
"Ke ruangan ku, Bram!" Titah Grey seraya menekan aalah satu tombol yang ada di interkom.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu ruangan diketuk bersamaan dengan Bram yang masuk ke dalam ruangan Grey.
"Ada apa boss?"
"Bagaimana penyelidikan nya?" Tanya serius Grey.
"Astaga saya hampir lupa!" Pekik Bram mengingat sesuatu. "tunggu sebentar boss!" Sambung nya dan langsung pergi.
"Ck! Masih muda sudah pelupa!" Celetuk kesal Grey menatap pintu ruangan nya yang terbuka.
Tidak membutuhkan waktu lama kini Bram telah kembali dan menutup rapat pintu ruangan Grey dengan map coklat besar ditangan nya.
"Kami sudah menemukan data dirinya, boss" Ujar Bram seraya menyodorkan map tersebut.
Dengan wajah serius Grey mengambil alih map tersebut dan membuka nya. Terpampang lah foto seorang pria tampan dengan postur tubuh yang tinggi dan berkulit putih di dalam map coklat tersebut.
"Hans Velandrik, ketua mafia Squares sekaligus orang yang beberapa kali menyuruh para mafioso nya untuk menganggu markas kita" Jelas Bram saat melihat perubahan ekspresi Grey.
"Jadi dokter sialan itu?!"
"Benar boss, selain menjadi ketua mafia dia juga memiliki keahlian di bidang kedokteran" Imbuh Bram.
Brakk!
Suara gebrakan meja di hadapan Bram terdengar dengan nyaring bersamaan dengan wajah Grey yang memerah menahan emosi.
"Pantas saja setiap aku mengantar Arazey ke rumah sakit, dia selalu ada di sudut gedung itu dan memperhatikan mobil ku!" Geram tertahan Grey menyugar kasar rambutnya.
Memang benar beberapa bulan terakhir ini Grey selalu menangkap siluet Dokter Hans di sudut rumah sakit yang selalu menatap ke arah mobilnya.
Dan ketika Arazey keluar dari mobil Grey, tentu mana pria itu langsung tertuju pada istri kecilnya. Hal itu pun membuat Grey curiga.
Pasalnya Dokter Hans tidak pernah takut oleh ancaman Grey, disaat banyak pria yang takut hanya dengan mendengar deheman nya, tetapi pria itu malah dengan terang-terangan seperti mengejar Arazey.
"Data diri nya sangat sulit untuk ditemukan, dan baru semalam beberapa hacker andalan kita berhasil membobol data diri nya"
"Shiit! Apa katamu?!" Desis geram Grey menatap tajam Bram.
__ADS_1
"Hacker andalan yang--"
"Setelah kata itu!" Potong Grey.
"Membobol?" Ujar bingung Bram ketika melihat raut Grey.
Seketika Grey langsung menarik kerah kemeja milik Bram bersamaan dengan teriakan memekiknya.
"Kenapa kau tidak memberitahu dan meminta izin padakh terlebih dahulu, bodoh!"
Tercetak dengan jelas urat di leher Grey dan menandakan betapa emosinya pria itu, ditambah dengan tarikan pada kerah kemeja milik Bram yang semakin menguat.
"Semalam saya sudah mencoba menghubungi Anda, tetapi tidak mendapat jawaban" Sahut Bram dengan napas tercekat.
Wajah Bram ikut memerah, napas nya terasa begitu tercekat bahkan Grey seperti mencekik lehernya. Hingga akhirnya Grey langsung menghempaskan tubuh Bram dengan napas memburu nya.
Kepala Grey terasa sakit, mencoba mengingat semua yang ia lihat pagi ini di rumah sakit.
"Mobil hitam di belakang mobilku, baj*ngan sialan itu mengawasi ku, dan.. Arazey!" Pekik Grey diakhir kalimat saat mulutnya mulai mengucapkan sesuatu yang ia lihat.
Bram terdiam kaget saat Grey menyebut nama Arazey. Mata kedua nya saling bertemu seakan berbicara di dalam batin hingga akhirnya Grey mendesis mencoba meredam amarahnya.
Setelah mengucapkan hal tersebut Grey langsung merampas kasar kunci mobil beserta handphone nya yang tergeletak di atas meja, lalu berlari keluar dari ruangan itu.
"Bodoh! Kenapa aku tidak ingat!" Maki Bram pada dirinya sendiri.
Lantas Bram ikut berlari keluar dari ruangan itu seraya menghubungi para mafioso untuk memperketat keamanan di mansion utaman keluarga Arazey.
"Baru jam sebelas, Aqila masih disekolah! Arghh siall!!"
Emosi Bram pun langsung memuncak begitu mengingat keamanan Aqila, walaupun ada dua bodyguard yang menjaga gadis kecil itu, tetap saja Bram tidak bisa mengandalkan mereka jika dalam keadaan seperti ini.
.
.
.
Dengan langkah cepat bahkan sesekali Grey menabrak bahu beberapa orang yang ada di rumah sakit, kini kaki nya langsung tertuju pada ruangan sang istri.
__ADS_1
Membuka cukup kasar ruangan Arazey, tetapi Grey tidak mendapati seorang pun diruangan itu termasuk wanita yang ia cari.
"Shiit!" Desis Grey semakin geram.
Jika biasanya Grey akan masuk dan menunggu sang istri kembali ke ruangan nya, maka kali ini Grey malah kembalu melanjutkan langkahnya dan mencari sosok wanita yang ia khawatirkan.
"Kamu kemana honey?.." Gumam Grey membuka satu persatu ruangan pasien.
Walaupun terkesan sangat tidak sopan dan sesekali mendapat makian dari pemilik ruang tawar itu, Grey sama sekali tidak memperdulikan nya.
Hingga akhirnya ada seorang perawat yang menahan pergerakan nya saat hendak membuka pintu ruang rawa selanjutnya.
"Maaf Mr., Ada yang bisa saya bantu? Apa anda sedang mencari seorang pasien?"
"Dimana Arazey?" Tanya dingin Grey menatap nyalang perawat tersebut.
"Arazey? Maksud anda Dokter Arazey?" Ulang perawat tersebut memastikan.
Grey mengangguk dengan mata yang terus mengamati sekitar.
"Bukankah hari ini Dokter Arazey tidak masuk?" Ujar bingung sang perawat.
"Tidak masuk?"
Perawat tersebut mengangguk, karena memang sebelumnya ia mendengar dari para perawat lain nya tentang Arazey yang tidak datang hari ini.
Tanpa mengucapkan apapun lagi Grey langsung berlari kearah luar rumah sakit, tidak memperdulikan cemoohan orang-orang yang ia tabrak.
"Bodoh! Kau bodoh Grey! Kenapa tidak menunggu istrimu masuk ke dalam rumah sakit!!" Batin Grey memaki dirinya sendiri.
Jika biasanya Grey akan berangkat ketika sudah melihat Arazey memasuki rumah sakit itu, tetapi pagi tadi Grey langsung berangkat setelah Arazey turun dari mobil.
Karena Grey cukup terburu-buru akibat meeting yang akan segera dimulai, jadi ia tidak menunggu Arazey memasuki rumah sakit.
...****************...
Yang udah ngasih vote, lopyu sekebonš„°
Jangan lupa like nya, biar author tambah semangatš»
__ADS_1