
Setelah hari dimana Aisah di marahi oleh Justin karena pendapatnya, membuat Aisah kini lebih menjaga ucapan nya lagi.
"Ada apa ? Kamu terlihat takut kepada ku?"
"Enggak!" bantah Aisah seketika, Justin tersenyum, lalu ia mendekati sang istri.
"Pendapat mu tidak ada yang salah sayang, hanya saja aku yang salah terlalu mencintai mu, aku tidak bisa mendua 'kan mu sayang, jujur aku tidak bisa" Justin membelai kepala Aisah, sang istri kini menatap suami penuh harap agar pendapat nya di dengar.
"Mas" Aisah memegang tangan Justin, dan mengusap punggung tangan itu, ia mulai meminta agar Justin mau menerima saran nya.
"Tidak sayang, kamu tahu tidak ada orang yang mau merelakan suami nya pada wanita lain, tidak ada sayang, kecuali kamu!" tegas Justin, Aisah kembali diam.
"Mas, aku juga tidak merelakan mu, namun aku ikhlas kalau kamu menikah lagi, demi memiliki seorang bayi, aku ridho mas" Aisah memeluk pinggang Justin, yang duduk di samping nya.
Justin tidak menjawab, mengabaikan pertanyaan itu mungkin lebih baik menurut nya.
Justin kembali berdiri dan membenarkan dasi nya.
"Hari ini aku ada meeting, mungkin akan pulang terlambat" ujar Justin, sudah berjalan ke arah pintu, Aisah pun ikut keluar kamar bersama dengan Jsutin.
"Mas, kita perlu bicara!" kedua nya hampir tiba di anak tangga pertama, namun Justin kembali menoleh saat mendengar ucapan sang istri.
"Sayang, aku ada meeting hari ini, tunggu aku pulang baru kita membahas soal itu lagi, oke." Justin berusaha menghindar, bukan tidak menghargai sang istri, hanya saja Justin tidak ingin membahas soal anak, apa lagi untuk menyuruh dirinya menikah lagi.
"Baik lah!" Aisah pun tidak memaksa lagi, setelah melihat raut wajah Justin yang tidak suka akan niat dan harapan Aisah itu.
Aisah dan Justin, kini tiba di lantai dasar, melihat Causalia yang duduk di meja makan.
"Sudah mau berangkat? "
"Iya Oma, aku berangkat dulu, sarapan di jalan saja" setelah berpamitan dengan Causalia, ia pun berpamitan dengan Aisah, Kepala maid memberikan Justin paperbag yang isi nya kotak makanan untuk sarapan Justin.
Begitu tiba di luar, Jos, sudah menunggu Justin. Aisah kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil Justin meninggalkan halaman Mansion.
Aisah melihat Causalia yang duduk di sofa ruang tamu, ia pun mendekat.
"Aisah, duduk lah disini!" Causalia menepuk sofa di sebelah nya, menyuruh Aisah untuk duduk. Wanita itu pun segera duduk di sebelah Causalia yang sedang melihat majalah.
"Oma, ada yang ingin Aisah, bicarakan!"
Causalia melirik melihat netra Aisah, yang begitu serius.
"Ada apa? katakan, apa yang ingin kamu bicarakan !"
"Aku meminta mas Justin untuk menikah lagi, agar kita bisa memiliki seorang anak dalam keluarga ini Oma, bukan kah Oma juga menginginkan seorang cucu?"
Causalia terdiam,dan melihat ke arah istri dari cucu nya tersebut.
"Aisah, menikah lagi itu bukan hal yang mudah.Selain kamu harus ada Justin, sebagai orang yang akan menjalankan pernikahan itu, apa kah, Justin setuju atau tidak kita belum tahu. Dan satu lagi, kenapa kamu tiba-tiba memikirkan tentang pernikahan ke dua untuk suami mu ? apa yang terjadi?"
"Aisah, hanya menginginkan Mas Justin dan Oma dapat memiliki cucu, Aisah sangat berharap ada suara tangisan bayi di dalam rumah ini, meskipun bayi yang dilahirkan bukan oleh ku!" Aisah menunduk, Causalia dapat merasakan jika batin Aisah tertekan dengan keadaan yang sekarang.
"Apa kamu sudah memikirkan nya Aisah? kamu harus tau, menikah lagi itu bukan hal yang mudah, mungkin Justin siap di nafkah lahir tapi tidak di nafkah batin, kamu harus mengerti itu"
"Oma, Aisah yang akan membantu Mas Justin, dan Aisah akan menikah 'kan Mas Justin dengan wanita pilihan Aisah" ujar Aisah kemudian, lalu menatap Causalia senyuman tipis terukir di bibir Aisah, tangan Causalia bergerak menyeka air mata Aisah.
"Jangan bersembunyi di balik senyum, tidak akan membuat mu baik-baik saja"
Aisah langsung memeluk Causalia, wanita tua itu juga tidak dapat menahan rasa sedih yang di rasakan menantu nya itu.
"Aisah akan baik-baik saja Oma, setelah semua berjalan dengan lancar, maka hari-hari berikut nya akan baik-baik saja bukan ?"
Causalia tidak menjawab, tangan nya terus membelai kepala menantu nya tersebut.
...***...
Malam ini Justin pulang terlambat, dia tidak makan malam bersama dengan Causalia dan Aisah, karena dia terlambat pulang dari kantor.
__ADS_1
Ceklek !
Pintu kamar, terbuka. Aisah pun langsung menoleh, dan benar saja itu Justin yang baru saja pulang dari kantor.
"Mas, sudah pulang?" Aisah, menghampiri Justin, dan mencium punggung tangan suami nya itu, Justin pun tidak lupa mengecup sekilas kening sang istri.
"Ada apa? kamu terlihat gelisah?" Justin merangkul pinggang Aisah menuju ranjang.
"Tidak, mas sudah makan?"
"Sudah tadi, saat bertemu dengan klien. Kalau begitu aku pergi mandi dulu"
"Iya mas, biar aku siapkan baju ganti"
"Iya, mandi dulu" Justin mengecup pucuk kepala Aisah, lalu pergi meninggalkan Aisah di atas tempat tidur, sementara ia pergi ke kamar mandi.
Baju ganti telah di siapkan oleh Aisah, Justin juga baru keluar dari kamar mandi, dengan handuk di kepala nya yang sedang mengering 'kan rambut.
"Sini mas, biar Aku keringkan rambut mas!" ujar Aisah, menepuk pelan ranjang dimana ia sedang duduk, Justin pun mendekat, dan duduk di depan Aisah.
"Mas..." lirih Aisah, saat pria itu sedang menikmati pijatin kecil di kepala nya.
"Iya sayang, ada apa?"
"Aku punya permintaan mas, aku harap mas tidak marah, dan mau menerima nya"
Justin terdiam sejenak, kalau ia sudah tahu pikiran Aisah,
"Aku bisa menerima apapun, tapi tidak untuk menikah lagi!" tegas Justin, yang kini bangun dari tempat duduk nya, sembari meraih baju ganti yang di siapkan oleh Aisah.
"Mas, menikah lagi itu bukan hal yang salah, hanya saja tujuan kita 'kan sama, sama-sama ingin memiliki anak mas"
"Sayang, kita bisa adopsi bukan?"
Aisah hanya diam saja, mendengar jawaban sang suami.
"Sayang, kamu tahu betapa aku sangat mencintai mu, bahkan aku tidak ingin menyakiti mu walaupun hanya seujung kuku ku. Namun, aku tidak menyangka kamu malah memberi saran untuk ku yang menyakiti diri kamu sendiri!"
Setelah mengatakan itu, Justin pergi meninggalkan Aisah di dalam kamar, Justin pergi ke ruangan kerja nya.
Di dalam kamar, kali ini Aisah mulai memikirkan lagi, rencana nya untuk menyuruh sang suami menikah lagi. Tapi, tidak menyakiti hati siapapun, seharusnya disini yang terluka dan sakit hati Aisah, namun malah sebalik nya.
Causalia menyetujui apapun keputusan Aisah, asal dia itu tidak menyakiti dirinya sendiri. Namun, sampai saat ini Justin belum menyetujui rencana sang istri.
Malam itu berlalu begitu saja, Aisah berbaring di atas ranjang dengan sendiri nya, tidak ada Justin di sebelah, karena ia tahu saat ini Justin masih belum selesai mengerjakan pekerjaan nya di ruangan kerja.
Ke esokan subuh nya, Aisah tidak melihat adanya Justin di sebelah. Aisah segera bangun dan duduk di atas ranjang, dan menyadari jika suami nya tidur di ruangan kerja.
'Kamu harus bisa menerima nya Aisah, jika kelak suami mu memiliki istri lain, maka begini lah nasib mu ke depan nya' batin Aisah.
Aisah meringkuk di atas ranjang, sembari mengusap ke dua lengan nya, seluruh tubuh nya terasa bergetar, meskipun ia sudah berusaha menerima namun masih belum bisa membuat Aisah untuk merelakan suaminya tidur dengan wanita lain.
Ceklek !
Pintu kamar mandi terbuka, Aisah langsung menoleh, dan itu Justin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ada apa ? kenapa kamu menangis sayang?" tanya Justin, saat melihat netra Aisah memerah, namun ia tidak menyentuh nya karena baru saja mandi dan berwudhu.
"Tidak apa-apa, mas mau sholat?"
"Iya benar, ayo mandi dulu, setelah itu kita sholat bersama!"
"Baik Mas" Aisah pun berjalan ke arah kamar mandi, sementara Justin mempersiapkan diri untuk sholat.
Jam 07:00, pagi hari. Justin sudah berpakaian sangat rapi, karena dia akan pergi ke kantor sebentar lagi. Aisah menghampiri Justin, dan membantu membenarkan dasi nya.
"Hari ini aku akan pulang cepat, bersiap-siap lah kita akan pergi makan malam di luar bersama dengan Klien ku"
__ADS_1
"Baik Mas!"
"Nanti aku minta Jos, untuk membawakan gaun untuk mu"
"Iya mas"
Meskipun berusaha untuk menyembunyikan raut wajah kesedihan dari Justin, namun pria itu tidak buta, ia bisa melihat dan merasakan apa yang sedang terjadi kepada istri nya itu.
Aisah dan Justin turun ke lantai dasar, dan duduk bersama dengan Causalia, yang sedang mencicipi bubur yang di hidangkan oleh Kepala maid.
Causalia melirik ke arah Aisah, ingin bertanya apa dia sudah meminta pendapatan Justin untuk membiarkan Justin menikah lagi. Hanya saja, gelengan kepala Aisah, membuat Causalia mengerti, jika sebenarnya Justin telah menolak saran dari istri nya itu.
"Aku pergi dulu sayang" Justin hanya meminum segelas teh, lalu berpamitan sama Aisah, dan juga Causalia.
"Biar aku mengantar mu ke depan mas"
"Tidak perlu sayang, kamu sarapan saja dulu"
Aisah pun kembali duduk, Justin segera berlalu dari meja makan, karena Jos, telah mempercepat jadwal meeting mereka, seperti yang di inginkan Justin.
"Apa semua baik-baik saja?"
"Iya Oma, namun aku belum berhasil meyakinkan mas Justin, kalau aku akan baik-baik saja, jika dia menikah lagi, dan berharap kalau mas Justin dapat segera memiliki keturunan" ujar Aisah, lalu meletakkan makanan penutup di atas piring Causalia.
"Jangan di paksa Aisah, Justin tidak akan bisa menerima nya, jika kamu selalu menekan dan memaksa nya, Oma takut itu akan membuat dia menjauhi mu, dan membuat dia selalu menghindari mu dengan alasan tidak ingin berdebat, pada akhirnya dia jenuh dan menerima keputusan mu untuk membuat mu menyesal, apa kamu sudah siap jika itu benar-benar di lakukan oleh Justin? karena Oma tahu, perjuangan dia menikah dengan mu itu sangat berat, tidak semudah ucapan yang keluar dari mulut saja"
Setelah mengatakan itu, Causalia berdiri Kepala maid membantu nya.
"Oma, akan kembali ke kamar"
"Biar Aisah, bantu Oma ke kamar"
"Tidak apa-apa, ada Khun Mila disini !"
Kepala maid pun membantu Causalia berjalan ke arah kamar, Aisah hanya bisa menatap punggung wanita tua tersebut yang pergi dari meja makan.
Lama sekali Aisah terdiam di meja makan, padahal ia telah selesai sarapan, sehingga dua orang pelayan datang mengagetkan Aisah.
"Maaf Nyonya, Saya akan membersihkan meja"
"Oh, baik silahkan " Aisah pun bangkit dari tempat duduk nya, lalu pergi meninggalkan meja makan.
Sekitar jam 16:00, Han telah mengantar gaun untuk Aisah, Justin telah bersiap-siap di kantor, dan ia akan menjemput Aisah sekitar jam 16:30, karena pertemuan sekitar jam 17:20, masih ada waktu untuk membiarkan Aisah berdandan.
Tok ! Tok ! Tok !
"Siapa?" terdengar suara Aisah dari salam,
"Saya Nyonya, Mila. Jos, sudah menunggu Anda di bawa, seperti nya datang bersama dengan Tuan untuk menjemput anda!"
"Baik, saya segera keluar!"
Aisah berjalan ke arah pintu, dan membuka pintu, ternyata Mila masih disana.
"Tuan, ada luar rumah, menunggu Anda di dalam mobil"
"Baik saya akan segera pergi menemui nya. Kepala maid, tolong siapkan makan malam untuk Oma ya, tolong perhatikan makanan yang ia makan"
"Baik Nyonya" Kepala maid, menunduk sedikit kepala nya.
Aisah pun kini sudah tiba di luar rumah, dan melihat Jos, yang menunggu Aisah di luar mobil, ada Justin di dalam mobil tersebut.
"Mas..." lirih Aisah, Jos telah membuka pintu mobil untuk Aisah. Justin mengulurkan tangan nya untuk Aisah, dan wanita ini segera masuk ke dalam mobil, duduk di samping Justin.
"Sayang, kamu cantik banget, seperti biasanya "
"Makasih mas"
__ADS_1
Jos, langsung mengambil alih kemudi, dan membawa Justin, serta Aisah ke tempat pertemuan yang telah di tentukan oleh Klien Justin.