
🌹POV Reghata🌹
Siang ini aku ada rapat penting, Shina memberitahuku jika peserta rapat adalah orang-orang penting juga. Jadi aku tidak bisa melewatkan nya sama sekali. Namun hal yang tak disangka-sangka terjadi.
Drrrt drrt drrt!
Ponselku terus menerus bergetar beberapa kali. Aku melihatnya, jika Mommy yang menelpon. Tapi karena ini rapat penting aku tidak bisa menjawabnya.
Semenjak aku dinyatakan hamil oleh dokter kandungan. Aku dan Gavin memilih tinggal dirumah utama, bersama Mommy Rens dan Daddy Nathan. Karena mereka tak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan kepada calon cucu pertama mereka. Walaupun sebenarnya usia kandungan ku masih sangat muda, bahkan belum mencapai tiga bulan.
"Shina tolong kau angkat dan katakan jika aku masih dalam rapat penting!"
Aku memerintah Shina untuk membawa ponselku keluar ruang meeting dan menjawab kan panggilan dari Mommy.
"Ada apa?" tanyaku ketika Shina memberikan ponsel ku padaku.
"Maaf Nona! Nyonya Rens bersikeras ingin berbicara pada anda!"
Huft!
Aku menghela nafasku dengan panjang. Beginilah Mommy, dia tidak akan berhenti jika keinginan nya tak terkabulkan.
"Sorry, I have to take a call! Because this is very important! Can you all give me a little time? "
Aku meminta sedikit waktu kepada para peserta rapat. Aku tidak ingin mereka merasa jika aku sangat tidak profesional dalam bekerja. Dengan kebesaran hati mereka semua mempersilahkan aku untuk menerima panggilan telpon itu.
Diluar ruangan.
"Halo Mommy ada apa? Re sedang ada rapat penting!" ucapku.
"Re, sebaiknya kau segera pulang! Mommy dan Daddy sangat kebingungan harus seperti apa? Disini juga sudah ada ayah mertuamu Kevin! Kami semua tidak mengerti!"
Aku mendengar suara Mommy nampak gusar dan panik. Sontak aku terkejut, apa yang sudah membuat Mommy seperti itu.
"Mommy tenanglah dulu! Bicara dengan perlahan! Sebenarnya ada apa Mom?" tanyaku penasaran, aku sendiri menjadi sedikit panik juga.
"Suami kamu, Gavin--" Mommy terbata-bata.
"Gavin? Gavin kenapa Mommy?" Aku semakin panik ketika mendengar nama Gavin. Apa yang sudah terjadi pada suamiku. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya.
"Kamu lihat sendiri sayang! Mommy bingung harus kaya mana--"
Tiba-tiba panggilan terputus. Aku semakin panik. Perasaanku tak menentu. Sebenarnya apa yang terjadi. Gavin suamiku ada apa dengannya. Aku pun langsung melangkah masuk kembali kedalam ruang meeting.
__ADS_1
"Sorry! I'm really sorry that I have to go now! Because something happened to my husband" ucapku dengan menyatukan kedua tangan meminta maaf.
Tanpa menunggu jawaban aku segera berlari keluar dari ruangan meeting itu. "Aku harus segera pulang! Ada apa dengan Gavin? Jangan sampai terjadi apa-apa padanya!" gumam ku seraya berlari.
"Nona! Jangan berlari! Anda harus tetap berhati-hati, karena anda sedang hamil!" ucap Shina padaku. Dia menyusul ku dan memperingatkan ku pada kondisiku yang sedang hamil ini.
Aku pun tersadar dan langsung menghentikan langkah ku. Aku menatap dirinya. "Terima kasih Shina, kau sudah mengingatkan ku!"
"Sama-sama Nona! Silahkan masuk, aku akan mengantar anda pulang dengan selamat!" ucapnya seraya membukakan aku pintu mobil.
Kami pun segera menuju pulang ke rumah utama. Sepanjang jalan aku tidak berhenti cemas. Pikiranku tak tenang, bayang-bayang wajah Gavin terus merasuki pikiranku.
"Ya Tuhan! Aku mohon jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada suamiku!" ucapku sambil menatap sendu keluar jendela.
Shina menatapku dengan tersenyum. Dia adalah orang kedua selain Gavin yang bisa mengerti diriku. Apapun yang aku rasakan dan aku alami dia bisa tahu. Dia bisa merasakan nya.
"Nona tenanglah! Anda tidak perlu khawatir, saya yakin Tuan Gavin baik-baik saja!" ucapnya padaku.
Aku menatap Shina dengan lekat. Perasaanku sedikit tenang setelah mendengar perkataannya. "Hmm, Semoga saja perkataan mu benar! Tidak terjadi apa-apa padanya!"
Akhirnya kami pun sampai. Shina memarkirkan mobil tepat didepan teras rumah utama. Aku langsung keluar dan melangkahkan kakiku masuk kedalam rumah.
"Gavin?" teriak ku memanggil Gavin.
"Mom? Dad?" teriak ku kembali memanggil orang tuaku.
"Daddy? Ayah? Dimana Gavin?" tanya ku pada kedua laki-laki paruh baya itu.
"Dia ada dikamar kalian bersama Mommy mu!" jawab Daddy Nathan dengan raut wajah gusar. Ia seperti menyerah pada sesuatu. Begitu pun dengan Kevin ayah mertuaku.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kau lihat aja sendiri!"
Aku pun langsung pergi menuju kamar tidur ku dengan Gavin. Aku sudah tidak sabar ingin melihat keadaan suamiku itu.
Huek huek huek!
Dari ambang pintu kamar langkahku terhenti. Ketika aku mendengar suara Gavin yang sedang mual-mual didalam kamar mandi. Aku pun menghampirinya.
"Gavin?" teriakku seraya memegangi bahunya.
"Mommy ada apa dengannya?" aku bertanya pada Mommy Rens.
__ADS_1
"Entahlah! Tadi dia pulang diantar oleh Rey dengan keadaan seperti ini! Dia terus merengek pada kami semua untuk menghubungimu! Mommy sangat pusing Re, tidak tahu harus berbuat apa! Suamimu seperti bayi saja!" Mommy Rens mengeluh padaku. Dia seperti orang yang menyerah sebelum berperang.
Aku tersenyum simpul mendengar penjelasan dari Mommy. Aku sangat tahu apa yang terjadi pada Gavin saat ini.
"Re? Kau sudah datang!" Gavin menatapku dengan wajah pucat nya. Aku mengusap peluh yang membasahi keningnya.
"Ya sayang aku ada disini!" Aku menuntunnya keluar dari kamar. Tubuhnya terasa lemas dan tak berdaya.
"Kamu kenapa Vin? Apa perutmu terasa mual lagi?" Aku mengelus dengan lembut perutnya saat dia sudah berbaring diatas tempat tidur.
"Aku rasa begitu Re! Kepalaku sangat pusing!"
"Apa kau belum makan siang ini?"
"Belum!" Dia menggelengkan kepala dan menyandarkan nya dipahaku.
"Hmm! Aku mau makan masakan mu Re!" lanjutnya sembari bergelut manja.
Aku pun tertawa geli melihat tingkah manja Gavin. Dia seperti seorang bayi yang begitu menggemaskan. "Baiklah, kalau begitu kau mau makan apa?"
"Aku mau salad buatan mu!"
Seketika mataku membulat. Apa aku tidak salah mendengar. Gavin berkata ingin memakan salad buatanku. Yang benar saja, dia pasti sedang bercanda.
"Jangan bercanda sayang!"
"Aku tidak bercanda Re! Cepatlah perutku sangat sakit karena belum memakan apapun siang ini!"
Dia kembali bergelut dengan manjanya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa sekarang dia kini menjadi sosok yang sangat berbeda. Bukan hanya pada sikap dan kelakuannya saja yang berubah. Tapi selera makan nya pun berubah.
Tidak ada angin atau sesuatu yang spesial. Tiba-tiba saja dia meminta aku membuatkan salad. Sontak aku sangat terkejut.
Aku sangat mengenal Gavin tidak menyukai yang namanya sayur-sayuran. Tapi kali ini dia meminta ku langsung untuk membuatkan nya. Seperti lelucon disiang hari aku mendengar perkataan itu.
Aku pun langsung bergegas membuatkan nya salad. Tak lupa juga aku membuatkan nya minuman ginseng hangat. Agar perutnya tidak terasa kembung.
Gavin memakan salad itu dengan begitu lahap. Sampai habis tak tersisa sedikitpun dipiringnya. Bahkan milikku juga dia yang menghabiskan nyam Aku hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Biasanya dia akan muntah dan memaksakan sayuran itu keluar dari mulutnya. Jika tak sengaja termakan sejumput sayuran sedikit pun. Tapi kali ini dia sangat lahap. Sebenarnya dia ini Gavin suamiku atau bukan sih? Aku seperti sedang mengurus seorang bocah laki-laki yang nakal dan pemanja.
Tapi jujur saja aku sangat bahagia. Bisa melewatkan semua itu bersamanya. Memanjakan Gavin dengan sepenuh hati. Melayaninya membuat hatiku tergelitik bahagia. Sampai-sampai aku tidak bisa menggambarkan rasa bahagianya yang aku rasakan ini. Cukup aku simpan didalam memory ku. Untuk menjadi kenangan indah kisah cinta kami berdua.
...🌹 Jangan lupa like 🌹...
__ADS_1
...Note : Yang udah mampir dikisah Marvin, komentar dong bagaimana menurut kalian alur ceritanya? Apakah membosankan atau tidak? Author sangat membutuhkan saran dan kritik dari kalian☺️...
...Oh iya! Nantikan kehadiran Gavin dan juga Reghata yah dikisah Marvin! Marvin dan Reghata juga menjadi sosok yang akan membuat Marvin dan Killa semakin dekat juga pastinya! Karena itu jangan bosan untuk menunggu updatenya 🤗🤗...