
Suasana gaduh langsung terasa dirumah sakit terbesar dikota. Semua perawat dan dokter sudah bersiaga sedari tadi dan sekarang dua insan dibaringkan dibrangkar setelah kedatangan darurat dirumah sakit itu.
Gilang dan Kevin turut serta membantu mendorong brangkar Zava dan Dion yang terbaring lemah.
Ruang operasi sudah disiapkan untuk Dion, para dokter ahli sudah memasang alat-alat medis mereka, bersiap untuk mengoperasi Dion.
Zava pun sama hanya saja Zava dibawa keruang UGD dan dapat dipastikan dia mengalami pasca syok berat akibat trauma, Zava pun diberi perawatan yang terbaik oleh pihak rumah sakit itu.
Kevin menunggu diruang operasi dengan tenang namun tak bisa dipungkiri dia sedang gelisah dan khawatir dengan keadaan tuannya. Dia berharap tuannya baik-baik saja dan dapat melewati operasi ini.
Sedang Gilang menunggu Zava diruang UGD dengan raut wajah gelisah nampak sekali bahwa dirinya mengkhawatirkan gadis itu, lalu tak lama kemudian datanglah Salma, Daryna dan Wawan yang sudah dihubungi Gilang dan mereka langsung meluncur saat mendengar kabar Zava masuk rumah sakit.
"Kak Gilang, gimana keadaan kak Zava?." tanya Salma saat mereka sudah sampai dengan nafas terengah-engah.
"Iya pak gimana keadaan Zava?." sambut Daryna dengan wajah cemas.
"Dia masih didalam, aku tidak tau bagaimana keadaannya." jawab Gilang dengan mengusap wajahnya kasar.
"Lang, apa yang terjadi? kenapa bisa jadi gini?". tanya Wawan yang penasaran.
"Ceritanya panjang, dan Dion terluka dia sedang dioperasi sekarang."
Daryna dan Wawan terkejut mendengarnya, sedang Salma meski tidak mengenalnya tapi dia juga merasa iba atas apa yang menimpa Zava.
"Ya ampun tuan bos." Wawan sampai tak bisa berkata-kata dia sungguh menyayangkan kejadian ini tapi mau bagaimana lagi, ini sudah terjadi dan manusia hanya bisa menghadapi.
Semua terdiam sedang berkecamuk dengan pikiran masing-masing, mereka kini hanya bisa berdoa mengharap kepada sang Ilahi untuk kesembuhan kedua insan itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan UGD dan langsung disambut oleh semua orang yang menunggu.
"Dokter, bagaimana kondisinya?" Gilang yang pertama bertanya pada dokter itu dengan sangat antusias.
Dokter menghela nafas sejenak sebelum menjawab, "Kondisinya baik-baik saja namun otaknya tidak merespon dengan sempurna karena trauma yang dialaminya membuatnya takut jadi dia sangat sulit sekali untuk sadar lebih cepat, saya hanya menyarankan agar pengunjung pasien terus berkomunikasi dengannya dan mengingatkan sesuatu yang menyenangkan agar pasien menjadi semangat dan cepat tersadar." penjelasan panjang lebar dokter pada mereka yang mendengar dengan wajah yang serius.
"Baik dok, terimakasih!" jawab Gilang pelan.
"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan diruang rawat dan bantulah dia agar bisa bangkit kembali." ucap Dokter lagi sambil tersenyum dan menepuk pundak Gilang lalu pergi meninggalkan mereka.
Semua terdiam kembali tapi ada sedikit lega dihati mereka kalau Zava baik-baik saja.
Kemudian Zava pun keluar dan ingin dipindahkan diruang rawat, mereka kembali bereaksi dan mengikuti Zava hingga keruangannya.
Ruangan Zava dan Dion sengaja disatukan dalam satu kamar, Kevin yang meminta karena dia tau tuannya pasti tidak ingin dipisahkan dengan wanitanya. Itu juga bertujuan agar mereka cepat pulih.
Zava sudah dipindahkan diruangannya ditemani dengan teman-teman nya.
Gilang memandangi Zava dengan sendu, dia ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh gadis itu sejak masih remaja, menjadi murid buli an, difitnah, dicelakai tidak direstui bahkan ditinggal oleh orang-orang yang disayanginya dan sekarang harus menerima kenyataan orang yang dicintainya terluka.
Gilang sampai menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir begitu saja tanpa diundang, sebelum yang lain mengetahui bahwa dia menangis.
"Em... kalian tolong jaga Zava sebentar aku ingin melihat keadaan Dion dulu." pamit Gilang dan tanpa menunggu jawaban Gilang langsung pergi.
Ada rasa sesak dihati Salma karena Gilang tidak memandangnya sedikitpun dia lebih memperhatikan Zava, bahkan sekarang pergi pun tidak panik. Tapi dia tidak boleh egois dia tau bahwa dia cemburu tapi ini bukan waktunya dan juga dirinya menyadari bahwa Gilang tidak mencintainya dan hanya menganggapnya sebagai adik.
****
__ADS_1
"Kevin, bagaimana keadaan Dion?".tanya Gilang melihat Kevin yang duduk termenung.
"Seperti yang kau lihat dia belum keluar sedari tadi." jawab Kevin gusar.
Gilang melangkah maju untuk melihat dikaca jendela yang sangat redup hanya terlihat seperti bayangan seseorang yang sedang melakukan sesuatu. Lalu dirinya bersandar di dinding dengan mengusap wajahnya.
Jika orang awam yang melihat mereka pasti panik dan ketakutan dengan hanya melihat bayangannya saja.
Didalam ruangan dokter masih mengoperasi Dion, untung saja luka tembak itu tidak sampai mengenai jantungnya dan bagian perutnya pun tidak terlalu dalam selain itu Dion termasuk lelaki yang kuat.
"Aku yakin Dion baik-baik saja?". Ucap Kevin menjawab kerisauan Gilang.
"Kau yakin dia baik-baik saja." Gilang menatap Kevin penuh intimidasi.
"Aku tau Dion adalah lelaki yang kuat, apalagi dia kini mencintai seseorang yang ingin dia pertahankan." jawab Kevin terdiam sejenak.
"Lalu bagaimana dengan keadaan nona Zava." tanyanya lagi.
Gilang menghela nafas sebelum menjawab,
"Zava baik-baik saja hanya saja dia akan lama sadar pasca trauma dan dia butuh penyemangat serta dukungan." Jawa Gilang menatap Kevin.
"Aku yakin,diapun akan baik-baik saja dan mereka akan bersatu." yakin Kevin.
Tak lama kemudian dokter pun keluar ruangan dipastikan operasi Dion sudah selesai dengan bergegas Kevin dan Gilang maju mendekati dokter itu.
"Dokter, bagaimana?" tanya Kevin dan Gilang bersamaan.
__ADS_1
"Alhamdulilah, operasi berjalan dengan lancar, dan pasien telah melewati masa kritisnya, untungnya lukanya tidak terlalu dalam dan dapat kami atasi, sekarang pasien akan kami pindahkan keruang rawatnya."kata Dokter menjelaskan membuat Kevin dan Gilang bernafas lega.
"Syukurlah dia bisa melewatinya." ucap Gilang lega.