
Dor..
Dor..
Bugh!..
Bugh!..
Suara tembakan dan pukulan saat ini terdengar memenuhi gereja tua di kota Manhattan itu.
Grey dan para mafioso serta bodyguard nya berhasil melewati para Mafioso Squares yang mengelilingi gedung itu, tetapi tidak untuk di dalam yang ternyata terdapat banyak bahkan ratusan para mafioso lawan.
"Shiit!! Kita tidak bisa terus seperti ini!"
Grey mendesis emosi seraya menembak satu persatu lawan dan mencoba menghindari tembakan lawan.
"Kita terjebak boss, mereka lebih licik dari yang kita kira!" Geram Bram yang berada di samping Grey.
Mafioso lawan semakin lama semakin bertambah entah dari mana asalnya, Grey yang memang terjebak berdua bersama Bram di sebuah ruangan sangat kewalahan menghadapi para lawan.
Hingga akhirnya earpiece yang berada ditelinga kedua nya memunculkan suara salah satu Mafioso Dark Scales.
"Sisi selatan aman, boss!" Ucap tegas seorang pria yang telah berhasil melumpuhkan lawan.
"Utara, timur, dan barat telah aman boss!" Sahut seorang pria dengan suara berbeda.
"Tiger and Lion cepat ke ruang pengakuan! Sisanya terus telusuri gedung ini!" Titah tegas Grey yang kini tengah bersembunyi.
"Baik boss!"
Dor!..
"Arghh!!" Erang kesakitan Grey yang baru saja tertembak di bagian lengan nya
"Boss!" Pekik panik Bram.
Dor! Dor! Dor!
"Siall! Siall!" Umpat Bram penuh emosi saat pistolnya kehabisan peluru.
"Ambil ini!" Ucap Grey melemparkan pistol lain yang ia bawa.
Dengan cepat Bram menangkap pistol tersebut lalu kembali menembaki musuh dam sesekali dirinya bersembunyi.
Grey yang baru saja mengikat lengannya yang terkena tembakan dengan sobekan kemeja yang ia pakai agar darahnya tidak terus keluar, kembali bergabung dengan Bram.
Menembak dan bersembunyi sampai saat suara tembakan beruntun terdengar di pintu masuk ruang pengakuan itu dan dapat Grey lihat, itu adalah para mafioso andalan nya.
__ADS_1
Pertarungan kembali terdengar begitu sengit dengan suara-suara khas nya, Grey yang merasa situasi sudah aman untuk ia pergi dari ruangan itu pun kini melangkah perlahan hingga sampai di pintu ruangan itu.
"Urus semua yang ada di sini dan sisakan satu orang!" Perintah Grey pada salah satu mafioso yang menjaganya untuk berjalan.
"Baik boss!"
"Bram!" Panggil Grey.
Bram yang mengerti pun langsung berjalan mengikuti langkah Grey. "Hati-hati boss!" Ucap Bram dengan kewaspadaan nya.
.
.
Brakk!
Suara pintu sebuah ruangan yang di dobrak begitu saja berhasil mengalihkan perhatian para manusia di dalam nya.
Dan tentu saja todongan serta tembakan langsung di hadiah kan pada Grey yang mendobrak pintu tersebut.
Namun dengan cepat dan tegap Grey menghindar lalu dibantu oleh mafioso yang menemukan ruangan tersebut untuk menembaki orang di dalam nya.
Hingga suara pekikan anak kecil berhasil mengalihkan perhatian Grey dan Bram.
"Kak Grey!!" Pekik seorang gadis kecil yang tak lain adalah..
Dan juga seorang pria bertopeng yang mengarahkan pistol di tangan nya ke arah kepala Aqila.
"Badebahh!" Maki Bram hendak menghampiri kedua nya yang berada di pojok ruangan.
Tetapi gerakan Bram tertahan oleh sebuah peluru yang hampir sama menembus jantung nya jika ia tidak cepat menghindar.
"Shiit! Jangan gegabah Bram!"
"Aqila boss!"
"Aku tau, tapi kita harus musnahkan mereka terlebih dahulu!" Tegas Grey yang sebenarnya sama khawatirnya dengan Bram.
Ditambah mata Grey tidak menangkap sosok istri kecil nya, di ruangan ini hanya terlihat Aqila dan puluhan mafioso lawan yang sedikit demi sedikit berhasil di lumpuhkan.
"Hentikan atau anak kecil ini akan mati!!" Teriak mengancam pria bertopeng itu semakin menodongkan pistol nya hingga menempel di pelipis Aqila.
"Hikss.. Kak Grey, Om tampan hikss.. Tolong Qila hikss.." Ujar Aqila yang sedari tadi menangis ketakutan.
"Stop!" Teriak menggema Grey menghentikan tembakan para mafioso nya.
Seketika ruangan hening, walau pun orang-orang di dalam nya saling menodongkan senjata, tetapi tidak ada yang mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
Hingga akhirnya Grey mulai berjalan mendekati, tetapi langsung dihentikan oleh suara pria bertopeng itu.
"Sepertinya kau tidak peduli dengan nyawa nya!"
Pistol di pelipis Aqila semakin menekan kepala gadis kecil itu hingga sang pemilik kepala semakin meraung ketakutan.
"Kak Grey hikss.. Qila takut hikss.."
"Jauhkan senjata anda dari adik saya!" Tegas Grey dengan sorot mata tajam nya.
"Jatuhkan senjata anda, dan usir semua mafioso sampah milik anda!" Sahut pria bertopeng itu.
Mendengar para bawahan nya direndahkan sungguh membuat emosi Grey sangat memuncak, tetapi ia menahan semuanya kala melihat kepala Aqila semakin ditekan oleh pistol itu.
"Keluarlah!" Tegas Grey menyuruh para bawahan nya untuk keluar seraya menaruh senjatanya di lantai.
"Bos-- Keluar!" Potong Grey.
Tidak ingin membantah dan dan membahayakan nyawa gadis kecil yang terikat di pojok ruangan sana, walaupun para mafioso Grey sangat khawatir dengan keselamatan boss nya itu.
Tetapi mereka akhirnya mengalah dan perlahan mundur, keluar dari ruangan itu menyisakan Grey dan Bram.
"Usir juga asisten bodoh itu!"
"Brngsek!" Teriak geram Bram hendak mengarahkan senjatanya pada pria itu.
Tetapi lebih dulu pria bertopeng itu mengatur posisi dan bersiap menarik pelatuk.
"Berhenti bermain-main Hans Velandrik!" Tegas Grey menghentikan gerakan pria bertopeng itu.
Terdengar kekehan remeh yang keluar dari mulut pria bertopeng itu, hingga akhirnya pria itu mengeluarkan suaranya.
"Ini semua karena kau membobol data diriku, Grey Maxime!"
"Shiit! Lepaskan adik ku dan dimana istriku!"
"Ah iya, istri mu Arazey 'bukan?" Tanya pria yang masih memakai topeng itu dengan nada sinis nya.
"Dimana istriku, Brngsek!"
Seketika ruangan itu dipenuhi tawa menggema dari pria itu. Melihat hal itu Grey semakin geram dan emosi.
"Istri mu 'ya?" Tanya nya dengan nada meledek
"Emm.. Sepertinya dia sedang bertemu dengan kedua mertua nya di atas sana hahahaha"
Dor!
__ADS_1
...****************...