
Justin mengambil map biru di tangan Raka, dan memeriksa nya.
"Ini jelas punya purna, tapi kenapa tanda pengenal nya milik perusahaan lain, aku teringat dengan perusahaan ini, tapi milik siapa ya? mereka pernah mengirim email untuk perusahaan Arlando, dan itu terjadi baru-baru ini" ungkap Justin, sembari mengingat.
"Memang ini punya Purna, desain asli ada pada Paman, dan memiliki tanda pengenal, oleh sebab itu aku ingin meminta itu dan memeriksa ulang, dan ingin menuntut perusahaan yang telah mencuri hasil desain Purna" tegas Raka,
"Siapa yang mengurus desain ini?"
"Divia"
"Divia mantan istri mu?"
"Iya"
"Tidak masalah, aku akan membantu kalian, biasa nya desain Purna tidak dapat di curi meskipun yang asli, karena kode pada ujung desain terhubung dengan komputer purna"
"Aku harap juga begitu, namun saat ini sistem itu telah berubah, semoga saja kemarin karyawan purna tidak lupa memakai kode pengenal yang lama, yang masih terhubung dengan Purna"
"Eemmmm, Raka berbicara mengenai orang yang bertanggung jawab atas desain purna, paman mau nanya"
"Apa yang ingin Paman ketahui?"
"Kenapa kamu belum kembali pada Divia?"
Mendengar pertanyaan itu, membuat Raka terdiam, karena dia sendiri masih bingung jawaban apa yang bisa ia berikan pada Justin.
"Heeemmm" Raka menghela nafas nya, " Mama Divia belum memberi restu, mungkin kami tidak dapat bersatu lagi" pasrah Raka,
"Jangan katakan itu, Paman yakin Divia masih berharap kalian dapat bersama, karena sampai saat ini dia masih sendiri" pungkas Justin, terlihat senyuman dari wajah Raka, mendengar pernyataan Justin.
"Aku juga berharap begitu Paman, semoga Mama Divia memberi aku peluang, dan aku sudah berjanji tidak akan menyia-nyiakan peluang itu"
"Bagus, berusaha lah, yang lebih keras"
" Terimakasih paman. Oh ya, selamat untu kelahiran Baby paman, aku mengetahui itu dari Arkana.
"Iya benar, karena Metti ada saat itu di rumah sakit, tentu Metti mengabari Arkana"
"Jika kami memiliki waktu, kami akan datang berkunjung ke rumah paman"
"Datang lah, kalian harus datang, dan kami menunggu kedatangan kalian semua"
"Pasti"
Justin dan Raka, kembali membahas proyek yang sedang berlangsung, terlihat Raka sangat serius akan proyek itu, meskipun saat ini Arkana campur tangan dalam proyek itu, Raka juga ingin mengandalkan diri sendiri, tanpa bantuan Arkana lagi, Raka tidak ingin melakukan hal yang sama untuk ke dua kali nya.
Sudah dua jam, Raka berada ditempat itu, sesekali melirik jam yang ada di dinding di dalam ruangan Justin.
"Apa kamu sibuk?"
"Tidak, namun aku harus pulang, hari ini telah membuat janji dengan Divia"
Justin tersenyum, begitu juga Raka. Raka berdiri, dan berpamitan dengan Justin.
...****...
Raka telah kembali ke kantor nya dan benar saja Divia menunggu Raka disana, bahkan ia terlihat sudah lelah menunggu dan ingin memanggil taxi segera, agar bisa pulang.
"Divia..." panggil Raka, begitu ia melihat Divia yang berjalan ke arah pintu gerbang.
"Eeemmm" Divia menoleh, melihat ke arah Raka yang baru saja tiba.
"Apa urusan mu sudah selesai?" tanya Divia, yang sudah lelah menunggu.
"Aku sudah menyelesaikan nya, dan maaf membuat mu menunggu, ayo kita pergi"
Tanpa menjawab, Divia mengikuti Raka dari belakang menuju mobil nya. Terlihat Divia yang hanya diam saja, begitu juga dengan Raka.
Mereka berdua sampai di sebuah restoran yang telah di janjikan Raka kepada Divia.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan " sapa pelayan, saat melihat Raka dan Divia.
"Tuan, mari kamu antar ke ruang VIP"
"Terimakasih "
Raka dan Divia mengikuti pelayan tersebut, dan terlihat wajah Divia yang begitu datar, entah apa yang di pikirkan wanita ini.
Setelah tiba di dalam ruangan tersebut, Raka dan Divia langsung masuk dan duduk di meja yang ada di depan meja, tak lama kemudian, pesanan mereka tiba.
Waktu berlalu begitu saja, baik Raka atau pun Divia sangat menikmati makan malam romantis itu.
"Divia..."Raka mulai menggenggam tangan Divia, yang ada di atas meja, membuat wanita ini terkejut.
"Aku ingin kita kembali seperti dulu, aku berharap kamu dapat memberikan satu kesempatan lagi pada ku, ku mohon"
Divia melihat raut wajah Raka, yang begitu serius, kali ini Raka bersungguh - sungguh akan ucapan nya, ia berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk ke dua kali nya.
"Aku..." Divia menggantung ucapan nya, dan ia menatap lekat pada netra Raka, ada banyak harapan disana, salah satu nya hadapan Raka yang ingin kembali pada Divia.
"Mama tidak kam setuju" jujur Divia pada akhirnya, berarti Raka sudah bisa menebak kalau Divia mau kembali pada nya.
"Mama tidak akan setuju" ulang Divia lagi, Raka tersenyum.
"Aku ingin bertanya pada mu, apa kamu ingin kembali pada ku?"
Tanpa berpikir panjang, Divia terlihat tersenyum dan mengangguk.
"Aku ingin kembali, tapi bagaimana dengan Mama, bukan kah, itu tidak mudah?" kita terlihat raut wajah Divia yang begitu cemas.
"Aku akan meminta Mama mu untuk memberikan aku kesempatan ke dua, aku berjanji kali ini, tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk ke dua kali nya"
Divia dapat melihat ketulusan dari dalam diri Raka kali ini, dan saat ini raut wajah yang membuat Divia trauma telah hilang, tidak akan membuat merasa ragu lagi, dengan niat Raka kali ini.
Raka mengeluarkan sebuah kotak cincin, lalu menyematkan cincin permata itu di hari manis Divia, Raka mengecup nya sekilas membuat Divia malu.
"Terimakasih "ucap Raka,
...****...
Seminggu berlalu. . .
Aisah, sedang berada di ruang tamu, bersama dengan Baby Alfarisi. Mereka tidak memakai jasa baby sitter lagi, karena Justin ingin mengurus Baby nya sendiri, dan Aisah tidak keberatan.
"Mas, kenapa kamu tidak pergi ke kantor?"
"Aku bisa bekerja dari rumah, lagian saat ini Nayra dan Jos pergi ke Thailand, kamu tidak ada yang merawat, biar 'kan aku menjaga mu sayang" Justin mengecup pucuk kepala Aisah yang tengah duduk di samping Justin. Dalam gendongan Justin ada Baby Al, yang tengah tertidur.
"Ada apa?" tanya Justin, saat melihat Aisah akan berdiri.
"Mau mengambil minum"
"Biar aku saja, kamu duduk saja"
Justin meletakkan baby Al di dalam box bayi, lalu ia pergi menuju dapur, dan tak lama kembali lagi dengan membawa segelas air mineral untuk Aisah.
"Terimakasih sayang" ucap Aisah, Justin mengusap lembut kepala Aisah, sembari tersenyum.
Merawat baby memang tidak lah mudah, apalagi pasangan muda seperti Aisah dan Justin, hanya saja mereka melakukan nya dengan senang hati. Dan juga, Justin tidak membebankan seorang anak pada Aisah, sehingga Aisah terlihat begitu senang dan damai.
Karena Justin takut mental Aisah akan terganggu jika ia terlalu membebani Aisah, apalagi saat hari dimana Aisah baru selesai operasi, itu membuat jiwa Aisah sedikit terguncang.
Malam hari, di meja makan, hanya ada Aisah dan juga Justin, baru saja ingin makan, Baby Al sudah menangis.
Aisah segera mengambil dan menyusui anak nya, melihat Aisah yang sedang menyusui, Justin mengambil nasi untuk Aisah, ia segera menyuapi sang istri untuk makan, karena kalau sudah menyusui selera makan Aisah akan hilang, jadi Justin berinisiatif untuk menyuapi nya.
"Mas, Aku akan makan nanti"
"Tidak, kamu harus makan sekarang, kalau udah nanti, kamu tidak akan makan" cetus Justin, yang tetap menyuapi Aisah, hingga makanan itu habis.
__ADS_1
Setelah selesai menyuapi Aisah makan, baru lah Justin makan, dan ia masih melirik ke arah Aisah yang sibuk menyusui Baby Al.
"Mas, aku tinggal enggak apa-apa? seperti nya Baby Al sudah tidur, aku mau membawa nya ke kamar"
"Biar aku bantu"
"Tidak usah mas, kamu makan saja, aku bisa sendiri oke, kamu sudah banyak membantu hari ini mas, kamu makan saja dulu, setelah itu baru nyusul kami ke kamar"
"Eeemmm, baiklah. Hati-hati sayang"
"Iya mas"
Aisah segera pergi meninggalkan meja makan, dan meninggalkan Justin yang sedang menikmati makan malam nya.
Ke esokan pagi nya. . .
Aisah sedang berada di ruang tamu, sementara Justin ada di taman, sedang menyiram bunga milik mereka, semenjak Aisah melahirkan ia sering lupa menyiram tumbuhan itu.
Begitu selesai, Justin kembali ke dalam rumah, menuju ruang tamu.
"Aku mandi dulu sayang"
"Iya mas"
"Oh, ya Aku tadi sudah memesan makan siang, untuk kita"
"Iya mas"
Justin pun berlalu ke kamar untuk mandi, karena seluruh tubuh nya kotor dan baju nya terlihat basah.
Justin sudah selesai mandi, makanan yang mereka pesan belum juga tiba, dan akhirnya terpaksa Justin menelpon pihak gojek itu lagi.
"Sabar mas, mungkin masih di jalan"
"Iya sayang" Justin menyimpan ponsel nya, dan kini bermain dengan Baby Al yang sudah bangun dari tidur nya.
Aisah terus saja memperhatikan Justin yang sedang bermain dengan anak nya. Tak terasa ia tersenyum kepada Justin saat pria itu membuat Baby Al yang tersenyum.
"Sayang, mana ngerti baby Al, dia kan belum bisa melihat kamu"
"Iya tapi setidak nya ia tahu, saat ini ada Papa nya, yang sedang bermain dengan nya" mendengar jawaban Justin, Aisah hanya bisa menggelengkan kepala nya saja.
Ting ...Tong...
"Mas, ada yang datang"
"Biar aku lihat"
Justin bangkit dari tempat duduk nya, dan berjalan ke arah pintu utama.
Ceklek !
"Gus, Kakak ipar, silahkan masuk"
"Terimakasih"
Azmi dan Maryam segera melangkah masuk ke dalam rumah, menuju ruang tamu, disana sudah ada Aisah dan Baby Al.
"Kak ipar, Gus" seru Aisah, saat melihat kedatangan mereka berdua.
"Tadi aku melihat gojek di depan pagar, jadi sekalian saja aku menerima nya" Azmi meletakkan makanan yang di pesan Justin di atas meja.
"Kenapa enggak cari pembantu saja sih?" tanya Azmi, melihat ke arah Justin.
"Kami lebih senang tinggal berdua disini, dari pada ada orang lain" pungkas Justin, berjalan ke arah Aisah.
"Tapi Nayra dan Jos?"
"Mereka keluarga, mana bisa di bilang orang lain"
__ADS_1
Azmi tersenyum, berarti Justin tidak keberatan dengan tinggal nya Jos dan Nayra di dalam rumah mereka.
Justin segera bangkit dari duduk nya, berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman kaleng untuk Azmi dan Maryam, mereka memaklumi nya, tidak ada yang orang yang akan membuat minum untuk mereka.