Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
MUSIM KE-3 : Episode 28


__ADS_3

Sore menuju senja. Rey mengendarai mobil membelah jalanan menuju rumah sakit. "Sabar Bos bertahanlah, sebentar lagi kita sampai." Ucap Rey melirik sekilas ke arah Gavin.


"Rey cepetan sedikit....Gavin sudah tidak sadarkan diri, bagaimana ini....huaaa"


Tangisan Reghata semakin pecah. Ia memeluk Gavin dengan sangat erat.


Tepat pukul tujuh malam. Sudah terkonfirmasi dari pihak rumah sakit. Bahwa pasien atas nama Gavin Louis masuk di ruangan Unit Gawat Darurat.


Sepanjang pemeriksaan yang dilakukan para tenaga medis ditempat itu kepada Gavin. Reghata setia berada di sebelah Gavin. Menggenggam erat tangan suaminya itu. Sesekali ia juga mencium punggung tangan Gavin. Dengan air mata yang berlinangan di pipi nya.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Tuan Gavin hanya mengalami keram perut, karena lambung nya yang bermasalah...." ucap sang dokter kepada Reghata.


"Tapi, kenapa? Apa yang membuat dia seperti itu dok?" tanya Reghata.


"Ini terjadi karena pola makan yang tidak beraturan, untuk beberapa hari saya mengusulkan agar Tuan Gavin menjalani pengobatan intensif disini...." jawab dokter.


"Jadi maksud anda suami saya harus di Opname?" tanya Reghata lagi.


"Benar sekali...."


"Baiklah, tolong berikan pengobatan terbaik untuk suami saya dok...." ucap Reghata.


"Pasti Nyonya, kami akan memberikan pelayanan terbaik...."


Dokter itu pun berlalu pergi bersama ketiga perawat. Meninggalkan Reghata dan Gavin. Tidak lama kemudian Gavin di pindahkan keruangan rawat inap VIP.


Didalam ruangan rawat inap VIP. Reghata duduk di kursi tepat di sebelah ranjang tempat Gavin terbaring. Ingin rasanya dia membangunkan pria itu. Tapi Reghata mengurungkan niat nya. Dia akan pulang setelah Gavin bangun saja.


"Bagaimana bisa kamu seperti ini? Apa makan mu tidak teratur? Aku sangat khawatir dan mencemaskan mu."

__ADS_1


Reghata menggenggam tangan kanan Gavin yang tidak di infus. Karena merasa begitu lelah akhirnya Reghata tertidur. Wanita itu terlelap sambil menundukkan kepalanya di pinggiran ranjang dengan masih menggenggam tangan Gavin.


Gavin pun terbangun. Dia mengedarkan pandangan nya menyapu sekeliling. Mendapati sosok Reghata yang tengah terlelap. Sunggingan senyuman lemah tergambar di wajah Gavin.


"Kau pasti sangat kelelahan...." Gumam Gavin.


Gavin mengusap lembut kepala Reghata sambil tersenyum. Gavin pun berusaha untuk beranjak dari ranjang perlahan.


"Awwh...."


Lagi-lagi perut nya terasa sakit. Gavin meringis memegangi perutnya. Tapi kemudian dia kembali menggeser tubuhnya turun dari ranjang.


Pria itu berjalan mendekati sang istri. Lalu menggendongnya naik ke atas ranjang. Reghata tak bergeming. Tetap saja dia terlelap dengan nyenyak nya.


Beberapa saat kemudian Reghata terbangun. Dia sangat terkejut mendapati dirinya yang berada di atas ranjang. Sedangkan Gavin tengah duduk santai di sofa bersama dengan Rey.


Gavin memerintahkan Rey pergi menyiapkan mobil untuk Reghata. Dengan sigap pun Rey beranjak pergi meninggalkan keduanya.


"Kenapa kau tidak membangunkan ku?"


Reghata berjalan menghampiri Gavin dan duduk disebelah nya. Gavin tersenyum cerah seperti biasa saja, tidak merasakan sakit di perutnya. Padahal sebenarnya perut nya masih sangat terasa sakit. Hanya saja kali ini Gavin tidak ingin membuat Reghata cemas.


"Pulanglah Re, aku sudah meminta Rey untuk mengantarmu" ucap Gavin.


"Tapi bagaimana denganmu? Apa masih terasa sakit?"


Gavin menatap lekat kedalam netra indah milik Reghata. Kecemasan dan kekhawatiran tergambar jelas. Gavin mengusap lembut pucuk kepala sang istri.


"Aku sudah tidak apa, istirahatlah dirumah besok kau masih harus bekerja...." Ucapnya.

__ADS_1


"Hmm.... baiklah, tapi bagaimana dengan paman Kevin dan bibi Anna? Aku belum sempat mengabari mereka" ucap Reghata merasa sedikit tidak enak kepada Gavin.


"Tidak usah khawatir, Rey sudah menghubungi mereka!! Paman Tara juga tadi sudah datang kemari...." Ucap Gavin.


"Apa? Kenapa kau tidak membangunkan ku? Sangat memalukan sekali, entah apa yang akan paman mu pikirkan tentang ku?" Reghata menggerutu.


"Hahaha, sudahlah paman ku tidak akan berpikiran macam-macam kepadamu sayang...." Gavin tergelak sembari tangan nya mencubit pipi Reghata.


Deg.


Jantung Reghata berdegup sangat kencang. Wanita itu jadi gugup. Mungkin karena Gavin memanggil nya dengan sebutan sayang. Membuat hati Reghata melayang saat itu juga.


"Re....Reghata?" Gavin melambaikan tangan nya di depan wajah Reghata. Membuat wanita itu tersadar dari lamunan nya.


"Hah? I-iya...." Sahut Reghata gugup.


"Pulanglah, Rey pasti sudah menunggumu sedari tadi...." Ucap Gavin tersenyum.


Entah kenapa Reghata merasa kecewa karena Gavin menyuruhnya segera pergi. Padahal dia masih ingin menemani suaminya itu.


"Baiklah....aku pergi dulu, jika ada sesuatu langsung hubungi aku...." Ucap Reghata seraya beranjak dari duduk nya.


Gavin mengangguk sembari melambaikan tangan nya. Menatap kepergian sang istri yang menghilang dari balik pintu.


TBC. (To Be Continued)


Note : Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar☺️☺️


Vote dan beri hadiah Author supaya Author nya semangat untuk up💪🏻💪🏻

__ADS_1


__ADS_2