
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, dan kini usia kehamilan Aisah, sudah di bulan ke tujuh. Tidak ada syukuran tujuh bulanan, Aisah menolak untuk mengadakan acara, karena menunggu untuk bisa hamil sangat lama di nanti oleh nya.
Hanya melewati acara kecil - kecilan saja, untuk keluarga sendiri. Perusahaan cabang Arlando juga sudah berdiri dengan tegak dan kini perusahaan itu sudah di bawah tanggung jawab Justin.
Memang rejeki mereka di perusahaan itu, banyak klien jauh atau pun dekat mau bekerja sama dengan Justin, sehingga membuat Perusahaan itu berkembang sangat pesat.
"Mas..." lirih Aisah, yang duduk di tepi ranjang, dengan perut nya yang buncit membuat ia kelelahan bergerak, apalagi awal kehamilan kandungan Aisah sangat lemah.
"Ada apa ? kamu terlihat sangat kesusahan!"
"Eemm, mau rujak mas"
"Haaah?" Justin membulatkan mata mata nya saat Aisah meminta rujak kepada Justin.
"Sayang, yang benar saja, ini sudah jam..." sembari melirik jam di dinding kamar, sudah jam sepuluh malam, dan Justin menyempitkan mata nya.
"Mau rujak mas, aku enggak banyak minta sebelumnya, tapi ini benar aku ingin makan ketoprak!" tukas Aisah, dengan raut wajah yang kecewa.
"Sayang, mau apa? rujak apa ketoprak?" tanya Justin dengan lembut sembari mengusap kepala Aisah.
"Kolak buatan Kak ipar !"
"Heeemmm" Justin menghela nafas nya, lalu membantu Aisah untuk berdiri.
"Mau makan 'kan?" tanya Justin, dengan raut wajah yang senang Aisah mengangguk nya.
"Ayo kita ke dapur aku akan memasak nya" Pungkas Justin, dan membawa Aisah ke dapur.
"Mas, aku mau makan kolak, enggak ada kolak ketoprak boleh, enggak ada ke dua nya, rujak juga enggak apa-apa!"
Mereka kini sudah di meja makan, dan Justin menyuruh nya untuk duduk. Lalu, ia ke dapur mengambil makanan untuk Aisah.
"Mas!" lirih Aisah yang kesal, melihat Justin tidak peduli dengan permintaan nya itu.
Beberapa menit kemudian Justin kembali dari dapur, dengan nampan di tangan nya, melihat Aisah yang terus mengomel karena kesal.
"Ada nya susu dan buah, ini saya lebih sehat" tukas Justin, Aisah menatap nya dengan malas, namun Justin tidak menyerah begitu saja.
"Sayang, ayo minum susu nya, aku akan menyuapi buah untuk mu, aku sudah mengupas dan memotong nya penuh cinta" bujuk Justin, dengan raut wajah yang tersenyum, Aisah sendiri ikut tersenyum melihat tingkah Justin yang lucu karena membujuk nya.
Akhirnya ketoprak, rujak dan kolak kalah dengan susu dan buah yang di sediakan Justin untuk Aisah.
Justin memperhatikan Aisah yang sedang menguyah buah, Justin pun mengusap lembut perut sang istri, membuat Aisah merasa nyaman, apalagi sentuhan Justin begitu lembut.
Melihat susu dan buah telah habis, Justin menyuruh Aisah untuk tidur, dan beristirahat.
...****...
Jos pertama kali meminta Justin untuk melamar Nayra, awal nya Justin menolak, namun ia sadar Jos tidak memiliki keluarga lain, selain Justin dan Aisah.
"Aku bisa membantu mu, namun tidak untuk berbicara dengan Nayra, aku akan meminta Aisah untuk melakukan itu" saran Justin, Jos menerima nya, tidak masalah Justin tidak bisa berbicara dengan Nayra, karena bagi Jos Justin membantu nya melamar saja sudah cukup untuk Jos.
"Apa tidak terlalu buru-buru jika aku menikahi nya segera?" bagaimana pun keadaan saat ini, Jos masih meminta pendapat Justin, dia tidak ingin melakukan nya tanpa persetujuan Justin dan Aisah.
"Jika kamu merasa sudah yakin, dan cocok, lakukan lah karena untuk beberapa bulan ke depan Aku akan sibuk mengurus istri ku hingga lahiran, jika kamu bisa mempercepat pernikahan mu, itu lebih baik, agar Nayra bisa membantu kami juga ke depan nya"
"Seperti nya, lamaran langsung nikah lebih baik ya Tuan, karena bagaimana pun kami berdua tidak memiliki orang tua, dan melakukan itu langsung sekalian menurut aku lebih baik"
__ADS_1
"Aku akan membantu mempersiapkan perlengkapan lamaran dan nikahan, meminta Gus untuk memberitahu penghulu waktu itu"
"Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi dulu, dan terimakasih atas bantuan Tuan selama ini"
Jos segera keluar dari ruangan Justin, dan kembali ke dealer, karena saat ini Jos masih mengurus dealer dan Justin mengurus perusahaan baru nya.
Tok ! Tok ! Tok !
"Masuk !"
Ceklek !
"Selamat siang Tuan Justin"
"Arkana " seru Justin yang terkejut, dan berdiri dari tempat duduk nya.
"Apa kabar Tuan"
"Kenapa memanggil Tuan, panggil saja Paman" ujar Justin dengan ramah, lalu memeluk Arkana dengan erat.
Setelah sekian lama di Indonesia, mereka baru bertemu hari ini dengan Arkana.
"Dimana istri mu?"
"Ada di rumah Paman, sedang tidak enak badan"
"Apa dia hamil?" goda Justin,
"Belum, doakan saja agar bisa menyusul Tante Aisah"
"Amiin. Jadi, apa gerangan tiba - tiba mampir disini?"
Arkana meletakkan dokumen di atas meja sofa. Justin mengambil dan memeriksa nya. Dokumen yang di sediakan Satria beberapa tahun yang lalu.
"Sudah lama sekali dokumen ini di berikan Papa mu kepada ku, dan aku baru bisa melihat nya lagi, Arkana kamu beruntung terlahir dari rahim seorang wanita seperti mama mu itu, dia sangat baik, terhadap semua orang, begitu juga dengan Papa mu, saat kecelakaan pesawat itu terjadi, orang pertama yang Papa mu cari adalah Mama mu, aku kagum dengan percintaan mereka yang begitu tulus. Tapi, aku terkejut mendengar kabar Raka dan Divia, bagaimana mereka sekarang ? sudah lama aku tidak bertemu dengan Raka"
"Alhamdulillah, mereka baik, saat ini Raka masih ada di purna, dan ke dua nya sama - sama bekerja di purna, hanya saja status mereka masih belum di pastikan, Tante Miranti enggan memberi restu kepada Raka terkait masalah masa lalu"
"Raka berjuang lebih keras lagi, bagaimana pun seorang ibu menginginkan yang terbaik untuk anak nya"
"Benar Paman, aku juga berpikir begitu, disaat aku dan Mentari menikah aku berharap mereka juga menikah, tapi ternyata Tante Miranti belum bisa mempercayai Raka lagi"
Justin memberikan tanda tangan di dokumen yang di bawa Arkana, lalu memberikan majalah mobil baru untuk Arkana, karena Arkana sebelumnya pernah bilang kalau dia akan membeli mobil baru untuk hadiah ulang tahun Mentari.
"Paman, terimakasih. Aku permisi dulu, karena saat ini masih harus melihat lahan untuk proyek baru "
"Eemmm... Hati-hati di jalan"
Arkana tersenyum, lalu pergi meninggalkan ruangan Justin, serta membawa majalah dan dokumen itu bersama.
...****...
Justin bersama dengan Aisah sudah bersiap-siap untuk pergi ke pesantren, mereka sudah sepakat akan bertamu ke tempat Nayra, dan mereka membawa semua perlengkapan lamaran dan nikahan.
"Mas, kamu sangat tampan!" seru Aisah, yang melihat Justin dengan baju batik lengan panjang. Membuat pria ini spontan menoleh ke arah Aisah, dan tersenyum selama ini Aisah tidak pernah memuji Justin dengan kata tampan.
"Terimakasih sayang ku" Justin mengecup kening Aisah, sebelum Aisah turun dari ranjang.
__ADS_1
"Ayo, jangan membuat Jos menunggu lama"
Justin membantu Aisah turun dari ranjang, dan keluar dari kamar menuju ruang tamu.
"Tuan sudah siap?" tanya Jos, saat melihat mereka berdua keluar dari kamar.
"Kenapa kamu terlihat gugup?"
"Tentu dong mas dia gugup, ini 'kan pertama kali nya dia datang melamar"
"Santai saja, Nayra enggak akan kemana, InsyaAllah dia jodoh mu" Justin menepuk pelan pundak Jos, membuat pria ini tersenyum lega.
Mereka bertiga segera keluar dari rumah dan menuju tempat Azmi, karena saat ini Nayra tinggal di pesantren Azmi.
Justin juga mengundang Arkana dan Mentari untuk tamu dari pihak pria, untuk meramaikan acara malam ini, bagaimana pun Jos sudah bagian dari keluarga Justin.
Satu jam telah berlalu, mobil Justin memasuki halaman pesantren, disana sudah ada Arkana dan Mentari. Penampilan Mentari sangat cantik dengan balutan gamis dan juga hijab.
"Sayang, kamu cantik memakai baju seperti ini" bisik Arkana yang berdiri di samping mobil nya.
"Mas, bisa saja, bilang saja mas lagu ngerayu aku 'kan?"
"Ngerayu buat apa, aku sudah dapatin Kamu tanpa merayu" tukas Arkana dengan bangga. Mentari langsung menyenggol siku Arkana yang sedang malu.
"Sudah lama kalian sampai?"
"Baru saja Paman, oh ya Paman ini Mentari istri Aku. Mentari ini Paman Justin, dan ini istri nya Tante Aisah, dan ini Paman Jos yang akan menikah malam ini"
Mentari menangkup kedua tangan nya ke arah Jos dan Justin, lalu memeluk Aisah sebagai perkenalan, Mentari juga mengusap lembut perut Aisah.
"Semoga Aku juga segera di berikan kepercayaan"
"Amiin" sahut Aisah.
Mereka semua segera masuk ke dalam rumah Azmi, disana sudah ada penghulu dan juga beberapa saksi lain nya.
Jos dan Nayra di hadapkan dengan bapak penghulu yang sudah siap di meja nya. Ijab Qabul segera di mulai, dan terlihat sekali raut wajah bahagia dari dua mempelai yang sedang melangsungkan ikrar janji pernikahan.
Pernikahan tersebut berjalan dengan lancar, dan mereka semua memberi ucapan selamat kepada Jos dan Nayra atas pernikahan mereka berdua.
"Selamat ya, akhirnya kalian sudah sah menjadi suami istri"
"Terimakasih Aisah, terimakasih banyak sudah membantu ku selama ini, jika aku tidak pernah bertemu dengan mu, aku tidak tahu bagaimana nasib ku" Nayra memeluk Aisah dengan erat.
"Kita sekarang adalah keluarga, sebagai keluarga udah seharusnya berbagi susah dan senang bukan" Aisah menyeka air mata Nayra, yang menetes karena bahagia akhirnya pernikahan mereka berjalan dengan lancar.
"Aww" Aisah, mengelus perut nya, merasakan sedikit gerakan kecil dari calon baby mereka.
"Sayang...." lirih Aisah, wanita ini segera mencari tempat duduk untuk beristirahat, berdiri terlalu lama membuat kaki Aisah pegal.
Mentari menghampiri Aisah, yang sedang duduk, sementara Arkana sedang mengobrol dengan Justin mengenai proyek baru mereka.
"Boleh aku menyentuh nya" Mentari meminta izin kepada Aisah, sebelum menyentuh perut buncit Aisah.
"Boleh, kenapa enggak" Aisah, langsung meletakkan tangan Mentari di perut nya, itu membuat Mentari senang, dair kejauhan Arkana melihat Mentari dan Aisah membuat Arkana lega kalau mereka berdua dapat berteman baik.
Suasana semakin ramai, terlihat tamu yang datang untuk memenuhi undangan Azmi, meskipun acara berlangsung sederhana. Namun,tetangga di sekitar itu tentu di undang oleh Azmi dan Maryam. Aisah terus memperhatikan senyuman Nayra yang terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
'Tidak ada yang tahu rencana Allah, rencana ku Nayra akan menjadi istri ke dua suami ku, namun Allah memberi ku kesempatan untuk hamil, dan Nayra menemukan jodoh nya sekarang dan itu juga tidak jauh dari orang terdekat kami' Aisah kembali tersenyum memperhatikan Nayra dari jauh.