
Mentari pagi mulai menyapa menghangatkan suasana di pagi hari ini. Jika di setiap kamar semua penghuni nya tengah sibuk bersiap-siap
Namun lain hal nya dengan penghuni kamar sepasang pasutri yang baru saja merayakan tiga bulan usia kandungan sang istri tadi malam.
Kini di kamar itu terdengar suara seorang pria yang terus memuntahkan isi perutnya sejak pukul lima pagi tadi.
"Memang nya kamu makan apa semalam huh?" Dengus khawatir sang istri yang tak lain adalah Arazey
Dan pastinya pria yang sedang memuntahkan isi perutnya adalah Grey.
Tangan Arazey terus memijat tengkuk leher Grey dengan minyak angin dan mencoba membantunya untuk meredakan rasa mual.
"Aku cuma makan makanan yang kamu juga makan-- Hooekk"
Entah apa yang saat ini Grey muntahkan, karena semua isi perutnya sudah terkuras sejak satu jam yang lalu.
"Ayo bangun, aku periksa dulu" Ajak Arazey merangkul lengan Grey.
"Bentar masih mual" Dengan susah payah Grey mengucapkan setiap kata-kata untuk menjawab Arazey karena rasa mual begitu menyerang nya.
"Sudah biarkan! Percuma tidak ada yang kamu muntahkan lagi!" Tegas Arazey menarik perlahan tubuh lemas Grey agar berjalan.
Melihat keadaan Grey yang seperti ini membuat Arazey merasa iba sekaligus sedih, pasalnya pria itu sudah cukup lama memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi.
Sedangkan dirinya baru terbangun setengah jam yang lalu saat Grey tidak sengaja menjatuhkan gelas yang ada di wastafel kamar mandinya.
.
"Semalam kamu minum 'kan?" Grey mengangguk pelan menjawab ucapan Arazey.
"Pantas saja!"
"Tapi aku sudah terbiasa, hmpp--" Grey tidak sanggup melanjutkan ucapan nya.
__ADS_1
Kini tangan besar milik Grey terus membekap mulutnya sendiri dan menahan rasa mual, sedangkan Arazey kini mulai berjalan kesana-kemari mencari alat kedokteran miliknya untuk memeriksa sang suami.
"Mulai besok jangan minum alkohol lagi!" Tegas marah Arazey.
Melihat wajah marah istri kecilnya, Arazey hanya terdiam mengatur nafasnya karena saat ini Arazey mulai memeriksa tubuhnya.
"Apalagi yang kamu rasa selain mual?"
"Pusing.."
"Ada lagi?" Tanya Arazey yang langsung mendapat gelengan dari Grey.
"Periksa ke rumah sakit aja ya? Takutnya ada yang gak beres sama perut kamu"
"Gak mau.. Hoeekk.."
Arazey benar-benar dibuat pusing sendiri melihat keadaan pria dihadapan nya yang tengah berbaring lemas di kasur.
Wajah Grey sangat pucat, tangan, telinga, hidung serta kaki pria itu sedingin es. Entah kenapa rasa dingin itu hanya terasa di bagian tertentu pada tubuh Grey.
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Arazey beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar. Namun lain hal nya dengan Grey.
Setelah melihat pintu kamarnya kembali tertutup pria itu langsung bangkit dari posisinya dan berlari kearah kamar mandi, tentunya Grey kembali meluapkan rasa mualnya.
.
.
"Astaga boss!" Teriak kaget Bram yang baru saja membuka pintu kamar mandi.
"Grey!" Pekik Arazey tak kalah kaget.
Bram langsung berlari mendekati tubuh Grey yang setengah sadar dan bersandar lemas di samping closet, namun berbeda dengan Arazey yang tetap berjalan dengan hati-hati karena ia takut terpeleset.
__ADS_1
"Boss!! Sadarlah!!"
"Aku masih sadar Bram.." Jawab lirih Grey
"Baiklah kalo gitu sekarang saya bantu bantu, atau mau digendong?"
Tuk!
Sentilan pelan berhasil mendarat di kening Bram, dan tentunya sentilan itu berasal dari Grey yang merasa geram saat mendengar kata 'digendong'.
"Aku masih bisa berjalan tanpa bantuan mu!" Dengan nada lemas yang terdengar sedikit arogan Grey pun berusaha bangkit dari posisinya.
Tetapi usaha mengkhianati hasil, kepalanya malah hampir terbentur closet yang sudah tertutup itu karena ia tidak kuat menumpuh tubuhnya sendiri.
Untung saja ada tangan Arazey yang siap menahan nya, hingga kini kepala Grey terselamatkan tetapi tidak untuk telinga nya yang terasa berdengung karena omelan Arazey.
"Kalo gak kuat gak usah sok kuat!!"
"Dasar manusia keras kepala!" Teriak Arazey mengomel marah.
"Haishh sudahlah sudah, ayo saya bantu" Cela Bram menghentikan mulut Arazey yang hendak kembali mengomel.
Dengan cepat pria itu membantu Grey untuk bangkit dari posisinya, dan menuntun nya berjalan keluar dari kamar mandi.
"Langsung ke rumah sakit!" Tegas Arazey dengan wajah galaknya.
Niat hati Grey ingin kembali membantah, tetapi melihat mata Arazey yang melotot berhasil membuat nyalinya menciut.
"Periksa saja jangan disuntik." Cicit lemas Grey.
"Kenapa kalo disuntik? Takut?!" Sinis Arazey merengkuh pinggang Grey dan ikut menuntun nya untuk berjalan.
"Sama peluru gak takut, kok sama jarum suntik takut" Sindir sinis Bram.
__ADS_1
...****************...