
Aisah yang setiap hari membantu Azmi di pesantren perlahan-lahan pun keadaan nya mulai membaik.Mulai bisa melupakan apa yang seharusnya tidak menjadi milik nya.
"Oh,Nay.Kamu datang lebih awal?"Aisah pun menghampiri Nayra di depan pondok anak-anak.
"Apa ini? kenapa kamu membawa koper bersama mu?"tanya Aisah,yang melihat koper baju milik Nayra.
"Aku datang kemari untuk berpamitan dengan mu.Aku akan pergi ke Jakarta untuk bekerja"ungkap Nayra.
"Dimana kamu akan bekerja,pekerjaan apa yang membawa mu pergi dari sini? apa pesantren ini tidak cukup baik untuk mu?"
"Bukan.Bukan begitu Aisah.Aku tau,pesantren ini adalah gratis,dan aku tidak ingin Gus Azmi membayar untuk ku,sementara pesantren ini tidak ada pembiayaan untuk ustaz atau ustazah disini.Biarkan aku bekerja di tempat lain dan terimakasih sudah mau menerima ku disini"
"Kalau memang itu pilihan terbaik mu,aku hanya bisa merelakan kamu pergi.Nay,kalau seandainya kamu kembali pintu pesantren ini selalu terbuka untuk mu"
"Terimakasih Aisah"Nayra pun memeluk sahabat nya itu.
Nayra tidak berpamitan dengan Maryam atau pun Azmi.Karena,ke dua orang itu sedang mengikuti seminar di luar kota bersama dengan ustaz yang lain.
Aisah hanya bisa tersenyum,merelakan sahabat satu-satu nya pergi meninggalkan dirinya.
"Kehilangan memang tidak bisa membuat orang tersenyum,namun aku sedang berusaha menguatkan diri ku"gumam Aisah,yang berjalan ke arah ruang belajar anak santri.
* * *
Satu Minggu berlalu. . .
Aisah sedang menyiram bunga di pekarangan pesantren.Tanaman itu terlihat begitu indah.
"Apa mereka sudah terlihat segar?"suara itu mengejutkan Aisah,wanita itu segera menoleh.
"Gus,kapan kembali?"Aisah segera meletakan selang air,lalu mendekat ke arah Azmi,dan menyalami tangan Azmi.
"Baru saja tiba,aku langsung datang kemari untuk melihat adik ku yang sudah lama ku tinggal,bagaimana kabar mu?"tanya Azmi,mereka pun berjalan ke arah meja dan kursi besi yang ada di dekat taman.
"Alhamdulillah,Aisah baik-baik saja"Aisah pun tersenyum.Maryam membawa kopi dan teh untuk mereka berdua.
__ADS_1
Aisah segera memeluk dan mencium tangan kak ipar nya itu.
"Maryam tinggal dulu Aa,Maryam akan masak di dapur"
"Eeemm"Azmi hanya mengangguk saja.
"Kak,Aisah akan membantu mu"
"Tidak perlu,kamu berbincang dengan Aa,dia sudah sangat merindukan mu"Maryam pun berlalu.
"Apa ini? Gus sudah dewasa,apa masih bisa di bilang merindukan aku?"ledek Aisah.Azmi hanya tersenyum.
"Gus tau,kamu sudah dewasa,bukan kah kamu juga harus berumah tangga?"
Aisah terdiam dia tidak langsung menjawab nya.
"Kenapa? apa kamu tidak ingin menikah?"Azmi meletakkan cangkir kopi milik nya kembali di atas nampan.
"Aisah,kamu sudah dewasa,sudah sepantas nya kamu menikah.Dan Gus tidak akan mungkin bisa selalu menjaga dan merawat mu,menikah lah!"
"Apa aku membuat Gus kesal sehingga Gus ingin aku segera menikah dan pergi dari sini?"
Aisah terlihat tidak berkomentar akan hal itu,namun Azmi dapat melihat netra Aisah yang ragu akan hal itu.
"Kali ini tolong buka 'kan hati mu untuk calon suami mu,biarkan pria itu berusaha untuk mengenal mu.Aisah,jadikan pernikahan ini adalah ibadah untuk mu"setelah mengatakan itu,Azmi pun berlalu pergi meninggalkan Aisah yang masih duduk tercengang di tempat itu.
"Sekali lagi,aku tidak bisa menolak pilihan Gus.Ya Allah,jika ini jodoh ku,maka aku akan mengikhlaskan nya"gumam Aisah,lalu bangkit dari tempat duduk nya.
* * *
Di ruangan makan,seperti biasa tidak ada yang bersuara baik Azizah,maupun yang lain.
"Dimana Ahmad? bukan kah dia sudah kembali ?"tanya Azmi kepada Maryam.
"Hanya kembali sebentar,tapi sudah pergi lagi"
__ADS_1
Ya Ahmad itu adalah anak Maryam dan Azmi.Maryam segera membereskan piring kotor yang ada di atas meja.
"Aisah,besok dari pihak lelaki akan tiba di sini datang untuk melamar mu!"tukas Azmi yang berusaha berbicara kepada Aisah,mengenai lamaran ke dua yang akan di lakukan oleh keluarga ini.
"Iya Gus"sahut Aisah sembari tersenyum.
"Lebih cepat,lebih baik bukan?"sambung Maryam yang membawa piring kotor ke dapur.
"Kali ini,apapun alasan mu,Gus tidak bisa membatalkan lamaran ini.Jadi,sekali lagi Gus bertanya,apa kamu sudah ikhlas lahir batin mu Aisah ?"
"InsyaAllah,Aisah ikhlas lahir batin Gus.Apapun pilihan Gus kali ini,Aisah percayakan semua nya pada Gus"
"Alhamdulillah.Gus senang mendengar nya.Aisah,pihak lelaki meminta mu ikut dengan keluarga nya,karena calon suami mu memiliki pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan,jadi mulai saat ini kamu akan terbiasa hidup tanpa kami semua.Apapun itu untuk kebahagian mu,Gus rela dan asal 'kan kamu bahagia"pungkas Azmi,yang menahan air mata nya.
"Aisah juga berharap,semoga kali ini jodoh yang Gus pilihkan untuk Aisah adalah takdir dari Allah,karena seburuk apapun masa depan Aisah ke depan nya,orang pertama yang Aisah datang untuk mengadu adalah sang maha pencipta.Namun,Aisah percayakan takdir Tuhan lebih indah dari pada keinginan Aisah"
Gus tersenyum,lalu ia menyeka air matanya.Aisah menghampiri Gus,memeluk sang kakak.Terlihat ke dua nya begitu akrab,dan perpisahan tentu saja membuat ke dua nya harus merelakan satu sama lain.
"Semua akan baik-baik saja.Dan Gus sudah tentukan besok hari lamaran,dan besok pula hari pernikahan"tangan Aisah terlepas dari ke dua bahu Azmi yang tengah duduk di kursi.Aisah menatap Azmi dengan lekat.Air mata nya menetes membasahi ke dua pipi nya.
"Aisah,apa kamu keberatan?"
"Tidak.Aisah tidak keberatan"Aisah kembali menyeka air mata nya.
"Aisah ke kamar dulu"
"Eeemmm"
Aisah pun berlalu ke kamar mandi,meninggalkan Azmi di meja makan.
Blam!
Pintu kamar tertutup,Aisah bersandar di daun pintu,perlahan-lahan tubuh nya ambruk dan ia terduduk di lantai.
"Hiks...Hiks..."Aisah menutup mulut nya agar suara tangisan nya tidak di dengar oleh Azmi.
__ADS_1
"Pada akhir nya aku akan pergi dari sini,meninggalkan kenangan masa kecil ku disini,dan meninggalkan kenangan Abah dan Ummi disini"Aisha meringkuk sembari tidur di atas lutut nya.
"Abah,Ummi.Anak mu telah dewasa,sebentar lagi akan berumah tangga dan pergi jauh dari sini,meninggalkan kamar yang penuh kenangan ini"gumam Aisah dalam tangisan nya.