
"Istirahat dulu, Grey." Pinta Arazey menatap jera Grey yang tengah sibuk bersiap-siap.
Padahal beberapa jam lalu kedua nya baru saja pulang dari rumah sakit, tetapi Grey langsung bergegas merapihkan berkas-berkas nya dan bersiap untuk pergi ke perusahaan miliknya.
"Gak bisa honey, aku ada meeting dengan investor dari Korea" Jawab Grey masih terus bergerak terburu-buru.
"Meeting nya jam berapa?"
"Jam satu sehabis makan siang nanti"
Arazey sempat melongo tidak percaya, hingga akhirnya ia kembali mengeluarkan suaranya. "Astaga masih lama, kamu bisa istirahat dan makan siang di sini dulu"
"Gak bisa honey, aku harus rapat dengan para pemegang saham dulu"
Seusai mengancingkan seluruh kemejanya, Grey langsung berjalan mendekati Arazey dan menyodorkan dasi ditangan nya meminta Arazey untuk memasangkan dasi nya.
Tetapi wanita itu malah mengalihkan pandangan nya seraya bersedekap dada. "Gak mau!" Tolak tegas Arazey.
"Honey.."
"Kamu yang punya perusahaan nya Grey, dan kenapa harus kamu yang sesibuk ini?!" Hardik kesal Arazey.
"Karena ini perusahaan milikku jadi aku harus menjaganya dengan baik bukan malah senang-senang tanpa turun tangan, sayang"
Melihat raut wajah Arazey yang semakin masam lantas Grey duduk disamping Arazey dan menggenggam tangan wanita hamil itu.
"Ayolah jangan marah dan kesal seperti ini, aku gak mau baby nya ikut marah sama aku" Pinta lembut Grey.
"Kondisi kamu sedang tidak sehat seperti biasanya, Grey"
"Iya aku tau, tapi aku janji jika aku lelah aku akan langsung istirahat" Ucap Grey mengangkat sebelah tangan nya seperti sedang bersumpah.
Melihat hal itu Arazey berdecak kesal lalu mengambil alih dasi Grey dengan sedikit kasar. "Ayo berdiri!" Ketus Arazey.
__ADS_1
Sempat terkekeh pelan melihat kekesalan Arazey, lantas Grey langsung berdiri dihadapan wanita yang kini menaiki sofa yang tadi mereka duduki.
"Aku mau ikut" Pinta Arazey saat tangan Grey yang melingkar di pinggang nya.
"Nanti kalo kamu kelelahan gimana hmm?"
"Gak akan" Jawab singkat Arazey seraya memasangkan dasi.
Grey benar-benar susah payah untuk menahan senyum nya agar tidak mengembang. Pasalnya Arazey sangat menggemaskan jika sedang kesal seperti ini.
Ditambah posisi Arazey sedikit lebih tinggi dari Grey karena berdiri di atas sofa, dan hal seperti sudah biasa terjadi jika Arazey memasangkan dasinya.
"Iya deh kamu boleh ikut,"
"Aku gak perlu persetujuan kamu dan apapun yang kamu ucapkan aku akan tetap ikut"
"Sekarang kamu sering membangkang ucapan ku 'ya?" Tutur Grey setengah tertawa.
"Sepertinya kamu lupa, selama ini yang selalu mengidam hal yang aneh-aneh siapa? Dan siapa yang harus jadi sasaran nya?"
Tatapan tajam langsung Arazey layangkan pada Grey. "Jadi kamu gak ikhlas?!" Geram tertahan Arazey menarik kuat dasi Grey.
Alhasil pria itu terbatuk-batuk karena lehernya terasa di cekik. "Uhh sayang ukhukk.. Ukhukk.."
"Jawab!"
"Tentu aku ikhlas sayang, itu semua demi kamu dan anak kita ukhukk.."
Mendengar hal itu Arazey pun melepaskan tarikan nya. "Itu permintaan Little Angel kita, bukan aku. Dan sekarang baru aku yang ingin" Jelas Arazey.
"Iya-iya, apapun itu yang penting kamu bahagia" Pasrah Grey dan menurunkan tubuh Arazey dari sofa dihadapan nya.
Entah kenapa sejak mengandung Arazey jadi lebih galak pada Grey, dan bodohnya pria yang biasanya mengendalikan situasi kini malah takut pada singa betina itu.
__ADS_1
.
.
.
Sedangkan disisi lain, lebih tepatnya di suatu negara dan desa terpencil.
Kini terlihat sosok pria yang tengah mengamuk mencoba membuka jendela yang dipasangkan besi di setiap sisi nya.
"Lepaskan Pah!" Teriak murka pria itu pada pria paruh baya dihadapan nya.
"Papa tidak akan membuka nya sampai kamu berubah, Jer!" Tegas pria itu yang tak lain adalah Agra Berns dan pria yang mengamuk itu tentunya adalah Jerry Berns
"Kenapa papa begitu munafik! Aku tau papa juga ingin menguasai perusahaan Grey!"
"Tidak!" Sentak marah Agra. Lantas Jerry langsung terkekeh meremehkan papa nya sendiri.
"Yakin?"
"Papa tidak segila kamu, Jer! Cukup perusahaan kedua orang tua nya yang sekarang papa kuasai!"
"Halah! Lepaskan aku! Kenapa papa begitu jahat mengurungku disini dan sudah selama ini!" Teriak marah Jerry.
Terhitung sudah hampir empat bulan Jerry dikurung oleh Agra di sebuah rumah pondok terpencil di desa tersebut. Karena Agra mengetahui ide gila sang anak yang semakin menjadi-jadi.
Karena itu pula Agra memutus untuk mengurung sang anak jauh dari negara New York, dan membuat Jerry untuk berubah merenungi semuanya. Tetapi nihil, Jerry malah terus mengamuk padahal sudah selama ini.
"Cepatlah berubah, atau selamanya kamu tidak akan keluar dari pondok ini" Tegas Agra, sedetik kemudian ia langsung pergi meninggalkan Jerry yang kini berteriak memakinya.
"Tua bangka siialan! Akan ku bunuh kau bersama ponakan tersayang mu!!"
...****************...
__ADS_1