Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
MUSIM KE-3 : Episode 15


__ADS_3

Siang itu Reghata dan Gavin melakukan aktivitas menonton tv bersama di ruang santai. Reghata melirik Gavin yang sedari tadi sedang memainkan ponsel nya. Sinis dan tajam, Reghata kesal dengan sikap Gavin yang seperti itu.


"Segitu penting nya yah?" Ucap Reghata sinis, dengan mulut yang mengunyah sepotong buah apel.


Gavin berhenti memainkan ponsel lalu melirik Reghata di sebelah kanan nya. "Kenapa? Apa kau sudah mulai merasa cemburu? Bahkan dengan ponsel saja kau cemburu" ucap Gavin menyeringai.


"Cihh....percaya diri sekali kau, siapa juga yang sedang mencemburui mu?" Reghata memutar bola mata nya.


"Tadi apa? Kau sedang cemburu kan...." Gavin meraih sepotong apel lalu memasukan nya ke dalam mulut. Mengunyah sambil berbicara.


"Tidak, sudah jangan ribut....aku sedang menonton tv, bukan suara mu saja yang mau di dengar" cetus Reghata menyikut lengan kiri Gavin. Mengelak dari pembicaraan yang menyudutkan nya itu.


Gavin mengangkat kedua pundak nya lalu kembali memainkan ponsel. Membiarkan Reghata menonton tv sendiri.


Reghata semakin kesal. Dengan gerakan cepat dia merampas ponsel milik Gavin. Alhasil terjadilah aksi rebut-rebutan. Gavin pun mengalah membiarkan Reghata memegang ponsel nya.


Barulah namanya menonton tv bersama. Reghata dan Gavin tengah menonton drama romantis korea. Ketika adegan sedih kedua nya nampak tegang tidak berekspresi. Namun ketika tiba adegan romantis seperti berciuman di atas ranjang. Reghata dan Gavin malah jadi canggung.


Reghata menelan salivanya melirik Gavin dengan ragu-ragu. Gavin juga melirik, keduanya pun saling menatap lama.


Gavin mendekat kan wajah nya ke wajah Reghata. Tatapan mata nya menjadi sendu. Dalam sekian detik kemudian, bibir kedua nya menyatu. Reghata menikmati permainan lidah Gavin. Ia mulai terbuai menutup kedua matanya.


Gavin melepaskan bibir nya dari bibir Reghata. Masih dengan posisi wajah yang dekat. Reghata bernafas dengan terengah-engah begitu juga dengan Gavin.


"Re....aku mau bicara sesuatu padamu?" Bisik Gavin dengan suara serak. Matanya begitu sayu, menandakan hasrat lelaki nya mencuat.


Reghata mengangguk. Membiarkan Gavin berbicara.


"Bolehkah sekarang aku meminta hak ku sebagai seorang suami?" Kini Gavin tengah mencium tengkuk leher Reghata. Membuat Wanita itu merinding di seluruh tubuh nya.


Gavin meraih tangan Reghata menuntun nya melingkar di lehernya. Reghata menegang ia bingung harus menjawab apa. Wajah nya bersemu merah karna malu.


"Diam mu aku anggap setuju Re....." Ucap Gavin tersenyum lebar. Senang rasanya mendapat lampu hijau dari Reghata.


"Hmm...a--aku...mmmmhhh" belum selesai bicara, Gavin kembali ******* habis bibir Reghata. Tidak membiarkan wanita itu untuk mengelak atau menolak permintaan nya.


Reghata pasrah dengan apa yang hendak di lakukan suami nya itu padanya. Ia membiarkan tangan Gavin yang mulai menggerial di bagian leher dan turun di bagian dadanya. Dengan gerakan lembut dan perlahan Gavin menuntun Reghata berbaring di sofa empuk itu.


Suasana di dalam ruangan semakin menghangat. Padahal dingin nya AC berada di angka 26°. Tapi Reghata dan Gavin nampak berapi-api. Gavin yang merasa panas pun langsung menghentikan ciuman nya.


Dia mengunci tubuh Reghata tepat di bawah nya. Kemudian Gavin membuka satu persatu kancing kemeja nya. Menampakan jelas dada bidang dan perut sixpack. Reghata menelan salivanya, ia menatap sendu wajah Gavin yang merah dengan mata sayu.

__ADS_1


"Apa kau tidak akan menyesal nanti nya?" Ucap Gavin berbisik kembali di telinga Reghata. Sambil menciumi tengkuk leher wanita cantik itu.


Reghata menggelengkan kepala nya. Mendesah pelan merasakan sentuhan yang diberikan Gavin pada tengkuk leher nya. Tangan Gavin pun mulai membuka satu persatu kancing baju Reghata.


Kulit putih nya yang lembut bagaikan kapas. Sangat menggiurkan, Gavin tidak bisa berhenti menatap raut wajah sendu Reghata. Wanita itu nampak malu-malu ketika tubuh bagian dadanya terpampang jelas.


Tetapi tiba-tiba saja bel berbunyi nyaring. Gavin dan Reghata sama-sama menoleh ke arah pintu luar. Awalnya Gavin tidak memperdulikan siapa yang datang. Dia pikir itu hanyalah Rey.


Gavin pun kembali melakukan aksinya. Ia melahap kembali bibir Reghata. Tetapi lagi-lagi bel pintu berbunyi beberapa kali. Gavin masih tidak mau memperdulikan nya. Dia tidak mau menghentikan apa yang sudah berada di puncak. Tau sendiri bagaimana rasanya jika harus di gantung.


"Vin....berhenti, ada yang datang!! Buka pintu sana, siapa tahu penting" ucap Reghata.


"Hmm..." Gavin hanya berdehem, masih sibuk.


"Vin...." Reghata meraih wajah Gavin.


"Aku sudah tidak bisa menahan nya Re...." Tatapan matanya sayu dan nafasnya sudah tidak teratur lagi. Ia mengecup bibir Reghata berkali-kali.


"Siapa tahu penting....kita lanjutkan nanti saja" Reghata mendorong tubuh Gavin. Lalu dia beranjak berlari ke arah kamar mandi.


"Huh.....Re....ayolah, aku tidak bisa seperti ini" Gavin menghela nafas panjang.


"Berhentilah merengek, cepat buka pintu nya" Reghata tersenyum meledek sebelum menutup pintu kamar mandi.


Gavin pun segera berjalan ke arah pintu luar sambil mengancing kemeja nya. Sebelum membuka pintu Gavin mengintip terlebih dulu di lubang kecil yang ada di pintu.


"Araa?" Lirih Gavin mengerutkan dahi. "Mau apa dia kesini?"


Cklek....


Ia pun membuka pintu.


"Gavin? Kenapa lama sekali sih buka pintu nya, aku sudah menunggu sedari tadi" ucap Araa dengan raut wajah kesal berjalan masuk ke dalam.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya Gavin yang berjalan tepat di belakang Araa.


"Aku mau bicara sesuatu padamu, mengenai kak Reghata" ucap Araa berbalik badan menatap Gavin.


"Ada apa dengan Re? Apa kau lupa sekarang dia adalah istriku?" Sahut Gavin santai.


"Aku tahu jika kamu terpaksa kan melakukan pernikahan ini, kamu melakukan nya bukan karena mencintai nya kan?"

__ADS_1


"Apa maksudmu? Kenapa kau sangat berbeda dengan Reghata? Aku harap kau bisa menerima pernikahan ini, lupakan perasaanmu padaku....sekarang aku adalah kakak ipar mu"


"Aku tidak akan menyerah, aku tahu jika kamu memiliki alasan lain melakukan ini? Bukan karena kamu mencintainya"


"Tutup mulut mu itu Araa, jangan membuat ke salah pahaman antara aku dan kakak mu....."


Gavin mendekati Araa, mencengkram dagu wanita cantik itu. Mengancam nya dengan tatapan yang menghujam.


"Alasan apa maksudmu?" Ternyata Reghata sudah berada tepat di belakang Araa.


Araa terkejut, ia mengira sang kakak sekarang berada di kantor tapi ternyata perkiraan nya salah. Sang kakak kini berada tepat di belakang nya. Menatap nya dengan penuh tanya.


"Asal kakak tau, Gavin tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap dirimu....jadi jangan berbesar hati mengira Gavin memiliki perasaan padamu" ucap Araa dengan pedasnya. Tanpa memikirkan perasaan Reghata.


Gavin hanya diam, membiarkan kakak beradik itu berbicara. Reghata menatap lekat manik mata Gavin. Mencari-cari kejujuran dari manik mata indah suami nya itu.


"Aku tahu kok, dari awal aku sudah tahu jika dia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapku....aku juga sadar jika dia terpaksa harus menikahiku...." Ucap Reghata tersenyum tipis. Menatap Gavin dengan mata yang berkaca-kaca, ia pun langsung pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan Gavin dan Araa.


"Re..." Lirih Gavin hendak mengejar langkah Reghata. Tapi sebelum nya dia meminta Araa untuk segera pulang dan berhenti mengganggu dirinya. Dengan berat hati dan perasaan kesal Araa pun pergi.


***


Di dalam kamar.


Reghata berdiri di depan lemari pakaian yang terbuka lebar. Ia mengeluarkan koper besar lalu memasukan seluruh pakaian milik nya ke dalam koper tersebut.


Kenapa hatiku sangat sakit mendengar perkataan Araa....


Bukan kah dari awal aku sudah tahu itu? Tapi kenapa sekarang kebenaran bahwa Gavin terpaksa menikah dan tidak memiliki perasaan apapun kepadaku, membuatku jadi sedih?


Rasanya hati ku seperti diiris-iris, apakah sekarang aku sudah mulai mencintainya? Kuatlah Re....


Kamu bukan lah wanita yang lemah, tetap lah se tegar Reghata yang dulu....


Jangan berharap apapun yang lebih dari pernikahan terpaksa ini....


Reghata mencoba menahan air matanya, namun ia tidak kuasa. Akhirnya air mata itu menetes juga. Ia menangis hingga dadanya sesak. Meratapi nasib nya yang kurang beruntung.


TBC.


Note : Jangan lupa like, koment, dan votenya🙏🙏

__ADS_1


Biar tambah semangat untuk up nya, Thankyou Happy Readings🌹🌹


__ADS_2