
Di dalam salah satu ruangan yang berada di gedung pencakar langit yang tak lain adalah perusahaan milik Grey, dan kini di dalam ruangan CEO itu terlihat dua pria yang saling berhadapan.
Dimana salah satu nya terus menatap dengan tatapan mengintimidasi nya tetapi yang satu nya lagi malah diam menundukkan pandangan nya.
"Bram" Panggil Grey setelah beberapa saat terdiam.
"Iya boss"
"Tatap aku"
Perlahan dengan sisa keberanian nya, Bram mengangkat pandangan nya dan menatap pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya.
"Ada apa boss?"
"Masih bertanya?"
"Emm.." Bram menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, mencoba menyembunyikan rasa gugup nya.
"Kau yang melakukan nya 'kan?"
Bram menggeleng dan duduk dihadapan Grey. "Kau tidak boleh menuduhku seperti ini, brother!"
"Ck, kau kira aku baru mengenal mu kemarin?"
"Jujur atau aku tidak akan membantu mu sedikit pun!" Celoteh tegas Grey menatap serius wajah Bram.
Sebelum benar-benar menjawab perkataan Grey, terlebih dahulu Bram menghembuskan napas nya kasar sampai akhirnya pria itu mengangguk.
"Itu aku"
"Shiit! Sudah ku duga!" Desis geram Grey memijat pelipisnya.
"Bantu aku, brother"
"Berani berbuat tetapi tidak berani bertanggung jawab?"
"Bukan seperti itu, tapi ini lebih dari biasanya" Lirih Bram kembali menunduk.
"Sebelum berbuat apa kau tidak memikirkan resikonya hah?!"
__ADS_1
"Aku kira seperti biasanya, polisi tidak dapat mengendus nya"
"Fuckk! Kau gila Bram! Kau tau berapa banyak korban karena ulahmu!" Bentak marah Grey.
"Aku membenci mereka!" Sentak Bram menatap tajam Grey.
"Yang salah bukan mereka tapi anggota Squares!"
"Dan asal kau tau, karena mereka Aqila jadi seperti ini! Sumpah demi apapun nyawa keluarga mereka tidak sebanding dengan apa yang Aqila alami!" Seru marah Bram.)
Setelah mengucapkan hal tersebut Bram langsung pergi dari ruangan Grey, menyisakan sang pemilik ruangan yang merasakan sakit di kepalanya akibat ulah Bram.
"Argghh siall!!" Teriak marah Grey mengobrak-abrik barang dimeja kerja nya.
.
.
"Halo cantik nya kak Bram.."
"Ayo bangun jangan tidur terus, nanti kak Bram ajak Qila bermain seharian dan kita makan es krim diam-diam tanpa sepengetahuan kak Grey oke?"
"Kakak rindu si puji tampa oleh Qila, dan kakak sangat sangat rindu dengan keusilan Qila" Celoteh sendu Bram menggenggam tangan gadis kecil yang tengah terbaring lemah itu.
Aqila menjadi koma seperti ini. Seperti nya gadis kecil itu sangat trauma dan takut hingga tidak ingin membuka matanya.
Bram mendekati telinga Aqila dan membisikan sesuatu pada gadis itu.
"Kakak sudah membunuh semua keturunan mereka yang membuat kamu seperti ini, jadi Qila harus sadar dan balas jasa kak Bram ya?" Bisik Bram mengusap pipi chubby gadis kecil nya.
Ceklek~
Pintu ruang rawat Aqila terbuka bersamaan dengan Rachel yang masuk. Melihat hal itu lantas Bram bangkit dari posisi nya dan tersenyum pada wanita paruh baya itu.
"Maaf nyonya, saya terlalu lama ya?" Ujar tak enak Bram yang langsung mendapat gelengan dari Rachel.
"Tidak Bram, dan sudah saya bilang berkali-kali jangan panggil saya seperti itu"
"Emm.. Iya maafkan saya, Ma." Ujar gugup Bram.
__ADS_1
Rachel memang menyuruh Bram untuk memanggil nya dengan sebutan Mama sama seperti Grey, Arazey dan Aqila.
"Mama hanya ingin bertanya, apa kamu akan menginap disini?"
"Memangnya kenapa, Ma?"
"Sudah sangat larut Bram"
"Ah iya kah?" Sontak Bram menoleh kearah jendela, diluar sama langit benar-benar gelap, lantas ia melihat jam yang melingkar ditangan nya.
"Astaga sudah jam sebelas, sepertinya aku sangat asik mengobrol dengan Qila sampai tidak ingat waktu" Cicit pelan Bram merasa malu.
"Tidak apa, Mama senang kamu masih peduli dengan gadis kecil Mama"
Mendengar ucapan tersebut Bram malah cengengesan dan meraih handphone nya yang sempat ia taruh dinakas.
"Kalo gitu aku pamit pulang ya, Ma. Besok aku akan kesini lagi"
"Apa lebih baik kamu menginap saja disini Bram? Di luar sangat berbahaya, akhir-akhir ini sedang terjadi kasus pembunuhan berantai Mama takut kamu bertemu dengan pembunuh nya"
Bram menggullum bibirnya menahan senyum, lalu kepalanya menggeleng pelan. "Pembunuh nya ada dihadapan mu, Ma" Batin Bram.
"Bram?" Panggil Rachel yang melihat Bram seperti menahan tawa
"Tenang saja Ma, melihat wajah ku saja pembunuhnya bisa bunuh diri" Canda Bram berhasil merubah raut khawatir Rachel berubah menjadi tawa renyah dari wanita paruh baya itu
"Kamu ada-ada saja, Bram hahaha"
"Jadi aku boleh pulang 'kan, Ma?"
"Baiklah Mama tidak bisa menahan mu, asalkan setelah sampai rumah kamu harus kabari Mama!"
Mendengar perintah tersebut Bram mengangkat tangan nya seperti seorang prajurit yang baru saja mendapat amanat dari atasan nya.
"Siap Boss!"
Rachel kembali terkekeh akan tingkah Bram. Hingga akhirnya pria itu menurunkan tangan nya yang tadi hormat pada nya, lalu beralih mengusap kepala Aqila.
"Kak Bram pulang dulu ya, Cantik"
__ADS_1
"Besok kak Bram kesini lagi" Pamit Bram pada gadis kecil itu.
...****************...