Tasbih Cinta Aisah

Tasbih Cinta Aisah
Sarapan pagi


__ADS_3

Hari ke dua, sarapan bersama dengan Nayra dan juga Jos, sebagai pengantin baru mereka terlihat masih malu- malu. Aisah terus saja memperhatikan mereka berdua.


"Jangan di lihatin terus, entar mereka malu" bisik Justin, Aisah malu tersenyum.


"Enggak kok, ingat waktu kita nikah dulu, mau keluar kamar saja malu, he he he"


"Udah, jangan di ingatin lagi" cetus Justin yang malu, karena hari pertama Justin nikah sama Aisah, pertama salah paham sama Azmi, karena tidak mengerti dengan bahasa Indonesia, sehingga Justin memarahi Aisah, karena cemburu, padahal Azmi memberikan minuman dan juga obat nyeri untuk Aisah, yang di dapat dari Maryam sang istri.


"Mas yang lucu waktu itu, cemburu enggak jelas, sama Gus sama bisa cemburu" tukas Aisah. Ketikan Justin dan Aisah berdebat masa lalu, malah Kos dan Nayra yang memerhatikan mereka berdua.


"Loh, kenapa kalian malah menatap kami? enggak di habiskan sarapan nya, keburu dingin nanti"


"Iya ini juga lagi sarapan, cerewet seperti biasa" Nayra tersenyum kepada Aisah.


Beberapa menit kemudian, ruang makan hening beberapa saat, dan Jos melirik Nayra, begitu juga dengan Nayra, lalu melirik ke arah Aisah dan Justin.


"Ada apa? kalian terlihat gelisah? katakan?" Aisah, meminta apapun masalah, Nayra tidak menyembunyikan nya dari Aisah.


"Aku dan Nayra, berencana untuk pindah dari rumah ini, lebih baik kami tinggal di rumah kontrak, biar tidak terlalu menyusahkan Tuan dan Nyonya" ungkap Jos, yang kini menggenggam tangan Nayra.


Begitu mendengar ucapan Jos, raut wajah Aisah berubah seketika, dan Justin tidak senang dengan ucapan Jos.


"Tidak bisa!" Justin langsung menolak nya.


"Kalian tidak menyusahkan kami, bagaimana bisa aku membiarkan kalian pergi dari sini, kita tinggal disini sama - sama disini banyak kamar, dan rumah nya besar untuk apa mencari rumah lain, simpan uang kalian, untuk kebutuhan kalian, jika kalian sudah memilki anak, beli rumah baru jangan ngontrak, untuk saat ini tinggal lah bersama kami lebih lama" pungkas Justin dengan mantap, dan tidak ingin Jos menolak nya.


"Benar Nay, tinggal lah disini dengan ku, aku tidak memiliki teman, aku akan kesepian disini, tidak lagi akhir - akhir ini mas Justin sibuk banget, aku butuh teman di rumah Nay, kamu enggak kasihan sama aku?" Aisah memasang wajah memelas di depan Nayra, jujur saja Nayra tidak tega meninggalkan Aisah, hanya saja Jos dan Nayra sungkan tinggal lebih lama di rumah Justin.


"Baiklah, aku akan disini, sampai baby mu lahir, apa kamu senang sekarang?"


"Senang banget"


Justin, kembali memeluk Aisah, saat melihat raut wajah Aisah yang kembali tersenyum.


Setelah mereka sarapan, Jos dan Justin langsung bangkit dari tempat duduk nya, dan di susul oleh Nayra dan Aisah. Mereka berdua mengantar Justin dan Jos ke depan.


"Sayang, baik- baik di rumah, ada apa-apa hubungi Aku segera, sayang Papa pergi kerja dulu, jangan nyusahin mama mu ya" Justin berbicara di depan perut buncit Aisah, setelah mencium lalu ia mengelus perut Aisah.


"Hati - hati mas"


"Iya sayang" Justin mengecup kening Aisah, dan mengusap kepala nya sekilas, sebelum Justin masuk ke dalam mobil.


Di sisi lain, ada Jos dan Nayra, yang masih malu-malu, tapi Jos memperlakukan nya dengan baik, setelah berpamitan, kedua nya pergi menggunakan mobil masing -masing.

__ADS_1


Setelah mobil jos dan Justin pergi dari halaman rumah, Nayra menuntun Aisah untuk masuk dan berjalan menuju ruang tamu.


"Terimakasih Nay.." ucap Aisah, Nayra tersenyum.


"Ada yang ingin kamu makan?" tanya Nayra, Aisah menggelengkan kepala nya, ia hanya ingin menonton.


"Aku ingin mencuci pakaian, jika butuh sesuatu panggil aku saja ya"


"Oke"


Nayra meninggalkan Aisah di ruang tamu, setelah Nayra pergi, ia pun bosan menonton, lalu berniat untuk istirahat di kamar, begitu Aisah bangkit, ia merasakan nyeri pada perut nya.


"Aww..." desah, Aisah saat perut bawah nya terasa sakit.


"Nay..." panggil Aisah, namun suara nya tidak terlalu keras, Aisah berusaha untuk bangkit, namun ia tidak bisa.


"Nayra...!" panggil Aisah lebih keras, baru lah Nayra mendengar nya, dan bergegas menuju ruang tamu.


"Ada apa? apa yang terjadi ?" tanya Nayra dengan panik, dan memapah tubuh Aisah dan membantu Aisah untuk berdiri.


"Kita ke rumah sakit saja ya, aku takut kenapa-napa, ayo aku bantu" akhirnya Nayra membawa Aisah ke rumah sakit.


Di sepanjang jalan, selain berzikir, Aisah juga mengeluh sakit, dan tangan nya tak lepas dari perut, ia mengusap pelan, meskipun terasa cukup sakit, Aisah berusaha untuk sabar, hingga sampai ke rumah sakit.


"Aisah, sabar ya, kita akan segera sampai" Nayra menyetir dalam keadaan panik, tapi ia tetap masih fokus agar mereka selamat di jalan.


[Hallo sayang, baru beberapa jam sudah rindu aja] goda Jos,


"Mas, tolong kabari Tuan Justin, bilang Aisah masuk rumah sakit, perut nya sakit, aku sudah mau sampai, rumah sakit pelita bunda"


[Baik sayang]


Nayra langsung memutuskan panggilan itu, dan sesekali menoleh ke belakang melihat keadaan Aisah, yang sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.


Tiba di rumah sakit pelita bunda, Nayra segera turun dan membuka pintu belakang, membantu Aisah untuk turun dari mobil.


"Sus, tolongin teman saya!" teriak Nayra, begitu melihat seorang suster yang sedang mendorong kursi roda, suster itu pun langsung menghampiri mereka, dan membantu Aisah.


"Aagrh, Nay sakit banget" Aisah mencengkram lengan Nayra.


"Sabar Aisah, istighfar, serahkan semua nya pada Allah, semoga baby mu baik-baik saja"


"Amiin"

__ADS_1


Suster itu mendorong kursi roda ke ruang pemeriksaan, begitu Aisah di dorong salam ruangan tersebut, banyak perawat dan dokter masuk.


"Maaf, dok minta dokter wanita dan perawat wanita saja ya, soalnya teman saya malu kalau ada laki-laki" Nayra terpaksa memberi alasan, agar tidak di salahkan oleh Justin.


"Baik" untung mereka pengertian, langsung memanggil dokter wanita senior, dan Aisah segera di tangani.


Nayra sudah tiba lebih dulu di tempat itu sekitar sepuluh menit, baru lah, Justin tiba, dan Jos tidak bisa datang.


"Nay, apa yang terjadi ? bagaimana Aisah?" tanya Justin yang panik, saat tiba disana.


"Aku juga belum tahu, tadi dia mengeluh sakit, dan saat itu aku sedang mencuci di belakang, mendengar Aisah mengeluh sakit bagian perut bawah, aku memaksa untuk membawa kemari, takut bayi nya kenapa-napa" pungkas Nayra,


"Ya Allah, aku berharap Aisah dan calon baby kami baik-baik saja" Justin tidak tenang, dia mondar mandir di depan ruangan itu.


Seorang dokter keluar, dan Justin menghampiri nya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"


"Istri bapak sedang kritis, kami butuh persetujuan Anda, bayi nya harus segera di lahir 'kan, jika tidak akan membahayakan si ibu" ungkap Sang dokter.


"Apa yang dokter katakan, lakukan yang terbaik, aku mau ke dua-dua nya baik-baik saja!" tegas Justin, mulai emosi. Nayra mencoba menenangkan Justin.


"Tidak bisa Tuan, semua nya ada di tangan Tuhan, kita hanya bisa berusaha dan berdoa yang terbaik, untuk baby dan si ibu, jika Tuan sudah setuju salah satu nya, silahkan bertanda tangan di atas kertas yang di bawa suster ini"


"Aku mau dua - dua nya dok!" tegas Justin lagi,


"Silahkan di tanda tangan Tuan, kami harus melakukan tindakan pada ibu dan janin"


Tanpa ada pilihan lain, Justin pun bertanda tangan di atas kertas itu, dan berharap yang terbaik untuk anak dan istri nya.


"Yang sabar ya Tuan, yakin saja jika semua nya baik-baik saja, percaya pada kekuatan Allah" ucap Nayra, Justin mengangguk, lalu mencoba untuk tenang, dan berdoa dalam hati, semoga Aisah dan calon anak nya baik-baik saja.


Ceklek !


Beberapa perawat mendorong hospital bed, milik Aisah, keruangan operasi, dan meminta Aisah untuk berpuasa beberapa jam, agar dapat segera di lakukan operasi.


Saat hospital bed itu keluar dari ruangan pemeriksaan, Aisah dalam keadaan sadar, dan Justin menghampiri Aisah, dan menggenggam tangan Aisah.


"Sayang, jika bisa aku ingin ke duanya selamat, tapi jika tidak, aku ingin kamu kembali kesini bersama ku, jangan biarkan sesuatu terjadi pada mu dan calon anak kita" Aisah tersenyum, menahan sakit yang luar biasa, usia kandungan masih tujuh bulan, dan belum waktu nya untuk melahirkan.


Namun, karena ada masalah pada kandungan Aisah, menyebabkan dia kontraksi parah, dan harus segera mengeluarkan janin yang ia kandung, agar ibu bisa selamat.


Suster langsung mendorong hospital bed itu, dan tangan Justin yang semula menggenggam tangan Aisah terlepas, tangis Justin pecah, saat melihat hospital bed itu masuk ke dalam ruang operasi.

__ADS_1


Ke dua kali nya Justin di hadapkan pada detik - detik yang menegangkan, di hadapkan pada kematian yang ada di depan mata nya, dulu juga pernah saat Aisah menderita penyakit kanker rahim, dan sekarang ia di hadapkan lagi pada kematian ke dua, saat sang istri sedang berjuang untuk mempertahankan janin nya.


Resiko untuk Aisah cukup besar, dulu dokter sudah saran 'kan agar Aisah jangan hamil dulu, dengan kondisi rahim yang lemah, karena setelah pengangkatan satu rahim. Tapi, Aisah bersikeras untuk hamil, demi suami tercinta nya.


__ADS_2