
"Dia membunuh kedua orang tua ku.."
Deg!
Raungan serta gerakan memberontak Arazey seketika terhenti kala mendengar penuturan Grey, namun air mata nya terus saja menetes dengan kepala yang menggeleng pelan.
"Tidak.. Tidak mungkin hikss.."
Kepala Grey kembali terangkat dan kembali menatap wanita yang kini tengah menatapnya dengan raut tak percaya nya.
"Dia Arazey, dia yang membunuh kedua orang tuaku!"
"Bang Ansel tidak seperti itu hikss.. Kau jangan berbohong sialaan!"
"Nyatanya dia seperti itu Arazey! Dia dan Jerry bekerja sama membunuh kedua orang tuaku!" Teriak marah Grey.
Arazey terdiam, kini dadanya terasa sesak tangis nya begitu memilukan. Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Dan apakah ini semua benar?
"Kamu mungkin melewatkan satu buku, disitu ada foto kakak pembunuh mu yang sedang tertawa menyaksikan kematian kedua orang tuaku!"
Arazey menggeleng, pikiran nya masih tidak percaya karena selama ini Anselio adalah kakak terbaik untuknya dan juga untuk Aqila.
"Untuk apa bang Ansel melakukan hal itu hiks.. Aku tidak percaya!"
Grey sudah menduga hal ini, Arazey tidak akan percaya secepat ini. Karena yang Grey dengar ketika Arazey menceritakan kakak laki-lakinya sungguh ia pria yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya.
Grey hanya terdiam memejamkan matanya dan mencoba mengatur emosinya. Ia tidak ingin melukai istrinya lagi, apalagi saat ini keadaan janin dalam perut sang istri sangat lemah akibat ulahnya semalaman.
Sampai akhirnya ketukan pintu terdengar bersamaan dengan suara seorang pria didepan sana.
"Boss vitamin nya" Tutur Bram setengah berteriak.
Grey langsung beranjak dari posisinya dan membuka sedikit pintu kamarnya, menampakkan wajahnya yang membuat Bram sempat terkesiap.
"Berikan"
Bram lantas memberikan botol vitamin yang ia pegang. "Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Bram khawatir.
"Tidak, terimakasih Bram." Setelah mengucapkan itu Grey kembali menutup pintu nya menyisakan Bram yang kini menatap nanar pintu kamar boss sekaligus pria yang sudah ia anggap sebagai kakak laki-lakinya.
__ADS_1
"Bantuan apa yang harus aku lakukan untukmu, brother?" Batik Bram
.
Seusai menutup pintu dan membalik tubuhnya hendak kembali mendekati kasur, tetapi Grey dibuat melotot panik saat melihat pisau buah sudah berada ditangan Arazey dengan posisi sudah menekan di leher wanita itu.
"Arazey!" Pekik panik Grey hendak mendekat.
"Menjauh!"
"Jangan seperti anak kecil Arazey!"
"Lebih baik aku mati daripada harus hidup bersama seorang pembunuh dan pembohong seperti mu!"
"Jika kamu mati maka anak kita juga akan mati! Dan berarti kamu pun seorang pembunuh Arazey!"
"Aku yakin dia tidak akan bisa bertahan setelah pemisahan yang kau lakukan padaku semalam!"
"Dia masih bertahan Arazey! Dan kamu harusnya mengerti karena kamu seorang dokter. Seberapa berharganya nyawa seseorang dan malaikat kecil yang belum melihat dunia ini!"
Arazey terdiam dengan tatapan kosongnya, melihat hal itu dengan cepat Grey mendekat dan langsung merebut paksa pisau buah yang ada di tangan Arazey lalu melemparnya asal.
Tetapi dengan cepat Grey menangkap tubuhnya dan memeluknya begitu erat.
"Please baby jangan seperti ini... Jangan.." Lirih Grey menahan pergerakan Arazey terus memberontak.
"Lepaskan hikss.. Aku lebih memilih mati daripada hidup!"
"Kamu mati aku pun akan mati"
"Lebih baik seperti itu!"
Seusai Arazey mengucapkan hal itu tanpa diduga Grey melepaskan pelukannya dan langsung mengambil pistol yang berada di saku belakangnya, lalu diarahkan pada kepalanya sendiri.
"Mati 'kan? Oke lebih baik aku mati asalkan kamu dan anak kita harus tetap hidup!"
Mata kedua nya yang saling bertatapan, menatap begitu dalam dan mengisyaratkan kepedihan mendalam di hati kedua nya.
Hingga akhirnya Grey menggerakkan jarinya dan menekan sesuatu diatas pelatuk dimana saat pelatuk itu ditarik, peluru akan langsung keluar dan pastinya menembus kepala Grey.
__ADS_1
"Aku berharap kamu bisa menjaga dirimu, dan anak kita nanti.." Grey tersenyum dan memejamkan matanya.
Tangan nya bersiap menarik pelatuk, dan Arazey hanya menatapnya dalam diam.
Dor!
"Kau harusnya menunjukkan bukti padaku, bukan seperti ini br*ngsek!" Teriak menggema Arazey setelah berhasil menepis ujung pistol itu kearah lain.
Alhasil yang barusan tertembak adalah tembok di belakang Grey. Dan dengan cepat Arazey merampas pistol ditangan Grey lalu melemparnya kesembarang arah.
Brakkk!
"Boss!" Pekik Bram setelah membuka pintu begitu kasar.
Mata Bram melotot sempurna kala melihat tembok di sampingnya bolong dan pisau buah serta pistol yang berserakan dilantai.
"Ada-- Keluar Bram.." Potong lirih Grey yang dapat di dengar oleh Bram.
"Tapi-- Keluar!" Sentak Grey kembali memotong ucapan Bram.
Tidak ingin membuat suasana bertambah tidak karuan, dengan cepat Bram keluar dan kembali menutup pintu nya. Tetapi ia tidak pergi bahkan sedari tadi dia terus berdiri di depan pintu kamar itu.
"Kenapa?" Arazey hanya diam mendengar ucapan Grey.
"Kenapa kamu menahan ku? Kenapa tidak membiarkan nya agar kamu bisa hidup bebas!" Air mata yang sedari tadi Grey tahan kini menetes.
"Kau ingin mati setelah berhasil menghancurkan hidupku begitu saja hah?!" Sahut Arazey dengan wajah tidak percaya nya.
"Menghancurkan apa? Aku suami mu, aku mencintaimu lebih dari nyawaku dan-- "
"Jika benar bang Ansel melakukan itu harusnya kau melaporkan nya ke polisi bukan membunuhnya!"
"Nyawa harus dibayar nyawa, jika dibayar hukuman saja tidak adil. Dan kamu harus tau berapa hancurnya hatiku saat kedua pelita hidupku harus mati karena ketamakan kakak laki-lakinya mu dan teman nya!"
"Dan kamu tidak akan tau rasanya ditinggal oleh kedua orang tua disaat aku baru beranjak dewasa, karena hidup kamu dipenuhi dengan kasih sayang kedua orang tuamu!"
Grey benar-benar mencurahkan isi hatinya yang bertahun-tahun ini selalu ia pendam, rasa sakit yang selama ini tersimpan di hatinya terus ia curahkan pada wanita di hadapan nya.
...****************...
__ADS_1