Terjebak Cinta Om Mafia Possesive

Terjebak Cinta Om Mafia Possesive
Bab-64- Dia pembunuhnya


__ADS_3

"Bagaimana kondisinya, Shin?"


Wajah Grey terlihat begitu cemas dan khawatir menunggu jawaban dari senior istrinya sekaligus direktur rumah sakit yang menjadi dokter pribadi di kediaman Grey


Tetapi yang ditanya hanya terdiam dan menatap bergantian Grey dan Arazey yang belum sadarkan diri. Helaan nafas berat terdengar hingga akhirnya dokter Shin menatap Grey.


"Berapa lama kalian melakukan nya?"


Mendengar pertanyaan seperti itu tentu Grey mengerti, tetapi ia malah balik bertanya. "Kenapa? Ada apa?"


"Anda belum mengetahuinya, Mr.Grey?" Dokter Shin dibuat tidak percaya saat mendengar pertanyaan Grey yang sangat tidak masuk akal.


"Mengetahui apa? Apa istri saya sakit? Saya baru kembali--"


"Arazey tengah mengandung" Potong cepat dokter Shin.


Seketika tubuh Grey membeku dengan detak jantung yang berpacu begitu cepat.


"Tiga hari lalu Arazey muntah-muntah saat hendak mengobati pasien bahkan sempat pingsan"


"Ba-bagaimana?"


Dokter Shin dibuat mengernyit bingung atas ucapan Grey. Hingga akhirnya pria itu langsung duduk ditepi kasur dan mengusap perut Arazey.


"Ah itu, Usia kandungan Arazey sudah memasuki minggu ke lima dan-- "


"Kenapa kau tidak memberitahuku?!" Sentak Grey memotong.


"Maaf Mr., Arazey bilang dia yang akan memberitahu Anda dan saya disuruh tutup mulut saja" Jelas dokter Shin mulai takut.


"Lalu bagaimana kondisinya? Apa anak ku baik-baik saja? Bagaimana istriku hah?!"


Walaupun takut tetapi dokter Shin berusaha untuk tetap profesional, hingga akhirnya setelah helaan nafas beratnya, ia kembali mengeluarkan suaranya.


"Kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan, kandungan Arazey sangat lemah dan rentan. Sepertinya pikiran Arazey terlalu stres dan tertekan"

__ADS_1


Mendengar penjelasan dokter Shin tanya sadar air mata Grey menetes, dirinya benar-benar merasa bersalah dan Grey tau apa akibat dari hal yang terjadi semalam itu.


"Apa anak ku masih bisa diselamatkan?" Lirih Grey.


"Selama Arazey tidak merasa tertekan dan stres serta tidak melakukan hal berat yang sangat membahayakan untuk janinnya, maka semuanya akan kembali membaik dan saya juga akan meresepkan vitamin penguat kandungan" Ujar panjang dokter Shin.


Tenang dan tidak stres? Yang benar saja? Bahkan saat ini Grey tidak tau bagaimana jadinya saat Arazey tersadar nanti. Grey yakin Arazey akan mengamuk dan merasa sangat stres mengingat semua ini.


"Pergilah dan segera suruh Bram untuk menebus vitamin nya." Dokter Shin pun mengangguk lalu pergi dari kamar itu.


Menyisakan Grey yang entah sejak kapan sudah bersimpuh dilantai dan memeluk erat perut Arazey.


"Maafkan Daddy my little angel hikss.."


"Maafkan Daddy tidak mengetahui keberadaan mu dan malah menyakiti mommy dan kamu hikss.."


"Kamu harus baik-baik saja hikss.. Daddy janji tidak akan mengulangi nya hikss.."


Ucap pilu penuh penyesalan dan terdengar begitu menyesakkan terus keluar dari mulut Grey yang berhadapan dengan perut istri kecilnya yang masih datar itu.


Sampai akhirnya suara lirih dan lemah terdengar ditelinga Grey. "Lepas"


Kepala Grey langsung terangkat dan menatap wajah Arazey yang saat ini tengah menatap sayu dirinya penuh kebencian.


"Baby hikss.. Terimakasih" Sendu Grey seraya mengecupi wajah Arazey.


Tetapi baru beberapa kecupan Arazey langsung mendorong kepala Grey dan memalingkan wajahnya. "Apa dia sudah mati?" Ucap tiba-tiba Arazey


"Kenapa baby, siapa yang mati?" Tanya tak mengerti Grey.


Tidak menjawab melainkan tangan Arazey bergerak memegang perutnya, dan tentu Grey memperhatikan nya.


"Apa dia sudah mati?" Ulang Arazey.


"Anak kita baik-baik saja" Lembut Grey mengusap surai istri kecilnya.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak mati?"


"Arazey!" Sentak Grey. Lantas Arazey pun kembali menatap pria dengan penampilan kusut dan rambut yang tidak beraturan itu.


"Kenapa? Aku ingin dia mati, aku tidak mau mempunyai anak dari seorang pembunuh dan penjahat!" Teriak murka Arazey.


Tangan wanita itu pun bergerak memukuli perutnya, namun dengan sigap Grey menahan kedua tangan nya dengan wajah memerah menahan amarahnya.


"Jangan keterlaluan Arazey!"


"Keterlaluan apa? Kau yang keterlaluan siialan!!"


"Lepaskan! Aku tidak ingin dia hidup, aku tidak sudi!!" Arazey memberontak menggerakkan tubuhnya yang baru saja terbangun dari tidur nya atau lebih tepatnya dari pingsan nya.


"Apa kamu mau menjadi seorang pembunuh hah!" Bentak murka Grey mencengkram erat kedua tangan Arazey.


"Kau membunuh bang Ansel! Maka aku akan membunuh anakmu, siialan!"


"Dia juga anakmu, Arazey! Anakmu, darah daging mu!"


Mendengar itu air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk mata Arazey kini tumpah dengan raungan tangisnya yang begitu menyedihkan.


"Kenapa kau harus membunuhnya hikss.. Kenapa?!!"


"Kenapa kau harus berbohong hikss.. Dan kenapa harus kau hikss.."


Seperti mendapat pengkhianatan dari Grey, hati Arazey benar-benar hancur saat mengetahui kebenaran nya. Niat hati Arazey ingin memberikan kejutan saat Grey pulang dengan kehadiran malaikat kecil yang selalu Grey tunggu-tunggu.


Tetapi kenyataan begitu pahit, dan Arazey benar-benar menyesal telah nekat mencari tahu tentang ruangan itu.


Cengkeraman yang tadinya terasa begitu erat, kini mulai melonggar bersamaan dengan kepala Grey yang menunduk menahan rasa pedihnya.


"Dia membunuh kedua orang tua ku.."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2