Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Bertemu Lagi


__ADS_3

"Va jangan lupa nanti siang kamu harus bawa nasi kuningnya,alamatnya sudah kuberi kan"? ucap Wawan pada Zava saat akan pergi bekerja.


"Siap bang Wawan," jawab Zava memberi hormat seperti hormat saat upacara bendera.


"Oke aku tunggu!" Wawan kemudian melambaikan tangan dan dibalas juga oleh Zava.


Zava sudah mempersiapkan semuanya dengan dibantu Wawan dari belanja hingga menyiapkan bahan-bahan dibantu juga dengan teman barunya Daryna.


Karena setelah kemarin dapat konfirmasi dari teman-teman kantornya Wawan mereka mau mencoba tapi tidak cuma-cuma.


Zava senang karena mendapat pesanan sebanyak itu dia jadi bersemangat untuk menjalankan bisnisnya, Zava juga sudah diberi alamat kantor tempat bekerja Wawan.


*****


Siang hari waktu makan siang telah tiba, Zava sudah siap dengan dua kantong besar dikedua tangannya dia sudah sampai dikantor Wawan.


Zava begitu kagum dengan tempat kerja Wawan yang ternyata sebuah perusahaan dengan gedung sangat menjulang tinggi.


"Wah... bang Wawan ternyata kerja digedung tinggi begini, hebat sekali...!" kagum Zava sambil menengadahkan kepalanya.


Dan saat Zava melihat lambang serta nama perusahaan itu dia jadi terkejut. Terpampang nama Wijaya grup dengan tulisan besar dan itu mengingatkannya pada seseorang yang sudah tenang disana.


Ya lelaki itu pernah memberi tahunya bahwa ayahnya ingin memberinya kendali atas perusahaannya maka dia harus pergi menemui kakaknya untuk belajar bisnis karena perusahaan itu akan dialihkan kepadanya.


Tapi karena lelaki itu sudah tiada maka siapa yang menggantikannya. Ah sudahlah tidak usah dipikirkan mungkin saja nama perusahaannya sama.


Lalu Zava perlahan masuk kedalam gedung besar itu dia merasa canggung dan merasa kecil ditempat seperti ini.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu nona?" cegah security menghalang Zava masuk.


"Oh maaf pak, saya cuma mau mengantarkan pesanan ini!" jawab Zava sambil menunjukkan pesanannya.


"Atas nama siapa?"


"Atas nama Wawan."


"Maaf, disini nama Wawan banyak jadi perlengkap namanya."


"Hah!" Zava jadi bingung sendiri karena dia tidak tau nama lengkap Wawan.


"Saya tidak tau nama lengkapnya pak!" Zava nyengir saat mengatakan itu.


"Kalau begitu maaf, anda tidak boleh masuk!" kata security itu tegas.


"Tapi pak, ini pesanannya gimana?" ucap Zava memelas.


"Itu urusan anda bukan urusan saya." jawabnya acuh.


Zava memalingkan muka mendesis security dan menggerutu sendiri.


"Ya Allah bagaimana ini aku sudah membuat banyak, bang Wawan mana lagi!".

__ADS_1


*****


"Wan, mana pesanan kita? katanya ada yang mengantar siang ini, aku sudah lapar nih!" kata temannya bertanya.


"Iya awas loh kalau bohong!" jawab teman yang satunya lagi.


"Tenang, pasti sekarang dia sudah datang, tunggu yah aku mau lihat keluar." jawab Wawan.


"Ya sudah cepat sana!".


"Iya iya sabar kenapa?" sambil merapikan meja Wawan menyahut dan kemudian pergi keluar kantornya.


Wawan menoleh kanan kiri berharap Zava sudah datang lalu pandangannya teralihkan oleh seorang gadis berhijab yang sedang duduk sambil mengipasi wajahnya dengan tangan disampingnya ada dua kantong besar seperti kotak makanan.


Wawan tersenyum kemudian menghampirinya.


"Hey, sudah lama menunggu?".


"Bang Wawan," Zava tersenyum lega saat Wawan menghampirinya.


"Aku kira Abang tidak jadi, tadinya aku mau langsung pulang!"


"Loh kenapa? kan aku sudah janji uangnya juga sudah aku bayar kan."


"Itu, satpam yang disana bilang aku tidak boleh masuk karena aku tidak tau nama lengkap abang." ucap Zava.


"Oh maaf yah! aku jadi menyulitkanmu, ini pesanannya!" tengok Wawan pada plastik merah besar.


"Iya,!"


Zava mengernyit, "Aku masuk bang, memang boleh!"


"Ya bolehlah, kenapa juga tidak boleh? ayo cepat bantu aku." Wawan sudah berjalan membawa satu kantong plastik.


"Eh iya!" Zava juga ikut berjalan membawa kantong satunya lagi.


Mereka pun masuk kedalam dan didepan pintu Zava mencoba tersenyum pada satpam tadi yang hanya terdiam tak menanggapi, Zava jadi mendengus kesal karena satpam itu diam saja tak membalas senyumannya.


Setelah masuk Wawan menyapa teman kantornya yang sedang menunggu.


"Hay, makanan sudah datang!".


Teman-temannya bersemangat menyambut Wawan. Salah tapi makanannya.


"Lama sekali kamu Wan, aku sudah lapar!".


Saat Zava datang dan menyerahkan kantong satunya semua pria yang ada disitu jadi terfokus pada Zava mereka terpesona dengan Zava yang manis dan teduh juga cantik.


"Wah... Wawan kamu bawa bidadari kesini Wan,!" ucap pria itu terpesona matanya tak henti memandang wajah Zava.


Zava yang malu karena dipandangi dan jadi pusat perhatian itu hanya bisa menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Eh, jangan lihat-lihat dia sudah ada yang punya!" kata Wawan berkilah.


Sudah ada yang punya, siapa yang punya pikir Zava.


"Apa makanan ini dia yang masak?" tanya pria yang lain mulai memakan nasi kotaknya.


"Em...enak, enak sekali!" sambungnya lagi dengan mata berbinar.


Yang lain pun jadi ikut makan dan semuanya ikut memuji masakan Zava yang memang enak. Zava pun tersenyum melihat mereka yang makan dengan lahap dan suka makanan buatannya.


Seketika ruangan menjadi ricuh setelah kedatangan Zava dan pada saat itu juga Dion serta asisten Kevin berjalan keluar hendak makan siang diluar tetapi karena melihat sesuatu yang berisik dia jadi berhenti karena tidak suka dengan suasana yang riuh.


Para karyawan yang melihat kedatangan Dion menegang ditempatnya ingin menegur tapi tak bisa karena Dion sudah ada ditempat dengan auranya yang kuat.


Dion semakin mendekati mereka yang sama sekali tak melihat kedatangan Dion, mereka malah asyik makan dan ngobrol.


Dion menatap dingin mereka, seketika ada yang sadar melihat dan langsung terdiam menyenggol teman disampingnya memberikan isyarat untuk melihat. Awalnya temannya yang tidak menggubris setelah melihat bos mereka mendadak terdiam dengan lidah kelu, begitupun yang lain mendadak berhenti dengan wajah pias dan kesusahan menelan makanannya.


Zava dan Wawan yang posisi membelakangi mereka jadi heran kenapa mereka semua jadi diam seperti patung dan ada yang memberi isyarat untuk melihat kebelakang.


Zava dan Wawan kemudian serentak menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya mereka saat melihat siapa orang yang dibelakang mereka. Begitu juga dengan Dion sama terkejut tapi dia tak memperlihatkannya wajahnya datar dan tenang bahkan dengan wajah seperti itu saja membuat mereka membisu ditempat.


"Tuan Dion,!" gumam Zava pelan tapi masih bisa didengar oleh mereka yang dekat sehingga membuat mereka heran Zava mengenal bosnya.


"Itu bos baru kita Wan,!" bisik temannya ditelinga Wawan membuat Wawan melotot seketika karena dia pernah memarahi Dion.


Dion berjalan mendekati Zava sangat dekat dan dia bergumam pelan sambil menyeringai.


"Kita bertemu lagi,!" ucapnya dingin dan itu membuat Zava merinding.


"Kenapa kalian masih disini? cepat pergi! sebelum.." tanpa menunggu waktu lama semuanya berhamburan pergi entah kemana.


Saat yang lain pergi, Zava dan Wawan ikut juga pergi tapi tangan Zava segera ditarik Dion dengan kuat sehingga membuat tubuh Zava menghantam dada Dion yang bidang.


Dion memejamkan matanya sesaat saat merasakan benturan dadakan itu membuat darahnya berdesir.


Zava dan Wawan tentu saja terkejut tapi Wawan kali ini tak bisa apa-apa karena yang didepannya ini adalah bos besarnya.


"Kecuali kau.!" tunjuk Dion pada Zava dengan matanya.


"Kau harus ikut aku untuk mendapatkan hukumanmu!" seringainya membuat Zava mengernyit.


"Loh, kenapa harus aku tuan?".


"Karena kau yang membuat keributan disini dengan datang kesini!" jawab Dion dingin.


"Tapi kan aku...!" belum meneruskan perkataannya Dion sudah menarik Zava kembali keruangannya, rasa lapar pun hilang karena melihat Zava.


"Bang Wawan,!" teriak Zava memanggil Wawan tapi Wawan juga bingung ingin melakukan apa jadi dia hanya berdoa supaya Zava baik-baik saja.


Dion yang mendengar Zava memanggil Wawan jadi tambah mengencangkan cekalannya membuat Zava meringis.

__ADS_1


Aww... ada apa dengan pria ini. Aneh sekali.


gerutu Zava.


__ADS_2