
"Dokter perempuan yang baik dan ramah, mau kah dokter menjadi kekasih anak ku?."
Mata Arazey dan mata pria disamping wanita paruh baya itu seketika melotot kaget, dan pandangan nya pun saling bertemu.
"Astaga mom apa-apaan sih?!" Geram malu pria tersebut ketika Arazey memutuskan kontak mata nya.
"Kenapa sih? Kamu gak usah pura-pura lagi ya, Jim!" Tegas wanita paruh baya itu pada anaknya yang bernama Jimmy.
Wajah Jimmy pun seketika berubah pias dan terlihat telinga nya yang memerah menahan malu. "Pura-pura apa sih mom? Aku gak ngerti deh." Sahut pria itu dan sesekali matanya melirik Arazey.
"Kamu selalu mencari dokter Arazey saat--"
"Silahkan dok, jangan dengarkan ucapan Mommy saya." Potong cepat Jimmy yang mempersilahkan Arazey untuk pergi.
Tanpa berlama-lama dan salah satu dari mereka sudah mengizinkan Arazey untuk pergi, dengan cepat wanita itu menganggukkan kepalanya dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Jimmy!.." Geram tertahan wanita paruh baya yang berbaring di ranjang rawat itu setelah menatap kepergian Arazey.
"Iya mom iya... Naikkan aku, tapi biarkan aku yang mendapatkan nya sendiri."
"Besok Mommy sudah di izinkan pulang, lalu kapan? Kamu sudah tidak punya kesempatan jika bukan saat ini!"
"Aku pasti mempunyai kesempatan, mom"
"Pokoknya Mom tidak mau tahu, dapatkan dokter cantik itu. Dia perempuan yang baik dan beda dari perempuan lain nya yang sering Mom temui!" Tegas wanita itu yang hanya mendapatkan anggukan dari Jimmy sang anak.
.
.
.
Sedangkan ditempat lain Grey tidak bisa fokus dengan pekerjaan nya karena sedari pagi istri kecilnya tak kunjung menjawab panggilan nya.
__ADS_1
Entah sudah berapa puluh bahkan ratus kali Grey menghubungi Arazey tetapi tidak mendapat jawaban sama sekali. Hingga kini pria itu menggebrak meja kerja nya meluapkan kekesalan nya.
Brak!!
"Sialan!" erang frustasi Grey.
Bram yang berada di satu ruangan yang sama pun sontak tersentak kaget, namun dengan cepat ia menghampiri Boss nya yang terlihat sangat marah.
"Ada apa, Boss?"
"Batalkan semuanya dan kita pulang sekarang!" Tegas Grey.
Tangan pria itu pun tak tinggal diam, dia terus mencoba menghubungi Arazey berharap istri nya menjawab panggilan nya.
"Setengah jam lagi kita akan memulai meeting nya, bagaimana bisa--"
"Arghhh siall! Akhirnya kamu menjawab panggilan ku!" Teriak geram Grey dengan handphone yang menempel ditelinga nya.
.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, tapi sedari pagi Arazey terus mengabaikan telpon dan pesan dariku.
Aku sungguh panik, aku takut istri kecil ku marah karena aku pergi tanpa menunggu nya bangun. Apalagi saat mendengar ucapan marah nya saat menelpon ku tadi pagi.
Dan kini aku memutuskan untuk kembali pulang karena percuma otak ku tidak akan bekerja jika sedang seperti ini.
Meminta asistenku, Bram. Membatalkan semuanya, tetapi seperti nya pria itu hendak menolak ucapan ku, sampai saat ucapan nya terhenti karena teriakan ku saat melihat panggilan yang sedari tadi aku hubungkan kini telah dijawab oleh istriku.
"Arghhh siall! Akhirnya kamu menjawab panggilan ku!" Teriak ku dengan perasaan campur aduk.
Semenjak jatuh hati pada dokter kecil itu, entah kenapa perasaan takut, panik, dan over thinking selalu mendominasi diriku yang biasanya selalu tenang.
"Astaga telinga ku sakit Grey!" Jawab istri kecilku yang terdengar kesal.
__ADS_1
Lantas aku terduduk di kursi kebesaran ku, dan mengalihkan panggilan suara tersebut ke panggilan video yang langsung direspon oleh nya.
"Baby, maafkan aku.. Aku sungguh tidak--" Belum sempat aku melanjutkan ucapan ku, tiba-tiba saja Arazey memotong nya.
"Tidak apa, ini salah aku juga karena tadi tidak bangun"
Ketika mendengar penuturan tersebut helaan nafas lega pun langsung keluar dari mulutku, karena jujur rasanya aku sangat lega.
Dan kini tatapan ku kembali terfokus pada wajah di sebrang sana. "Lalu kenapa kamu tidak menjawab panggilan ku? Kamu tau aku sangat panik!" Ucap ku kesal pada istri ku yang tengah menatap diriku di sebrang sana.
Bukan nya langsung menjawab dia malah terkekeh dan menggaruk kepalanya. "Maaf.. Tadi aku sibuk banyak pasien yang harus diperiksa." Ucapnya cengengesan.
Melihat tingkah nya yang seperti itu membuat rasa kesal ku seketika langsung hilang. Aku sungguh tidak bisa berjauhan dengan wanita manis yang tengah cengengesan di sebrang sana.
Aku menyandarkan punggung ku, lalu menatap lama wajah istriku. "Bisakah kamu mengambil cuti dan datang kesini menemaniku?" Ujar ku tiba-tiba.
Lantas istriku menggeleng dan berucap. "Aku tidak bisa Grey. Banyak pasien yang harus diurus."
"Apakah tidak ada dokter atau perawat lain?." Ucapku kembali kesal.
"Dokter dan perawat memang banyak, tetapi mereka semua mempunyai tugas masing-masing. Lagipula hanya satu minggu, bukan satu bulan atau satu tahun." Sahut istriku dengan tatapan yang sinis dan bibir mencibir seperti meledekku.
Tiba-tiba rasanya semangatku menghilang, hingga akhirnya aku meminta sesuatu pada nya. "Bisa jawab panggilan telpon ku dengan cepat?."
"Bisa saja, tapi aku juga sedang bekerja. Tidak mungkin aku memeriksa pasien sambil menjawab telpon darimu."
Aku menghela nafas berat, rasanya sangat sulit jika seperti ini. Ditambah aku terus merindukan wajah istriku.
"Baiklah, jika kamu sedang luang di rumah sakit segera hubungi aku!" Ucap ku seperti sebuah perintah, namun memang nyatanya aku memerintahkan istriku untuk menghubungi ku.
Grey POV End..
...****************...
__ADS_1