
Seperti biasa setiap pagi nya,Justin akan berangkat pagi dan pulang sore.Sesekali pulang larut malam bila ada perkejaan yang harus ia selesaikan.
Justin mengirim Cakra ke Jepang untuk urusan bisnis.Kali ini dia mempercayai Cakra,karena Justin menolak untuk pergi.Aisah masih butuh seseorang yang selalu memberi nya semangat,Justin tidak ingin Aisah,tiba-tiba stres dan berpikir berlebihan.
"Aku berangkat dulu sayang"kecupan manis,mendarat di kening Aisah,dan Justin juga berpamitan sama Causalia
"Hati - hati mas,doa ku selalu menyertai mu!"
"Iya istri ku!"
Justin pun berlalu pergi meninggalkan meja makan,di luar Jos sudah menunggu nya di depan mobil.
"Kita berangkat sekarang"
"Baik Tuan"
Jos segera masuk ke dalam mobil.Ditengah perjalanan terlihat Justin membuka iPad nya.
"Jos,batalkan kontrak kerja sama dengan Suami dari Nyonya Linda.Aku tidak ingin bekerjasama dengan orang yang telah menghina istri ku!"tegas Justin,
"Tuan,kalau kontrak itu batal,kita harus memberi kompensasi atas pembatalan sepihak"
"Berapa?"
"Seratus milyar!"pungkas Jos,sedikit menoleh ke arah Justin.
"Transfer!"tegas nya,dan Jos tidak berani lagi bertanya saat melihat raut wajah Justin yang tidak bisa di ajak kompromi.Selain datar,raut wajah nya terlihat begitu menakutkan.
Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi,setelah Justin menerima panggilan dari resepsionis kantor,karena ada klien yang menunggu nya untuk meeting.
Di rumah,Aisah sedang berada di taman mansion,ia membuka iPad yang di berikan Justin beberapa hari lalu,untuk mengisi kekosongan nya,saat di rumah.
Dari arah jendela kamar,Causalia menatap menantu nya itu,selain sangat sayang dengan Aisah,Causalia juga tidak ingin menyakiti hati Aisah.Di lubuk hati nya yang paling dalam,Causalia sangat menginginkan seorang cucu.Namun,karena Aisah,tidak bisa lagi hamil,Causalia mengurungkan niat dan harapan nya itu kepada Aisah.
Tok ! Tok ! Tok !
"Masuk!"
Kepala maid segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Causalia.
"Nyonya besar,anda memanggil saya?"
"Benar,silahkan duduk!"
Kepala maid pun segera duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
"Bagaimana cara nya agar Justin bisa memiliki anak,meskipun Aisah tidak bisa hamil?"
"Ada sih Nyonya,tapi itu mahal,dan kita harus membuat perjanjian di atas kertas agar tidak ada tuntutan di kemudian hari!"pungkas Kepala maid.
"Biaya tidak masalah,asal calon cucu saya sehat!"
"Kita harus mencari ibu pengganti,atau sewa rahim,jadi anak yang di kandung wanita itu tetap darah daging Tuan muda Justin!"
"Kalau itu saran nya,aku harus membicarakan nya kepada menantu dan cucu ku,karena aku tidak dapat memutuskan apapun,jika mereka tidak setuju maka aku pun tidak dapat melakukan banyak dari itu!"
Kepala maid hanya diam saja mendengar jawaban Causalia.Karena ia tahu,Causalia sangat menghargai perasaan Aisah,istri dari Justin.
Aisah masih nyaman berada di taman,ia sedang mencari informasi tentang rumah tangga yang sudah menikah begitu lama.Namun,belum memiliki anak.
Banyak sekali pendapat orang di luar sana yang memberi komentar,dari banyak nya komentar yang Aisah baca ia bahkan ikut tersentuh dengan komentar salah satu wanita yang sudah lama menikah,namun selalu gagal untuk memiliki anak karena rahim nya lemah.
"Bagi orang yang bisa memiliki anak,dan sehat sampai lahiran,mungkin masalah yang saya alami ini adalah hal sepele bagi mereka.Pasti mereka akan menyalakan si ibu yang tak berhati-hati saat hamil,atau vitamin nya kurang,serta kandungan nya apalah bla bla.Mereka selalu suka mengomentari orang lain,dengan posisi mereka yang begitu sempurna,tanpa memikirkan perasaan kita,seandainya kita bisa meminta,kita sendiri juga ingin bisa hamil,bayi sehat sampai lahiran.Namun,apa daya Tuhan hanya memberi ku rasa nikmat hamil sampai dua atau tiga bulan saja,setelah itu Tuhan kembali menguji kesabaran ku dan sang suami!"
__ADS_1
Aisah sendiri dapat merasakan kesedihan yang wanita itu alami,disaat awal mengetahui diri nya hamil,wanita itu pasti ingin segera melihat wajah calon anak nya,setiap hari di warnai rasa bahagia yang tak terhitung.
Namun,setelah bulan bulan berikut nya,Tuhan kembali menguji mereka,bagaimana perasaan mereka,bisa saja stres dan bahkan ada yang ingin mengakhiri hidup nya hanya karena soal itu.
Itulah kenapa kita penting menghargai perasaan orang lain,karena tidak semua ucapan kita bisa di terima dan di anggap candaan.Bisa saja dalam senyum seseorang menanggapi ucapan kita,orang itu malah merasa tertekan,dan akhir nya terjadi hal yang tidak kita inginkan.
Iman seseorang tidak akan ada yang bisa mengukur nya,jadi untuk kalian semua berhenti mengomentari hidup orang lain.
Setelah membaca beberapa artikel di blog islam itu damai,milik ustazah Fatimah,wanita berasal dari Indonesia,dan saat ini Aisah tanpa sengaja masuk ke dalam forum itu atas undangan Maryam sang kakak ipar.
Maryam ingin Aisah belajar lebih sabar lagi untuk ujian yang ia hadapi dalam beberapa bulan ini.
Aisah telah banyak menghabiskan waktu nya untuk mendengar tausiah dari Ummi Fatimah,wanita yang sangat di cintai oleh banyak wanita di luar sana,khusus nya negara Indonesia,mayoritas manusia yang suka ikut campur akan urusan orang lain,tanpa memikirkan perasaan orang tersebut.
Banyak sekali motifasi - motifasi yang di berikan oleh Ummi Fatimah kepada anggota forum Islam itu damai.Saat ini Aisah adalah salah satu nya anggota itu.
Aisah telah menyimpan nomer wa milik ummi Fatimah,karena selama di Thailand,mereka hanya menggunakan line saja untuk berhubungan dengan teman-teman dan kerabat.
"Nyonya muda,sudah sore,apa Anda akan berada di sini terus?"tanya kepala maid,
Tanpa terasa waktu Aisah,berlalu begitu cepat,ia tidak menyangka waktu telah berjalan begitu cepat,ia hanya duduk diam dan mendengar beberapa nasehat dari Ummi Fatimah.Namun,telah menyita banyak waktu nya.
"Saya akan masuk sebentar lagi,seperti nya saya akan masuk bersama dengan Tuan muda Justin!"jawab Aisah,saat melihat mobil Justin telah masuk ke pekarangan Mansion.
"Baiklah Nyonya,saya tinggalkan "
Aisah menjawab dengan anggukan saja,Kepala maid segera masuk ke dalam.
"Assalamualaikum,sayang"ucap Justin,berjalan ke arah Aisah di taman.
"Waalaikumsalam.Mas"Aisah mencium punggung tangan Justin.Lalu ia mengecup sekilas kening Aisah,merangkul pinggang sang istri,lalu mengajak nya untuk masuk ke dalam rumah.
Makan malam telah tiba. . .
Causalia melirik ke arah Justin dan juga Aisah yang sedang menikmati makan malam mereka seperti biasa.
"Jangan pergi dulu,ada yang ingin Oma bicarakan!"
Deg!
Aisah langsung menatap Oma dengan wajah yang tertekan,karena kemarin baru saja berdebat dengan teman nya,Aisah sangat takut di salah 'kan akan hal itu,karena dia tidak bisa memberi anak kepada keluarga Arlando,sehingga Causalia mendapat cibiran dari teman arisan nya.
"Mila,bahkan beberapa makanan penutup ke sini!"
Kepala maid langsung membawa nampan berisi makan penutup untuk mereka,lalu beberapa pelayan membereskan meja makan.
Setelah semua suasana mulai tenang kembali,baru lah Causalia membicarakan niat nya kepada Aisah.
"Aisah,Justin.Oma punya saran untuk kalian berdua,ini bukan untuk Oma,hanya saja ini untuk kalian berdua,terserah kalian mau menerima nya atau enggak.Namun,Oma akan mengatakan yang sebenarnya dulu,jangan marah atau langsung mengambil kesimpulan terhadap Oma,kalau Oma membenci mu.Tidak,Oma tidak membenci mu,Oma sangat sayang pada Aisah,Oma bahkan tidak bisa melihat kamu bersedih,jadi tolong jangan berpikiran macam-macam tentang Oma!"
Deg!
Perasaan Aisah semakin tak karuan mendengar pernyataan Causalia,Justin memegang tangan sang istri,dan berbicara dengan lembut.
"Tidak apa-apa!"
Aisah mengukir senyuman kepada Justin,lalu Causalia lanjut berbicara.
"Banyak orang di luaran sana tidak bisa memiliki anak,namun mereka tidak menyerah begitu saja,Meraka melakukan banyak cara,agar mereka dapat memiliki anak!"
Deg !
Aisah semakin lesu,saat mendengar ucapan Causalia,Aisah sudah menebak pasti soal anak.
__ADS_1
"Kalau kalian juga ingin memilki anak,Oma punya saran,bagaimana kalau kalian sewa ibu pengganti,jadi kita bisa membayar untuk menyewa rahim nya,tanpa ada ikatan pernikahan hanya ada perjanjian di atas kertas saja!"ungkap Causalia.Awal nya Causalia sendiri takut mengatakan itu kepada Aisah,namun ia ingin memberi pendapat dan berharap Aisah dan Justin dapat menerima nya.Tanpa memarahi nya.
Justin langsung melirik ke arah Aisah,begitu juga Aisah.
"Oma,pendapat dan saran Oma sangat bagus,Justin dan Aisah menerima nya.Namun,kami belum memiliki jawaban untuk ke putusan itu,beri kami waktu!"Justin segera berdiri dan mengajak Aisah sekalian.
"Oma,tidak apa-apa.Aisah tidak marah"tukas Aisah,yang tersenyum ke arah Causalia,sebelum mereka pergi meninggalkan meja makan.
Sampai di dalam kamar,Aisah segera mengambil perlengkapan sholat dan meletakkan nya di atas sofa.Lalu ia berjalan ke arah lemari,untuk menyiapkan baju tidur untuk Justin dan dirinya.
"Sayang,apa kamu oke?"tanya Justin,memeluk Aisah dengan manja.
"Aku oke mas,tidak perlu khawatir,berhenti mengkhawatirkan aku,aku sudah ikhlas atas masalah yang lalu"ujar Aisah membuka lemari.
"Saran dari Oma,apa pendapat mu?"
"Aku belum punya pendapat dan jawaban mas,beri aku waktu,Aku akan memikirkan nya.Jadi mas sudah punya jawaban?"Aisah menoleh dan berbalik bertanya.
"Jawaban ku ada pada mu sayang,selama itu baik dan kamu juga menerima maka aku akan menerima,atas dasar ijin mu sayang!"ungkap Justin,mencium bahu Aisah,masih dalam keadaan memeluk sang istri.
"Kalau begitu beri aku waktu untuk memikirkan nya"jawab Aisah dengan bijak,ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan oleh Aisah.Namun,ia tidak ingin Justin mengetahui nya.
"Aku akan mengambil wudhu dulu sayang,kita sholat insya bersama!"
Kecupan lembut kembali mendarat di pipi Aisah,wanita ini hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Aisah meletakkan baju tidur milik Justin dan diri nya di atas ranjang,lalu melihat Justin sudah keluar dari kamar mandi,ia pun bergantian untuk mengambil air wudhu.
...***...
Hari ini,mata Aisah terlihat begitu sembab,ia menangis sepanjang malam,berdoa kepada Allah,dan meminta jawaban pada sang khalik.Namun,sampai hari ini perasaan Aisah masih di terpa dengan kecemasan yang cukup melanda.
Justin telah berangkat kerja sejak tadi pagi,kita hanya tertinggal Aisah,di dalam kamar,ia sedang berdiri dengan tasbih di tangan nya.
Udara di balkon cukup dingin,sehingga sekilas membuat hati Aisah tentram,apalagi bibir nya terus saja melafal nama Allah,di setiap butir yang ia sentuh.
Begitu zikir ke seratus ia mencium butiran-butiran tasbih mutiara itu berulang kali,tasbih yang di hadiah 'kan oleh Justin saat pertama kali mereka bertemu di Thailand pada waktu itu.
Air mata Aisah menetes,membasahi gamis yang ia pakai,lalu ia kembali menyeka air mata nya.
Berat bagi nya untuk membiarkan wanita lain mengandung anak dari suami nya.Meskipuj tanpa ikatan pernikahan,itu juga belum bisa membuat Aisah ikhlas.
'YaAllah,apa yang harus ku lakukan!'
Aisah mendongakkan kepala nya ke atas,menatap langit hari itu yang begitu cerah,pepohonan mulai menerbangkan daun nya yang gugur.Kicauan burung mulai terdengar samar di telinga Aisah,seketika hati nya kembali tenang.
'Aku juga ingin seseorang memanggil ku dengan sebutan ibu,namun aku menginginkan ia lahir dari rahim ku,bukan dari rahim orang lain.Ya Allah berat!'
Aisah menutup wajah nya dengan ke dua tangannya,ia terus saja bergelut dengan hati nya.Sudah sejak Justin berangkat kerja ia mengurung diri di kamar.
Jam di dinding,menunjukkan pukul 14:12,Aisah belum pindah dari tempat duduk nya di balkon.Ada iPad bersama dengan nya juga.
Aisah baru saja selesai mendengar tausiah dari Ummi Fatimah.Bahkan ia belum keluar dari forum itu.
Setelah beristigfar berulang kali,Aisah kembali melafal 'kan zikir dengan hati dan bibirnya,ia ingin tentram dan kuat untuk menerima apapun yang akan terjadi ke depan nya.
Seseorang menyentuh bahu nya,Aisah terkejut,dan langsung membuka mata nya.Aisah menoleh ke arah orang yang berdiri di belakang nya.
Tanpa berkata sepatah kata pun,Aisah langsung memeluk pinggang orang itu,dan membenamkan wajah nya disana.
Orang itu adalah Justin,entah sejak kapan dia sudah kembali,Aisah tidak mengetahui nya.Justin mengusap lembut pucuk kepala Aisah yang tertutup hijab.Justin merasakan isak tangis yang begitu tersedu -sedu dari bibir sang istri.
"Sayang,cukup!"ucap Justin dengan lembut,dengan tangan yang masih mengusap kepala Aisah.Namun,Aisah belum juga berhenti dari tangisan nya yang begitu pilu,sehingga membuat Justin,ikut memeluk nya,dan kini tangisan Aisah semakin pecah dalam pelukan Justin.
__ADS_1
"Aaaa...Hiks..Hiks..."
"Cukup sayang,cukup"dengan sabar tangan Justin mengusap punggung Aisah,dan ia berusaha menenangkan Aisah,agar lebih tegar dan mau dengan ikhlas menerima ke kekurangan dalam diri nya sendiri.