Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART 52


__ADS_3

"Sepertinya dia benar-benar tidak tahu Nathan dimana, tapi kenapa dia tidak bertanya padaku? wanita aneh" Gumam Kevin.


Kevin pun kembali duduk disebelah Rens setelah pergi mengambil ponsel Rens didalam kamar.


Rens mulai mengecek ponselnya itu, benar saja ada puluhan panggilan tak terjawab dinotifikasi layar depan ponselnya.


Saat dibukanya hampir semua panghilan itu berasal dari Mia, saat discroll nya makin kebawah tiba-tiba matanya melotot melihat panggilan tak terjawab dari "Si Pemarah". Jantungnya mulai berdegup dengan kencang nya.


Lalu dengan cepat ia membuka Whatsapp nya, perasaan nya mengatakan Nathan pasti mengirim pesan untuk nya.


Benar sekali, perasaan nya tidaklah salah. Nathan mengiriminya pesan saat dirinya sudah tertidur semalam. Dibuka dan dibaca nya pesan tersebut, seketika wajah nya memerah ada perasaan bahagia menghampiri hatinya karna Nathan mengirim pesan walaupun singkat. Namun ditepis nya perasaan itu mengingat sakitnya dia melihat foto Nathan bersama dengan Stephanie, ditambah dengan asumsi-asumsi nya yang yakin Nathan saat ini sedang bersama wanita itu.


"Aku ngga akan berharap lagi padamu Nathan....sudah cukup bagiku, aku tidak mau semakin sakit hati jika terus berharap kau bakal menerima cintaku!! Jika kau peduli terhadap ku, kenapa kau tidak pulang dan memilih menginap diluar rumah.....sebegitu benci kah dirimu padaku" Bathin Rens.


Rens mengabaikan panggilan dan pesan dari Nathan. Dia memilih untuk tidak berharap lagi pada Nathan dan akan menjalani hidup mengikuti arah yang diberikan tuhan padanya.


Air matanya pun menetes seketika, kini dia duduk diatas sofa dengan menekuk lututnya naik keatas sofa dan memeluknya. Ditundukan nya kepalanya hingga tenggelam disela lututnya. Dia pun terus menangis hingga terisak.


Kevin menyadari jika wanita disebelahnya itu sedang menangis terisak. Dia pun menolah kearah Rens denga. Sedikit panik. Apa yang terjadi dan mengapa dia menangis, itu yang difikirkan oleh Kevin.


"apa yang terjadi? Kenapa menangis?" Ucap Kevin panik.


".....Hey jawab, kenapa kau menangis?" lanjut Kevin.


"Kevin kenapa, kenapa dia begitu kejam terhadap ku.....hikks hikss" ucap Rens sembari terus menangis. Air mata banjir membasahi pipinya.


"Diamlah....aku tidak mengerti dengan maksudmu" Kevin mulai bingung harus melakukan apa. Sebab dia tidak pernah tahu cara untuk menghibur wanita yang sedang menangis.


"Aku....aku benci padanya, benar-benar benci" Rens mulai meranyau tidak jelas.


Sebenarnya dia sedikit iba melihat Rens seperti itu, terlebih dia tahu jelas ini semua pasti karna Nathan. Awalnya dia ragu untuk menyentuh pundak Rens, namun diberanikan nya untuk memusut- musuk pundak Rens. Fikirnya dengan seperti itu akan membuat Rens tenang, namun perkiraannya salah Rens malah semakin keras menangis. Bahkan Rens tak sadar bersender didada Kevin sembari terus menangis.

__ADS_1


Kevin sangat terkejut, ingin sekali dirinya untuk mendorong kuat tubuh Rens hingga tersungkur. Tetapi diurungkan nya niatnya, dan membiarkan Rens terus menangis didada bidangnya tersebut. Lucunya Kevin tidak bergerak sedikit pun tubuhnya menegang gugup.


"Sial.....hari ini benar-benar hari paling sial dalam hidupku!! Jika saja bukan karna Nathan aku pasti sudah mendorongmu kelantai" Gumam Kevin.


10menit berlalu, tangisan Rens pun mulai meredah. Hatinya mulai tenang, dia pun bisa kembali mengontrol sikapnya.


Rens kembali duduk ditempat nya, begitu pun demgan Kevin.


"I tell you something screet...Nathan dont like the women always crying like you!! Ingat itu" Kevin berkata ketus tepat didepan wajah Rens yang kelihatan masih merah karna menangis.


Matanya sembab,hidung nya merah, rambutnya acak-acak kan, sungguh berantakan.


"Wanita seperti apa memang nya yang ia sukai...." ucap Rens sedikit lirih.


Mendengar ucapan Rens, Kevin pun menoleh terkejut. Apa kah yang ia katakan tadi dianggar serius oleh Rens. Kevin menatap heran kearah Rens.


"Jujur saja kau jauh dari kriteria idaman Nathan....." Ucap Kevin ketus, membuat hati Rens semakin sakit.


"....apa dia wanita yang sempurna, hingga bisa bersanding dengan Nathan" Lanjut Rens, kini perkataan nya sedikit kasar menurut Kevin.Kevin terlihat sangat geram mendengar perkataan Rens.


"Diamlah...." Kevin berkata sembari kembali memainkan ponselnya.


"Kenapa? Apa omonganku salah? Jika dia wanita sempurna kenapa Nathan tidak menikahi nya saja kebanding denganku" Rens kembali merocos.


"Ku bilang diam lah..." ucap Kevin lagi dengan nada pelan.


"Apa jangan-jangan si Stephanie itu wanita gampangan?" Rens berkata seenak nya lagi.


"Berhenti bicara kan dirinya Nathan akan sangat marah jika mendengar nya....." Nada bicara Kevin masih Santai ,walaupun sedikit panas ditelinga nya.


"Kenapa? Aku tak takut padanya biarkan saja dia mendengar nya! Aku sudah ngga perduli" ucap Rens menantang omongan Kevin.

__ADS_1


"....memang benar kan kataku, jika dia wanita baik-baik kenapa dia membiarkan Nathan tidak pulang semalaman seperti ini...." lanjutnya mengatai Stephanie.


Kevin terkejut mendengar ucapan Rens barusan, sontak dirinya menoleh dengan raut wajah tak percaya. Bagaimana bisa Rens memiliki asumsi seperti itu.


"Itu tidak benar....sebaiknya kau istirahat sana jangan banyak berfikir yang tidak tidak!! Otak mu seperti nya sudah tergeser kali yah" Kevin masih membawa santai dirinya.


"Bahkan kau saja menyembunyikan kebenaran nya....." ucap Rens, raut wajah nya terlihat sangat kesal.


Jantungnya berdegup sangat kencang, dada nya panas sekali. Bahkan kelopak matanya meneteskan air mata kemarahan nya. Sungguh dia tidak percaya jika Kevin bahkan menutupi kebenaran tentang Nathan.....


"....hahaha kalian semua menjijikan cihhh....." Rens berkata dengan kasar nya dihadapan Kevin.


Mendengar itu pun kini Kevin sudah tidak dapat menahan emosi nya. Dia bangun dari duduk nya dan berdiri tepat dihadapan Rens. Wajahnya yang semula tenang kini menjadi seperti raut wajah iblis yang sedang marah.


Ingin sekali rasanya ia cekik leher Rens saat itu juga, namun diurungkan nya niat tersebut mengingat Nathan.


Sebenarnya sedari tadi dia sangat tidak terima saat Rens mulai mencaci Stephanie. Karna Kevin tau sekali jika Stephanie bukan lah perempuan hina seperti yang dikatakan Rens. Mereka tumbuh besar bersama juga yang dia tahu lelaki yang dekat pada nya hanya lah Nathan saja.


"SUDAH KU BILANG DIAM.....TUTUP MULUT MU ITU!! JIKA KAU MASIH SAJA MENGATAI STEPHANIE MACAM-MACAM, AKU NGGA AKAN SEGAN-SEGAN MEROBEK MULUT MU ITU....PAHAM" Emosi Kevin meledak seketika, tatapan membunuh nya kini dilayangkan nya kepada Rens. Dia bahkan berkata sambil menunjuk-nunjuk wajah Rens dengan sangat dekat menggunakan jari telunjuk nya.


Rens pun memalingkan wajahnya saat Kevin memaki nya seperti itu, digigitnyq bibir bawah nya. Air matanya semakin deras mengalir. Dia pun berdiri dihadapan Kevin dari duduk nya. Didorong nya dada Kevin hingga sedikit mundur kebelakang.


"Ternyata kamu sama saja seperti Nathan......kalian semua senang menyiksa orang tidak bersalah seperti diriku! Aku benci kalian semua hiks" Rens berkata, sembari berlari memasuki kamarnya dan membanting pintu sangat keras.


Kevin pun terdiam sejenak, lalu menisir rambut depan nya kebelakang menggunakan jemarinya dan menghela nafas dengan kasar.


"Aghhhh....sial" Kevin menendang pelan meja disebelah nya.


Kevin berjalan mendekati pintu kamar Rens kemudian. Mengetuk nya beberapa kali....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2