
Matahari mulai naik mengantikan sinarnya bulan, tetapi di dalam sebuah kamar kegiatan yang sadari malam berlangsung kini masih berlanjut begitu panas
Dimana saat ini entah sudah berapa kali sang pria menumpahkan benihnya di dalam rahim wanita yang sudah lemah dibawah kungkungan nya.
"Yeahh.. Jepit terus babyhh." Erang Grey menahan gelombang yang hendak kembali keluar.
Arazey hanya diam mencoba membungkam mulutnya sendiri, dan sesekali dia mencakar tubuh Grey untuk melampiaskan rasa sakit yang ia terima.
Karena kali ini Arazey benar-benar tidak merasakan rasa seperti sebelumnya saat melakukan perciintaan dengan Grey. Arazey merasa sangat sakit dan perih entah itu di hatinya atau di intinya.
Grey terus bergerak liar memompa dibawah sana, tangan nya sangat aktif menelusuri tubuh istri kecilnya yang sudah dipenuhi keringat.
Mulut nya pun terus meny*sap kesana kesini mencari kepuasan, mengh*sap begitu rakus ujung gunung istri kecilnya yang nantinya akan mengeluarkan susu untuk anak nya.
"Aku benar-benar membencimu, br*ngsek!" Lirih Arazey menjambak rambut Grey.
"I love you too my wife, ahhk"
Sedetik kemudian lahar panas yang sedari Grey tahan kini tumpah menyiram rahim yang sudah tidak kuat menampung lahar panas itu.
"I really love you, baby.." Lirih Grey bahagia dengan wajah yang ia sembunyikan di perpotongan leher Arazey.
Napas Grey begitu terengah-engah, mencoba menghirup udara yang ada ditubuh istri nya.
"Jangan pernah meninggalkan ku, aku benar-benar mencintaimu baby"
Diam, Arazey hanya terdiam. Tangan kecil yang tadinya menjambak rambut Grey kini telah terlepas dari rambut lepek itu.
"Aku akan menjelaskan nya setelah-- " Ucapan Grey terhenti kala ia menegakkan tubuhnya, dan melihat mata terpejam istrinya.
"Baby.. Tidur?" Perlahan tangan Grey terangkat mengusap pipi Arazey. Mata yang sebelumnya berkabut ga*rah kini berganti menjadi tatapan sendu yang begitu teduh.
"Maaf.. Aku tidak ingin seperti ini, tapi iblis selalu menguasai diriku.."
__ADS_1
Tangan Grey turun mengusap perut rata istrinya yang belum tertutup apapun. "Maaf juga jika ke depan nya kehidupan pun akan berubah dari sebelumnya, ini demi kebaikan kita dan calon anak kita"
..
...
....
"Apa yang kalian lakukan selama beberapa hari ini hah!"
Teriakan menggelegar milik Grey memenuhi ruang tengah, dimana saat ini di hadapannya tengah berjejer puluhan bodyguard dan pelayan yang ada di mansion besar nya.
"Kalian benar-benar tidak becus menjaga seorang wanita kecil seperti istriku hingga kalian kecolongan!"
Grey benar-benar murka, bahkan kini para bodyguard dan pelayan itu tidak berani mengangkat pandangan nya.
"Angkat kepala kalian siialan!".
"Dimana mulut kalian? Katakan!"
"Ma-maaf tuan, kami tidak menyangka bahwa nona akan masuk keruangan itu" Sahut gugup salah satu pelayan.
Mata Grey kini terfokus pada pelayan tersebut, lalu Grey beranjak dari posisinya dan mendekati pelayan tersebut.
"Saya sudah memberitahu kalian untuk mengantikan Bi Zhu dan menjaga istri saya, lalu jumlah sebanyak tetap saja kecolongan?"
Lagi-lagi semuanya hanya terdiam membisu, karena memang benar setelah Arazey meminta izin untuk kepulangan Bi Zhu ke desa nya pada Grey.
Saat itu juga Grey menghubungi para bodyguard dan pelayan nya untuk tetap disamping Arazey, bukan karena takut Arazey masuk keruangan tersebut.
Tetapi Grey takut istri kecilnya terluka dan kelelahan, karena jujur Grey tidak menyangka Arazey akan mengetahui ruangan itu secepat ini.
"Bram!"
__ADS_1
Mendengar namanya disebut dan mengerti akan panggilan boss nya lantas Bram mendekati pria yang tengah tersulut emosi itu dengan sebuah pistol ditangan nya.
"Berikan hukuman yang setimpal atas kelalaian mereka!" Tegas Grey yang mendapat anggukan dari Bram.
"Jalan tanpa dipaksa atau mati ditempat?!" Tekan Bram menatap datar para bodyguard dan pelayan di hadapannya.
Inilah resiko yang harus diterima oleh setiap pekerja yang lalai, tidak ada bantahan atau toleransi. Jika siapapun yang mau melangkah dengan suka rela mungkin hidupnya akan terselamatkan.
Tetapi sebaliknya, jika mereka melawan bahkan memohon pada Grey, maka saat itu juga pekerja tersebut hanya tersisa nama saja.
.
.
Kembali lagi ke dalam kamar, setelah setengah hari ini Grey meninggalkan Arazey dikamar. Saat ini dirinya baru saja memasuki kamar dan duduk di tepi kasur menatap wajah istri kecilnya.
"Baby.. Bangun.." Lembut Grey mengusap pipi Arazey.
"Udah siang, ayo makan dulu"
"Baby.. Bangun.."
Cukup lama Grey terus berbicara dan mengusap-usap pipi Arazey untuk membangunkan nya, tetapi nihil. Arazey tidak kunjung membuka matanya.
Merasa ada yang aneh lantas Grey menepuk-nepuk pelan pipi Arazey dan sedikit meninggikan suaranya.
"Baby, bangun hei"
Menggeser posisi tubuh Arazey lalu Grey menggenggam kedua tangan nya. Seketika matanya di buat hampir terlepas dari tempatnya kala merasakan telapak tangan Arazey yang begitu dingin.
"Sialll!! BRAM PANGGIL DOKTER!"
...****************...
__ADS_1