
"Aku tidak ingin meminta maaf karena telah membunuh pria yang sekarang berstatus sebagai kakak ipar ku,"
"Tapi aku ingin meminta maaf karena telah menyembunyikan identitas ku yang sebenarnya, dan tidak jujur padamu dari awal."
Penuturan panjang itu berhasil Grey ucapkan dengan tegas setelah melihat ke terdiaman istri kecilnya setelah pertengkaran yang sangat memilukan tadi.
Saat ini Grey tengah bersimpuh dan memeluk perut Arazey yang kini tengah duduk ditepi kasur.
Ini pencapaian terbesar untuk diri Grey sendiri, dimana ia berhasil mengontrol emosi, rasa sakit dan kecewa secara bersamaan.
"Aku benar-benar mencintaimu, Arazey. Tolong jangan egois dan pikirkan buah hati kita."
"Ini terlalu menyakitkan." Ucapan lirih itu berhasil Arazey keluarkan dari mulutnya yang sedari tadi terasa berat untuk diutarakan nya.
"Ini juga sama menyakitkan nya untuk ku. Kenapa aku harus jatuh hati pada adik si pembunuh kedua orang tua ku?"
Mata kedua nya bertemu, saling beradu pandang. Lagi dan lagi, baik Grey ataupun Arazey kedua nya sama-sama melihat kesedihan mendalam dari mata berair itu.
"Lalu kenapa kau tidak menghentikan rasamu? Kau malah memaksaku dan terus mendekatiku?"
Grey menggeleng. "Aku tidak bisa, berulang kali Bram pun berbicara seperti itu. Tapi hatiku malah sakit jika harus menghentikan nya."
"Kau bodoh!"
"Dan si bodoh ini adalah suami mu dan calon Daddy dari janin yang sekarang berada di dalam rahim mu" Sahut Grey dengan senyum sendu serta tatapan teduh nya.
Arazey memutuskan tatapan kedua nya dan beralih menatap jendela di hadapannya. "Aku harus melupakan nya atau memperpanjang?" Batin Arazey bertanya pada dirinya sendiri.
Melihat Arazey yang seperti memikirkan sesuatu lantas Grey melepaskan pelukan nya dan berdiri tegak di hadapan Arazey.
"Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku dan jangan egois. Semua nya sudah berlalu aku sudah melupakan nya demi kamu dan calon penerus ku" Tegas Grey.
"Minum vitamin nya dan setelah ini akan aku tunjukkan buktinya agar istri egois ku ini mengerti." Sambung Grey sedikit menyindir.
Tetapi Arazey hanya diam, tatapan nya pun teralih pada botol vitamin yang diresepkan oleh seniornya tadi.
"Setelahnya aku ingin pulang"
Grey kembali menghembuskan kasar napas nya saat mendengar ucapan Arazey yang berhasil membangkitkan emosinya.
__ADS_1
"Ini rumah mu"
Kepala Arazey mendongak menatap Grey dengan mata berair nya. "Aku ingin pulang ke rumah lama ku."
"Tidak akan!"
"Hanya pulang dan merenungi semuanya, aku.. Aku belum bisa menerima semua ini."
"Itu sama saja kamu ingin meninggalkan ku!"
Arazey menggeleng lalu meraih botol vitamin beserta segelas air yang Grey tuang tadi. "Tiga hari.. Izinkan aku menginap tiga hari di sana*
"Ara-- Kau ingin aku membunuh anak mu sekarang juga?" Potong Arazey bersiap menuangkan seluruh vitamin ke mulutnya.
Grey berdecak dan merebut botol vitamin tersebut. Walaupun itu vitamin sekaligus penguat kandungan Arazey tetapi jika diminum sekaligus akan membahayakan nya.
"Bagaimana aku bisa tenang jika jauh darimu, saat pemikiran mu saja begitu pendek!"
"Aku hanya ingin pulang"
"Dan jika aku izin kan, apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan memberitahukan semuanya pada keluarga mu?"
Mata Grey yang tadinya menatap serius Arazey, seketika langsung melotot saat mendengar ucapan nya.
"Tidak akan pernah dan jangan berharap!" Tegas Grey.
"Ya ya ya.. Aku tau, lagipula apa jadinya jika mama dan papa tau bahwa menantu kesayangan nya adalah seorang Pembunuh anak laki-lakinya sendiri?" Kini bergantian, Grey lah yang terdiam.
"Dan mungkin aku hanya akan melaporkan mu saja ke polisi" Sambung santai Arazey kembali merampas botol vitamin ditangan Grey.
Grey terkekeh, lalu menepuk-nepuk pelan kepala Arazey. "Polisi bekerja sama dengan ku, my little wife."
"Aku akan membayarnya lebih tinggi dari mu, dan menjebloskan mu ke penjara!" Sentak Arazey seusai menelan satu butir vitamin tersebut.
"Istri pintar.. Lakukan jika bisa." Lembut Grey tersenyum tipis.
"Aku benar-benar membencimu!"
"Dan aku benar-benar mencintaimu"
__ADS_1
.
.
.
"Tidak mungkin, bang Ansel pasti di jebak oleh pria ini!"
"Mereka bekerja sama, baby. Apa kamu tidak membaca riwayat pesan mereka hmm?"
"Mungkin saja handphone bang Ansel di pinjam seseorang dan orang itulah yang bekerja sama dengan si bad*bah ini!"
Grey di buat tertawa renyah saat mendengar istri kecilnya terus membela alm., kakak laki-lakinya
Padahal sudah sangat jelas saat ini di depan mata Arazey sendiri terdapat semua bukti tentang kejadian beberapa tahun silam.
"Terus saja bela kakak pembunuh mu"
"Bang Ansel bukan pembunuh!" Tekan marah Arazey.
"Jika bukan karena dia, aku tidak mungkin menjadi seorang pembunuh dan menjadi king mafia, baby.." Sahut Grey.
Karena memang seperti itu kebenaran nya, jika bukan karena ingin membalaskan dendam nya pada pembunuh kedua orang tuanya, Grey tidak akan terjun ke dunia gelap ini.
Buku besar ditangan Arazey terjatuh, bersamaan dengan kepala nya yang terasa begitu sakit hingga tubuhnya sedikit tidak seimbang.
Tetapi dengan cepat Grey menahan tubuh mungil itu, lalu mengendong nya.
"Sudah tidak usah dipikirkan! Yang sekarang harus dipikirkan adalah calon anak kita!" Tegas Grey tidak ingin memperpanjang semua nya.
"Tidak bisa, aku tidak--"
"Besok kita pulang dan aku akan izinkan kamu menginap di sana selama dua hari!"
Kepala Arazey mendongak dan menatap rahang tegas pria yang kini tengah menggendong nya ala koala.
"Kau tidak ikut menginap 'bukan?"
"Tentu aku ikut, mana bisa aku jauh darimu!"
__ADS_1
...****************...