawab Aisah, yang membalas raut wajah syok Justin dengan senyuman manis nya.


Bugh!


Justin langsung memeluk Aisah, namun ada satu orang yang berada di tempat itu, yang saat ini tengah kebingungan, siapa lagi kalau bukan Alfarisi.


"Jadi Pi, apa kado dari Mami?" tanya Al polos, mereka berdua langsung menoleh ke arah Al, dan kini mereka berdua malah memeluk Al, semakin membuat anak itu bingung.


"Sayang, kamu akan segera menjadi Kakak!" ucap Justin, memberitahukan Al, Anak itu terkejut, namun sedetik kemudian dia ikut tersenyum, karena bahagia.


"Sayang, terimakasih banyak, kamu membuat hari lahir ku kali ini menjadi hari yang tidak dapat aku lupakan" ucap Justin memegang tangan Aisah. "Aku mencintai mu sayang" lirih Justin.


"Aku juga mencintai mu begitu banyak" jawab Aisah, Justin langsung memeluk Aisah, dan Al secara bersama.


"**Pernah menyerah pada takdir, dan berusaha untuk membuat takdir baru untuk keluarga kecil ku. Namun, akhirnya aku sadar, selain aku yang belum siap, ada orang lain yang tidak ingin ada wanita lain, di tengah - tengah hubungan kami, yaitu suami ku. Pria ini sangat mencintai ku, dia menerima ku dengan segala kekurangan Ku. Mengetahui aku tidak bisa punya anak, tidak pernah terbesit dalam hati nya untuk mencari pengganti. Justru aku, yang sempat melukai hati nya, menyuruh nya untuk menikah lagi, demi seorang anak. Dan pada akhirnya kami berdua ikhlas, kami berdua belajar untuk sabar dan ikhlas, meskipun terkadang selalu di serang dengan rasa ragu, ragu akan cinta suami kepada ku, dan aku ragu pada cinta nya yang begitu besar pada ku. Aku takut jika dia mulai bosan dan jenuh, pada akhirnya dia diam-diam menikahi wanita lain. Namun, itu hanya pikiran kotor ku saja, nyata nya dia sanggup berdiri di atas kerikil tanpa alas, meskipun kerikil itu hampir melukai kaki nya. love you so much my husband. Inilah pria yang akan selalu ku cintai sampai maut yang memisahkan kami"


End**...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan ulasan bintang 5 untuk author ya, dan tolong di vote, serta beri hadiah untuk karya ini, terimakasih. Salam hangat untuk kalian semua. ❤️ see you ...


__ADS_2