Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
MUSIM KE-3 : Episode 5


__ADS_3

Shina memberikan sapu tangan miliknya kepada Reghata. Wanita itu pun mengusap air matanya dengan jari-jari lentik nya tanpa menerima sapu tangan Shina.


Shina menarik kembali tangan nya yang terulur. Memasukan sapu tangan nya itu ke dalam saku celana nya. Disaat seperti ini Reghata masih saja menjunjung tinggi harga dirinya.


Ia pun beranjak dari duduk nya. Merapikan baju dan rambutnya. Lalu berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut. Disusul oleh Shina yang selalu setia di belakang nya.


"Setelah ini ada jadwal apa?" tanya Reghata dengan terus melangkah hingga keluar dari restauran.


"Ada meeting bersama Presdir Simon......" ucap Shina membaca jadwal Reghata yang sudah dia tulis di tabletnya.


"Baiklah....kamu hubungi sekertaris Tuan Simon, tanyakan dimana tempat pertemuan nya?" Reghata masuk ke dalam mobil duduk di kursi belakang.


"Siap nona...." dengan sigap Shina menuruti perintah Reghata. Wanita itu langsung berjalan sedikit menjauh dari mobil. Menghubungi sekertaris dari Presdir Simon, yang dibicarakan oleh mereka tadi.


Tinggal tiga hari lagi pernikahan ku....


Apa yang harus aku katakan padamu Mommy? Aku tidak mau kau kecewa jika pernikahanku dibatalkan, semoga ini keputusan yang tepat....


Reghata menatap sendu keluar jendela. Merenungi keputusan yang dia ambil ini. Semoga saja Gavin adalah pilihan tepat yang dia pilih. Tanpa memikirkan apakah sang ibu setuju atau tidak dengan keputusan nya ini.


***


Malam harinya....


Setelah habis membersihkan diri, berendam di air hangat aromatherapy. Reghata kini sedang duduk bersila di atas sofa sambil mengerjakan pekerjaan di laptop nya.


Walupun kini dia sedang berkutat dengan laptop nya. Tapi pikiran nya sedng melayang memikirkan Gavin. Kenapa pria itu lama sekali datang.


Malam semakin larut. Reghata sudah menyelesaikan pekerjaan nya. Ia menutup laptopnya lalu merenggangkan jari-jari dan pinggang nya yang nyeri kelamaan duduk.


Kenapa lama sekali sih dia datang? Apa dia tidak serius ingin membantuku? Apa dia hanya menganggap permintaan ku ini main-main....


Reghata melirik jam dinding. Menggerutu dalam hatinya. Tak lepas dari kekesalan Reghata. Gavin selalu saja membuatnya kesal setengah mati.


Sedetik kemudian bel apartemen nya berbunyi. Dengan semangat Reghata beranjak dan berlarian kecil menuju pintu depan. Membuka kan pintu untuk Gavin.


"Kenapa lama sekali sih?" gerutunya sambil membuka pintu. Tapi....


"Marvin...." lirih Reghata.


Dia tertegun dengan sosok yang berdiri di hadapan nya itu. Bukan nya Gavin tapi malah Marvin yang datang. Reghata pun mempersilahkan pria bertampang dingin itu.

__ADS_1


Kini mereka berdua duduk berhadapan di sofa ruang santai. Reghata duduk dengan kaki yang saling menumpu dan tangan yang melipat di depan dada. Masih kesal dan marah terhadap Marvin.


"Apa kamu sedang menunggu seseorang?" tanya Marvin dengan wajah datar sambil mengedarkan pandangan nya menyapu sekeliling.


"Hmm..." Reghata hanya berdehem dan mengangguk. Bola matanya memutar malas menatap Marvin.


"Ada apa dengan wajah mu? Habis dipukuli berapa preman?" tanya nya sinis menatap Marvin dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Penampilan nya masih keren dan menawan. Tapi ada yang salah dengan wajah nya. Nampak luka memar di ujung bibir dan pelipis nya luka.


"Aku---"


Jawaban Marvin terpotong dengan bunyi bel apartemen Reghata yang baru saja ditekan. Ada seseorang lagi yang baru datang. Tak lain adalah Gavin.


Reghata kembali beranjak dan membukakan pintu untuk Gavin. Lalu mempersilahkan nya masuk. Gavin terkejut melihat sang kakak yang ternyata berada disana.


"Marvin? Apa yang kamu lakukan?" tanya Gavin sembari duduk tepat disebelah Marvin.


Marvin tersenyum kepada adik kesayangan nya itu. "Ternyata dia sedang menunggu mu....aku baru saja datang."


"Jadi apa tujuan mu kesini?" masih dengan sinis Reghata menatap Marvin.


"Kebetulan ada Gavin juga.....aku ingin meminta tolong" ucap Marvin menatap Reghata dan Gavin secara bergantian.


"Menikahlah dengan Reghata, gantikan aku" jawab Marvin ringan tanpa merasa bersalah.


Manik mata Reghata menajam seiring dengan deruan nafas nya yang panas. Menahan rasa kesal dan amarah nya sedari tadi.


"Bisa gak sih kamu jadi pria yang gak menyebalkan sekali aja....dengan seenak nya kamu membatalkan pernikahan dan sekarang kamu meminta adikmu untuk menikahi ku? Dimana otak mu itu? Kenapa aku harus terjebak dengan kakak beradik seperti kalian....persetan dengan perjodohan dan pernikahan ini...." Reghata berdiri dan memaki Marvin yang duduk di hadapan nya.


Amarah dan emosi nya keluar begitu saja. Tatapan tajam penuh kebencian tertuju pada Marvin. Sedangkan Gavin tertegun dengan ucapan Reghata yang sedikit menyakiti hatinya.


Apa kamu menyesal telah mengenalku Re? Mendengarmu berkata seperti itu, membuat hatiku sedikit perih....


"Kamu mau kemana?" Gavin berdiri meraih tangan Reghata ketika wanita itu hendak melangkah pergi. Sedangkan Marvin tertunduk lesu. Dia merasa bersalah dan benar-benar menyesal telah membuat kekacauan yang membuat Reghata kebingungan untuk menyelesaikan nya.


"Lepaskan aku....aku tidak tahan terus disini melihat tampang nya yang sangat membuatku muak...." ucap Reghata penuh amarah.


Gavin pun melepaskan tangan Reghata. Membiarkan nya melangkah pergi.


"Aku sudah menikah....." ucap Marvin tiba-tiba saja membut langkah kaki Reghata berhenti. Keduanya langsung menoleh kearah Marvin bersamaan.

__ADS_1


"Menikah? Dengan siapa?" ucap keduanya bersamaan lagi.


Apa dia gila? Sepuluh hari lagi pernikahan kami, tapi dia malah sudah menikah dengan perempuan lain? Sepertinya otak nya sudah benar-benar tidak waras....


Reghata benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Marvin. Menikah? Dengan siapa pria itu menikah? Kenapa mendadak seperti itu? Sedangkan dia sudah tahu akan menikah dengan Reghata sepuluh hari lagi.


"Itu tidak penting....nanti aku pasti akan memberitahu kalian tentang nya....yang terpenting sekarang, kalian berdua harus melaksanakan pernikahan ini....media hanya mengetahui jika pewaris Grup Efron akan menikah dengan pewaris Grup Louis....tidak ada yang mengetahui jika itu aku atau Gavin....jadi pernikahan ini harus tetap dilaksanakan, jika tidak perusahan Louis dan Efron akan tercemar namanya...." jelas Marvin panjang lebar. Dengan raut wajah yang meyakinkan.


Reghata dan Gavin diam menyimak semua perkataan Marvin.


Benar juga yang dia katakan, media tidak tahu siapa yang akan menjadi calon suamiku diantara mereka berdua....


Reghata menimbang-nimbang didalam pikiran nya.


"Apa luka-luka itu ada sangkutan nya dengan wanita yang kamu nikahi diam-diam itu?" tanya Gavin menatap Marvin dengan lekat. Mengharapkan jawaban yang sejujur nya dari manik mata kakak nya itu.


Ketika hendak menjawab Marvin terhenti. Reghata langsung menggenggam tangan Gavin dan berkata. "Baiklah....aku akan menikah dengan Gavin, tiga dari sekarang....tapi kita harus rahasiakan tentang rencana ini dari orang tuaku dan orang tua kalian....biarkan mereka mengetahui semuanya setelah pernikahan selesai...."


Gavin terkejut dengan tangan nya yang terasa hangat karna genggaman tangan Reghata yang begitu erat. Ia hanya bis diam menatap ke arah Reghata yang berucap panjang lebar.


Gavin benar-benar tidak fokus. Matanya tidak berhenti menatap wanita cantik di sebelah nya itu. Sampai-sampai tidak mendengarkan perkataan nya.


Ini kali pertama kamu menggenggam tanganku Re....


Selanjutnya akulah yang akan menggenggam tangan mu dengan erat seperti ini, dan aku tidak akan pernah melepaskan nya....


Reghata menoleh menatap balik Gavin yang melongo menatap nya. "Apakah kau setuju?" tanya nya, membuyarkan lamunan Gavin saat itu.


"Hah? Oh iya-iya aku setuju, terserah padamu saja...." jawab Marvin kikuk, lalu memalingkan wajah nya yang memerah.


Ada apa dengan nya? Kenapa wajah nya memerah? Oh my god....Reghata kenapa kamu menggenggam tangan nya, Akhhh sangat memalukan....


Reghata histeris berteriak didalam pikiran nya.


Reghata menyadari sikap aneh Gavin. Dia pun langsung melepaskan tangan Gavin. Wajah cantik nya ikut memerah karna malu.


Sedangkan diujung sana. Marvin tersenyum lebar melihat kecanggungan di antara pria dan wanita di hadapan nya itu. Walaupun merasa sedikit bersalah terhadap Reghata. Tapi disisi lain Marvin merasa bahagia bisa melihat sang adik yang juga pastinya bahagia. Karna sudah bisa menyatukan Gavin dengan wanita yang dia cintai.


Marvin yakin dengan berjalan nya waktu rasa cinta akan tumbuh diantara kedunya. Hati Reghata yang sekeras batu itu, pasti akan bisa ditembus oleh Cinta Gavin.


TBC.

__ADS_1


Note : Jangan lupa untuk like dan vote, biar aku tambah semangat untuk up nya. Happy Readings🌹🌹🌹


__ADS_2