Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART~72


__ADS_3

*****


POV Sheila~


Aku baru saja pulang dari kantor, hari ini sangat sibuk karna aku harus mengurus keperluan kontrak untuk Pabrik.


Aku harus menyelesaikan kontrak kerja sama ini sebelum kembali kevilla dan pabrik.


.


.


.


Setelah selesai membersihkan diri, aku pun kembali kekamar dan merebahkan diri diranjang. Kupandangi langit-langit kamar itu.


Sudah hampir 3 hari aku berada disini, dikediaman Tuan Louis. Memang sebenarnya aku disini hanya dipanggil untuk masalah pekerjaan.


Tapi perhatian Tuan dan Nyonya Louis terhadap ku begitu istimewa. Aku merasa telah memiliki sebuah keluarga, walaupun aku sama sekali belum mengingat jati diri ku yang sebenarnya.


Siapa aku? Dimana asalku? dan apa yang membuatku hingga mengalami Amnesia? Aku benar-benar tak mengingat apa pun...


Sempat terlintas difikiran ku....


Jika aku adalah orang baik atau jahat? dan apa aku memiliki kekasih atau keluarga? mungkin juga tidak, nyata nya tidak ada yang mencari ku selama ini...


Tetapi aku bersyukur atas kejadian yang menimpaku, yang membuat ku bertemu akan sosok Tara.....


Bagiku Tara adalah penyelamat hidupku, meskipun ku rasa aku lebih tua umur dari nya. Sikap nya yang dewasa dan perhatian terhadapku, sudah berhasil membuat ku jatuh cinta padanya....


Dia memiliki wajah yang sangat tampan, hidung mancung, mata sipit khas korea, dagunya terbelah, bibir yang tipis, dan tatapan Matanya sangat membuatku mabuk olehnya...


Namun apa aku sudah melewati batas, karna telah mencintai nya? Aku dan dia sangat berbeda jauh dia memiliki keluarga yang jelas asal usul nya sedangkan aku? jangan kan keluarga bahkan nama ku sendiri aku tidak mengingatnya....


Tanpa sadar air mata ku menetes dengan sendirinya. Sangat sakit hatiku jika mengingat betapa jauh perbedaan kami. Terlebih aku mengetahui dengan jelas jika Tara telah mencintai wanita lain....


Saat mengetahui nya pertama kali, hatiku seperti diremuk dan hancur berkeping-keping. Seperti harapan ku telah hancur.


Mungkin ini memang sudah takdir ku yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan. Dia slalu menceritakan keluh kesah nya terhadap wanita yang ia cintai itu padaku.


Yah aku bisa apa? aku hanya bisa menyediakan pundak untuk dia bersandar saat bersedih. Itu sudah menjadi kebiasaan bagiku.


.


.


.


Hari ini saat dirapat tadi pagi, aku belum bisa melupakan wajah Presdir Nathan pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan Pabrik tuna kami.


Wajah nya seperti sangat terkejut saat melihat diriku, tatapan nya padaku lah yang membuat ku tidak bisa lupa.


Ada apa dengan nya? bahkan dia sempat memanggil ku dengan sebutan Stephanie? siapa Stephanie? aneh saja bagiku.

__ADS_1


Aku sedikit ngeri, merinding gitu. Selama rapat berlangsung dia terus menerus menatap ku seperti ingin memakan ku saja.


Sebagai wanita, yah jelas aku merasa risih bagaimana tidak jika ada seorang pria yang baru dikenal menatap mu seperti itu. Pasti ngeri kan.


Aku sempat berfikir, apa Presdir itu menyukai ku yah?


Memang sih dia sangat tampan dan berkarisma. Tapi bagiku tetap saja Tampan Tara kebanding dia, karna hatiku sudah aku putuskan hanya untuk Tara seorang walaupun hanya cinta sepihak, tapi aku bahagia.


****


POV Author~


Tara sedang duduk ditaman belakang rumahnya, dia sedang melamun memikirkan Rens.


"Rens benarkah kau sudah bahagia dengan Nathan, jika kau sudah bahagia aku tidak akan mengganggu kebahagiaan kalian berdua!! melihat mu bahagia sudah sangat cukup bagiku...." Bathin Tara.


Tara memandang sendu kearah bunga-bunga yang indah itu walaupun dimalam hari.


Tiba-tiba saja dari belakanh seseorang memegang pundak nya. Dia pun terkejut dan sontak menoleh.


Ternyata itu adalah Sheila, Sheila sedari tadi sudah memperhatikan Tara dari balkon kamarnya.


"Aku tahu pasti kau sedang memikirkan dirinya..." Bathin Sheila.


"Tar....ngapain malam-malam gini belum tidur" Ucap Sheila sembari tersenyum pada Tara.


Tara pun membalas senyuman Sheila, dan berkata..


"Aku boleh gabung ngga....." Sheila berucap seraya ia menunjuk tempat disebelah Tara.


"Ya boleh lah.....sini duduk" Tara menggeser duduk nya hingga menyisakan tempat untuk Sheila. Sheila pun segera duduk disebelah Tara.


"....kamu sendiri, kenapa belum tidur" Tara bertanya balik kepada Sheila.


"hehehe......aku juga belum bisa tidur, terlalu banyak perkerjaan yang aku fikirkan" Sahut Sheila.


"Ohh.....bagaimana dengan rapat tadi pagi? aku dengar akan ada penanam saham baru di Pabrik" Tara bertanya sambil menatap Sheila.


Sheila yang ditatap oleh Tara pun, menjadi sedikit gugup. Dia langsung memalingkan wajah nya kearah lain.


"hmm...iya kau benar sekali !! Tadi pagi kita sudah rapat bersama dan menandatangani kontrak terbaru...." ucap Sheila dengan nada sedikit malas.


"Bagus lah......tapi kenapa wajahmu seperti itu? apa kau tidak suka jika ada perusahaan yang mau menanam saham besar dipabrik kita?" Tara sedikit bingung saat melihat raut wajah Sheila yang cemberut saat berbicara.


"Yah engga lah.....aku malah senang jika Pabrik kita akan semakin maju jadinya!! cuman ada sesuatu yang menjanggal hatiku......."


Tara mengerutkan dahinya, saat sheila mengatakan hatinya menjanggal. Dia semakin penasaran jadinya, Tara pun bertanya lagi.....


"Ada apa dengan nya ? aku sama sekali tidak pernah melihat nya mengeluhkan masalah pekerjaan, tapi mengapa hari ini untuk pertama kalinya dia mengeluh....." Gumam Tara sembari ia tersenyum.


Dia memang selalu bangga dengan sikap bijaksana dan dewasa dari Sheila. Dia melihat Sheila adalah type wanita apa adanya yang tidak pernah mengeluhkan sesuatu.


Meskipun ia sangat tahu jika dibalik senyuman Sheila dia menyimpan begitu banyak beban dihatinya.

__ADS_1


Dia tidak mengeluh meskipun demi pekerjaan dia kadang harus lembur hingga pagi di Pabrik jika ada masalah. Dia type orang yang tidak mau jika hanya karyawan saja yang merasa lelah karna bekerja melainkan dirinya sebagai seorang GM disana juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh karyawan.


Dia juga tidak pernah mengeluh tentang masa lalu nya yang sama sekali dia tidak ingat. Yang jelas dihadapan Tara dia selalu tersenyum tanpa beban.


Itulah sosok Sheila dimata seorang Tara, untuk itu Sheila selalu menjadi tempat pilihan Tara untuk bercerita keluh keaah nya.


"Apa yang membuat hatimu menjanggal ? katakan saja padaku, biar hatimu sedikit tenang" Tanya Tara, tersenyum.


"Manisnya.....sebenarnya jika melihat senyuman mu saja sudah membuat hatiku tenang Tar, apa aku harus mengatakan sejujurnya saja padanya tentang Presdir Nathan" Gumam Sheila, hatinya ragu untuk bercerita pada Tara.


"hmm....." Sheila ragu-ragu.


"Katakan saja, kenapa kau ragu padaku? seperti tak mengenalku saja" Tara berusaha meyakinkan Sheila untuk mengutarakan isi hatinya.


"Sebenarnya.....tadi saat rapat bersama presdir perusahaan baru itu, aku sedikit risih" Sheila berkata masih dengan ragu-ragu.


"Risih gimana maksudmu?" Tara menaikan alisnya satu.


"Presdir itu selalu memandang kearah ku......yah aku jadi risih"


"bukan kah biasa.....siapa yang bisa menahan diri untuk tidak melirik kearahmu, karna kamu cantik hahaha" ucap Tara disusul dengan candaan nya.


Wajah Sheila seketika memerah karna malu, untuk pertama kalinya Tara mengatakan jika dirinya cantik.


"Aku serius Tar...."


"...tatapan nya itu berbeda!! aku tidak mengerti tatapan nya itu seperti terkejut, tidak percaya, dan tatapan sedih!!" lanjut Sheila mencoba menjelaskan.


"Benarkah?" Tara berkata dengan raut wajah tidak percaya.


"Bahkan dia sempat memanggilku dengan sebutan Stephanie.....siapa itu Stephanie"


"Kau harus berhati-hati padanya......bisa saja dia punya niat jahat padamu" Tara merasa cemas akan Sheila.


Sheila tersenyum mendengar Tara mencemaskan dirinya.


"hmm.....baiklah aku akan berhati-hati padanya"


"aku balik duluan kekamar....kamu jangan lama-lama diluar cepat kembali kekamar mu dan istirahat...." Tara beranjak dari duduk nya, lalu dia berjalan memasuki rumah.


"Tadi itu dia mencemaskan ku? hmm....walaupun hanya begitu tapi aku bahagia Tar!!" Bathin Sheila.


"Aku sedikit khawatir padamu, tapi aku yakin kau bisa menjaga dirimu sendiri Shei.....kamu wanita hebat dan kuat...." gumam Tara, diperjalanan menuju kamarnya.


Sepeninggal Tara, beberapa menit kemudian Sheila memeutuskan untuk kembali masuk kedalam kamarnya.


Setelah itu dia merebahkan tubuhnya diranjang lalu tidur dengan lelap menyambut esok hari.


Bersambung~


Jangan lupa untuk Vote dan like nya yah my readers....


happy reading🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2