
Kevin membanting kotak yang dibawanya keatas meja kerja Nathan. Nathan terheran-heran melihat sikap Kevin seperti tidak menghargai dirinya...
Ini tidak seperti sikapnya biasa terhadap Nathan. Raut wajah nya terlihat sangat kesal. Sorot mata nya tajam menatap Nathan...
" Apa ini? " tanya Nathan yang berusaha menggapai kotak itu.
Kevin tak menjawab dan hanya mrmalingkan wajah kearah lain. Nathan semakin penasaran apa isi kotak itu. Dan mengapa sikap Kevin terbilang kasar padanya....
Tak menunggu lama lagi, Nathan langsung membuka kotak itu. Melihat apa isi di dalam nya...
Deg....
Mata Nathan seketika membulat, jantung nya berdebar dengan kuat. Bagaimana bisa semua berkas itu ada pada Kevin. Pantas saja dia bersikap seperti itu kepada Nathan...
Nathan menatap kearah Kevin yang masih berpaling darinya. Bibir nya terasa kelu tak bisa berbicara, apa yang harus dia jelaskan?
" Kamu bisa lihat sendiri kan.... " Kevin berbalik menghadap Nathan.
" .....apa pendapat mu tentang itu " lanjutnya sembari mencoba untuk tetap tenang.
" Dari mana kamu mendapat kan ini semua? " jawab Nathan bertanya balik.
Kembali ia membalik kotak itu dan betapa terkejutnya. Dia melihat pesan yang tertulis mengatakan jika Nathan mengetahui semuanya...
" Sebaiknya kamu duduk dulu, kita bicarakan ini baik-baik " ucap Nathan memerintahkan Kevin untuk duduk.
Tetapi apa daya, Kevin sudah terlanjur emosi. Dia sudah dikuasai amarah sedari tadi. Dengan kasar nya Kevin menepis omongan Nathan...
" Tidak perlu basa-basi....langsung aja katakan apa itu benar? "
Nathan diam tak menjawab, tetapi mau di apa nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau dia jujur dan mengakui jika dia juga sudah tahu dari sebulan yang lalu...
Dia juga mengakui jika dia bersalah akan hal ini. Seharusnya dia tidak menyembunyikan semuanya dibelakang Kevin...
Mendengar penjelasan dari Nathan, tanpa sadar air mata Kevin keluar sendiri. Air mata kekecewaan, Nathan tidak bisa apa-apa Kevin berhak kecewa atau pun marah terhadapnya...
" Kau tahu.....seharusnya aku bahagia karna bisa menemukan keluarga ku kembali, tapi.... "
Kata-kata nya terhenti, bibir nya seakan tak bisa melanjutkan kata-kata yang begitu menyakitkan baginya.
" Kevin....maafkan aku!! Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan nya "
" ....hanya saja waktunya belum tepat "
Kevin menoleh dengan tajam, dia terkekeh dengan begitu jahatnya.
" hahah....jadi kapan waktu yang tepat? Sebulan? Dua bulan? Setahun? Lima tahun? Atau tidak sama sekali? "
" .....aku benar-benar kecewa padamu, aku kira kita adalah saudara, ternyata aku salah "
Kevin menghela nafasnya dengan kasar, lalu ia memalingkan wajah nya dari Nathan. Nathan hanya bisa menunduk dan diam...
" Aku pergi.....Kau begitu egois Nathan "
Itulah kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Kevin. Sebelum dia pergi meninggalkan Nathan diruang kerjanya sendiri. Dengan penuh rasa bersalah dan tentunya dia sadar sekarang. Jika dia sudah kehilangan Kevin...
Brukk....
Kevin membanting pintu ruang kerja Nathan dengan kuat..
Nathan terduduk diatas sofa, sembari mengusap wajah nya dengan kasar. Dia begitu marah kepada dirinya sendir, kepada ego nya yang begitu kuat....
Karna ego nya sendiri, Nathan sudah menyakiti orang-orang disekitar nya...
Dengan langkah lunglai dan air mata yangenetes membasahi wajah tampan nya, Kevin berjalan menyusuri lorong menuju lift.
Saat dipertengahan lorong, tidak sengaja dia berpapasan dengan Rens. Rens begitu terkejut melihat Kevin yang buru-buru dan wajah nya terlihat begitu sedih.
" Kevin....kamu tidak apa-apa? "
Saat hendak mendekat, Kevin langsung membuang muka dan tetap berjalan melewati Rens tanpa menjawab pertanyaan nya.
Rens terheran-heran melihat sikap aneh Kevin. Dia pun tersadar jika Kevin seperti itu bagaimana dengan Nathan....
" Apa mereka berdua bertengkar? "
__ADS_1
Rens langsung cepat-cepat berlari keruang kerja Nathan. Benar saja, dia begitu terkejut melihat semua barang-barang yang ada dimeja kerja Nathan. Berserakan dilantai, seperti sengaja dihempaskan kelantai.
Dia menoleh kekiri dan kanan mencari-cari sosok Nathan. Tetapi nihil, Nathan tidak ada didalam ruang kerja itu. Hatinya semakin cemas, dimana Nathan?
Tiba-tiba....
Prang.....
Terdengar bunyi pecahan gelas dari arah balkon. Rens terkejut dan langsung menghampiri sumber suara itu.
" Nathan..... "
Rens berlari menghampiri Nathan, yang tengah terduduk menjongkok didepan serpihan botol yang pecah. Matanya sembab, dan hidungnya memerah.
Rens langsung mendekap Nathan kepelukan nya. Dia tidak tahu jelas ada masalah apa diantara mereka berdua. Tetapi dia begitu tak tega melihat Nathan yang seperti ini....
Nathan melampiaskan amarah nya dan rasa bersalah pada Kevin pada sebotol wine yang dia minum. Setelah habis dia menghempaskan botol itu kelantai...
" Kevin maaf kan aku.... "
" ....aku tak bermaksud menyembunyikan nya "
" ....aku memang egois, kamu berhak untuk marah "
" ....tetapi aku mohon jangan tinggalkan adikmu ini, hiks hiks "
Nathan meranyau tak jelas sembari ia menangis dalam dekapan Rens.
" Nathan...tenanglah, boleh merasa bersalah asalkan jangan seperti ini hiks hiks "
Rens mengelus-elus kepala Nathan, mencoba untuk menenangkan nya. Melihat Nathan seperti ini membuat Rens ikut sedih, tanpa sadar air matanya ikut menetes....
Dia terus meranyau tak jelas, dan terus-terusan menangis hingga sesegukan memanggil-manggil nama Kevin. Sepertinya dia begitu merasa bersalah terhadap Kevin...
" Aku ini orang paling egois didunia ini.... "
Nathan memukul-mukul kepalanya sendiri. Rens panik dan langsung menahan tangan Nathan. Mereka pun bersitatap lama...
Wajah Nathan yang menangis sungguh membuat Rens tak sanggup untuk tak ikut menangis. Dia pun memopong tubuh berat Nathan berjalan masuk kedalam kamar mereka....
Rens keluar dari kamar, setelah menyelimuti tubuh Nathan dengan selimut tebal mereka. Hatinya begitu tak tenang, ingin sekali rasanya dia menghubungi Kevin dan meminta jawaban....
Tetapi diurungkan niat nya, mengingat tadi saja Kevin tak menghiraukan nya. Pasti jika dia menelpon tak akan dijawab oleh Kevin....
Dia pun teringat dengan kotak yang dibawa Kevin ditangan nya tadi. Kotak itu masih tergelatak diatas meja kerja Nathan...
Tak menunggu lama Rens langsung kembali keruang kerja Nathan. Sesampai nya disana dia pun menghampiro kotak itu.
Di buka dan digeledah nya isi kotak tersebut, sama seperti Mia dan Kevin. Rens saat itu sangat terkejut saat mengetahui kebenaran tentang Kevin dan Tara.
" Tidak mungkin....ini seperti takdir mempertemukan kita semua " gumam Rens.
" ....pasti karna pesan ini Kevin marah pada Nathan "
" ....Tapi siapa yang sengaja mengirim nya "
Pertanyaan demi pertanyaan mulai terbesit dibenak Rens. Dia penasaran akan pengirim dari kotak itu, pastinya tujuan orang itu adalah untuk membuat Kevin dan Nathan bertengkar....
****
Jam menunjukan tepat pukul tengah malam...
Diapartemen Mia dan Kevin....
Kevin memasuki unit nya dengan langkah gontai, kepalanya begitu pusing. Sepertinya dia habis mabuk-mabukan....
" Bee.....bee kamu dimana? "
Kevin berteriak-teriak memanggil Mia dengan sebutan sayang nya.
Saat itu Mia sedang berada dikamar nya. Dia terkejut saat mendengar suara Kevin diluar sedang memanggil nya. Dia pun langsung bergegas keluar dari kamar hendak menghampiri Kevin....
" Bee.....rupanya kamu disini "
Cups....
__ADS_1
Saat berhadapan dengan Mia, Kevin langsung memeluk nya dan melayangkan kecupan dikening Mia.
" Bee kamu kok bau sih.... "
Mia menutup hidungnya karna merasa nafas kevin sangat bau minuman.
" Aku bau apa bee? aku kan memang belum mandi hehehe "
Kevin kembali memeluk tubuh wanitanya itu dengan erat. Tetapi Mia terkesan menolak dan hendak menjauhkan dirinya.
" Lepasin aku bee....kamu mabuk yah, " ucap Mia kesal.
Namun tenaga Mia tak bisa menandingi tenaga Kevin. Kevin tetap bersikukuh mendekapnya erat.
" Biarkan seperti ini bee, sebentar aja " ucap Kevin lirih.
Mendengar nada suara Kevin yang lirih, Mia pun terhenti dan membiarkan Kevin mendekap dirinya.
" Apa aku ini benar-benar tak berarti apa-apa baginya bee.... "
Mia tersentak dan bingung dengan perkataan Kevin.
" Apa maksudmu bee aku tidak mengerti "
" Aku sudah menganggap nya sebagai adik kandungku sendiri, tapi kenapa dia begitu tega menyembunyikan semuanya padaku "
" ....aku salah apa bee "
Adik? apa maksudnya adalah Nathan?
" Ayo kita duduk dulu disofa yah biar kamu tenang dulu "
Mia memopong tubuh Kevin berjalan menuju sofa.
Setelah sama-sama duduk disofa, Mia langsung mengusap ait mata Kevin yang membasahi wajh tampan nya.
" Aku sungguh tak percaya jika dia setega ini padaku, hiks "
" .....aku benar-benar kecewa padanya "
" Bee kamu tidak boleh berkata seperti itu, aku yakin pasti ada seseorang dibalik semua ini "
" ....yang jelas orang itu sepertinya sengaja ingin membuat kalian berdua bertengkar "
Ternyata firasat Mia dan Rens sama persis. Sama-sama merasa ada yang janggal dan pastinya ada seseorang dibalik semuanya. Yang senang melihat pertengkaran Nathan juga Kevin...
Lama berpikir, Mia tak sadar jika Kevin telah tertidur bersandar disofa.
Mia mengusap air mata dan peluh Kevin dikeningnya. Lalu dikecup nya kening Kevin dengan lembut. Dibuka kan nya jas Kevin dan dasinya.
Setelah itu dia merebahkan Kevin terlentang diatas sofa. Sempat ia mengambil selimut dan bantal untuk Kevin.
Mia pun mengelus-elus kepala Kevin, beberapa kali ia mengecup keningnya.
" Bee....pasti saat ini hatimu sangat sakit, tapi tenanglah ada aku yang selalu menemani disisi mu "
" ....I love you bee "
Cups...cups...cups....
Tak lama kemudian Mia ikut tertidur dengan posisi duduk dilantai dan kepalanya disandarkan diatas tangan Kevin.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya yah , biar makin semangat 😊