
Causalia atau pun Justin, serta Aisah mereka bertiga sarapan bersama.
"Oma dengar kalian mau kembali ke Indonesia?"
"Benar Oma"
"Apa ini tidak terlalu terburu-buru?"
"Tidak, Aisah katanya mau ziarah ke makam orang tua nya"
"Maaf, Oma belum bisa ikut, untuk perjalanan jauh Oma belum bisa pergi"
"Tidak apa-apa Oma" Aisah tersenyum kepada wanita tua yang duduk di depan nya, wanita itu sudah dia anggap seperti ibu nya sendiri.
"Bagaimana soal pernikahan Justin?" Causalia bertanya, namun Aisah menunduk, membiarkan Justin yang menjawab nya.
"Eemmm, kita pulang ke indonesia untuk melihat calon pengantin ku Oma" sahut Justin, sembari menyindir Aisah, namun Aisah memilih untuk diam agar tidak membuat Justin semakin marah.
Aisah tersenyum kecut, saat mendengar ucapan Justin, sudah ikhlas? tentu saja belum, namun Aisah butuh waktu cukup lama untuk bisa menyakinkan diri nya kalau niat nya ini semata karena Allah.
"Kapan berangkat?"
"Malam ini Oma, biar besok subuh tiba di Indonesia, bukan kah lebih cepat lebih baik ya?" sindiran Justin mulai membuat Aisah duduk tidak tenang, bahkan Justin dapat melihat saat tangan Aisah meremas ujung hijab nya, saat mendengar ucapan Justin.
'Kenapa aku harus cemburu, bukan kah aku yang menyuruh nya untuk menikah lagi? kuat Aisah, ikhlas' Aisah mengelus dada nya, Justin masih memperhatikan sang istri yang duduk mulai tidak tenang.
'Masih berusaha untuk tegar ? sekali saja katakan kamu ingin membatalkan pernikahan ini, maka aku langsung menyetujui nya' Justin kembali melirik ke arah Aisah, sebelum ia pergi meninggalkan meja makan.
"Mas..." lirih Aisah, sebelum Justin pergi, pria itu kembali menoleh.
"Aku ingin pergi umrah!" lanjut Aisah, dan itu tentu saja membuat Justin terkejut dan begitu juga dengan Causalia.
"Apa yang salah dengan mu sayang? bukan kah kamu ingin kita pergi ke Indonesia untuk melihat calon pengantin ku?" Justin kembali menekan kata-kata terakhir itu untuk menyadarkan Aisah.
"Sebelum pernikahan mas berlangsung aku ingin pergi umrah, melihat Ka'bah. Ingin melihat semua tempat yang ingin aku kunjungi disana, mas bawa aku pergi kesana, setelah itu kita akan sama-sama kembali ke Indonesia untuk bertemu dengan calon istri mu" suara Aisah pelan di akhir ucapan, meskipun Justin belum resmi menikah lagi, yang kata nya Aisah sudah ikhlas ternyata masih menyimpan sejuta keraguan dan rasa cemburu dalam diri nya untuk Justin.
"Aku akan meminta Jos untuk mengurus nya"
"Makasih mas"
__ADS_1
"Tidak perlu berterimakasih, apapun keinginan mu akan ku penuhi" tegas Justin, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Aisah di meja makan.
Di perusahaan. . .
Di dalam ruangan meeting, Justin memikirkan setiap ucapan yang di lontarkan Aisah kepada nya, baik dari rencana pernikahan dan rencana kembali ke Indonesia.
'Tidak ada istri yang merelakan suami nya menikah lagi, kecuali si istri tidak mencintai suami nya'
Brak!
Justin mengebrak meja, tentu saja itu membuat semua orang yang ikut rapat terkejut, apalagi saat ini Jos sedang memberi arahan kepada semua orang, dan ia juga ikut terkejut, takut salah pada apa yang telah di sampaikan nya.
"Tuan, apa ada yang salah?" tanya Jos, namun Justin tidak menjawab nya. Dia malah duduk melamun, sehingga membuat semua orang berbisik-bisik sembari menatap Bos mereka yang terlihat sedang melamun.
'Aisah, apa kamu tidak mencintai ku lagi? kenapa aku yang harus memikirkan ini, sedangkan aku pria yang di beri izin untuk menikah, tapi ke apa aku merasa jika aku tidak di cintai oleh istri ku?' Justin masih mencoba memikirkan ucapan Aisah sebelumnya.
Brak!
"Ini tidak bisa terjadi, bagaimana pun aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi" kini Justin berdiri dari tempat duduk nya, Jos dan yang lain terkejut melihat Justin yang sekali lagi mengebrak meja.
"Tuan, apa semua baik-baik saja?"
Blam!
Justin membanting pintu ruangan rapat, semua dewan direksi dan kepala karyawan ikut terheran - heran dengan sikap Justin.
"Apa yang terjadi Pak Jos?" akhirnya dewan direksi bertanya kepada pria yang paling di percayai oleh Justin.
"Mungkin ini masalah angin. Rapat sampai disini dulu ya, kita bubarkan!" Jos membereskan semua berkas yang ada di atas meja, begitu juga yang lain.
"Masalah angin ?"
"Angin apa?"
Mereka mulai bergosip di dalam ruangan meeting, Jos tidak menanggapi nya, ia sibuk membereskan meja tersebut.
Ternyata Justin tidak kembali ke ruangan nya, melainkan pulang ke mansion. Justin tidak bisa tenang, jika tidak mendengar nya langsung dari mulut Aisah, apakah Aisah masih mencintai nya atau tidak.
Hanya butuh waktu dua puluh menit, Justin sudah tiba di mansion, kepulangan nya di sambut oleh beberapa pelayan yang kebetulan sedang membersihkan kolam renang.
__ADS_1
"Tuan, apa Anda ingin minum kopi atau jus?"
"Tidak perlu"
Justin langsung menaiki tangga, Causalia yang melihat kepulangan Justin pun heran, apalagi saat melihat raut wajah Justin yang begitu masam.
"Apa yang terjadi?" gumam Causalia, yang saat ini berjalan ke arah ruang tamu, baru sekitar jam 12:00, dan Justin telah pulang, tidak seperti biasanya.
Dengan langkah yang terburu-buru Justin berjalan ke arah kamar nya.
Ceklek !
"Loh, mas sudah pulang?" Aisah baru saja selesai berganti pakaian, setelah melakukan ritual mandi nya.
"Katakan padaku, apa kau tidak mencintai ku lagi?" Justin, mencengkram lengan Aisah, yang membuat wanita ini meringis kesakitan
"Mas sakit, apa yang terjadi?" Aisah melihat netra Justin yang memerah, momen ini mengingat Aisah pada beberapa bulan sebelum Aisah dan Justin menikah, pernah sekali Justin melakukan ini kepada Aisah, atas penolakan yang di lakukan Aisah sebelum nya.
Melihat Aisah yang terus mencoba melepaskan tangan nya, Justin pun akhirnya melepas cengkraman itu.
"Aku sudah tahu, kamu sangat ingin aku menikah lagi, karena kamu tidak mencintai ku bukan?"
"Mas, apa yang kamu katakan, jika aku tidak mencintai mu, aku tidak disini saat ini" Aisah memegang lengan Justin, mencoba menyakinkan pria itu yang saat ini sedang di landa kecemasan terhadap dirinya.
"Aisah, aku harus jujur, aku tidak dapat menikahi wanita lain, aku jujur, aku tidak bisa dan tidak mampu, jika kau meminta nyawa mu, maka akan ku berikan, tapi jangan kamu memaksa aku untuk menikahi wanita lain" Justin pun terduduk tepat di depan Aisah, dan memohon kepada Aisah agar tidak memaksa nya untuk menikah lagi.
"Jangan lakukan itu pada ku!" Justin menangkup ke dua tangan nya di depan dada, lalu menatap sang istri yang saat ini juga sedang berdiri di depan nya.
Air mata Aisah menetes, Aisah kenal betul dengan sikap Justin, keras dan tidak mau mengalah pada permintaan orang, namun Justin dapat menuruti semua keinginan Aisah, karena memang Justin sangat mencintai istri nya.
"Mas, ayo bangun. Aku tidak akan memaksa mas, tolong jangan begini" Aisah memegang ke dua bahu Justin, lalu membantu pria itu untuk berdiri.
"Katakan kamu tidak akan memaksa ku untuk menikah lagi ?"
Aisah ragu, Justin memegang kedua tangan Aisah, berharap Aisah menarik kembali ucapan nya dahulu yang memaksa Justin untuk menikah lagi.
"Baiklah mas!"
Justin langsung memeluk Aisah, setelah mendengar jawaban Aisah, betapa bahagia nya Justin dengan jawaban itu. Beruntung Aisah bisa memiliki suami seperti Justin, yang sulit jatuh hati pada wanita lain, pria seperti Justin sangat sulit di temukan pada zaman ini, hanya ada satu dalam seribu.
__ADS_1