
"Butuh berapa jam untuk melakukan operasinya?" tanya Grey yang kini sedang membantu Arazey memakai jas putih kebanggaan nya.
"Biasanya hanya tiga sampai empat jam"
"Astaga lama sekali, bagaimana jika kamu lelah?"
"Aku sudah terbiasa, Om" jawab santai Arazey hendak mengikat rambutnya.
Tetapi gerakan nya terhenti saat teringat akan tanda merah keunguan yang sangat tercetak jelas dileher nya, dan tentu saja itu karena kelakuan Grey semalam.
Saat ingin memakaikan foundation untuk menutupi tanda-tanda itu, tetapi Grey melarangnya alhasil kini Arazey kembali mengurai rambutnya di iringi dengan helaan nafas panjang nya.
"Tapi saat ini kondisinya berbeda"
"Aku hanya berdiri dan tidak jalan kesana-kemari om"
"Tetap saja, harusnya kamu istirahat dirumah! Nanti kan bisa digantikan dengan dokter lain!" oceh Grey kembali kesal
"Aku gak bisa seenak nya gitu aja om, aku disini kerja dan masih termasuk dokter baru-
Tapi aku sudah terlalu banyak bolos akibat perintah om" ketus Arazey diakhir kalimat
"Bagaimana jika berhenti saja?" ucapan yang terdengar konyol itu langsung membuat mata Arazey melotot dan sedetik kemudian wanita itu langsung menatap tajam Grey.
"Hei! Aku belajar untuk mencapai semua ini tidak mudah 'ya!" pekik kesal Arazey.
"Banyak hal dan waktu yang harus aku korbankan agar aku bisa menjadi seorang dokter" sambung nya masih dengan nada kesal.
Memang benar, untuk menjadi seperti sekarang sangat lah tidak mudah. Dimana banyak teman-teman nya yang gagal dan harus tinggal di semester itu, sedangkan Arazey hanyalah salah sagu dari beberapa mahasiswa/i yang berhasil.
"Astaga iya-iya maaf, jangan marah" panik Grey memeluk tubuh istri kecil nya.
Sempat terdiam beberapa saat hingga akhirnya Arazey kembali bersuara. "Sudahlah aku harus ke ruang operasi sekarang"
"Aku antar 'ya?" tawar Grey.
"Om lupa?"
"Haishh.. Aku tidak peduli!" ketus Grey. Tanpa basa-basi lagi pria itu langsung mengangkat tubuh Arazey ala bridal style.
__ADS_1
"Om!" pekik kaget Arazey di iringi pukulan nya pada bahu Grey.
"Apa honey?"
"Cepat turunkan! Ini dirumah sakit"
"Memang nya bisa jalan?".
Mendengar pertanyaan itu bibir Arazey langsung mengerucut kesal dan tanpa izin Grey langsung mengecup bibir itu. Cupp!
"Ishh om!!" geram tertahan Arazey
"Baiklah-baiklah" Grey pun pasrah dan menurunkan kembali tubuh Arazey.
"Sebagai ganti nya aku papah saja 'ya?"
"Tidak perlu, aku bisa meminta bantuan suster dan om silahkan pergi"
"Yasudah aku mau ke kantor sebentar, setelah itu aku ke sini lagi"
"Hmm pergilah"
Lantas Grey mengusap surai Arazey lalu membawa kepala istrinya untuk mendekat dan satu kecupan hangat pun mendarat di kening Arazey.
Arazey hanya mengangguk dengan hatinya yang menghangat kala mendengar ucapan itu.
...--...
...πππππ...
...--...
"Ini laporan pemasok barang untuk malam ini, boss" ucap Bram seraya menyerahkan sebuah berkas yang ia pegang.
Grey, pria yang berkata akan pergi ke kantor pada istrinya. Tetapi nyatanya pria itu malah pergi ke markas besar nya, kerena malam ini akan ada pemasok barang dengan jumlah yang cukup banyak.
Melihat lembar demi lembar yang bersisi informasi barang itu, lantas kini Grey menatap Bram dengan wajah serius nya.
"Pemasok seperti biasa 'bukan?"
__ADS_1
"Tentu boss dan Mr.Vans meminta untuk bertemu dengan anda"
"Hmm baiklah, atur tempat pertemuan seperti biasa setelah aku mengawasi pemasok barang-barang itu"
"Baik boss"
Suasana serius kini telah berlalu setelah kedua nya selesai membahas urusan yang membawa Grey datang kesini.
Dan saat ini kedua nya tengah menikmati secangkir kopi ditangan mereka masing-masing dengan obrolan ringan nya, sampai saat Grey mulai mengucapkan sesuatu yang membuat Bram terdiam kaku.
"Aku dengar akhir-akhir ini kau jarang datang ke kantor-
"Apa kau mempunyai kekasih hingga lupa dengan tugasmu?" tanya Grey dengan nada sulit diartikan nya
Dengan cepat Bram menggeleng. "Tidak boss" sahut cepat Bram setelah sebelumnya terdiam.
"Apa kau sudah bosan bekerja denganku?"
"Astaga tidak boss, mana mungkin saya bosan bekerja dengan anda yang sering memberikan saya bonus" jawab cepat Bram
Memang benar, Grey sering memberikan gaji tambahan untuk Bram dan beberapa karyawan lain nya atas apresiasi dan kemampuan mereka.
"Lalu kenapa?"
"Anu.. Saya.. " Ucap ragu Bram seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal
Tatapan Grey begitu mengintimidasi pria dihadapan nya, sikap dan raut Bram berubah begitu Grey berkata tentang hal ini dan tentu Grey merasa janggal
"Akhir-akhir ini Aqila selalu meminta saya untuk menemani nya belajar, boss" jujur Bram setelah beberapa saat terdiam
Sontak mata Grey pun langsung melotot. "Apa?!"
"Hanya menemani nya belajar boss, dan sedikit bermain" cicit pelan Bram diakhir kalimat
"Bram.." panggil dingin Grey
Bram, pria itu tidak berani menatap wajah pria dihadapan nya saat ini. Dari hawa sekitar saja sudah terasa sangat mencengkram, apalagi saat ini menatap wajah Grey
"Mma--maaf boss sepertinya saya menyukai nona kecil" lirih Bram pasrah
__ADS_1
...****************...
Seeyou next bab, jangan lupa voteπ€π