
Saat itu Rens dan Mia sedang duduk bersama dibalkon kamar nya, sembari meminum coklat hangat dan mengobrol.
" Apa sampai sekarang kamu belum juga mengatakan pada Nathan tentang kandungan mu? "
Tanya Mia tiba-tiba, dia menatap intens Rens.
Rens terkejut dan langsung menoleh, menatap Mia dengan menggeleng kan kepala.
" Aku akan memberitahunya setelah dia pulang nanti... "
Sahut nya lirih. Kemudian Rens memalingkan wajah sedih nya. Mia tak sanggup melihat kesedihan diwajah sahabatnya itu, dia pun menggenggam erat tangan Rens.
Mia sangat tahu jika saat ini mereka sama-sama memiliki perasaan cemas. Terhadap kedua pria yang sedang berhadapan dengan maut itu.
Tiba-tiba saja, petir menyambar dan guntur begitu keras bergemuruh. Hujan pun turun seketika dengan derasnya. Rens dan Mia terkejut, lalu masuk kembali kedalam kamar.
" Kenapa perasaan ku jadi aneh seperti ini..... "
Rens duduk diatas ranjang sembari memegangi dadanya yang berdebar seketika. Mia pun duduk dipinggiran ranjang .
" Ada apa? "
" Ngga tau, kok perasaan ku sedikit aneh aja!! Coba deh kamu telpon Kevin tanya kabar "
" Hmm....bentar yah "
Mia pun beranjak dan hendak menghubungi ponsel Kevin. Namun sebelum dia menghubungi, ponselnya pun duluan berdering panggilan masuk dari Kevin.
" Tuh kan.....Dia hubungin duluan "
Mia langsung mengangkat panggilan Kevin dengan cepat....
" Hallo bee? "
" .... "
" Ada....ini sama aku, kenapa? "
" .... "
" Hah? "
" .... "
Panggilan terputus...
Seketika Rens melihat raut wajah Mia berubah , Rens pun mendekat dan menatap Mia penuh tanya. Kemudian Mia memegang kedua pundak Rens dan menatap nya dengan tatapan cemas....
" Ada apa Mi.... "
" Rens kamu tenang dulu yah, Nathan..... "
" Ada apa sih Mi, Nathan kenapa? Hiks hiks "
Belum apa-apa Rens sudah panik dan meneteskan air matanya. Apa terjadi seseuatu pada Nathan?
__ADS_1
" Kevin bilang Nathan terluka karna jatuh dari gedung lantai enam.... "
" Apa? Ngga mungkin....kamu bohong kan Mi "
Rens begitu terkejut, dia menutup mulut nya dengan kedua tangan nya. Tangisan nya pun pecah seketika, dia menangis didekapan Mia.
" Rens....kamu yang sabar, kasian baby nya kalau kamu nangis "
" Mi....aku ngga mau kehilangan Nathan, aku takut hiks hiks hiks "
" Nathan pasti baik-baik aja, sebaiknya kita berdoa aja "
" Seharusnya aku menahan nya pergi tadi "
Rens menangis hingga terisak-isak. Dada nya begitu sesak, sakit sekali seperti tertusuk-tusuk jarum. Tubuh nya melemas, fikiran nya begitu tak tenang....
" Aku mau ketemu Nathan Mi....pliss bawa aku bertemu Nathan hiks hiks "
" Baiklah....tapi kamu tenang dulu yah "
Rens mengangguk dan menatap Mia dengan penuh harapan. Air matanya tak bisa berhenti mengalir, sedih, takut, cemas, panik, kacau, bercampur menjadi satu.....
Seketika dia teringat kejadian saat hari dimana orang tuan nya meninggal, sama seperti sekarang ini perasaan yang dirasakan nya. Dia menjadi semakin ketakutan, akan kah nasib Nathan akan sama dengan orang tuanya?
" Tidak....tidak....aku tak mau melihat ujung kematian orang yang aku cintai untuk kedua kalinya, aku mohon tuhan selamatkan suami ku " Bathin Rens.
Mereka berdua pun dengan dikawal oleh dua orang pesuruh Nathan tadi. Dengan cepat bergegas kerumah sakit menyusul Nathan dan Kevin.
.
.
.
Mia menuntun Rens mendekat pada keduanya, setelah dekat Barbara langsung menghambur memeluk Rens. Mereka berdua sama sama menangis tersedu-sedu.
" Bagaimana keadaan Nathan Mih? Nqthan baik-baik aja kan "
Ucap Rens.
" Mamih tidak tahu, Mamih sangat takut Nathan tidak bisa selamat "
" Mamih tidak boleh berkata seperti itu, Nathan pasti akan bertahan Mih.... "
" .....Dia harus bertahan demi Rens dan Baby " lanjutnya dengan suara serak.
Barbara seketika terdiam dan menatap intens wajah Rens. Rens pun mengangguk dengan air mata yang membasahi pipinya dia tersenyum.
" Rens tengah mengandung anak Nathan Mih.... "
Tangisan kedua nya semakin pecah, merasa ketidak adilan ini. Betapa sesak yang dirasakan Rens, dia menyesal karna tak sempat memberitahu Nathan mengenai kehamilan nya.
Berat sungguh berat rasanya, nasi sudah menjadi bubur...
Kevin yang mendengar nya pun ikut meneteskan air matanya. Kasihan sekali Nathan, dia akan menjadi seorang ayah tapi dengan keadaan nya sekarang. Apa dia masih bisa selamat apa tidak?
__ADS_1
Hatinya semakin sakit mengingat detik-detik Nathan terjatuh dari gedung lantai enam tadi. Apa yang dirasakan Nathan saat itu, pasti sangat sakit dirasanya...
Sesaat kemudian Dokter dan satu orang suster keluar dari ruangan dimana Nathan berada. Lalu dengan cepat Rens menghampiri Dokter itu, disusul dengan ketiga orang dibelakangnya.
" Bagaimana keadaan suami saya Dok...hiks hiks "
Ucap Rens panik menyambar Dokter dan suster itu.
" Keluarga yang tenang, saat ini kami sedang berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Tuan Nathan.... "
" Tapi Dok, anak saya pasti akan selamat kan "
sanggah Barbara.
" Nyonya berdoa saja kepada Tuhan....dan menunggu operasi nya selesai, baru kita dapat memastikan jika Tuan Nathan baik-baik saja apa tidak.... "
Jelas Dokter kembali, sebelum dia pergi meninggalkan semua orang.
****
Tujuh jam telah berlalu....
Selama lima jam itu Kevin dan Mia sempat untuk pulang keapartemen atau pun makan dan melakukan hal lain, begitu pun juga Barbara. Sedangkan Rens dengan setia dia tetap menunggu hingga operasi selesai.
Dia tak mau beranjak sedetik pun disana, yang dicemaskan nya hanyalah Nathan saat ini. Bahkan makan pun Mia membawakan nya dan makan didepan ruang operasi itu.
Kini Rens, Barbara, dan juga Kevin sekaligus Mia. Sama-sama tengah duduk dibangku tunggu yang telah disiapkan itu.
Kevin berdiri dan sesekali mengintip dikaca pintu yang bertirai hijau. Dia menoleh dan memandang kearah Rens yang kini dalam keadaan lesuh sekaligus berantakan.
Ada perasaan iba serta sedih yang dirasakan oleh nya, wanita itu telah mengandung anak Nathan yang juga keponakan nya. Seharusnya sekarang ini menjadi hari yang bahagia untuk mereka semua, saat mengetahui kabar bahagia Rens Hamil.
Tetapi Kenyataan nya, mereka malah menghadapi peristiwa mengerikan seperti ini. Bahkan Nathan yang seharusnya menjadi orang paling bahagia, malah sedang berjuang untuk hidup dibalik ruang Operasi itu.
Sesaat kemudian Lampu ruang operasi telah mati, menandakan operasi telah selesai. Para Dokter dan Perawat keluar dari ruangan itu.
" Permisi.....untuk keluarga Tuan Nathan Efron bisa langsung keruangan Dokter Rey untuk mengetahui hasil dari operasi nya "
ucap salah satu perawat, Rens dan Barbara pun dengan cepat langsung menghampiri perawat itu.
" Baik....kemana kita harus pergi? "
sahut Rens yang sudah tidak sabar lagi, untuk mendengar keadaan suami tercinta nya.
" Silahkan lewat sini..... "
Perawat tersebut langsung menuntun Rens dan Barbara, keruangan Dokter Rey. Sedangkan Kevin dan Mia tetap menunggu didepan ruang operasi.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf yah Author baru up sekarang. Untuk yang nanya kemarin Author gak up, karena Author memang biasa setiap hari selasa off dulu untuk up jadi maafkan yah๐๐
Terus dukung Karya Author yah dengan like dan komentar positif nya. Jangan lupa untuk Vote juga yah biar Author tau keberadaan kalian dan apresiasi kalian dalam menunggu up selanjutnya๐๐๐๐๐ค๐ค