Tasbih Cinta Aisah

Tasbih Cinta Aisah
Restoran


__ADS_3

Tiba di sebuah restoran mewah. Aisah terlihat bingung, tempat nya mewah dan besar, tapi tidak ada satu pun pengunjung.


"Mas, kenapa sepi sekali?" Aisah melirik sang suami, yang ada di samping nya.


"Karena tempat ini udah aku pesan khusus untuk kamu!" ujar Justin, yang kini menuntun sang istri masuk ke dalam restoran tersebut.


"Jos,pastikan semua nya aman!"


"Baik Tuan" Jos pun pergi menemui pelayan dan koki di restoran itu.


"Selamat datang Tuan Justin" sapa pelayan dengan ramah.


"Mari ikut saja" sambung Pelayan yang lain, mengantar Justin dan Aisah menuju ruangan VIP.


Ceklek !


Ketika pintu terbuka, tidak ada klien disana, hanya ada ruangan penuh dengan dekorasi yang mewah, banyak buket bunga dan uang yang ada di dalam ruangan itu.


"Apa ini sayang?" Aisah terkesiap melihat ruangan tersebut.


"Ini untuk mu sayang, selamat hari ulang tahun istri ku" Justin mengecup kening serta ke dua pipi Aisah.


Tentu saja itu membuat Aisah terkejut, ia sendiri tidak ingat hari ultah nya. Aisah sibuk memikirkan pernikahan Justin, sehingga melupakan hari lahirnya.


"Terimakasih mas" Aisah memeluk suami nya, sekali dalam seumur hidup, biasanya dia tidak pernah merayakan itu, karena Sang kakak pemilik pesantren tidak boleh merayakan ultah yang begitu mewah, hanya sekedar mengingat nya saja.


Justin menuntun Aisah untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Jos datang dengan beberapa pelayan lain nya membawakan hidangan serta hadiah istimewa untuk Aisah.


"Mas, ultah aku seperti nya sudah lewat, tidak perlu menyediakan hadiah begitu istimewa"


"Kita terlalu sibuk sebelum nya, baru ini punya kesempatan untuk mengadakan nya"


Setelah hidangan tertata rapi di atas meja, Justin menyuruh Aisah untuk mencicipi makanan itu. Terlihat sekali kebahagian yang terpancar dari raut wajah Aisah, dan itu tentu saja membuat Justin bahagia.


...***...


Masih terlalu pagi untuk bersiap-siap ke kantor. Justin duduk di balkon, dengan secangkir kopi di atas meja. Ada Aisah yang sedang mengeringkan rambut nya di kamar.


"Sini sayang, biar aku bantu" Aisah, pun mendekat, dan memberikan handuk untuk justin,


"Pakai hairdryer lebih cepat mas"


"Udah ini saja"


Aisah pun menikmati perlakuan lembut dari tangan Justin, dan membuat dia begitu nyaman.


"Mas, aku boleh meminta satu hal pada mu?"


"Eemmm, apa katakan!"


"Aku ingin mas menikah lagi!" mendengar ucapan Aisah, Justin terkejut dan menghentikan aktivitas nya.


Aisah lalu berbalik, dan menghadap sang suami. "Dengarkan aku dulu mas" Aisah memegang tangan Justin, berharap pria ini tidak langsung marah, seperti sebelum nya.


"Sudah seharusnya kita memiliki keturunan bukan? aku ingin memiliki seorang bayi, tidak dengan adopsi, tapi dia benar-benar anak kamu mas" Aisah mengecup sekilas punggung tangan Justin, dan meletakkan nya di wajah sendiri.


"Sayang dengar, poligami itu tidak mudah, aku tidak bisa!" Justin langsung menolak nya.


"Mas, aku bisa mengerti, aku yang akan menemani mu, dan membantu mu" Aisah masih bersikeras menyuruh Justin untuk menikah lagi.


"Tidak sayang, aku tidak akan bisa adil untuk madu mu, aku bisa mencintai mu, tapi tidak untuk madu mu, aku bisa menafkahi lahir nya tapi tidak batin nya!" kini Justin berdiri, dan Aisah memegang tangan Justin.


"Mas, aku mohon" Aisah memegang ke dua lutut Justin, dan itu membuat sang suami terkejut. Begitu ingin nya Justin untuk menikah lagi, sehingga Aisah rela bersujud di depan nya.


Justin memegang ke dua bahu Aisah, namun Aisah masih tidak ingin berdiri.


"Apakah rasa cinta mu untuk ku telah pudar sering berjalan nya waktu? sehingga kamu dengan santai nya menyuruh aku menikah lagi? apakah selama ini aku telah banyak menyakiti mu? Aisah, sejahat apa aku di mata mu, sehingga kamu memberikan aku kepada wanita lain? " tangan Justin gemetar, tubuh Aisah kaku saat mendengar ucapan sang suami.

__ADS_1


Aisah mendongakkan kepala nya, menatap netra Justin yang memerah, lalu Aisah pun dengan cepat meraih tekuk Justin dan memeluk pria itu.


Aisah sesenggukan dalam pelukan Justin, begitu juga pria ini. Terlihat tegar dan kuat di luar, namun Justin lemah di depan istri nya.


"Jangan paksakan aku Aisah!" lirih Justin, namun terdengar begitu tegas.


"Mas, ku mohon, demi kita berdua, kita juga butuh seorang pewaris dalam hidup ini, bukan kah, menikah lebih dari satu termasuk sunnah mas?"


"Sunnah bagi orang yang mampu, dan aku tidak mampu Aisah!"


Dua kali Justin menyebut nama Aisah, dan itu membutuhkan jika diri nya tidak ingin di paksa.


"Mas, aku yang akan membantu dan membimbing mu, ku mohon maaf!" Aisah meletakan telapak tangan nya di dada Justin, dan memohon kepada Justin, agar menerima permintaan Aisah.


"Mas, ku mohon..."


Justin hanya diam saja, tidak menggubris ucapan Aisah. "Mas, ku mohon" ucap Aisah lagi, dan kini memegang ke dua pipi Justin.


Melihat Aisah yang terus memohon, akhir nya Justin pun tidak punya pilihan lain, selain menyetujui nya.


"Baiklah!"


Aisah terkesiap, mendengar jawaban itu, dan hati nya terasa getir, hanya saja Aisah berusaha untuk tegar, bukan kah jawaban ini yang di harapkan oleh Aisah.


"Mas, terimakasih!" Aisah mengecup ke dua pipi sang suami dengan antusias nya, lalu Justin memegang erat ke dua bahu Aisah.


"Tapi..." ucapan Justin terpotong, Aisah menatap nya dengan lekat,


"Tapi hanya nikah siri, selebihnya aku tidak bisa!" tegas Justin, Aisah terkejut, bagaimana bisa? menikah siri bukan kah itu akan sulit untuk anak mereka kelak nanti.


"Mas...."


"Aisah dengar, aku menyetujui saran mu bukan berarti aku setuju untuk menikah lagi, namun aku tidak bisa melihat mu terus menangis dan memohon kepada ku, aku tidak ingin menjadi orang jahat yang mengabaikan permintaan mu. Tapi, kamu telah mengecewakan ku, kamu membiarkan aku menikah lagi!" setelah mengatakan itu, Justin pun pergi meninggalkan Aisah di balkon, lalu pergi untuk bersiap-siap ke kantor.


Tiba di meja makan, Aisah tidak berani melihat Justin, yang berwajah datar, bahkan tanpa ekspresi. Tentu saja, itu membuat Causalia bertanya- tanya.


"Apa yang terjadi ? bukan kah semalam baru saja kembali dari dinner ? " cibir Causalia dengan senyuman manis di bibirnya.


"Mas, assalamualaikum" ucap Aisah,


"Waalaikumsalam" sahut Justin, tapi sudah di depan pintu, tanpa menoleh ke arah Aisah, yang di meja makan.


Causalia dan Aisah, melanjutkan sarapan mereka.


"Begitu lah Justin, untuk pertama kali nya setuju dengan saran orang lain, seandainya itu Oma yang minta, dia pasti akan membenci Oma sampai mati" ungkap Causalia. Aisah hanya diam saja, tidak berani mengeluarkan pendapat nya lagi.


Malam pun tiba. . .


Aisah dan Causalia, menunggu Justin di ruang keluarga, Aisah cemas ia tidak tahu apa yang harus di katakan pada Justin, agar tidak membenci nya.


"Aku pulang"


Mendengar suara Justin di luar ruangan, Aisah pun bergegas pergi untuk membuka pintu ruangan keluarga, dan benar saja pria itu meninggi Aisah untuk menyambut nya.


Aisah mencium punggung tangan Justin,dan mengambil tas di tangan Justin, membantu Justin melepaskan jas yang ia kenakan.


"Apa mas udah makan?"


"Udah tadi saat bertemu klien" ujar Justin, dan merangkul pinggang Aisah, menuju ruangan keluarga, disana sudah ada Causalia juga yang menunggu Justin pulang.


"Bagaimana pekerjaan mu Justin?"


"Lancar Oma, hanya saja proyek pertambangan kali ini bertambah dua proposal baru dan itu terlihat menguntungkan"


"Memang sudah seharusnya bukan?"


Justin duduk di depan Causalia, lalu Aisah memberikan teh racikan yang di bawa oleh kepala maid untuk Justin.

__ADS_1


"Ada apa? aku mendapat pesan, kata nya Oma dan Aisah mau bicara?"


"Benar, ada yang ingin kami bahas dengan mu"


"Masih tentang menikah lagi?" tanya Justin dengan raut wajah yang datar, terlihat sekali ketidaksukaan Justin tentang permasalahan itu.


Aisah pun tidak berani menjawab, dan ruangan itu terlihat hening beberapa saat, hanya ada suara Justin yang meniup dan menyeruput teh hangat di tangan nya.


Justin meletakkan kembali teh di tangan nya, lalu ia duduk dengan menyilang kaki nya. Justin melirik ke arah Aisah, yang hanya diam dan menundukkan pandangan nya.


"Apa yang terjadi? kamu sangat takut melihat ku? apa aku seseram itu untuk di lihat? Aisah, aku ini suami mu!" tegas Justin, Aisah langsung mendongakkan kepala nya dan menatap netra Justin.


"Siapapun yang di pilih Aisah, masih harus atas persetujuan kamu bukan?" akhirnya Causalia membuka suara, dan Justin hanya mangut - mangut, dan itu tentu saja membuat Aisah bingung, kenapa harus mengangguk ? seandainya pilihan Aisah tidak sama dengan pilihan Justin dia akan menolak nya?


Aisah kembali bingung dan sedikit ragu untuk mengutarakan niat nya kepada Justin.


"Jadi, Aisah siapa orang yang kamu pilih?"


"Nayra mas..."


Langsung saja Justin bangkit dari tempat duduk nya saat mendengar Aisah menyebut nama wanita yang mereka kenal.


"Nayra ?" ulang Justin, Aisah hanya mengangguk pelan, lalu ia kembali duduk.


"Aisah, Nayra itu teman kamu, apa yang sedang kamu rencana 'kan saat ini, kenapa kamu begitu ingin aku menikah lagi, haaa?"


"Mas, bukan kah kamu sudah setuju sebelum nya?" Aisah ragu untuk melihat netra Justin, yang sedang menahan amarah nya.


"Aku memang setuju, tapi kenapa harus Nayra ? kenapa harus wanita itu ?. Aisah, aku memang tidak tahu sejauh mana persahabatan mu dengan Nayra, tapi membiarkan aku menikah dengan wanita itu, bukan kah, ini suatu penghinaan untuk ku? aku curiga kalian telah merencanakan ini sejak lama" tuduh Justin,


"Tidak mas, itu tidak benar!" namun, Aisah langsung membantah tuduhan Justin.


"Apa ini ? apa ada yang tidak Oma ketahui?"


"Oma, aku akan membawa Aisah ke kamar, kita akan membahas ini besok, saat ini aku ingin istirahat!" Justin langsung menarik tangan Aisah, untuk pergi dari ruangan keluarga.


Setelah kepergian mereka, kepala maid datang untuk membantu Causalia kembali ke kamar.


Blam!


Justin menutup rapat pintu kamar nya, lalu ia mengunci nya.


"Mas, kamu salah paham, aku tidak bermaksud melakukan itu kepada mu.Tapi, ketimbang menikahkan mu dengan orang lain, aku lebih rela kamu menikah dengan orang yang sudah ku kenal lama, dan Nayra adalah wanita yang baik, bukan kah kita butuh seorang wanita yang baik-baik untuk menjadi ibu dari anak mu mas?" Aisah memegang lengan Justin, dan meletakkan telapak tangan nya di dada Justin, berharap pria itu segera tenang, dan tidak emosi seperti sebelumnya.


"Ingat, aku bisa menikah lagi, tapi hanya menikah siri, tidak lebih!" tegas Justin, Aisah tidak akan protes lagi, setidak nya ia sudah lega kalau Justin sudah setuju untuk menikah.


"Tidak apa-apa mas, aku akan berbicara dengan Nayra, dan seperti nya alangkah baik nya, jika kita bisa langsung berkunjung ke Indonesia mas!"


Sekali lagi, ucapan Aisah kembali membuat Justin terkejut.


"Kenapa harus ke Indonesia? bukan kah kamu bisa menghubungi nya?"


"Mas, terkahir kali aku menghubungi Nayra, nomer nya sudah tidak dapat di hubungi, aku juga ingin berkunjung ke makam Abah dan Ummi"


Justin berkali-kali menghela nafas nya, meskipun Justin ingin sekali menolak dan memarahi Aisah. Namun, ia sadar jika diri nya tidak bisa memarahi Aisah dengan begitu keras, apalagi dia pernah membentak Aisah, dan itu membuat Justin kecewa dengan sikap dirinya sendiri.


Cinta Justin kepada Aisah begitu besar, tapi Aisah malah menginginkan pernikahan ke dua untuk Justin, dan itu justru membuat Justin sangat kecewa dengan sikap Aisah terhadap dirinya. Seolah-olah, Aisah tidak mengerti dengan perasaan Justin, yang sebenarnya, Justin tidak ingin menikah lagi, dia tidak mempermasalahkan jika mereka tidak memiliki anak, Justin menerima Aisah apa ada nya.


"Mas, Mas...!"


"Haah, iya"


Justin kembali melihat ke arah Aisah, yang saat ini sedang berdiri di dekat nya.


"Aku ingin kita berkunjung ke Indonesia?"


"Eeem, biar besok Jos yang mengurus nya, sekarang aku harus membersihkan diri dulu, dan setelah itu kita tidur,oke!"

__ADS_1


"Baiklah mas"


Justin pun berlalu ke kamar mandi, Aisah juga pergi untuk menyiapkan baju tidur Justin.


__ADS_2