
Jika di depan ruang operasi saat ini Alex, Rachel, Aqila, dan beberapa ART serta bodyguard masih menunggu operasi selesai.
Namun lain di tempat lain kini seorang pria tengah memaki dirinya sendiri, melampiaskan emosi nya, dan tentu nya dengan air mata yang terus berjatuhan.
"Bodoh Grey! Kau bodoh!" Maki pria itu yang tak lain adalah Grey.
"Kau tidak bisa menjaga istrimu dengan baik, dan sekarang apa? Kau harus kehilangan anak-anak atau mungkin istri mu! Bodoh dasar bodoh" Erang Grey memukuli kepala nya sendiri.
Masih di satu tempat yang sama yaitu rumah sakit, tetapi bedanya Grey saat ini sedang berada di gudang terbengkalai rumah sakit itu.
Sendirian, menyesali dirinya yang seharusnya menjaga istri nya dan menangisi nasib nya saat ini.
Grey benar-benar tidak kuat menatap ruang operasi itu, hatinya teramat sakit, hancur, dan menyesakkan.
Apalagi setelah melihat rekaman CCTV saat sang istri jatuh di taman itu, dan mencoba bangun tetapi Arazey tidak kuat dan mengerang kesakitan tetapi tidak ada yang mendengar.
"Arazey wanita hamil yang aktif, harusnya kau lebih waspada, bodoh hikss.."
Nada marah penuh kekecewaan tadi, kini telah berubah menjadi nada lirih penuh penyesalan.
Hingga akhirnya handphone Grey berbunyi menandakan ada panggilan masuk, dengan gerakan lamban nya pria itu mengambil handphone disaku celana.
Seketika Grey langsung menegakkan tubuhnya kala melihat Rachel yang ternyata menelpon nya. Menghapus sisa air matanya lalu Grey menggeser ikon hijau di handphone.
"Hal-- "
__ADS_1
"Kamu dimana? Operasi telah selesai!" Potong Rachel penuh semangat.
Tubuh Grey menegang lantas ia langsung mematikan panggilan itu dan berlari secepat mungkin, sampai sesekali pria itu menabrak orang-orang yang sedang berjalan di rumah sakit.
.
.
"Pa, Ma dimana Ara? Bagaimana anak-anak ku?!" Tanya Grey dengan napas terengah-engah.
Baik Alex, Rachel ataupun beberapa orang yang ada di depan ruangan itu, menatap aneh Grey dengan penampilan nya yang terlihat kotor dan mata pria itu membengkak dan pastinya bengkak akibat menangis.
"Tenang Grey.." Ujar Alex menepuk-nepuk pelan bahu Grey.
"Kamu habis dari mana? Kenapa kotor sekali?" Tanya Rachel.
Baru saja Rachel membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Grey, tetapi pintu ruang operasi kembali terbuka bersamaan dengan dua orang perawat wanita yang menggendong dua bayi.
Grey membeku melihat nya, bukan karena perawat tersebut. Tetapi karena bayi yang ada di gendongan para perawat itu.
"Mr., Mrs." Sapa perawat tersebut seraya mendekat.
"Cucu Grandma.." Ucap pelan Rachel dengan mata berkaca-kaca penuh haru.
Lantas Alex dan Rachel langsung mendekati dan melihat wajah kedua bayi itu.
__ADS_1
"Sangat cantik, dan tampan" Ujar kedua paruh baya itu.
Jika mereka tengah terharu dan merasa senang, tetapi berbeda dengan Grey yang masih membeku.
Beribu pikiran buruk langsung menghantam nya, hingga akhirnya pria itu bersuara.
"I-itu anak-anak ku?" Ujar Grey terbata-bata.
Kedua perawat mengangguk begitu pun dengan Alex dan Rachel.
Kaki Grey yang terasa lemas kini mendekati bayi-bayi nya dengan air mata yang kembali berjatuhan.
"Anak-anak Daddy?" Ucap pelan Grey hendak menyentuh kedua bayi nya.
Tetapi dengan cepat Alex menghempaskan tangan Grey.
"Tangan mu kotor, Grey!" Tegas Alex.
Grey terdiam menatap tangan dan tubuh nya. Ternyata memang benar tubuhnya saat ini dipenuhi debu.
"Lebih baik kau mandi dulu, baru boleh menyentuh baby Twins!"
"Ara.. Arazey bagaimana?"
Hening, tidak ada sahutan setelah mendengar pertanyaan Grey.
__ADS_1
...****************...