Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
MUSIM KE-3 : Episode 8


__ADS_3

"Ini bukan salah Gavin.....Marvin lah yang sudah memaksa Gavin untuk melakukan ini semua ayah."


Marvin mendekati sang ayah dan memegang tangan nya yang mencengkram kerah baju Gavin.


"Tidak mungkin untuk Marvin menikahi Re, karna Marvin sudah menikahi seorang gadis....." Lanjutnya menjelaskan


Berharap sang ayah akan mengerti dan tidak menyalahkan adiknya lagi. Tetapi diluar dugaan, respond Kevin malah membuat Marvin dan Gavin terkejut.


Kevin malah memeluk Gavin. Tanpa sadar air matanya menetes. Gavin merasakan getaran saat sang ayah memeluk nya.


"Maafkan ayah....." Lirih nya pelan tetapi masih bisa di dengar oleh Gavin dan Marvin.


”.....Ayah belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian berdua" lanjutnya semakin lirih.


"Ayah kenapa menangis? Ini memang salah Marvin, yang sudah membuat bibi Rens marah kepada Ayah..." Marvin menyentuh pundak sang ayah.


"Jangan dengarkan ucapan bibi Rens, kamu bukan lah anak haram Gavin.....kamu anak ayah" lelaki paruh baya itu ternyata begitu terpukul dengan ucapan Rens yang menyatakan Gavin adalah anak haram.


"Kalian berdua adalah harta berharga yang ayah miliki, ayah yakin kalian tidak akan melakukan hal yang buruk...." Kevin menyentuh pundak Marvin dan Gavin bersamaan. Menatap kedua anak nya itu dengan tersenyum.


"Ayah tidak membenarkan tentang pernikahan yang berlatar kebohongan ini....tapi semua nya sudah terjadi, ayah berharap kamu bisa menjalani nya dengan baik.....cintai istrimu sampai akhir hayatmu Gavin..."


"....dan untuk mu Marvin, bawa dia bertemu dengan ayah....apa mau selamanya kamu menyembunyikan identitas istrimu?" Lanjutnya menatap serius Marvin.


"Baik ayah” ucap keduanya bersamaan.


"Kalau begitu ayah pergi dulu, untuk menemui paman Nathan dan bibi Rens....." Kevin pun berlalu pergi.


Akhirnya pesta pernikahan pun dilanjutkan sampai dengan selesai. Mau tidak mau Rens juga ikut menyambut para tamu yang tidak mengetahui masalah yang mereka hadapi. Semua ucapan selamat dan harapan agar Gavin dan Reghata selalu bahagia dan juga langgeng tentunya.


Walaupun begitu Reghata masih merasa sedih karna sang ibu masih tidak mau berbicara padanya.


***


"Kita akan tinggal di apartemen ku saja..." Decak Reghata dengan raut wajah masam.


"Kenapa sih kamu egois jadi perempuan....sekarang kamu adalah istriku, jadi apa yang aku ucapkan kamu harus mengikutinya Re...." Gavin menarik paksa lengan Reghata untuk masuk ke dalam mobil nya.


"Ingat pernikahan kita ini hanya sekedar---"


"Sekedar apa? Tidak ada pernikahan yang main-main Re, kita sudah mengucapkan janji pernikahan sehidup semati...apa kau lupa?" Gavin mendekatkan wajah nya ke wajah Reghata dengan tersenyum miring.


Reghata menelan salivanya sendiri. Berada sangat dekat dengan Gavin membuatnya gugup. "Menjauhlah dariku, huh...huh...huh....kenapa didalam sini sangat pengap, aku hampir tidak bisa bernafas dengan benar...."


Reghata mendorong tubuh Gavin agar menjauh darinya. Merasa gugup wajah Reghata memerah. Gavin yang melihatnya pun malah tersenyum. Sangat lucu pikirnya....


"Rey antar kami ke apartemenku...." Perintah Gavin kepada Rey yang duduk di balik kursi kemudi. Sedari tadi pria tampan itu tertawa pelan melihat tingkah Reghata dan Gavin.

__ADS_1


"Baik bos....laksanakan..." Ucap Rey dengan nada sedikit mengejek sambil melirik Gavin dari kaca sepion tengah.


"Kamu jangan senang dulu, urusan kita masih belum selesai...." Gavin menaikan alisnya menatap tajam mata Rey.


Seketika Rey pun tersadar, jika dia sudah melakukan kesalahan. Karna telah membongkar rahasia kepada Araa. "Habislah aku!!!" pikir Rey.


***


Sampailah mereka di apartemen milik pria yang mempunyai senyuman menawan itu, yang tak lain adalah Gavin. Setelah mengantarkan pasangan pengantin baru itu. Rey langsung bergegas pulang. Karna tidak ingin menganggu malam sakral pengantin baru yaitu malam pertama.


Gavin bergegas masuk kedalam kamarnya. Membuka seluruh pakaian yang ia kenakan. Lalu memakai piyama mandinya berwarna hitam. Sedangkan disisi lain Reghata masih enggan untuk beranjak dari sofa. Pikiran nya kalut dan gusar.


Ayolah Re....


Ini pernikahan dadakan, dan juga aku dan Gavin sama sekali tidak merasakan apa-apa sati sama lain....


Tidak ada rasa sayang atau cinta sedikit pun....


Dia tidak akan meminta malam pertama bukan? Tapi mungkin saja dia memintanya, bukan kah aku ini istrinya?


Akkhh...Reghata kamu sedang memikirkan apa? Kenapa pikiran mu begitu kotor....


Simple saja, jika dia memintanya cukup jawab 'Belum siap'....


Tapi, memalukan tidak yah? Aku sudah sangat dewasa, kenapa aku harus belum siap dan takut? Entahlah terserah saja apa yang akan dia pikirkan.....


Argumen demi argumen berperang dalam pikiran Reghata. Sampai-sampai dia tidak menyadari jika sedari tadi Gavin tengah berdiri dihadapan nya. Menatap nya dengan tersenyum miring meledek.


"Apa yang sedang kau pikirkan hey nona muda..." Gavin menyentikan jari tepat di depan wajah Reghata.


Reghata terlonjak kaget. Terlebih ketika melihat Gavin yang tengah berdiri di hadapan nya. Hanya mengenakan piyama mandi berwarna hitam selutut. Bagian dadanya yang terbuka menampakan dadanya yang begitu bidang dan kekar. Cepat-cepat Reghata memalingkan wajah nya yang kembali memerah.


"Wajah mu merah lagi...." Gavin terkekeh, sambil menaruh piyama tidur berwarna hitam lengkap baju dan celana nya diatas meja di hadapan Reghata.


"....Aku tidak memiliki persiapan untuk menyambut kedatangan mu, jadi disini tidak ada pakaian wanita....hari sudah malam tidak mungkin juga kan kamu pulang ke apartemen mu untuk mengambil pakaian?" Lanjutnya.


"Huh....Makanya aku tadi bilang sebaiknya kita ke apartemenku saja...." Reghata mendengus kesal. Berbicara dengan gigi yang menggeretak karna gemas.


Diraihnya piyama tidur itu dengan kasarnya lalu beranjak melangkah masuk kedalam kamar Gavin.


BRAK....


Ia menutup pintu dengan keras sekali. Gavin hanya tersenyum tipis. Senang rasa nya bisa melihat wajah kesal Reghata. Bagi Gavin wajah cantik Reghata ketika marah, malah semakin menggemaskan.


***


Di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Reghata membersihkan diri berendam di dalam bathup yang ukuran nya tidak terlalu besar. Tetapi cukup untuk dua orang di dalam nya.


Saat sedang asyik-asyiknya bersantai merasakan kelembutan busa-busa sabun di kulit tubuhnya. Pintu kamar mandi pun terbuka membuat Reghata kalang kabut sendiri menutupi tubuh nya yang polos dengan busa-busa tadi.


"YAAA....apa yang kau lakukan? Tidak lihat jika aku sedang mandi...." Teriak Reghata nyaring dan melengking.


"Husssttt....ini sudah tengah malam, kenapa harus berteriak....aku hanya mau ambil ini, bukan mau melihatmu" Gavin memperlihatkan botol kecil yang ia baru ambil dari dalam laci.


"....lagian tidak ada yang spesial dari tubuh kurusmu itu" lanjutnya mengedarkan pandangan nya ke tubuh Reghata.


"Yah kalau begitu pergi sana, tunggu apa lagi....." Reghata semakin kesal kepada Gavin.


Gavin pun keluar dari dalam kamar mandi.


"Kenapa sih aku harus terjebak dengan kakak beradik yang sama-sama gila itu? Kenapa ya tuhan, sifat keduanya memang berbeda...tapi sama saja tidak ada sifat baiknya sama sekali....." Reghata menggerutu. Waktu tenang nya sekarang sudah kacau gara-gara Gavin.


Padahal dia berharap bisa merasakan ketenangan walaupun sebentar saja. Setelah melewati waktu seharian yang begitu melelahkan dan membuat kepala nya penat itu. Tetapi ternyata salah. Sepertinya hari-hari yang akan dia lalui kedepan nya. Sangat jauh dari kata tenang. Dapatkah dia melalui nya? Belum lagi kemarahan Mommy dan Daddy nya yang harus Reghata hadapi.


***


Waktunya tidur....


Kini keduanya tengah berbaring bersebelahan di atas ranjang. Mengenakan piyama tidur yang sama berwarna hitam. Dengan batasan menggunakan guling ditengah-tengah mereka.


"Tidurlah, selamat malam..." Gavin memiringkan tubuhnya membelakangi Reghata.


"Selamat malam juga...." Reghata menjawab dengan pelan. Agak canggung sedikit, karna tidak pernah merasakan yang namanya tidur satu ranjang dengan seorang pria sebelum nya. Tentu saja, berhasil membuat jantung Reghata berdegup dengan kencangnya.


Apa lagi sebelum nya dia sempat berpikiran yang tidak-tidak mengenai Gavin.


Ada apa dengan nya? Kenapa dia hanya mengatakan itu saja? Dan langsung membelakangiku? Apa dia marah? Akhh...terserahlah, begini lebih bagus...aku tidak perlu memikirkan hal-hal lain.


Reghata pun juga memalingkan tubuhnya membelakangi Gavin. Menarik selimut menutupi dirinya dan memeluk guling.


"Aku sangat lelah hari ini, lain kali saja aku memintanya....jangan patah hati karna aku lelah hari ini...." Ucap Gavin masih dengan membelakangi Reghata.


Seketika lampu mati. Reghata terkejut mendengar perkataan Gavin. Ia langsung berbalik menatap punggung belakang Gavin dengan tajam. Memaki pria itu dari dalam hatinya. Geram dan sangat kesal tentunya.


Cihh.....


Siapa bilang aku patah hati karna kau lelah malam ini....


Aku malah berharap kamu akan kelelahan setiap hari, bahkan tidak bisa bergerak sekalipun....


TBC.


Note : Jangan lupa untuk like, koment, dan vote nya🙏🙏 biar tambah semangat up nya🌹🌹

__ADS_1


Happy Readings.


__ADS_2