Tasbih Cinta Aisah

Tasbih Cinta Aisah
Tiga bulan kehamilan Aisah


__ADS_3

Usia kehamilan sudah memasuki bulan ke tiga, namun Aisah belum pernah mengecek ke dokter atau bidan terdekat, setelah hari dimana dia di nyatakan hamil, bukan karena sibuk, namun Aisah belum ingin pergi kemana- mana setelah dua bulan yang lalu.


Aisah hanya berbaring lemah di atas tempat tidur, bangun kalau sudah waktu nya sholat dan bahkan mereka sering memesan makanan dari luar.


Di usia kehamilan tiga bulan ini Aisah terasa begitu malas untuk melakukan pekerjaan apapun.


"Sayang..." panggil Justin yang baru saja kembali dari dealer, untuk melihat keadaan Aisah.


"Loh, mas. Kenapa pulang? siapa yang di sana?"


"Tadi Aku menyuruh Jos untuk menghubungi Nayra, dan saat ini ada Nayra disana, membantu Jos, aku khawatir dengan mu, jadi aku pulang untuk melihat keadaan mu" ujar Justin ,yang kini duduk di samping ranjang Aisah.


Justin mengusap lembut wajah sang istri, lalu berpindah tangan mengusap perut Aisah, yang sudah berbentuk meskipun tidak terlalu terlihat.


"Dirumah masih pakai hijab, apa enggak gerah?"


"Enggak, sudah terbiasa, takut ada yang datang, jadi biar enggak bisa nyari hijab" tukas Aisah, kini mencoba untuk duduk.


"Mau keluar ma, pengap di kamar terus"


"Ayo, aku bantu"


Justin membantu Aisah, untuk turun dari ranjang, dan membawa nya keluar dari kamar. Tiba di ruang tamu, mereka mendengar suara bel rumah yang berbunyi.


"Tunggu disini, aku akan melihat siapa yang datang"


"Baik Mas"


Justin pun pergi membuka pintu, dan melihat siapa tamu yang datang berkunjung ke tempat dia.


Ceklek !


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Gus...Masuk!"

__ADS_1


"Terimakasih"


Kali ini Azmi datang sendiri, tanpa membawa Maryam bersama, karena di pesantren tidak ada orang lain, selain Maryam. Nayra juga sedang berada di dealer membantu Jos.


"Aku dengar dari Nayra, Aisah sakit?"


"Enggak kok Gus, Aisah baik-baik saja" sahut Aisah, yang mendengar pertanyaan Azmi.


Bukan nya duduk, Aisah malah senang rebahan di sofa, dan membuat Justin sedikit sungkan dengan Azmi.


"Sayang, enggak sopan ih, cepat bangun"


"Enggak mau, mau rebahan, aku lagi malas untuk duduk"


Mendengar jawaban Aisah, Justin dan Azmi malah melongo, ada orang hamil yang bawaan nya ingin rebahan.


"Begitu lah Gus, Aisah bawaan nya rebahan saja, semenjak masuk bulan ke tiga, dan bahkan setelah mandi pagi, dia akan malas mandi di siang atau sore hari" pungkas Justin yang heran dengan kelakuan Aisah.


"Tapi aku mandi kok, dimandiin kamu" sahut Aisah, Azmi langsung membuang pandangan nya yang malu mendengar suara Aisah yang manja pada suami nya.


"Kakak bawakan kolak ibu hamil untuk mu, ini buat oleh Kakak ipar mu, jangan enggak di makan" Azmi meletakkan kotak makan di atas meja.


"Hanya untuk ibu hamil saja untuk ku tidak ada kak" sembari mengintip kotak makanan yang di bawa Azmi.


"Kamu gampang, tinggal pesan di luar" ujar Azmi, Aisah langsung tertawa kecil melihat raut wajah Justin yang masam.


"Begini, kedatangan Kakak kemari ada hal lain, selain mengantar makanan" tukas Azmi, dengan raut wajah nya yang serius, Aisah pun segera duduk dan ia sangat mengerti dengan Kakak nya itu, pasti ada hal yang begitu serius yang ingin di bahas Azmi.


"Apa yang terjadi kak, katakan saja!" Aisah, memegang lengan suami nya.


"Apa benar, kemarin kalian bertemu dengan Pak Menteri?" Azmi menatap sang adik dan suami nya, yang saat ini juga sedang melihat ke arah Azmi.


"Benar Gus, bukan hanya bertemu, dia juga menghina kami berdua" tukas Aisah.


"Tidak apa - apa dia menghina ku, tapi yang dia hina adalah Aisah, istri ku yang sedang mengandung, oleh sebab itu aku tidak akan rela, jika ada orang lain yang menghina mereka" pungkas Justin, Aisah mengusap dada sang suami, agar lebih sabar dalam berbicara.

__ADS_1


"Pantesan, semalam dia datang kepada kami, meminta uang yang pernah di beri untuk pesantren dan jumlah nya tidak sedikit, uang itu di berikan sudah lama, saat Abah masih ada, dan mereka meminta kita untuk memulangkan itu"


"Berapa yang mereka minta ?"


"Kurang lebih sekitar 700 milyar, seluruh tempat pesantren dan rumah, yang kita tempati itu atas nama Pak menteri masih, belum atas nama Gus" ungkap Azmi, tentu saja Aisah terkejut, baru mengetahui keluarga nya punya hutang segitu banyak.


Saat ini, Justin tidak memiliki uang sebanyak itu, dia baru membeli rumah, dan juga baru membuka dealer nya, tentu saja saat ini yang segitu banyak untuk Justin, apalagi seluruh aset dan kekayaan Arlando telah di serahkan kepada Cakra oleh Justin.


"Aisah memiliki sedikit uang, tapi tidak sebanyak itu!" ujar Aisah, Justin menoleh, selama ini Aisah tidak membahas soal uang dengan Justin, dan itu membuat Justin curiga.


"Sayang..."


"Iya mas, aku masih menyimpan mahar yang kamu berikan kepada ku, dan untuk jumlah itu seperti nya masih kurang sekitar 200 milyar lagi"


"Sayang, itu mahar kamu, bukti cinta ku pada mu, bagaimana bisa kamu memberikan itu ?" Justin, tidak rela jika Aisah memberikan itu, namun saat ini Justin sendiri tidak memiliki tabungan sebanyak itu.


"Tidak bisa Aisah, itu adalah milik mu, Gus tidak akan bisa menggunakan uang itu" Azmi pun menolak nya, karena dia sendiri tidak ingin mengambil hak Aisah, biar pun sang adik telah setuju dan ikhlas.


"Kita akan cari solusi sama - sama, Gus aku bisa membantu, tapi aku butuh waktu seminggu, kita kan cari jalan keluar sama - sama, untuk sementara jangan gunakan dulu mahar Aisah, kita cari cara yang lain"


"Baik lah, terimakasih sudah mau membantu, dan Gus pamit dulu"


"Silahkan" Justin, bangun dari tempat duduk nya, mengantar Azmi ke depan teras. Setelah Azmi pergi, Justin kembali lagi dan kini duduk di samping Aisah dengan cemas.


"Sayang, aku bisa memberikan uang itu, kamu jangan terlalu cemas, kita akan mengumpulkan nya lagi nanti, kalau bisnis mas sudah lancar"


"Tapi sayang, aku tidak rela, bagaimana pun itu bentuk cinta ku pada mu"


" Aku tahu mas, tapi saat ini jika kita membantu pesantren bukan kah, uang itu termasuk kita gunakan untuk yang lebih bermanfaat sayang ? hitung - hitung amal akhirat kita nanti sayang" Aisah mulai memberi pendapat kepada suami nya.


"Beri aku waktu seminggu, aku akan cari jalan keluar, jika memang buntu, baru kita gunakan mahar kamu sayang"


Aisah memeluk Justin, mau bagaimana pun masalah keluarga Aisah, Justin tidak pernah meninggalkan Aisah.


"Mau kolak sayang" lirih Aisah, menunjuk kotak makanan yang di bawa Azmi tadi, Justin langsung membuka nya dan menyuapi sang istri.

__ADS_1


__ADS_2