
"Taruh Arazey!" Pekik menggema seorang wanita paruh baya yang baru saja memasuki dapur.
Sedangkan sang pemilik nama yang mendengar pekikan tersebut sempat tersentak kaget, hingga akhirnya tatapan malas Arazey berikan pada wanita paruh baya yang kini tengah berjalan mendekatinya.
"Astaga ayolah Ma, aku sangat bosan" Rengek frustasi Arazey saat wadah adonan yang ia pegang langsung direbut oleh mama nya.
"No! Grey menitip kamu ke rumah ini agar tidak kelelahan atau melakukan hal berat!"
"Aku bukan barang yang bisa dititip, dan aku yang ingin menginap disini Ma.."
"Sama saja! Kamu tidak boleh melakukan hal melelahkan seperti ini!" Tegas Rachel tidak ingin dibantah.
"Hanya membuat kue, itu tidak melelahkan sama sekali Ma."
"kamu bergerak kesana-kemari dan itu membutuhkan tenaga, Arazey!"
"Tapi-- Stop! Kamu cukup diam dan duduk saja, jika ingin sesuatu biar Mama yang buat atau bisa meminta bantuan Bu Rum!" Potong cepat Rachel saat Arazey hendak membantah nya.
"Please Ma, sekali saja. Lagipula Grey tidak melihat" Mohon Arazey memelas.
"Sekali tidak tetap tidak, Arazey!"
Arazey di buat meraung kesal saat mendengar ucapan tegas dan tidak ingin dibantah dari mulut sang mama, ditambah ekspresi wanita paruh baya itu sangat menyeramkan.
"Sebenarnya yang anak mama tuh, aku atau Grey sih?!"
"Grey!"
Spontan mata Arazey langsung melotot mengobarkan api cemburu dan tidak suka nya akibat jawaban sang mama.
"Kalo kamu nurut sama mama, kamu baru anak mama" Sambung Rachel santai seraya menyingkirkan bahan-bahan dapur dihadapan Arazey.
"Aku selalu nurut lho sama mama"
"Nurut apanya? Ini buktinya kamu malah bergerak tanpa seizin mama"
Arazey menjatuhkan rahangnya tidak percaya saat mendengar penuturan Rachel, pasalnya selama dua hari ini Arazey bagaikan hidup di dalam istana kerajaan,
Dimana saat bergerak saja ia harus hati-hati atau teriakan menggema sang mama akan menggelegar di dalam rumah ini.
__ADS_1
Bahkan saat ini Rachel jauh lebih posesif daripada Grey, pria yang membuatnya kecewa bersamaan dengan rasa kepercayaan nya yang hancur.
"Daripada kamu bosan lebih baik hubungi suami kamu. Sudah dua hari kamu tidak menelpon nya 'kan?" Saran Rachel saat melihat Arazey memasang wajah kesalnya.
"Dia sibuk"
"Sesibuk nya Grey, dia pasti akan menjawab panggilan dari istri tercinta nya."
"Mama gak usah sok tahu deh" Cibir kesal Arazey.
"Mama sudah senior, dan pastinya Mama bicara seperti ini karena Papa mu juga sama seperti Grey"
Mata Arazey melirik kearah handphone yang selalu ia bawa-bawa. Karena jujur Arazey mengharapkan Grey menelpon nya lebih dulu,
Tetapi semenjak mengantar Arazey ke rumah ini, Grey menghilang bak ditelan bumi. Tidak ada satu pesan atau panggilan darinya.
"Nanti aja, aku mau jemput Aqila dulu" Putus Arazey hendak berjalan.
Tetapi dengan cepat tangan Rachel menahan nya. "Supir sudah menunggu Aqila disekolah nya, jadi kamu tidak perlu repot-repot menjemputnya."
"Arghhh!! Yaudah ah aku mau tidur aja, tidur lagi, tidur terus!" Erang pasrah Arazey.
.
.
Kini seorang pria tengah berdiri menatap ke arah luar jendela ruangan nya bersama dengan asisten nya yang sedari tadi hanya diam menatap punggung pria itu.
"Sampai kapan, boss?" Tanya tak tahan sang asisten yang tak lain adalah Bram.
Dan tentunya pria yang tengah berdiri itu adalah Grey, yang sedari pagi hanya berdiri dipinggir jendela ruangan nya.
"Aku harus apa, Bram?"
"Mau bagaimana lagi, sedari awal sudah saya ingatkan tetapi Anda memaksa untuk tetap mengejar Arazey."
"Aku mencintai nya."
Bram mendengus kesal. "Cinta memang buta!" Sinis Bram
__ADS_1
"Kau juga mencintai anak kecil, Bram" Sahut Grey tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan di hadapannya.
"Yayaya aku juga sudah dibuat bodoh oleh cinta, tapi apa Anda tidak ingin pulang? Dokumen kerja sama telah selesai dan Arazey pasti membutuhkan Anda."
"Dia tidak membutuhkan ku, Bram. Yang ada dia malah tertekan jika ada aku disamping nya."
"Ck! Kemana sifat tegas anda, Mr.Grey?"
"Aku hanya tidak ingin melukai calon anak ku lagi, aku ingin dia bertahan dan melihat dunia ini"
Grey benar-benar pasrah, ia tidak tahu akan melakukan apa. Hidupnya terasa hampa tanpa bertemu sang pujaan hati selama dua hari ini, ingin menemuinya pun Grey takut melukai calon anaknya.
Bram pria yang sendiri tadi mengoceh itu, kini hanya terdiam mendengar ucapan pria di hadapannya yang sudah dianggap sebagai seorang kakak laki-lakinya.
Hingga tiba-tiba suara pesan masuk dari handphone yang berada di atas meja kebesaran milik Grey memecahkan keheningan ruangan itu.
Ting!
Mata kedua nya pun langsung teralih ke arah meja tersebut dan dengan cepat Grey langsung mendekati mejanya, lalu mengambil handphone diata meja itu.
"Pasti Ara-- " Belum sempat Bram menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Grey kembali melempar asal handphonenya di meja kerjanya.
"Mulai besok pecat seluruh operator yang mengirim pesan promosi!" Pekik marah Grey.
Bram melongo tidak percaya dan hanya mengagumkan kepalanya, sampai saat suara pesan masuk kembali terdengar.
Ting!
"Tidak usah menipuku lagi sialan!" Teriak marah Grey pada handphone nya.
Pria itu tidak mengambil handphonenya kembali atau sekedar melihatnya melainkan ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kebesaran nya.
"Anda tidak ingin melihatnya? Siapa tau itu pesan dari Arazey"
"Tidak mungkin dia! Pasti hanya operator yang menawarkan promo kouta!" Sahut judes Grey.
"Saya lihat boleh?" Bram memberanikan diri dan meraih handphone milik Grey.
Sedangkan sang pemilik handphone hanya diam dan memejamkan matanya menahan kesal. Sampai saat Bram mengucapkan sesuatu, membuat matanya melotot sempurna.
__ADS_1
"My Wife.. Pulang lah malam ini, Mama mencari mu" Ucap Bram membaca pesan sekaligus nama pengirim di handphone Grey.
...****************...