
"Arazey!" Teriak murka Grey yang baru saja menginjakkan kakinya di pantry lantai dasar.
Terekam dengan jelas di mata Grey tawa bahagia Arazey bersama dengan salah satu karyawan pria yang bekerja di perusahaan nya.
Mendengar teriakan tersebut lantas beberapa karyawan yang ada di pantry termasuk Arazey terdiam kaget, hingga beberapa saat kemudian semuanya langsung pergi kecuali Arazey.
Dengan langkah lebar serta nafas yang memburu Grey langsung mendekati Arazey.
"Grey.." Lirih gugup Arazey saat Grey mengambil alih cangkir yang ada ditangan nya lalu ditaruh cukup kasar pada meja dibelakang nya.
Sedetik kemudian pelukan hangat dan begitu erat langsung menerjang tubuh Arazey. "Dasar nakal!" Decak kesal Grey menekan kepala sang istri di dada nya.
"Grey-- "
"Aku kira kamu hilang.. Aku mencari mu kemana-mana tapi ternyata kamu ada di sini dan tertawa bersama pria lain!" Potong Grey dengan nada kesal nya.
"Maaf.. Tadi sehabis dari toilet aku ingin meminum teh hangat, dan ternyata bertemu dengan teman sekolah ku yang bekerja disini"
Grey melepaskan tekanan nya pada kepala Arazey dan melonggarkan sedikit pelukan nya, namun sepasang tangan nya masih setia melingkar di pinggang istri kecilnya.
"Kenapa tidak menyuruh OG melalui sambungan di ruangan ku saja? Dan aku tidak suka melihat mu tertawa dihadapan pria lain!"
"Terlalu merepotkan, dan dia teman ku, Grey" Sahut singkat Arazey yang berhasil membuat wajah Grey memerah kesal.
"Mau dia temanmu atau siapapun itu, aku tetap tidak suka melihatmu tertawa dan tersenyum di hadapan pria lain!" Ucap menekan Grey
"Baiklah maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi nya lagi" Sahut lembut Arazey mengusap lengan kekar yang melingkar di pinggang nya.
"Cih! Kamu berjanji dan besok akan mengulangi nya lagi!" Desis geram Grey.
"Sepertinya aku harus memberinya pelajaran!" Sambung Grey melirik kearah lain.
Tentu Arazey mengerti arah ucapan yang baru saja Grey lontarkan. "Jangan Grey, tadi aku yang mengajaknya mengobrol" Pinta Arazey memelas.
"Apa-apaan ini? Kamu membelanya?!"
"Tidak, bukan.. Aku berkata jujur karena memang tadi aku yang pertama menyapa nya"
Tatapan mata Grey terlihat begitu kesal bersamaan dengan suara giginya yang digertakan di dalam sana.
__ADS_1
"Oke aku tidak akan menghukumnya!"
Mendengar hal itu Arazey menghembuskan nafasnya lega lalu tersenyum. "Terima-- "
"Tapi aku akan menghukum mu!" Putus Grey memotong ucapan Arazey.
Mata Arazey melotot saat tubuhnya sudah berada di dalam gendongan Grey, dan Bram yang melihat hal itu langsung mengalihkan pandangan nya.
"Bram!"
"Iya boss"
"Handle semuanya, aku perlu menghukum istri kecil yang nakal ini!"
"Baik boss"
Arazey dibuat meneguk salivanya dengan susah payah, namun berbeda dengan Bram yang tengah mengucapkan sumpah serapah di dalam batin nya.
"Dasar boss tidak punya akhlak! Menyerahkan semuanya padaku disaat dia mau anu-anu dengan istrinya. Dan aku berjanji setelah Aqila dewasa aku akan mengalahkan mu, boss!" Batin kesal Bram menatap punggung Grey yang mulai menjauh dari pandangan nya bersamaan dengan Arazey yang berada di gendongan pria itu.
.
.
.
"Jangan menahan ku, honey"
"Hukum yang lain saja, jangan ini"
Grey menggeleng tidak setuju, lantas tangan nya bergerak melepas kancing baju Arazey yang kini berbaring di bawah nya. "Hukuman tetaplah hukuman"
"Tapi baby-nya.."
"Sudah tiga bulan dan aku akan menjenguknya setelah sekian lama aku berpuasa" Suara berat itu berhasil membuat Arazey merinding.
Tatapan mata Grey pun telah berubah, kini tatapan itu terlihat lebih mendominasi dan sangat memabukkan.
"A-aku harus bekerja besok" Kilah Arazey mencoba melepaskan diri
__ADS_1
"Masih siang honey, kita bisa berhenti pukul delapan malam"
Mata Arazey seketika langsung melotot begitu lebar kala mendengar penuturan berat Grey.
Pasalnya saat ini baru pukul tiga sore dan untuk berhenti di pukul delapan malam nanti, membutuhkan waktu selama lima jam.
"Kamu gila?!" Sentak Arazey mencoba menahan kepala Grey yang mulai mengecupi lehernya.
"Tidak honey, tapi itu masih belum cukup.." Sahut Grey .
"Selama tiga bulan aku puasa dan aku ingin kembali menikmati surga dunia" Sambung nya tepat disamping telinga Arazey.
"Masih ada hari besok Grey! Kamu ingin melukai anak kita hah!"
"Baiklah, lima ronde cukup. Tetapi besok kita harus melakukan nya lagi" Putus Grey.
Sedetik kemudian Grey langsung menyerang bibir Arazey yang sedari tadi terus bergerak menolak permintaan nya.
Tangan pria itu pun tak tinggal diam, dengan gerakan tergesa-gesa Grey menarik baju yang dikenakan oleh Arazey hingga robek dan hanya menyisakan kacamata yang menutupi gunung tak berpohon milik istri kecilnya.
"Emhh.. Grey!!"
"Aku sangat merindukan ini, honey"
Suara Grey semakin memberat dengan gerakan tangan yang kini berusaha menyalip di punggung Arazey, mencari sesuatu hingga akhirnya tangan Grey menemukan sesuatu yang dicari nya.
Klikk~
Kaitan kacamata itu terlepas bersamaan dengan sebelah tangan Grey yang langsung melepas kacamata penutup gunung tak berpohon itu.
"Ahhk.. Greyh.." Lenguhh kaget Arazey saat tiba-tiba Grey mencakup kedua gunung milik nya.
"Aku akan menghabisi nya, honey.."
Kepala Grey mulai turun meny*sapi dada lalu turun lagi hingga sampai di tempat sesuatu yang mencuat dan menantang untuk segera dihiisap.
"Jang--Aahkk.."
Tangan Arazey menjambak rambut pria yang tiba-tiba saja mencaplok put*ngnya dan menghiisapnya begitu rakus seakan ia sangat mengharapkan sesuatu keluar dari dalam sana.
__ADS_1
...****************...
Votenya bundaaš¤Hari Senin lho hihihiš„°