
Setengah jam setelah kisah haru tangis tadi. Nathan mengajak Rens untuk makan malam bersama direstauran mewah yang ada diapartemen tersebut.
Mereka sama-sama menggunakan pakaian casual, nampak sangat lah serasi. Sepanjang perjalanan menuju Restauran Nathan sama sekali tidak melepaskan gandengan tangan istri nya.
Begitu pun Rens yang menggandeng erat lengan suami nya. Saat baru saja melangkah kaki memasuki Restaurant mewah tersebut ,Nathan dan Rens disambut langsung oleh Manager restaurant itu.
"Selamat malam Tuan Nathan, silahkan lewat sini saya sudah menyiapkan tempat yang biasa tuan pesan....." sambut Manager tersebut.
"Tidak perlu....saya ingin istri saya lah yang memilih tempat yang dia sukai...." tolak Nathan, dia memilih untuk mengikuti kemauan Rens.
Rens melirok Nathan dengan aneh, apa tidak salah Nathan meminta dirinya yang memilih tempat. Bagaimana jika Nathan nanti tidak menyukai nya.
"Kenapa sayang? ada yang salah dengan ucapan ku?" Nathan melihatku dengan tatapan licik nya. Seakan dia sedang bercanda pada Rens.
"hmm.....tidak kok hehehe" ucap Rens gugup.
"...kalau begitu aku ingin tempat yang berada diluar balkon dengan pemandangan indah..." Lanjut Rens, mulai mengutarakan keinginan nya.
Nathan tersenyum dengan keinginan Rens ,memilih tempat yang memang sama dengan yang biasa dia pilih. Namun dia sengaja tidak mengatakan nya pada Rens, melainkan hanya tersenyum.
"Apa-apaan....bukan kah itu tempat yang sama, yang biasa Tuan Nathan pesan!! Aneh" gumam Manager.
"Tapi tuan bukan kah......" belum selesai Manager itu berkata, Nathan mengedipkan Matanya. Mengisyaratkan manager itu untuk diam.
"Ada apa Manager apa tidak ada tempat yang kosong seperti itu?" Rens menoleh kesana kemari mencari-cari tempat kosong.
"Tidak sayang....tenang saja Manager akan menyiapkan nya untuk kita" Nathan memegang pundak Rens dan mencoba membuat tenang Rens yang sedikit cemas tidak mendapatkan tempat.
Nathan melototi Manager tersebut dan menatap nya tajam, Manager itu pun dengan sigap berlalu sembari mengarahkan Nathan dan juga Rens ketempat yang diminta Rens.
"Wahh....cepat sekali disiap kan nya!! jangan-jangan ini tempat milik orang yang sudah pesan lagi!! yah kan" Rens terpukau dengan tempat tersebut. Namun dia cemas jika tempat itu adalah tempat yang sudah direservasi orang lain.
Nathan hanya tersenyum mendengar ucapan Rens. Karna bagi Nathan, Rens tidak tahu saja jika itu adalah tempat yang sama yang biasa dipesan Nathan.
Sungguh kebetulan atau memang sudah takdir mempertemukan mereka.
"Tuan dan Nona silahkan duduk...." ucap Manager, mempersilah kan pasangan suami istri tersebut untuk duduk.
Nathan dan juga Rens pun duduk dipinggir balkon, memang pandangan nya tidak seindah dibalkon unit Nathan. Namun pemandangan direstaurant ini tak kalah indah . Ditambah pernak pernik lampu serta aksesoris menambah keromantisan makan malam mereka.
Tidak lama setelah memesan makanan, pelayan pun datang mengantar pesanan mereka.
Nathan dan juga Rens menyantap makanan mereka, malam ini Rens dan Nathan makan malam Steak daging sapi termahal dinegara mereka dengan sandingan wine terbaik direstauran itu.
"Bagaimana? apa kau menyukai nya sayang?" Nathan tersenyum sembari memotong sedikit demi sedikit daging milik nya.
"Hmm....aku suka!! sudah lama aku tidak makan direstaurant mewah!! Terakhir kali beberapa bulan yang lalu sebelum kepergian mamah dan papah..." Jawab Rens, namun seketika dia berhenti menyuap dan memalingkan wajah nya kearah pemandangan.
Saat ini tiba-tiba saja dia teringat pada mendiang orang tuanya. Dia memalingkan wajah karna tak ingin Nathan melihat kesedihan nya.
Tetapi sangat tau jika Rens sedih saat itu, meskipun dia memalingkan wajah nya. Melihat Rens seperti itu Nathan mengangkat gelas wine nya dan menyodorkan nya pada Rens.
__ADS_1
"Sayang....ayo bersulang untuk melupakan kesedihan kita, dan melangkah menuju kebahagiaan yang abadi" Nathan kembali tersenyum manis kepada Rens.
"Senyum itu......bukan hanya netra coklat mu yang kini menjadi favorite ku!! tapi kini senyuman itu menjadi candu terbaru untuk ku" Bathin Rens.
Rens mengangguk dan membalas senyuman Nathan. Dia mengangkat gelas wine nya dan menyatukan nya kepada milik Nathan....
Klang.....
Suara sentuhan kedua gelas tersebut, sebelum menyentuh kedua bibir mereka....
Mereka saling melempar tatapan hangat dan juga senyuman. Setelah itu mereka kembali menyantap Steak masing-masing.
.
.
.
Setelah beberapa waktu kemudian....
Rens berhenti menyantap makanan nya. Tiba-tiba terlintas begitu saja dibenak nya, kecemasan kembali merasuka fikirannya.
Sosok Sheila yang baik hati serta cantik ,sangat lah sempurna dan cocok dengan Nathan.
"Sheila begitu baik hati....apa aku sanggup bahagia diatas penderitaan seseorang...." gumam Rens dalam hatinya.
Nathan menatap kearah Rens, dia sadar jika Rens sedang melamunkan sesuatu saat ini.
"Eh iya maaf....hehehe" Rens terkejut dan tersadar kembali.
"hmm....kalau begitu cepat habis kan makanan mu sayang!! aku sangat lelah hari jni" Ucap Nathan, yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Rens.
.
.
.
.
.
.
Kini Nathan duduk diatas ranjang sembari menyenderkan kepalanya dengan bantal. Dia masih memikirkan Sheila, bagaimana jika benar ternyata Sheila adalah Stephanie, apa yang akan dia lakukan....
"Mau bagaimana pun, aku harus menyelidikinya dengan benar terlebih dahulu" Bathin Nathan tak tenang.
Rens baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan piyama tidur nya. Pandangan nya tertuju pada Nathan yang terlihat sedang melamun kan sesuatu.
Dia pun menghampiri Nathan perlahan, lalu ia ikut naik keatas ranjang dan duduk disebelah Nathan.
__ADS_1
"Nathan...." Rens menyentuh paha Nathan, membuat dirinya tersadar.
"Sayang....kamu sudah selesai!! ayo kita tidur, besok aku masih banyak yang harus dikerjakan..." ucap Nathan, sembari menarik tubuh Rens untuk berbaring bersama nya.
"Nathan apa aku boleh bertanya sesuatu?" Rens membalikan tubuh nya dan kini berhadapan dengan Nathan.
"....tapi aku harap kau berkata jujur yah" Lanjut Rens, dengan raut wajah serius nya.
Nathan pun sedikit penasaran apa yang ingin ditanyakan Rens hingga raut wajah nya seperti itu.
"Apa sayang.....sini mendekat padaku, aku ingin..cups...cups...cups....cups" Nathan berucap sembari ia menari wajah Rens kedekat nya, lalu ia melayang kan double kecupan mesra yang menjadi aktivitas rutin Nathan pada Rens.
"Nathan ih......aku serius" Rens mengusap wajah nya yang cemberut.
"hahaha....baiklah!! kau ingin bertanya apa? tapi berbalik kesana, aku akan memeluk mu dari belakang...." Nathan membalik kan tubuh mungil istrinya tersebut, lalu memeluk nya dari belakang.
"hmm....Nathan apa kau percaya jika Stephanie sudah meninggal....." Tanya Rens, sebenarnya dirinya sedikit ragu untuk bertanya.
Deg.....
"Ada apa? kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu? apa dia mengetahui keberadaan Sheila? Aghh...aku harus jawab apa pada nya" gumam Nathan.
Sadar akan Nathan tidak menjawab dan hanya diam. Rens pun kembali bertanya....
"Bagaimana jika dia masih hidup?"
Deg...deg....deg....
Jantung Nathan berdebar dengan begitu kencang, dia tidak menyangka Rens bisa bertanya seperti itu.....
"Hahaha.....kau ini bicara apa sih sayang!! yah jika dia masih hidup kenapa memangnya" Nathan sedikit gugup.
"Iya aku tau.....tapi apa kau akan meninggal kan ku? setelah menemukan Stephanie?" ucap Rens dengan Nada sedikit kesal.
"Aku tidak ingin membahas nya....sebaiknya kita tidur besok aku banyak kerjaan" Nathan mengalihkan pembicaraan.
"hmm...terserah jika kau tidak ingin menjawab ku" Rens melepaskan pelukan Nathan dipinggul nya.
Begitu pun Nathan yang berbalik membelakangi Rens. Seperti nya malam ini mereka tidur saling membelakangi satu sama lain.
"Seperti nya hatimu sedang tidak tenang, sebainya kau segera istirahat...." ucap Nathan dengan sedikit kasar.
"hmm..." jawab Rens singkat.
Sebenarnya Nathan sedikit kesal pada Eems yang menanyakan hal-hal aneh seharian ini padanya. Penat sekali rasanya hari ini, bukan hanya masalah Sheila tetapi juga semua pertanyaan dan sikap Rens membuat nya sedikit pusing.
Begitu pun dengan Rens, yang fikiran nya tak tenang. Perasaan takut dan cemas semakin besar dirasanya....
Dia takut jika Nathan benar-benar menemukan sosok Sheila yang mirip dengan Stephanie. Salah, bukan hanya mirip tapi memang benar Sheila adalah Stephanie...
Itu saja membuat fikirannya tak tenang dan takut, apa lagi jika dia tahu sebenarnya Nathan telah bekerja sama dengan pabrik ikan tuna milik Louis yang dikelola oleh Sheila.
__ADS_1
Pasti dirinya semakin tak kuasa menahan rasa takut akan kehilangan Nathan.