
Dion telah sampai diapartemen Edgar dan Edgar menyambutnya dengan santai.
"Mana kekasihku?" tanpa basa basi Dion langsung menanyakan Zava dengan menatapnya tajam.
"Tenanglah dulu, kita baru saja bertemu kenapa kita tidak minum dulu?" ucap Edgar dengan santai sambil duduk menuangkan bir digelas yang kosong.
"Aku tidak perlu berbasa basi denganmu, dimana Zava.!" teriak Dion dengan keras.
Edgar terkekeh sama sekali tak takut dengan Dion yang marah.
"Dion.. Dion.. apa kau begitu mencintai wanitamu hingga kau seemosi ini?." pancingnya lalu berdiri mendekat perlahan kearah Dion yang berdiri sejak tadi dan dibelakang Dion telah siap Kevin yang siaga.
"Kau jangan memancingku? cepat katakan dimana Zava?" Dion langsung mencengkeram kerah Edgar dengan begitu emosi karena Edgar mempermainkannya.
"Tenanglah Dion, sahabat lamaku." Edgar melepaskan cengkraman Dion dari kerahnya dengan tersenyum menyebalkan bagi Dion.
"Wanitamu aman bersama kakaknya dan sekarang dia sedang ketempat tinggal kakaknya." jawabnya kembali duduk dan menyesap bir nya perlahan.
Dion mengerutkan alisnya, "Apa kakak?" Dion tak tahu kalau Zava mempunyai seorang kakak.
"Kau tidak tau jika Zava mempunyai kakak heh sayang sekali." Edgar megelengkan kepalanya sambil tersenyum mengejeknya.
"Apa kau tidak menyelidikinya, bukankah kau pintar. Bahkan hal seperti ini saja kau tidak tau." lanjutnya lagi.
"Kau tau mereka baru saja bertemu, setelah terpisah beberapa tahun lamanya dan yang lebih mengejutkan dia adalah asistenku sendiri yang kuberi nama Rio karena dia hilang ingatan. Dan sekarang biarkanlah dia bersama kakaknya jangan kau usik mereka." sambungnya lagi tersenyum sinis.
Mendengar itu Dion semakin meradang dia mengepalkan tangannya tapi tidak bisa menjawab karena memang Dion tidak tau dan tidak mencari tau tentang keluarga kekasihnya bahkan mengetahui fakta bahwa Zava adalah kekasih adik tirinya saja dia baru mengetahui belum lama ini dan dia merasa tidak berguna, tapi dia tidak ingin terlihat lemah dimata Edgar wanitanya tetap wanitanya dan dia harus membawanya kembali.
"Tidak usah kau banyak bicara Edgar, cepat katakan dimana Zava."
"Sudahlah Dion lupakan dia karena sekarang dia adalah milikku dan aku tidak akan melepaskannya." ucap Edgar tersenyum menyeringai.
"Kurang ajar beraninya kau."
Bughh
Dion langsung memukul Edgar tepat diwajahnya hingga tersungkur dan mengeluarkan darah. Kevin pun terkejut melihatnya.
Anak buah Edgar dan Dion masuk berhamburan untuk melihat keadaan tuan masing-masing.
Edgar melambaikan tangan keatas mengisyaratkan tenang kepada anak buahnya kemudian diapun beranjak berdiri dan menyeka darahnya.
__ADS_1
"Dion, kau akan membayar semua ini dan ingat Zava adalah milikku dan kau tidak akan bisa menemukannya, sekarang kau pergi dari sini sebelum aku mengusirmu dengan kasar." ucap Edgar pelan namun menekankan setiap kata-katanya.
Dion mengepalkan tangannya dan menatap tajam Edgar.
"Dengar, aku akan menemukan Zava dan kau sama sekali tidak berhak untuk mengambilnya dariku." setelah berkata seperti itu Dion pergi meninggalkan apartemen itu dengan perasaan marah.
"Kau tidak akan bisa menemukannya Dion sampai kapanpun dan Zava akan menjadi istriku." gumamnya tersenyum devil.
****
"Kurang ajar, sialan kau Edgar. Kalau terjadi sesuatu dengan calon istriku aku tidak akan pernah memaafkanmu." ucap Dion didalam mobil dengan meninju kursi didepannya.
"Tuan tenanglah aku akan melacak keberadaan nona Zava." ucap Kevin menenangkan.
"Kau harus bekerja cepat Kevin." balas Dion.
"Pasti tuan."
Zava dimana kau sayang? aku sangat merindukanmu. Maafkan aku tidak bisa menjagamu.
kata hati Dion membuka ponselnya melihat foto Zava dan membelai wajahnya. Dion tau pasti bahwa ponsel Zava tidak sedang berada ditangannya, Zava pasti membalas jika ponsel itu ditangannya dan dugaannya pasti ponselnya berada ditangan Edgar.
****
Dan sebenarnya Zava sengaja dibawa kesana dan Edgar memanfaatkan hilang ingatannya Rian ketika mengetahui bahwa gadis yang disukainya adalah adik asistennya sendiri dan dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini meskipun dia harus berurusan dengan Dion sahabat sekaligus musuhnya.
Dan untuk Rian, dia tidak tau siapa Dion yang dia tau dia hanya menuruti perintah tuannya karena untuk membalas budi telah menyelamatkannya, jadi Rian menganggap Dion adalah musuh besar tuannya sehingga Zava harus dijauhi.
Rian juga bisa melihat dari matanya bahwa tuannya menyukai adiknya.
"Zava bangunlah kita sudah sampai." Rian mengguncangkan bahu Zava supaya terbangun.
Perlahan Zava membuka matanya dan mengerjap, "Kita sudah sampai kak, cepat sekali?".
"Kau tertidur pulas selama dalam perjalanan makanya kau merasa cepat." jawab Rian tersenyum.
"Benarkah, memangnya aku tertidur berapa lama?" tanya nya heran.
"Kau tertidur selama tiga jam."
"Apa tiga jam." Zava membulat sempurna selama itukah dia tertidur.
__ADS_1
"Iya Zava, mungkin kau lelah! sudah ayo keluar pemandangan disini sangat indah kau pasti menyukainya." ucap Rian membuka pintu mobilnya.
Zava menggaruk rambutnya yang tidak gatal lalu mengikuti Rian keluar dari mobil.
Setelah keluar benar saja pemandangan disana sangat indah, udaranya pun sejuk. Zava menghirup udara segar dan mengeluarkannya
sangat tentram dan damai mungkin dia akan betah berada disini.
Dia pun melihat Vila yang begitu indah dan besar dia juga melihat bahwa vila itu seperti berada diatas bukit yang dikelilingi pepohonan dan mungkin dibawahnya terdapat jurang yang curam mengingatkannya sewaktu masih sekolah dirinya pernah terjatuh kejurang dan itu berhasil membuatnya bergidik.
"Ayo ikut kakak." Zava mengangguk kemudian mengikuti Rian yang berjalan terlebih dahulu.
Vila itu sepi namun bersih dan rapih karena pelayan datang hanya untuk membersihkan kemudian langsung pergi hanya ada satu penjaga yang tinggal didekat vila.
"Kak, kakak tinggal disini? sendirian atau bersama tuan kakak." tanya Zava merasa tak yakin bahwa kakaknya menempati vila ini sendiri.
"Iya, kakak tinggal disini sendiri tapi terkadang tuan Edgar ikut menginap disini." jawabnya dan duduk di sofa menyandarkan tubuhnya.
Zava ikut duduk disamping kakaknya, "Apa kakak tidak takut kalau sendirian."
Rian tersenyum, "Tidak untuk apa takut. Lagian sekarang ada kau yang menemaniku."
"Aku... tapi aku...!"
"Kenapa? kekasihmu." Zava mengangguk.
"Apa kau mencintainya? sejak kapan kalian bertemu?" tanya Rian santai.
"Iya aku mencintainya kak, dan aku bertemu dengannya jauh sebelum bertemu kakak. Dan aku merindukannya sekarang." ucap Zava dengan sendu sambil menatap lurus kedepan.
"Tapi aku lihat tuan Edgar juga menyukaimu," kata Rian.
Zava menatap Rian serius, "Tapi aku tidak suka dia kak!".
"Tapi kakak menyukainya, dia baik dan tulus. Lagi pula kakak juga tidak mengenal Dion." ucap Rian mulai memuji.
"Tapi kak perasaan cinta itu tidak bisa dipaksakan dan Zava mencintai Dion, tolong kak restui kami." ucap Zava memohon dengan lirih.
"Kalau kakak tidak merestui bagaimana?"
Deg
__ADS_1
tanya Rian membuat Zava terdiam membisu dengan darah yang seketika berhenti mendengar pernyataan dari Rian.