Tasbih Cinta Aisah

Tasbih Cinta Aisah
Hari berikut


__ADS_3

Banyak sekali proyek baru yang akan di tangani oleh Justin, sehingga ia harus kembali ke perusahaan secepatnya. Dan meminta Nayra untuk berada di rumah, apalagi saat ini sudah ada Nora yang akan membantu merawat Alfarisi.


"Hati - hati mas, doa ku selalu menyertai mu" ujar Aisah, saat melihat Justin yang sedang berpamitan bersama dengan anak nya, serta ia berjalan ke arah Aisah, dan mengecup pelan kening Aisah, sembari berpamitan.


Setelah pamit, Justin segera pergi meninggalkan kamar Aisah. Di ruang makan, ia melihat Jos dan Nayra.


"Nayra, saya menitip Aisah pada mu, jika ada apa-apa segera hubungi saya"


"Bain Tuan"


Justin tidak sarapan, karena ia akan sarapan di kantor, Justin bergegas menuju mobil yang mesin sudah di panaskan Jos, mereka berdua akan pergi dengan mobil terpisah.


Nayra berjalan menuju kamar Aisah, sebelum lebih dulu ia mengetuk pintu kamar.


Tok ! Tok ! Tok !


"Masuk saja" sahut Aisah dari dalam, Nayra segera membuka pintu dan masuk, mendapati Aisah yang duduk di atas ranjang, dengan Baby Alfarisi di dalam gendongan nya.


"Boleh aku mengendong ? " tanya Nayra, semenjak pulang dari rumah sakit, Nayra tidak pernah menyentuh baby Al, karena ia segan dengan Justin, yang selalu bersama dengan Al.


Nayra mengendong baby Al dengan begitu sangat senang, bahkan senyuman nya terukir indah di bibir Nayra.


"Kamu sangat menyukai anak - anak?"


"Iya...Doakan aku bisa segera menyusul"


"Amiin"


Tok! Tok ! Tok !


Nayra dan Aisah menoleh ke arah pintu, itu adalah Nora yang datang untuk melihat Baby Al.


"Bu, saya ingin memandikan baby"


"Eemmmm, silahkan. Nayra, berikan Baby Al kepada Nora"


"Oke"


Nayra menyerahkan baby Al kepada Nora, wanita itu keluar dari kamar dan menuju kamar mandi yang di dekat laundry, disana sudah ada air hangat yang disediakan Nora.


"Kenapa kau terus menatap ku?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Nayra malah tersenyum.


"Aku tidak menyangka pada akhirnya kita sama-sama sudah menikah, terimakasih yang selalu menjadi orang baik dalam hidup ku" Nayra memegang tangan Aisah, dan wanita itu tersenyum manis kepada Nayra.


"Sama-sama, kamu harus ingat, kita sudah di takdir 'kan untuk bersama dan saling membantu satu sama lain. Nayra, kamu tahu disaat dokter memutuskan untuk melakukan operasi, aku takut setengah mati, jika aku tidak memiliki mu hari itu di rumah, aku tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada aku dan anak ku" ungkap Aisah,


"Sudah rencana Tuhan, aku sangat khawatir, dan akhirnya aku lega sangat melihat baby Al keluar dari ruangan operasi, meskipun ia terlibat lemah, setidak nya aku sudah tahu jika kalian berdua selamat"


"Iya, itu juga suatu mukjizat"


Nayra dan Aisah tidak berhenti berbicara mengenai apa yang terjadi hari itu, sesekali mereka tertawa kecil, saat mengingat masa lalu mereka waku di Thailand dulu.


...****...


Seperti biasa, setelah meeting selesai, Justin beristirahat di ruangan nya sebentar, lalu ia memeriksa ponsel nya, ingin mengetahui apa ada panggilan dari Aisah atau tidak, karena sepanjang hari Justin memikirkan Aisah dan Baby Al.


Justin ragu meninggalkan mereka di rumah, padahal di rumah ada Nayra dan baby sitter Nora, namun rasa khawatir masih saja menyelimuti Justin, karena pria ini sangat menyayangi anak dan istri nya, takut sesuatu terjadi dengan mereka.


Tok ! Tok ! Tok !


"Masuk "


"Raka, kamu kesini? apa ada masalah?"


"Tidak paman, aku ingin Paman memeriksa hasil desain yang Minggu lalu kami berikan pada paman, karena yang asli nya telah hilang" tukas Raka,


"Desain itu, saat ini ada pada Cakra, jika kamu tidak keberatan, tunggu lah beberapa hari lagi dia akan mengirim nya kembali"


"Baik lah Paman, namun saat ini ada salinan desain itu, dan mereka menganggap jika salinan desain itu adalah milik mereka" Raka memberikan salinan desain milik Purna yang di curi oleh orang lain.


Justin mengambil map biru di tangan Raka, dan memeriksa nya.


"Ini jelas punya purna, tapi kenapa tanda pengenal nya milik perusahaan lain, aku teringat dengan perusahaan ini, tapi milik siapa ya? mereka pernah mengirim email untuk perusahaan Arlando, dan itu terjadi baru-baru ini" ungkap Justin, sembari mengingat.


"Memang ini punya Purna, desain asli ada pada Paman, dan memiliki tanda pengenal, oleh sebab itu aku ingin meminta itu dan memeriksa ulang, dan ingin menuntut perusahaan yang telah mencuri hasil desain Purna" tegas Raka,


"Siapa yang mengurus desain ini?"


"Divia"


"Divia mantan istri mu?"

__ADS_1


"Iya"


"Tidak masalah, aku akan membantu kalian, biasa nya desain Purna tidak dapat di curi meskipun yang asli, karena kode pada ujung desain terhubung dengan komputer purna"


"Aku harap juga begitu, namun saat ini sistem itu telah berubah, semoga saja kemarin karyawan purna tidak lupa memakai kode pengenal yang lama, yang masih terhubung dengan Purna"


"Eemmmm, Raka berbicara mengenai orang yang bertanggung jawab atas desain purna, paman mau nanya"


"Apa yang ingin Paman ketahui?"


"Kenapa kamu belum kembali pada Divia?"


Mendengar pertanyaan itu, membuat Raka terdiam, karena dia sendiri masih bingung jawaban apa yang bisa ia berikan pada Justin.


"Heeemmm" Raka menghela nafas nya, " Mama Divia belum memberi restu, mungkin kami tidak dapat bersatu lagi" pasrah Raka,


"Jangan katakan itu, Paman yakin Divia masih berharap kalian dapat bersama, karena sampai saat ini dia masih sendiri" pungkas Justin, terlihat senyuman dari wajah Raka, mendengar pernyataan Justin.


"Aku juga berharap begitu Paman, semoga Mama Divia memberi aku peluang, dan aku sudah berjanji tidak akan menyia-nyiakan peluang itu"


"Bagus, berusaha lah, yang lebih keras"


" Terimakasih paman. Oh ya, selamat untu kelahiran Baby paman, aku mengetahui itu dari Arkana.


"Iya benar, karena Metti ada saat itu di rumah sakit, tentu Metti mengabari Arkana"


"Jika kami memiliki waktu, kami akan datang berkunjung ke rumah paman"


"Datang lah, kalian harus datang, dan kami menunggu kedatangan kalian semua"


"Pasti"


Justin dan Raka, kembali membahas proyek yang sedang berlangsung, terlihat Raka sangat serius akan proyek itu, meskipun saat ini Arkana campur tangan dalam proyek itu, Raka juga ingin mengandalkan diri sendiri, tanpa bantuan Arkana lagi, Raka tidak ingin melakukan hal yang sama untuk ke dua kali nya.


Sudah dua jam, Raka berada ditempat itu, sesekali melirik jam yang ada di dinding di dalam ruangan Justin.


"Apa kamu sibuk?"


"Tidak, namun aku harus pulang, hari ini telah membuat janji dengan Divia"


Justin tersenyum, begitu juga Raka. Raka berdiri, dan berpamitan dengan Justin.

__ADS_1


__ADS_2