Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Mengantarkan Zava


__ADS_3

Kini Zava sudah mandi dan berpakaian rapih menghampiri Gilang dan Salma sambil membawa minuman serta cemilan kecil.


"Maaf yah! menunggu lama." ucap Zava sambil memberikan minum kepada tamunya.


"Tidak apa-apa, aku rela menunggumu berapa lamapun." ujar Gilang menggoda.


Zava tersenyum geli, "Gilang, rupanya hari ini kau sangat senang yah! dari tadi meledekku terus."


"Ya aku memang sedang senang karena bisa melihatmu tersenyum."


Zava tak bisa menahan tawanya diapun terkekeh.


"Salma, kakakmu itu suka sekali menggombal ya ternyata."


"Iya kak dia memang begitu." Salma hanya tersenyum paksa menjawabnya seperti ada hati lain yang berkata.


"Oh iya ngomong-ngomong ada apa Lang?" tanya Zava tidak berbasa basi lagi.


"Oh begini Va, Salma ini adalah anak kiyai tempatku mondok dulu dan Abah menitipkan Salma padaku karena dia ingin melanjutkan kuliah S2 nya dan diapun mendapat tawaran mengajar ditempat aku mengajar juga. Jadi karena aku hanya kenal denganmu aku ingin Salma tinggal sementara denganmu disini. Bolehkah?" ucap Gilang panjang lebar dengan serius.


Tanpa berfikir lagi Zava langsung mengiyakan permintaan Gilang.


"Boleh kok Lang, aku kan juga jadi ada temannya.!"


"Beneran boleh.!" tanya Gilang lagi memastikan.


"Benar Gilang lagi pula disini penuh semua tempatnya tidak ada yang kosong, dan kau Salma kau boleh tinggal disini bukan untuk sementara, kita bisa menghemat uang kontrakan. Iya kan." ucap Zava menatap Salma dengan senyum khasnya.


"Terimakasih kak, kakak baik sekali." jawab Salma balas tersenyum.


"Hey jangan panggil kak panggil saja Zava.!"


"Tidak apa-apa kakak kan lebih tua dariku ya kan kak Gilang."


"Iya itu benar."


Zava hanya tersenyum menanggapinya.


"Oh iya kalian tidak mengajar kah hari ini?". tanya Zava saat melihat mereka tetap santai.


"Aku sedang tidak ada mata pelajaran dan Salma mulai mengajar besok." jawab Gilang senyumnya tak pernah pudar dan terus memandangi Zava membuat Salma menemukan wajahnya diam-diam.


Apa kak Gilang menyukai kak Zava?, dari tadi tidak berhenti tersenyum dan memandanginya.

__ADS_1


Ah Salma tidak boleh suudzon begitu kak Gilang kan memang murah senyum.


batin Salma pada dirinya sendiri


"Eh ngomong-ngomong kamu sendiri mau apa" tanya Gilang.


"Aku seperti biasa, mengantarkan pesanan."


"Pesanan." ulang Salma.


"Iya aku membuat usaha nasi kuning dan diantarkan kepada yang memesan dan langganan ku sekarang adalah kantor dan sekolah Gilang." ungkap Zava pada Salma.


"Iya dan kau tau Salma nasi kuningnya itu e...nak sekali tidak ada tandingannya." tambah Gilang memuji.


"Sudahlah Gilang tidak usah mulai," kemudian memandang Salma, "Mending kamu cobain deh makanan aku, kebetulan masih ada tunggu yah!'


"Eh kak tidak usah!" Salma menyela tidak enak.


"Tidak apa-apa kamu pasti lapar, sebentar saja!" kemudian Zava langsung kedapur untuk membuatkan mereka nasi kuningnya.


Tak lama kemudian Zava sudah membawanya kemudian Salma membantunya.


"Aduh kak aku jadi tidak enak, baru datang sudah merepotkan." kata Salma sambil meletakkan makanan itu pada Gilang.


"Tidak, aku malah senang melakukannya.! ayo silahkan dimakan." ucap Zava menampilkan senyumnya yang mampu membius Gilang sedari dulu.


*****


"Tante gimana ini Tante? aku tidak mau kalah dengan perempuan itu." rengek Anetta pada Mega ditempat kediaman Mega.


"Ya kau cari cara dong Anetta supaya Dion terjerat denganmu, atau kau singkirkan perempuan itu." timpal Mega tangannya sedang sibuk memainkan ponsel.


Anetta berfikir, lalu tersenyum menyeringai. "Eh Tante bagaimana kalau kita jebak Dion Tante aku yakin Dion pasti tidak akan bisa lepas dariku." Anetta menaikkan sudut bibirnya setelah mendapatkan ide.


"Menjebak Dion maksud kau?" tanya Mega tak mengerti kini dia mengalihkan fokusnya pada Anetta.


"Iya sebentar lagi kan ulang tahun perusahaan Wijaya grup dan aku akan menjebak Dion dengan memberi minuman yang sudah aku beri obat perangsang, aku akan membuat Dion melalui malam yang sangat indah dan setelah itu Dion pasti tidak akan bisa meninggalkanku. Bagus tidak ideku Tante." usul Anetta panjang lebar sambil tersenyum menyeringai.


Mega balas tersenyum menyeringai pula, "Ide yang bagus Ane kau pandai sekali. Kalau begitu kita harus menyiapkan semuanya."


"Iya Tante aku akan menyiapkan semuanya dengan baik dan pasti berhasil." dengan bangga Anetta berkata padahal tidak ada niat yang jahat yang akan berhasil.


*****

__ADS_1


"Terimakasih yah Gilang kau sudah membantuku, padahal aku sendiri juga bisa." ucap Zava.


Kini mereka berada di perusahaan Dion seperti biasa memberikan pesanan untuk karyawannya.


Zava diantar oleh Gilang saat sudah waktunya untuk mengirim dan meninggalkan Salma sendiri dikontrakan Zava yang sedang beristirahat karena kelelahan.


Padahal Zava sudah menolak tapi Gilang memaksa alhasil mereka berada disini sekarang.


Sebenarnya Gilang memaksa mengantar Zava karena dia penasaran siapa Dion itu dan dia akan membuktikan kalau dirinya layak untuk Zava.


"Zava kenapa kotak yang itu dipisahkan?" tanya Gilang sedari tadi dia penasaran tapi baru bertanya sekarang.


"Oh... ini untuk tuan Dion, dia tidak mau disatukan dengan yang lain dan ingin diistimewakan maklumlah dia kan bos." ungkap Zava memang benar membuat Gilang mengernyit.


Gilang berfikir ini hanya akal-akalan Dion saja supaya merasa dispesialkan atau Dion ingin agar Zava yang mengantar keruangannya dan bisa bertemu berdua.


"Lalu siapa yang mengantar itu pada Dion." tanya Gilang untuk menebak dugaannya.


"Aku sendiri yang mengantar keruangannya karena dia tidak mau orang lain yang mengantar." jawab Zava dan ahh... dugaan Gilang benar ini hanya akal-akalan Dion saja supaya dia bisa berdua dengan Zava.


Diatas sana digedung tertinggi seorang pria yang sedang berdiri didekat jendela jika sudah waktunya makan siang, dia pasti akan melihat dari atas sana. Siapa lagi kalau bukan tuan Dion Raditya.


Dia memang suka berdiri diatas jendela apalagi sekarang ada seorang gadis yang selalu dia tunggu setiap harinya tapi hari ini dia menjadi geram karena gadisnya malah diantar oleh pria yang mungkin jadi saingannya dan mereka malah mengobrol lama dibawah sana.


Entah apa yang mereka obrolkan tapi itu berhasil membuat emosi Dion meradang dan dia segera menelfon seseorang.


"Cepat, kau usir lelaki yang bersama gadisku, jangan biarkan dia masuk dan mengikuti Zava." titahnya dingin pada orang yang diseberang telfon, matanya masih menangkap dua manusia yang masih berdiri dibawah sana.


"Gilang ayo masuk tolong bawakan yang itu yah!" ucap Zava langsung masuk karena penjaga itu sudah tau siapa Zava maka dia membiarkan Zava masuk tanpa diperiksa lagi berikut orang yang dibawa Zava.


"Ah iya...!" Gilang ikut masuk sambil membawakan 2 kantong besar kedalam.


"Hei Zava selamat siang, kau bawa asisten." tanya seorang perempuan yang sudah mengenal Zava.


"Dia temanku yang hanya membantuku dia bukan asistenku." jawab Zava tersenyum simpul.


"Wah benarkah tampan sekali" lalu mendekati Gilang dengan centilnya. "Hai kenalkan aku Sintia." ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


Gilang hanya tersenyum dan tidak membalas uluran tangan itu membuat Sintia malu dan menurunkan tangannya.


"Dia namanya Gilang, maaf dia dari pondok tidak bisa bersentuhan dengan lawan jenis." ucap Zava agar Sintia tidak salah paham.


"Oh... wah lelaki Sholeh idaman nih! yakin hanya teman." Sintia malah meledek Zava.

__ADS_1


"Iya teman." jawab Zava tersenyum malu karena diledek. lalu tiba-tiba...


"Ehemm...!"


__ADS_2