
Lenox Hill Hospital
Rumah sakit yang biasanya nya menjadi tempat Arazey bekerja dan mengobati para pasien, tetapi kini wanita itulah yang menjadi pasien.
Arazey dirawat di salah satu ruangan VVIP dengan beberapa alat media di tubuh nya, wanita itu masih belum sadarkan diri.
Sedangkan disisi nya lain ruangan itu atau lebih tepatnya dekat jendela ruangan itu, berdiri seorang pria yang sedang menatap kearah luar.
Hingga beberapa saat kemudian Arazey mulai menerjabkan matanya, mencoba menyesuaikan pengelihatan nya pada ruangan yang ia tempati.
Sampai bayangan kejadian beberapa jam lalu langsung menghantam pikiran nya. Arazey meraung dengan tangisnya menyebut satu nama.
"Grey hikss.."
Pria yang tadinya menatap kearah luar ruangan itu, kini berbalik begitu mendengar tangisan Arazey dan mendekati wanita yang hendak bangun itu.
"Jangan bergerak!" Tegas pria itu
Arazey langsung menoleh ke asal suara dan seketika air matanya semakin berjatuhan begitu deras.
"Grey hikss.."
"Iya honey, ini aku" Sahut Grey yang kini memeluk erat tubuh Arazey.
"Kok kamu masih hidup hikss.."
Mata Grey sontak melotot mendengar ucapan yang mirip seperti pertanyaan dari mulut istri kecil nya ini.
"Tentu aku masih hidup, honey"
"Tadi yang ditembak siapa hikss.."
"Badeebah siialan itu, bukan aku"
Mendapat jawaban seperti itu kepala Arazey langsung mendongak menatap wajah suami nya yang terdapat beberapa hansaplast untuk menutupi luka nya.
"Kok bisa dia yang mati hikss.." Tanya Arazey masih dengan tangis nya.
Grey dibuat gemas dengan perkataan yang keluar dari mulut Arazey, lantas beberapa kecupan Grey layangkan pada wajah mungkin istri kecilnya.
"Grey ihh.." Rengek kesal Arazey.
"Sepertinya kamu memang mengharapkan aku yang mati dan ber-- "
__ADS_1
"Bukan seperti itu" Potong Arazey dengan wajah memelas.
"Lalu seperti apa hmm? Kamu sedih karena dia mati dan tidak jadi menikah dengan nya?"
Arazey menggeleng-gelengkan kepalanya tidak menyetujui ucapan Grey. Air mata wanita itu terus mengalir melewati pipi chubby nya.
"Apa kamu sedih karena gagal bercerai dengan--"
Belum sempat Grey menyelesaikan perkataan nya, tiba-tiba saja Arazey menarik tengkuk pria itu lalu menyatukan bibir kedua nya.
Hal itu pun sontak membuat Grey membeku, apalagi saat ini Grey bisa merasakan air mata Arazey yang terus mengalir.
Kedua nya sama-sama terdiam, hingga selang beberapa saat Arazey hendak menjauhkan kepalanya. Tetapi dengan cepat Grey menekan tengkuk leher wanita itu lalu mellumat rakus bibur mungil itu.
Arazey terdiam dengan mata yang tetap terbuka menatap mata Grey yang perlahan terpejam menikmati seesapan rakus nya.
.
"Emhh.. Sudah cukup.." Lenguhh tertahan Arazey mendorong pelan dada Grey.
Grey menurut dan menghentikan kegiatan nya, napas kedua nya sama-sama memburu. Ibu jari Grey bergerak mengusap bibir sang istri yang membengkak akibat ciiuman panas nya tadi.
"Dia tidak mencicipi bibur manis ini 'kan?" Tanya Grey dengan tatapan sayu.
"Bagus" Gumam senang Grey.
"Tapi aku tidak tau apa yang di lakukan ketika aku masih pingsan" Cicit pelan Arazey menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Grey tersenyum tipis, walaupun ia sangat cemburu dan marah tetapi ini semua salah nya.
"Tidak apa, aku akan mengecek nya nanti" Tutur lembut Grey yang langsung mendapatkan anggukan dari Arazey.
Sepertinya wanita itu belum sadar atas apa yang diucapkan Grey barusan, hingga memunculkan seringai kemenangan dari bibir Grey.
"Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?" Tanya pelan Arazey
"Singkat nya saat dia berkata 'Bunuh Dia', bukan aku yang terbunuh tetapi dia"
"Hah?" Beo bingung Arazey.
Grey terkekeh melihat wajah kebingungan istri nya.
"Pria yang menendang, menginjak dan menodongkan pistol di kepala ku adalah mafioso milik ku. Dan saat mendengar ucapan si badeebah itu mafioso ku langsung mengalihkan pistolnya dan menembak nya." Jelas Grey seraya merapihkan rambut Arazey.
__ADS_1
"Tetapi saat itu kamu sudah pingsan lebih dulu, jadinya gak bisa lihat dia terbunuh" Sambung Grey dengan kekehan nya.
"Ishh.. Aku sangat khawatir padamu" Gerutu pelan Arazey kembali memeluk tubuh Grey.
"Jangan mengkhawatirkan ku, cukup jaga diri dan jaga calon anak kita"
"Ohiya bagaimana kondisi little angel?"
"Dia baik-baik saja, dia anak yang kuat seperti mommy dan daddy nya"
Pelukan hangat semakin Arazey rasakan setelah Grey mengucapkan hal tersebut, ia sangat senang ternyata suami selamat dan sangat cerdas.
.
.
"Sudah" Ucap Arazey seraya menjauhkan kepalanya.
"Sedikit lagi honey, kamu harus makan yang banyak"
Arazey menggeleng dan mengambil alih makanan yang di pegang Grey.
"Kamu juga harus makan"
"Aku sudah makan, jadi kamu saja" Bohong Grey hendak kembali merebut makanan tersebut.
Tetapi dengan cepat Arazey menjauhkan nya dan melotot menatap pria dihadapan nya.
"Aku gak suka di bohongi 'ya!"
"Ck, aku memang tidak bisa berbohong dengan mu!" Celetuk kesal Grey
"Ayo cepat buka mulutnya!"
Grey menurut dan membuka mulutnya bersiap menerima suapan Arazey, hingga akhirnya sesendok makanan berhasil masuk ke dalam mulutnya.
"Hmm.. Lumayan" Koreksi Grey mengenai rasa makanan yang disediakan rumah sakit itu.
"Ayo kamu makan juga" Grey merebut sendok yang Arazey pegang dan menyuapi nya.
Satu sendok, dua sendok, tiga sendok, kini sudah berhasil Grey telan. Tetapi saat hendak memakan makanan di sendok ke empat kali nya tiba-tiba pintu ruang rawat itu dibuka begitu kasar.
Brakk!
__ADS_1
...****************...